
Hari sudah mulai pagi, mentari sudah mulai mengintip untuk memancarkan sinarnya. Laisa sudah tebangun dari tidurnya, bahkan gadis itu sudah sangat rapi dengan pakaiannya yang serba hitam itu.
"Aku nggak boleh ceroboh," serunya sambil memasukkan sebuah pisau kecil diantara kakinya.
Merasa semua sudah siap, Laisa mulai menyelinap keluar dari dalam kamarnya melalui jendela kamarnya. Ia sudah menyiapkan sebuah note agar orang rumah tahu kemana ia menghilang.
Buggg..
Kakinya berhasil memijak tanah turun dari atas kamarnya, ia perlahan mengendap-endap agar tak terlihat oleh penjaga rumahnya. Laisa memilih melompati tembok samping rumahnya, walaupun jauh lebih tinggi daripada tembok depan, namun disana jauh lebih aman menurutnya.
Berhasil lolos dari penjagaan rumahnya, kini Laisa bergerak dengan berjalan kaki menuju jalan raya. Selang sepersekian detik mobil Alex datang dan memasuki halaman rumah Laisa.
Alex memang sempat marah dengan Laisa karena keras kepalanya itu, namun itu juga yang membuatnya begitu tak tenang hingga tak membiarkan dirinya terlelap dalam tidurnya.
Alex yang gelisah dan tak bisa memejamkan matanya itu memilih bersiap dan mengunjungi rumah wanitanya. Ia mempunyai firasat yang kurang baik hingga membuat dirinya begitu cemas dan ketakutan.
Namun rumah itu masih nampak sepi, gelap dan belum ada tanda-tanda orang yang sudah terbangun dari tidurnya. Awalnya ia ingin menunggu duduk di ayunan namun tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah itu dari dalam.
"Nak Alex," seru Elena.
"Oma," mencium punggung tangan Elena dengan penuh rasa hormat.
"Ada apa nak, kenapa pagi-pagi sudah kesini?"
Alex memberitahu Elena tentang apa yang dikhawatirkannya, Elena mengerti akan hal itu sebab ia juga sama khawatirnya dengan Alex. Tak hanya Alex yang tak bisa memejamkan matanya, ternyata Elena juga Mira sama dengannya.
Elena mempersilahkan Alex untuk masuk, Mira membuatkan sebuah teh hangat untuk Alex lengkap dengan roti bakar. Alex yang memang kelaparan tak sungkan segera melahap makanan didepan matanya.
__ADS_1
"Oma bunda mama," teriak Mira dengan begitu paniknya.
Alex tersedak saat meneguk teh hangatnya, teriakan Mira membuat jantungnya berdetak dengan begitu tak karuan. Ia bangkit dan segera menghampiri Mira.
Semua orang berkumpul mendengar teriakan itu, Cally menahan putrinya agar tenang terlebih dahulu.
"Tarik nafas dulu, baru ngomong," ucap Cally.
Mira melakukan apa yang diperintahakan bundanya itu, ia perlahan menarik nafas dan menghembuskannya.
"Katakan nak, apa yang membuatmu gaduh pagi-pagi gini," tanya Letta.
"Mama, adik Laisa kabur."
Semua orang terkejut tak terkecuali Alex, tubuh seakan mati rasa dan mematung ditempat masing-masing.
"Bunda aku serius, ada memo ini dikaca rias adik."
~Aku pergi dulu, maaf nggak bisa pamit terlebih dahulu
Aku akan membawa kembali kakakku kerumah ini
Jangan khawatir aku akan menjaga diriku baik-baik saja
Dan kakaku juga akan selalu baik-baik saja
Mama, tolong doakan putrimu ini agar bisa kembali lagi kerumah ini
__ADS_1
Doakan putrimu ini agar bisa membawa kakaknya pulang dengan selamat
Maafin Laisa mama.. ~
Letta terduduk lemas membaca surat putrinya, ia tak menyangka jika putrinya akan senekat ini. Laisa begitu nekat, mungkin ada ikatan batin yang mempengaruhi putrinya itu.
Alex benar-benar panik, ia segera pergi tanpa berpamitan dengan yang lainnya. Ia pergi menyusul Laisa, beruntung ia sempat memakaikan gelang berisi gps ditangan wanitanya itu.
"Kemana dia pergi," gumam Alex mengemudikan mobilnya.
Alex memerikas lokasi Laisa saat ini, dan ia mengerutkan dahinya mengetahui dimana saat ini wanitanya berada.
"Brengsek!"
Laisa tiba, kini didepannya ada sebuah gedung terbengkalai berlantai tiga. Begitu kotor dan sangat kumuh, melangkah saja membuat Laisa bergidik ngeri sebab takut jika ada cicak atau sejenisnya.
"Demi kakak," serunya menyemangati dirinya sendiri.
Laisa mulai melangkah masuk, matanya menangkap beberapa anak buah Meya yang sedang berjaga. Pelan-pelan Laisa mulai memancing mereka dan melumpuhkannya.
Sampai dilantai dua Laisa kembali bertemu dengan anak buah Meya, ia tak bisa mengelabuhi mereka seperti ia mengelabuhi penjaga lantai satu. Laisa hanya bisa melawannya dengan terang-terangan.
"Maju kalian, gue bunuh satu persatu."
"Banyak gaya, serang dia."
Laisa begitu lelah, anak buah Meya begitu terlatih ternyata hingga hampir menguras tenaganya. Namun beruntung ia sudah bisa melumpuhkan mereka semua dengan tangannya.
__ADS_1
"Mati loe!"