
Shaka kini sedang dalam mood yang begitu berantakan, ucapan Mira terus saja terngiang-ngiang dikepalanya. Hari ini ia ada jadwal pertemuan dengan Nakila, namun ia bagitu sibuk memikirkan kembalinya Meya hingga melupakan jadwal temunya.
Tokk.. Tok..
"Masuk," serunya tersadar dari lamunan.
"Maaf tuan, tapi nona Nakila sudah menunggu sejak 30menit yang lalu," ucap Arnez memberitahukan keberadaan Nakila pada Shaka.
"Nona Nakila, " ulang Shaka menirukan Arnez.
"Ada apa tuan, apa anda melupakan jadwal temu kalian berdua," tanya Arnez dengan pandangan terkejutnya.
Selama ia mengikuti Shaka baru kali ini ia melihat tuannya itu melupakan temu bisnisnya, orang gila kerja seperti Shaka begitu linglung dengan masalah pekerjaan pasti penyebabnya tak jauh dari urusan sang adik kesayangan.
"Apa terjadi sesuatu dengan nona Laisa tuan," tanya Arnez lagi.
"Nggak kok, nanti saya jelasin. Sekarang dimana nona Nakila."
Shaka bangkit, ia mengancingkan jasnya dan berjalan mengikuti Arnez yang menuntunnya. Begitu gagah dan sungguh tampan, pahatan yang begitu sempurna tanpa celah adalah tuan Shaka.
"Maafkan saya nona Nakila," sapa Shaka yang baru saja masuk dan melihat Nakila sedang memainkan ponselnya dengan malas.
"Saya kira tuan Shaka sudah tak berniat menemui saya lagi setelah peluncuran prodak kemarin."
"Siapa yang begitu bodoh menolak menemui wanita cantik seperti nona ini."
__ADS_1
"Tuan sedang menggoda saya?"
"Ehm, anggap saja seperti itu," tawa keduanya.
Shaka tiba-tiba kembali terdiam, fikirannya kembali teringat dengan pembicaraan bersama Mira tadi. Nakila menyadari jika rekannya sedang tidak baik-baik saja saat ini, hingga ia memberanikan diri untuk menegurnya.
"Ada ada yang sedang menggangu tuan Shaka saat ini," tanya Nakila dengan beraninya.
"Oh, hanya sedikit masalah saja. Kita bahas sekarang nona," tanya Shaka.
"Gimana kalau kita bahas diluar saja, saya sudah begitu jenuh disini," bisiknya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan didepan Shaka.
Shaka tersenyum, ia mengerti maksud dari Nakila saat ini. Ia bangkit dan mengarahkan lengannya pada Nakila untuk digandengnya. Keduanya begitu nampak serasi hingga setiap pegawai begitu terpana ketika berpapasan dengan mereka.
Keduanya berkendara hingga Nakila memilih sebuah restoran yang nampak begitu minimalis namun masih begitu sepi pengunjung.
"Ehem," jawab Nakila dengan begitu yakinnya.
Keduanya masuk dan memilih sebuah tempat yang begitu nyaman didekat jendela lantai atas. Begitu tenang namun terkesan sepi pengunjung, pandangan Shaka terus saja meneliti setiap inti dari restoran tersebut.
"Ada apa tuan Shaka," tanya Nakila heran dengan tatapan rekannya tersebut.
Keduanya begitu serius ketika membahas semua projek yang akan kembali dilakukan untuk mendukung prodak yang baru saja mereka luncurkan kemarin. Tatapan Shaka entah mengapa tak bisa lepas dari wajah Nakila yang sedang tersenyum kepadanya.
"Apa saya secantik itu tuan," tanya Nakila dengan jahilnya ketika Shaka sedang menatapnya.
__ADS_1
"Sangat cantik," jawab Shaka begitu saja.
"Apa anda menyukai saya ini tuan?"
"Tentu saja."
"Oke, deal. Kita resmi jadian kalau gitu," seru Nakila menggebrak meja hingga membuat Shaka tersadar dari lamunanya.
Shaka menyadari apa yang terjadi, wajahnya memerah menyadari tatapan Nakila yang sedang tersenyum kepadanya.
"No-nona Nakila tolong jangan mempermainkan saya," gugup Shaka.
"Mempermainkan apa, bukankah kita baru saja meresmikan hubungan kita Sayang," goda Nakila yang begitu gemas dengan wajah Shaka yang memerah karena malu.
Jantung Shaka berdebar dengan begitu kencangnya, panggilan sayang itu membuatnya tak bisa berfikir apapun saat ini. Wajahnya terasa begitu panas hingga ia begitu tak sanggup menatap Nakila didepannya.
"Apa tuan Shaka menolak saya?" tanya Nakila yang begitu heran dengan ekspresi dari Shaka.
"Tidak! Tapi anda tidak bisa menarik ucapan yang sudah anda ucapkan barusan nona Nakila," menatap Nakila dengan begitu menggoda.
Kini berganti jantung Nakila yang begit jedak jedug dibuatnya, tatapn menggoda Shaka juga ketampanan Shaka begitu menggodanya. Tangan Shaka terulur dan menarik Nakila hingga jatuh keatas pangkuannya.
"Belum terlambat untuk menyesal nona Nakila," ucap Shaka menatap Nakila yang sedang duduk diatas pangkuannya.
Tak ada jawaban, Nakila mengalungkan tangannya pada leher Shaka dan menyerang laki-laki itu dengan bibir lembutnya. Sungguh peresmian hubungan yang begitu langka namun mengesankan bagi keduanya.
__ADS_1
"Sekarang tuan Shaka yang dingin ini adalah milikku seorang."
"Dan nona Nakila yang begitu nakal ini juga hanya milikku seorang," lanjut Shaka menyerang dan memberikan tanda kepemilikannya pada Nakila.