
Shanti duduk di samping Zoya. Sedangkan, Hans berbaring di sebelah Zoya membuat Ale berdiri dan naik di punggung Hans. Betapa bahagianya bocah itu berhasil menaiki punggung papanya.
"Mbul, kamu berat lo! " protes Hans membuat Ale malah berbaring tengkurap di atas tubuh Hans.
"Mas Hans, nggak kerja? " Zoya menatap anak dan bapak yang masih saling bergelut di sampingnya. Ale terlihat tertawa lepas saat Hans memekik kesakitan.
"Aku berangkat siang, nanti langsung ke lapas. Ayo Mbul, kamu mandi sama Papa. Sekolah dianterin Papa. " Hans mengajak Ale untuk segera masuk ke kamar mandi.
"Yah... males sama Papa." sahut Ale sambil menuruni tempat tidur dengan malas-malasan.
"Apa-apaan dia. Emangnya dia anak siapa? Males sama papanya." gerutu Hans saat mengejar Ale masuk ke kamar mandi.
Shanti kembali menatap menantunya dengan senyum yang mengembang di wajah yang sudah menampakkan kerutan tipis. Pilihan menjadikan Zoya menantu tidaklah salah. Dia yakin kelembutan Zoya mampu membuat putra kesayangannya bertekuk lutut. Kehidupan mengajarkan Zoya Kamila untuk berfikir lebih dewasa diusianya yang masih sangat muda. Shanti bisa melihat itu dengan cara Zoya memahami posisi Ibunya(Nurma) sebagai single parent sejak di tinggal bapaknya.
"Zoy, terima kasih sudah sabar menghadapi Hans. Mama tahu, tidak mudah menjadi bagian dari seseorang yang emosional seperti Putra Mama. " ucap Shanti dengan memeluk menantu kesayangannya itu.
"Mama, Mas Hans suami Zoya, Mas Hans juga suami yang baik. Zoya ingin kami berjalan bersama menuju Jannah-Nya. Do'akan kebahagian selalu menyelimuti keluarga kami. " ucap Zoya dengan menggenggam tangan mertuanya. Shanti sangat terharu, tidak menyangka beliau bisa sedekat ini dengan menantunya. Dalam hatinya, beliau selalu mendoakan agar anak cucunya selalu dalam lindungan Allah.
"Mamaaaaa...... " Ale memanggil Zoya sambil berlari keluar dari kamar mandi dengan basah kuyup, membuat Zoya terhenyak kaget sekaligus khawatir jika sampai putrinya terpeleset.
"Ya allah.... sayang, hati-hati! " ucap Zoya kemudian menurunkan kakinya ke lantai dan memeluk tubuh gembul yang masih basah kuyup.
"Ale, cepetan! " Hans keluar dari kamar mandi untuk menyusul Ale.
"Mama, Ale nggak mau pakai ail dingin. Ale disuruh Papa kelamas, ta- pi Papa cuma nyiram pa- pakai air dingin. Te-rus Ale suruh mandi dan kelamas sendiri, cu-ma di tungguin di toilet. Pa- pa nggak mau mijitin kepala Ale kayak Mama mijitin saat Ale kelamas." lapor Ale pada mamanya. Hans memang meminta Ale untuk mandi sendiri. Dia hanya memasukkan Ale ke dalam ruang bersekat kaca dan menghidupkan shower dengan air dingin.
"Emang Papa tukang pijat? Ayo cepetan, Al. Nanti kamu berangkat ke sekolahnya telat. " ucap Hans sudah mulai gemas.
"Ale, nggak mau pakai ail dingin. " Ale tetap ngotot karena dia tidak tahan dengan air dingin.
"Hans, ayolah kali ini jangan buat keributan. " cecar Shanti saat Ale sudah mulai kedinginan. Shanti tidak tega melihat cucunya sudah menggeretakkan gigi.
"Ale sudah besar, Ma. Dia harus membiasakan untuk mandi sendiri dan menggunakan air dingin seperti orang pada umumnya saat mandi pagi." jawab Hans.
__ADS_1
"Mas, Awas kalau anakku sampai kembung! " Zoya menatap tajam suaminya. Zoya bisa galak jika berurusan dengan putri kesayangannya itu.
"Iya iya...! " jawab Hans dengan malas. Sepertinya semua orang berniat menentangnya.
"Sayang, ayo mandi lagi. Nanti showernya pakai air hangat." bujuk Zoya langsung diiyakan Ale. Saat berjalan melewati Hans, Bocah itu menatap tajam papanya membuat Hans ingin menertawai tatapan putrinya. Tiga perempuan saat beraksi membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Apa-apaan, katanya anaknya? Aku kan papanya asli." gerutu Hans menanggapi omongan Zoya. Setelah dia membilas tubuh gembul itu, Hans menyelimuti Ale dengan handuk kimono dan menyuruhnya untuk keluar.
"Sini ganti bajunya sama Oma." sambut Shanti saat melihat Ale keluar dari kamar mandi. Bocah itu pun menghampiri omanya. Sedangkan Zoya turun dari tempat tidur mengambilkan baju seragam buat Ale.
"Hans, kapan kalian pulang ke rumah? Di sini cuma ada satu kamar. Nanti kalau kalian lagi ehem ehem ketahuan Ale, kan report. " kalimat Shanti membuat wajah Zoya seketika merona.
"Ya elah, Mama yang di bahas gituan mulu. Besok rencana kita akan pulang. Hari ini rumah finishing dan baru ditata interiornya. " Hans mendudukkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Ale selesai berganti pakaian.
Mereka akhirnya sarapan bersama. Meskipun, buburnya sudah dingin karena banyak drama di pagi hari, Ale tetap memakannya dengan lahap karena itu makanan kesukaannya.
"Sayang, makan yang banyak! "ucap Hans. Saat Zoya sudah terlihat enggan setelah memasukkan beberapa sendok makanan ke mulutnya.
"Mama, ini buat Adek Bayi agal cepat kelual ya!" Ale mengambilkan udang krispi ke piring Zoya. Ale sudah sangat menginginkan bisa bermain dengan Adek bayinya itu.
"Adek Bayi, cepat keluar ya! Nanti kakak pinjamin banyak mainan. " ucap Ale dengan mencium perut datar Zoya. Mereka menghabiskan waktu sorenya di depan TV. Karpet berbulu membuat Ale merasa nyaman untuk guling ke sana kemari sesekali dia menaikan kepalanya untuk mencium perut Zoya. Zoya sendiri hanya duduk bersandar di sofa.
Sebenarnya dia sudah merindukan Hans. Entahlah, sejak hamil dia seperti ingin terus melihat wajah ganteng lelaki bertubuh gagah itu.
"Ale, Papa kok lama ya? " tanya Zoya sambil mengubah saluran TV nya.
"Mama lindu sama Papa, ya? " bocah itu langsung berdiri bergelayut manja di leher mamanya. Tatapannya seperti menggoda Zoya.
"Iya, emang Ale tidak kangen Papa? " Zoya bertanya balik pada putrinya.
"Kangen dong, tapi bukan lindu kayak Mama! " jawab Ale sebatas yang dia tahu.
"Loh, emang bedanya apa?" Zoya semakin penasaran dengan pola pikir putrinya. Kenapa dia punya definisi yang berbeda.
__ADS_1
"Kata hel.... "
"Assalamu'alaikum." suara Hans membuat anak dan istrinya menoleh.
"Waalaikum salam. " jawab keduanya hampir beriringan.
Ale langsung berlari menghambur ke arah Papa nya. Sedangkan, Zoya berlahan bangkit dan berjalan menyambut kedatangan suaminya.
"Pa, katanya Mama lindu! " ujar Ale setelah mencium punggung tangan Hans.
"Benarkah, tadi Mama bilang apa? " tanya Hans dengan menarik sudut matanya untuk melirik Zoya yang berjalan ke arahnya. Nampak Istrinya sudah malu malu karena ucapan putrinya.
"Ale, Papa kok lama? " cerita Ale ke Papanya.
"Berarti bukan Mama yang bilang rindu, kan? " elak Zoya dengan salim pada Hans. Hans menyerahkan dua kantong plastik berisi buah dan martabak telur.
"Mas mau makan sekarang? " tanya Zoya masih bergelayut manja di lengan Hans satunya.
"Nanti saja. Mama mana? " tanya Hans saat tidak melihat keberadaan mamanya.
"Mama pulang, besok katanya ke sini lagi. " jawab Zoya dengan berjalan mengambil piring, sedangkan Hans dan Ale langsung menuju ke depan TV.
"Mas, besok jadi ke lokasi? " tanya Zoya saat mendekat dengan membawa martabak yang sudah memenuhi piring.
"Nggak jadi besok. Soalnya, kita akan pindah ke rumah. Mungkin lusanya lagi. Sebenarnya, berat rasanya aku ke sana, cuma mau tidak mau harus ke sana. " ujar Hans dengan Mencium pipi gembul putrinya. Melihat martabak yang dibawa Zoya membuat Ale langsung menyerbunya.
"Zoy, anakmu itu kalau dewasanya gendut nggak ada yang mau macarin lo! " ujar Hans saat melihat Ale yang memang notabene doyan makan.
"Biarin Mas, aku nggak punya pacar nyatanya punya suami. " jawab Zoya sekenanya, semakin lama Zoya semakin bisa mengeksplore apa yang ada di pikirannya. Hans memang sangat menjaga bentuk tubuh. Meskipun sudah beranak satu, lelaki itu masih terlihat bugar dan six pack. Zoya duduk merapat ke arah Hans yang menselonjorkan kakinya di karpet. Ale mungkin benar dia memang merindukan Hans.
"Kayaknya bener kata Ale. Ada yang sedang Rindu. " goda Hans membuat Zoya menyembunyikan wajahnya yang sudah merona di balik punggung suaminya. Tangannya masih bergelayut manja di lengan sebelah Hans.
"Benarkan, Zoy? " cecar Hans dengan perasaan senang jika istrinya memang sudah merindukannya.
__ADS_1
Sebuah notifikasi di ponsel Zoya pun berbunyi membuat tangan mungil Zoya menggapai ponselnya. Zoya membuka sebuah pesan yang dikirim dari nomer asing. Sebuah pesan yang menyurutkan senyum di wajahnya. Matanya mulai berkaca kaca kemudian menatap Hans dengan tatapan kecewa. Bibirnya pun bergetar tapi lidahnya terasa kelu saat dia ingin bertanya sesuatu pada orang di sampingnya.
Bersambung.....