
Di kota yang berbeda, Cally tengah termenung seorang diri disebuah bangku cafe. Entah apa yang kini difikirkannya, namun Cally nampak begitu jelas tengah bersedih.
"Kenapa aku masih saja memikirkannya," sendunya.
"Apa anda membutuhkan teman ?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba duduk dihadapannya.
"Loe siapa," sinis Cally menatap gadis dihadapannya.
"Selly," mengulurkan tangannya.
Namun Cally hanya diam tak menyahutinya, bahkan mengabaikan uluran tangannya. Namun gadis itu tetap tersenyum ramah terhadapnya.
"Loe gila ya senyum-senyum sendiri?" tanya Cally begitu heran dengan gadis didepannya.
"Nggak, cuma lagi asyil aja nikmatin keindahan," serunya terus menatap Cally.
Cally penasaran dengan apa yang dilihat gadis itu, ia mengedarkan pandangannya namun hanya melihat pepohonan saja disekelilingnya.
"Cuma ada pohon, indah apanya."
"Siapa bilang aku nikmatin pohon-pohon itu."
"Ya terus?"
"Gue lagi menikmati keindahan wajah loe lah,"
Cally begitu terkejut saat mendengar jawaban dari gadis yang saat ini duduk dihadapannya. Tiba-tiba saja ia merasakan bulu kudunya menjadi merinding saat menatap dia yang juga sedang menatapnya dengan senyumannya.
"Lihat lainnya sana," ketus Cally geli.
"Nggak."
"Denger ya siapapun nama loe-
"Sarah," potongnya pada ucapan Cally.
Cally menarik nafas dalam sebelum kembali berucap, "Denger ya Sarah, gue ini cewek normal. Gue masih suka sama laki-laki dan bukan penyuka sesama."
"Dih, gue juga suka laki-laki kali. Enak aja," sanggahnya.
"Ya terus?" heran Cally.
"Loe cantik, wajah loe tuh nggak bikin bosen kalau dipandang."
"Loe gila ya," seru Cally bertambah bingung.
"Intinya, gue mau minta bantuan loe."
"Astaga, kenapa nggak bilang dari tadi sih."
"Salah loe sendiri," santainya.
Cally yang kesal lebih memilih diam membuang mukanya, ia begitu enggak bertatapan dengan Sarah yang terus menatapnya dengan penuh senyuman.
"Loe mau nggak bantuin gue?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Apa!" ketus Cally.
"Jadi model foto gue."
"Ogah," jawabnya langsung.
"Ya gpp sih kalo loe mau gue ikutin terus," ancam Sarah dengan nada halusnya.
"Loe ya!" kesal Cally tertahan. Sarah hanya diam memamerkan senyum manisnya saat melihat Cally tengah kesal terhadapnya.
"Apa untungnya buat gue kalau mau jadi model loe."
"Gue bakal bawa loe ke tempat terbaik di kota ini," tawarnya.
"Deal," mengulurkan tangannya.
"Tentu aja deal," menjabat tangan Cally.
Sarah membawa Cally menuju rumah kayu yang ternyata bersebelahan dengan rumah kayu milik Cally. Penginapan yang mereka gunakan kali ini cukup unik, rumah yang mereka sewakan berbentuk layaknya rumah kayu namun begitu menawan.
"Tunggu disini, gue ambil baju-bajunya dulu."
Tak lama Sarah keluar dengan membawa setumpuk pakaian, cermin panjang juga sebuah kamera yang dikalungkan dilehernya.
"Hei, bantuin kenapa," seru Sarah dari atas tangga.
"Brisik banget, siniin."
Keduanya berjalan tak jauh dari tempat mereka menginap. Disana Sarah menyenderkan kaca besar disebuh pohon, kemudian ia menggantung baju-baju itu diatas dahan ranting.
"Baju sebanyak ini gue gantinya dimana?"
"Itu toilet Cally, loe bisa ganti disana. Apa loe mau ganti disini didepan umum?" Tunjukknya pada toilet yang berada dibelakang tubuh Cally.
Cally tak menyahutinya, ia segera mengambil satu baju dan bergegas menggantinya didalam toilet.
Sarah begitu takjub melihat kecantikan paras Cally, sebagai sesama wanita ia begitu mengagumi kecantikan itu.
"Jadi foto nggak nih, kalau nggak gue ganti baju nih," ketus Cally saat Sarah hanya diam ditempatnya.
Hampir 2 jam keduanya melakukan semua pemotretan sesuai keinginan Sarah. Dari berganti pakaian hingga berganti tempat membuat Cally begitu kelelahan.
"Thank's ya udah bantuin gue," ucap Sarah tulus.
"Nggak ada yang gratis, sesuai kesepakatan."
"Tenang aja, besok kita jalan-jalan kemanapun loe mau pergi."
"Deal."
Sarah juga Cally memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum malam tiba. Keduanya kembali kerumah kayu masing-masing tanpa berpamitan.
**
Arga tengah bersantai bersama semua keluarganya diruang tengah. Ada David juga Orland yang ikut bergabung menikmati waktu sore.
__ADS_1
"Kalian berdua makan disini kan?" tanya Elena pada keduanya.
"Ya kalau tante memaksa apalah daya aku ini," ucap Orland memelaskan wajahnya hingga mendapat timpukan bantal oleh Arga.
"Gak ada yang maksa, pulang aja bisa-bisa beras rumah gue habis nanti," canda Arga dengan wajah seriusnya.
"Sumpah loe tega banget Ga ngomong gitu sama gue, dimana hati nurani loe?" seru Orland.
"Dimasak sama istri gue buat makan anak gue," jawab Arga seadanya.
"Sadia bener istri loe Ga, " ngeri Orland menatap Arletta yang tengah tersenyum kepadanya.
Namun ditengah canda tawa itu ada seorang yang tengah frustasi berdiri didepan pagar rumah Arga. Daniel terus berdiri berharap Letta mengijinkan dirinya masuk, berharap ia akan memberitahu dimana Cally berada.
Berulang kali satpam serta penjaga memintanya untuk pergi namun tak digubrisnya. Hingga mereka terpaksa melaporkan keadaan ini pada tuannya.
"Ada apa pak?" tanya Reno pada penjaga rumah.
"Ada dokter Daniel didepan, saya sudah mengusirnya tuan tapi dokter Daniel tidak mau pergi."
"Biarkan dia masuk," ucap Arga yang mendapat tatapan mematikan dari istrinya.
Penjaga itu pergi, Arga memegang tangan Letta berusaha mencari belas kasihnya. Ia tahu istrinya sedang kecewa dengan Daniel, dan ia tak bermaksud jahat dengannya.
"Sayang, " panggil Arga memegang tangan Letta.
"Ada apa ini sebenarnya? Dari kemarin mama lihat Daniel dilarang masuk kesini ya?" tanya Elena penasaran.
Namun sebelum itu terjawab, Daniel masuk dan berdiri tepat didepan Letta. Arga menatap wajah berantakan Daniel, dan ia mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi diantara ketiganya.
"Letta," lirih Daniel memanggilnya, namun Letta masih diam tak memandanginya.
"Arletta, tolong gue."
Lagi-lagi Letta terdiam tanpa suara, bahkan ia menghindari tatapan mata Daniel yang menatapnya.
"Tolong jangan jadi pengecut Letta!" bentak Daniel mengejutkan semuanya.
Mata Letta menatap tajam Daniel didepannya, Arga memanggil pelayan dan memintanya membawa baby Shaka masuk ke kamarnya.
"Jangan pernah membentak istriku dokter Daniel," tegur Arga menatap Letta yang tengah beradu pandang dengan Daniel.
Orland, David, Seruni juga Jesika menyingkir dan bergabung dengan Reno serta Elena. Mereka hanya diam menatap ketiganya yang entah ada permasalahan apa.
"Atas dasar apa anda mengatai saya pengecut."
"Tolong katakan dimana kamu sembunyikan Cally."
"Jangan sembarangan bicara," kilah Letta menatap tajam Daniel didepannya.
"Jangan membohongiku nona Letta," tak terima Daniel.
"Kurang kerjaan sekali saya," senyum Letta meledek Daniel yang frustasi di depannya.
Daniel begitu geram menatap Letta, dicengkeramnya kedua bahu Letta hingga membuat Letta mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu dari istriku."