Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Pukul sebelas malam, suasana di dalam rumah Bu Nurma sudah terlihat gelap. Semua lampu sudah dimatikan. Hans pun keluar dari mobilnya dan berjalan untuk mengetuk pintu. Cukup lama, Hans mengetuk pintu hingga sosok setengah baya itu pun membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Bu." ucap Hans saat melihat Bu Nurma berdiri di tengah pintu yang sudah terbuka.


"Waalaikum salam." jawab Nurma dengan tersenyum ke arah menantunya. Wajah lelah dan tampilan yang sudah semprawut membuat Nurma langsung mempersilahkan menantunya masuk.


"Mari, Nak! Sepertinya Zoya sudah tidur." ucap Nurma, kemudian berjalan memimpin menuju kamar putrinya.


"Tok tok... tok tok..."


"Zoya... " panggil Nurma.


"Ceklek..." Pintu kamar Zoya pun terbuka, sejak tadi dia memang belum bisa tidur dengan nyenyak. Zoya menatap sosok di belakang ibunya. Jika tidak ada ibunya mungkin dia akan menutup kembali pintu kamarnya.


"Zoy, di kulkas masih ada makanan. Ibu tinggal ke kamar dulu."


"Iya, Buk." jawab Zoya setelah ibunya berbalik menuju ke kamarnya.


Zoya sendiri langsung masuk ke dalam kamar, kemudian diikuti Hans dengan tatapan tidak lepas dari tubuh mungil di depannya. Mata tajam lelaki itu mencari sosok putrinya, tapi dia tidak menemukannya.


"Zoy, dimana Ale?" tanya Hans mendekati istrinya saat duduk di pinggir tempat tidur.


"Di kamar Zahra." jawaban yang cukup singkat membuat Hans mengerti jika istrinya masih marah dengannya. Dia pun hanya menatap Zoya yang langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Saat sudah bertemu dengan orang yang dicarinya, Hans bahkan tak bisa untuk berbicara lagi. Zoya seolah menutup akses informasi dengannya.


"Semua pasti karena provokator Mama." Lelaki itu bermonolog dengan pikirannya, kemudian ikut merebahkan diri di samping tubuh Zoya.


"Jangan dekat-dekat!" ujar Zoya saat merasakan sentuhan tangan besar itu melingkar di perutnya. Tangan mungilnya meregangkan tangan Hans untuk menjauh.


"Ehem ... ehem... " deheman lelaki itu terdengar saat dia merasakan sedikit rasa kecewa karena penolakan istrinya. Hans sudah tidak punya pilihan lain kecuali melipat tangan untuk menjadikannya bantalan kepala.


"Sayang, maafin aku, ya!" ujar Hans dengan menatap langit-langit kamar.


"Zoy, aku tahu kamu belum tidur." lanjut Hans, dia hanya ingin mendapatkan jawaban untuk ungkapan permintaan maafnya.


"Kenapa harus minta maaf? Bukankah Mas Hans yang selalu benar, Mas Hans yang selalu pintar, Mas Hans yang paling baik." sindir Zoya, pelupuk matanya sudah dipenuhi dengan cairan bening.


"Sayang, bukan seperti itu, untuk kali ini aku tahu jika aku bersalah padamu." bujuk Hans dengan memeluk tubuh mungil yang saat ini memunggunginya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini. Tubuh Mas Hans bau!" balas Zoya dengan mencoba menjauhkan tubuhnya dari Hans meski itu pun percuma karena lengan suaminya lebih kuat untuk menahan pergeseran tubuhnya.


"Benarkah? Tapi kamu masih cinta aku, kan?" Bagi Zoya pertanyaan Hans kali ini terdengar menyebalkan hingga dia tak berniat menjawab.


"Zoy, kamu masih cinta aku kan? " ulang Hans masih menunggu jawaban Zoya. Entahlah, rasanya Zoya masih merasa sebal saja.


"Nggak mau jawab aku cium, lo!" ancam Hans.


"Nggak cinta!" ancaman Hans berhasil membuat Zoya buka suara.


"Beneran? Bohong, aku cium, lo!" mendengar kalimat Hans yang terus menerus mengancam, membuat Zoya seketika itu pula bangkit dan duduk menghadap suaminya yang masih berbaring dengan santai, bahkan bisa terlihat sebuah senyuman menghias di bibir tipisnya.


"Apa maunya Mas Hans? Apa pun jawabanku tetap sama, kan? Mana pernah aku ada baiknya di mata Mas Hans." Kali ini Zoya meluapkan semua emosinya. Hans hanya tersenyum saat melihat istrinya marah-marah, dia bisa mengerti jika istrinya semarah itu padanya dan bisa jadi ini adalah kemarahan maksimal Zoya.


"Maafkan aku! Aku mencintaimu dan jangan nangis lagi!" ucap Hans sembari bangun dari rebahan. Tangannya mencoba mencubit pipi cabi istrinya tapi segera ditepis oleh Zoya.


"Cup... I love you, istriku!" Sebuah ciuman singkat itu mendarat di bibir mungil itu membuat Zoya semakin meradang. Mata bulat itu menatap tajam ke arah suaminya.


"Aku akan mandi terlebih dahulu! Nanti kita teruskan lagi ya?" ujar Hans saat beranjak keluar kamar untuk mencari kamar mandi yang ada di bagian belakang rumah.


###


Hans mengerjapkan matanya saat sinar mentari sudah menerobos masuk ke dalam kamar. Seusai Salat Subuh lelaki itu sengaja tidur kembali, badannya terasa remuk karena perjalanan jauh mencari anak istrinya di kampung mertuanya.


Saat meregangkan otot tubuhnya, Hans mendengar suara cekikian dan teriakan Ale di luar. Belum lagi, hidungnya yang sudah mencium aroma wangi khas masakan kampung yang begitu menggoda, membuat lelaki itu langsung bangkit untuk mencarinya.


"Sayang, wangi sekali masakannya." rayu Hans saat menghampiri istrinya di dekat kompor. Zoya sedang menggoreng sambal ikan asin.


"Cup..!" Tidak mendapatkan respon dari Zoya membuat lelaki itu mendaratkan ciumannya di pipi istrinya. Zoya tak pernah menyangka jika suaminya akan menciumnya di depan ibunya. Dengan wajah yang sudah merona dan tatapan sungkan, Zoya melirik ibunya yang ternyata malah tersenyum ke arahnya.


"Anak Ibu memang pinter masak!" ucap Hans pada Bu Norma sambil mencubit pipi cabi Zoya. Keberadaan Bu Norma baginya adalah angin segar. Dia tahu Zoya tak mampu menolak perlakuan apapun darinya saat berada di depan ibunya.


"Benarkah? Mungkin karena terbiasa membantu Ibu di dapur, Nak Hans. " jawab Bu Nurma masih dengan memotong sayur kacang panjang dan bayam.


"Sayang, kopi hitam ya? Aku akan melihat Ale di halaman samping." Hans langsung bergegas menemui putrinya yang terlihat asyik berlarian di halaman bersama Zahra.


Rumah Bu Nurma tidaklah besar tapi mempunyai halaman luas dengan beberapa pohon buah dan kelapa yang tumbuh di sekitarnya.

__ADS_1


"Papa... " teriak Ale ke arah papanya yang berdiri di pintu samping. Hans hanya tersenyum saat melihat putrinya berlari menghambur ke arahnya.


"Kata Mama, Papa tidak ikut ke rumah Eyang karena masih sibuk?" tanya Ale yang tidak menyangka kehadiran papanya. Tapi sejak tadi pagi dia memang sudah melihat mobil papanya berada di halaman depan.


"Papa jemput Ale sama Mama. Nanti kita pulang bersama." jawab Hans membuat bocah gembul itu hanya tersenyum dan mengangguk.


Sementara di dapur, Zoya menyelesaikan memasaknya. Dia mulai menyajikannya satu persatu menu makanan di meja makan. Seperti apa yang sudah di pesan suaminya, Zoya mulai membuatkan Hans kopi hitam.


"Zoy, jangan membiarkan rasa marah bertahan lama di hatimu. Itu salah satu hawa na*su." ujar Nurma saat mulai membahas sikap dingin putrinya terhadap menantunya.


"Apa Hans selingkuh?" selidik Nurma yang di jawab gelengan oleh Zoya.


"Apa dia memukulmu?" Nurma semakin penasaran. Dia terus saja bertanya, tapi masih di jawab dengan gelengan. Sebenarnya Nurma sudah tahu jawaban putrinya dia masih bisa melihat ada cinta di mata Hans untuk putrinya.


"Perbedaan itu pasti ada. Selama bukan dua hal itu, semua masih bisa dibicarakan. Jangan Sombong karena merasa benar, lembah manah ( rendah hati itu jauh lebih baik). Kalau saling membalas, tidak akan ada habisnya bahkan itu bisa menghancurkan sebuah hubungan." jelas Nurma yang sebenarnya belum faham apa yang sedang terjadi antara Zoya dan Hans.


"Legowo saja. Orang mengalah itu belum tentu kalah. Yang penting, kita tetap memperbaiki diri. Ibu juga belum bisa melakukan semuanya, tapi Ibu ingin kamu jadi istri yang solehah dan anak yang solehah yang akan menjadi satu satunya harapan ibu dan bapak di akhirat." Nurma menepuk pelan pundak putrinya yang saat ini menunduk. Dia merasa semua yang dikatakan ibunya tidaklah salah.


"Kalau, kamu marahnya lama-lama, terus suamimu di ambil orang, hayoo siapa yang salah?" goda Nurma saat melihat semburat kesedihan di wajah putrinya.


Nurma meninggalkan Zoya yang masih mematung di dapur, dia yakin jika saat ini Zoya sedang memikirkan apa yang sudah dia katakan. Membangun sebuah hubungan memang tidaklah mudah. Bagaimanapun, Zoya juga merasa jika suaminya masih melindungi dan menyayanginya. Tapi, saat ini langkah memperbaiki diri yang masih dia pikirkan dan akan dia bicarakan nantinya.


"Mama, Papa jemput kita!" panggil Ale dengan menarik tangan papanya berjalan ke arah Zoya.


"Ma... " Saat belum mendapatkan reaksi dari Zoya bocah itu masih menarik narik baju Zoya.


"Iya, Mama sudah tahu." jawab Zoya singkat, tanpa menoleh ke arah dua orang di belakangnya.


"Mama lagi ngambek, Ale. Mama lagi nggak mau lihat Papa." sindir Hans.


"Papa belikan Mama Coklat atau es cream saja." usul Ale membuat Hans ingin tertawa. Bocah itu berfikir mamanya sama seperti dirinya yang merajuk meminta coklat. Mendengar ucapan putrinya, Zoya sebenarnya ingin tertawa. Tapi, masih di tahannya.


"Mama mau coklat apa es cream? " tanya Hans dengan menengok wajah istrinya. Tatapan menggoda dan sebuah kerlingan dia layangkan untuk istrinya yang masih terlihat cemberut.


"Ayo kita sarapan!" Zoya langsung berbalik dengan membawa kopi hitam ke meja makan. Jika diteruskan dia tidak akan bisa menahan tawanya karena dua makhluk absurd itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2