
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Waktu terus berlalu, dan tak terasa kini sudah hampir satu bulan Laisa menjabat sebagai asdos dari Alex. Tak hanya bertugas membantu Alex membawa semua pekerjaan temannya, tapi Laisa juga membantu mengajar jika Alex berhalangan datang.
"Capek," keluhnya pada Mira saat keduanya tengah berada dikantin.
"Sabarin aja, luamyan lah asdosnya dosen ganteng. Cuci matanya tiap hari," ledek Mira pada sepupunya tersebut.
Namun suasan yang semula begitu tenang tiba-tiba gaduh seketika, baik Mira maupun Laisa tak begitu memperhatikan sekelilingnya. Hingga sebuah suara membuat kedua gadis itu menengadahkan kepalanya.
"Laisa Aura Wijaya."
Danu datang dengan buket bunga mawar yang begitu mewah menghampiri Laisa berada, semua orang menatap takjub keberanian Danu itu. Semua orang tahu apa yang akan Danu lakukan, termasuk Laisa dengan Mira yang juga paham maksud dari kedatangan Danu kini.
"Laisa," panggilnya lagi hingga membuat Laisa juga Mira terpaksa berdiir dari bangkunya.
"Weh, si cupu mau nembak si cantik nih," seru salah seorang teman yang berada dikantin juga, hingga banyak sorakan yang sangat menggangu Laisa tentunya.
"Ada apa ya ini, " tanya Laisa pura-pura tak tahu.
Tapi Danu tiba-tiba berlutut dihadapannya, mengejutkan hingga ia reflek memundurkan langkahnya. Laisa tiba-tiba begitu panik sambil terus menatap sekelilingnya.
__ADS_1
"Laisa, gue spesial siapain bungan ini buat loe. Loe mau nggak jadi pacar gue," ucap Danu mengutarakan niatnya.
Semua orang terdiam, tak ada satupun orang yang berani bersuara, bahkan Alex dari kejauhan juga menyaksikan adegan tersebut sambil memicingkan matanya. Alex mengakui keberanian Danu dimuka umum, ia juga ingin melihat apa yang akan diperbuat Laisa dengan pengakuan Danu tersebut.
"Laisa aku-
"Danu," panggil Laisa memotong ucapannya.
"Ya,"menatap harap pada gadis didepannya.
"Maaf, tapi gue nggak bisa terima loe. Dan gue harap mulai dari sekarang kita jaga jarak ya," pinta Laisa yang memang sudah merasa tak nyaman dengan kehadiran Danu disekitarnya.
Danu terdiam, ia kehilangan semua kata-katanya. Bahkan saat Laisa pergi meninggalkannya ia masih dengan posisi semula, berlutut.
"Loe gpp Sa," tanya Mira cemas.
"Menurut loe, ya gpp lah. Gue lega banget malah ini udah bisa minta dia jauh-jauh dari gue."
Brug..
"Ekhmm.." deham Mira membuyarkan acara tatap-tatapan kedua insan tersebut.
"Kalau jalan pakai matanya."
"Lah, kalau jalan ya pakai kaki lah pak masa iya pakai mata."
"Selalu aja ya ngebantah, bisa nggak sekali aja gitu cuma bilang iya atau maaf gitu," kesal Alex pada gadis didepannya kini.
"Lah si bapak aneh, bapak yang salah ngomong kenapa jadi saya yang disuruh minta maaf lagi," tak mau kalah Laisa.
Mira menyenggol lengannya, berharap jika sepupunya itu mau mengalah. Sebab bagaimanapun yang kini dihadapinya adalah dosen, orang yang bisa membuat nya mengulang kelas dengan begitu mudahnya.
"Kita pergi yuk Mir, lama-lama disini bikin kita jadi bego nanti," ledeknya dengan sengaja memuat mata Alex melotot menatapnya.
__ADS_1
......
...
Proyek baru Shaka sudah mulai didesain dengan begitu sempurnanya, dengan bantuan Nakila yang sudah ahli dibidangnya itu proyek berjalan dengan begitu cepatnya.
"Bagaimana kalau nanti baju ini terus sama model tas juga sepatu kita jadikan dalam satu bingkai model, jadi kita nggak hanya fokus pada barangnya aja tapi juga ke modelnya," usul Nakila yang kini tengah melihat beberapa barang bersama dengan Shaka dalam laptopnya.
"Boleh juga sih idenya, jadi nanti kita padu padankan dengan model sekalian," sahut Shaka.
"Benar, tapi yang jadi masalah disini adalah nggak ada model yang cocok dengan barang-barang kita."
"Maksudnya?"
"Saya butuh model dengan wajah elegan, sedikit riasan tapi memancarkan aura kecantikannya. Kita butuh perpaduan kecantikan wajah model dengan barang kita tuan," jelas Nakila panjang lebar.
"Lalu bagaimana, apa kita harus mencari lagi," tanya Shaka.
Nakila menarik laptopnya, meminta ijin pada Shaka untuk kembali memilih beberapa model. Sambil menunggu pilihan Nakila, Shaka membuka sendiri laptopnya yang langsung menampakkan wajah cantik adiknya.
"Siapa gadis ini tuan Shaka," tanya Nakila yang tanpa sengaja melihat layar laptop Shaka.
"Pacar," lanjutnya bertanya.
"Bukan, dia adalah kesayangan saya juga hidup saya. Adik yang sangat berharga bagi saya," senyumnya menatap wajah adiknya.
"Apa ada foto-foto yang lainnya," tanya Nakila penasaran.
Shaka membuka salah satu folder, dan munculah foto Laisa dengan berbagai gaya juga berbagai ekspresi. Nakila mengagumi kecantikan adik dari rekannya tersebut, kecantikan alami bahkan ketika benar-benar baru bangun tidur.
"Saya menemukan bidadari sesungguhnya," jatuh cinta pada Laisa.
Namun dering ponsel Shaka membuyarkan semuanya, melihat siapa yang menghubunginya dan segera menerima panggilannya.
__ADS_1
"Kak Shaka, tolong. Laisa dibawa orang," ucap Mira.
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••