
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Hari ini Mira seperti biasa pulang sendiri menuju rumahnya, namun selama perjalanannya ia merasa ada seseorang yang tengah membuntutinya. Entah perasaannya atau memang seseorang sedang mengikutinya, yang pasti kini wanita itu merasa sedikit was-was didalam mobilnya.
"Perasaan gue nggak enak banget sih ini," gumamnya.
"Apa gue telpon kak Shaka aja ya, minta bantuan dia. Tapi gimana kalau kak Shaka nanti ngasih tau ayah sama bunda, aku nggak mau ayah sama bunda nggak fokus disana," bimbangnya tak tenang.
Saat ini David juga Cally tengah berada diluar negeri demi pengobatan anaknya, dan Mira yang sangat pengertian itu tak ingin menggangu fokus dari orang tuanya. Mira sangat menyayangi adiknya, ia sangat berharap jika pengobatan ini dapat menyembuhkan adiknya seperti sedia kala.
"Nggak ada jalan lain, gue harus minta bantuan kak Shaka ini," paniknya mencoba menghubungi Shaka dengan ponselnya.
Shaka yang saat ini tengah melakukan meeting dengan Nakila hanya melirik sekilas ponselnya yang terus berdering tersebut. Ia mengerutkan dahinya saat nama Mira ada dilayar ponselnya.
"Tuan Shaka bisa menerima panggilan tersebut," ucap Nakila dengan sopan.
"Saya minta maaf sebelumnya, saya harus mengerima panggilan adik saya," jawabnya.
"Oh adiknya," gumam lirih Nakila berucap
"Kakak lagi meeting, nanti kakak telpon lagi," ucap Shaka.
"Kaka, kakak jangan tutup dulu," serunya panik.
"Mira, ada apa? Kenapa suara kamu panik banget," cemas Shaka.
__ADS_1
"Kak, ada yang ngikutin aku sekarang. Aku nggak tahu siapa, tapi aku takut kak."
"Kamu dimana, kirim gps kamu sekarang kesini."
Shaka yang panik ingin meninggalkan meetingnya, namun Arnez segera menahan tuannya tersebut. Arnez tahu jika ini adalah proyek pertama dari proyek yang ingin dilakukan tuannya, ia tak ingin tuannya merasa bimbang.
"Sebaiknya anda disini, tuan kirimkan gps nona Mira dan biar saya yang kesana," cegah Arnez.
"Baiklah, tapi kamu hati-hati. Pastikan adik saya baik-baik saja Nez," pesannya.
Arnez paham, ia segera meninggalkan ruang meeting dan berlari menuju mobilnya. Firasatnya mengatakan jika adik taunnya itu saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Anda harus baik-baik saja nona Mira," gumam Arnez dalam mobilnya.
Mira terkejut saat ada mobil yang tiba-tiba menghadang mobil miliknya, entah kenapa seseorang keluar dan menyiramkan sebuah bensin ke mobil yang ditumpangi Mira.
"Apa-apaan ini, ini bau bensin," panik Mira.
Mira sangat panik, hingga ia tanpa sengaja mengirimkan sebuah pesan suara pada Laisa.
"Mira, kirim apa dia ini," gumamnya saat selesai berganti baju setelah bermain basket.
"Loe bawa mobil gue, gue pinjem motornya," teriak Laisa lalu melesat kencang dengan motornya.
Dengan sangat kencang Laisa mengendari motornya, menerobos kemacetan melewati jalan-jalan kecil juga sepi.
"Keluar loe, keluar," dua orang memaksa Mira untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Loe nggak keluar, gue bakar ini mobil," bentaknya lagi.
Mira bimbang, keluar maka ia akan berhadapan langsung dengan mereka tapi kalau tetap didalam maka dia akan menjadi daging bakar. Membuat bimbang dirinya.
Klekk, (suara pintu mobil terbuka)
Mira keluar dengan tangannya berada diatas kepalanya, takut-takut namun ia berusaha melangkahkan kakinya.
"Sini loe," menarik paksa tangan Mira agar mendekatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba dari dalam mobil keluar beberapa laki-laki yang sangat menakutkan, mereka semua bertubuh besar juga kekar dan ada sekitar 7 orang. Mira dengan susah payah menelan salivanya.
"Ini kapan gue nyinggung orangnya, kenapa banyak banget sih," batinnya ketakutan.
Namun suara motor bising mengganggu mereka saat menarik paksa Mira utuk masuk kedalam mobilnya. Motor itu menerobos gerombolan mereka, membuat satu persatu dari mereka menyingkir segera.
"Mir, kunci mobilnya," teriak Laisa yang masih berbalut helm dikepalanya.
"Laisa, " gumamnya.
Laisa turun dari motornya tanpa melepas helmnya. Ia dengan sangat berani menghadapi para laki-laki tersebut. Mira bergabung dengan Laisa melawan mereka. Berbekal ilmu bela diri yang Shaka ajarkan Laisa memapu mengatasi mereka, namun Mira sedikit kesusahan saat ukuran tubuh dirinya tak imbang dengan lawannya.
"Mira awas."
Bughtt..
"Usst, hampir aja Sa," mengusap keringat didahinya.
"Loe masuk ke mobil," perintah Laisa.
"Nggak, mana mungkin gue ninggalin loe sendiri. Bisa digorok kak Shaka gue nanti."
"Tenang aja, bala bantuan udah tiba."
Mira melirik dibelakangnya, dan benar saja. Arnez keluar dari mobilnya, berjalan cepat sambil melipat kedua lengan kemejanya.
"Keren."
"Masuk Mir, malah bengong," kesal Laisa dengan sepupunya tersebut.
Berdua dengan Arnez, Laisa menghabisi semua yang telah menggangu Mira saudaranya. Ia benar-benar tak suka jika mengingat mereka menyakiti Mira, menarik tangannya dengan sangat kasar.
"Kalian pantas mati!"
Laisa membabi buta, menghajar mereka hingga lemas tak berdaya. Arnez menahan kedua lengan Laisa, menahannya agar tak membunuh dan mengotori tangannya demi sampah yang ada dihadapan mereka.
"Pergi kalian, katakan pada bos kalian jangan pernah berani menyentuh saudara gue!"
__ADS_1
"Gue Laisa, katakan jika ia tak terima dengan kekalahan ini suruh cari gue. Jangan usik saudara gue!"
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••