
Pagi-pagi buta setelah solat subuh, mereka pamit pulang. Ale yang masih tertidur diangkat Hans ditaruh di jok belakang. Meskipun begitu, di tengah perjalanan dia terbangun juga, saat mentari mulai menampakan wajahnya dan sinarnya menembus kaca jendela mobil membuat gadis kecil itu mengerjapkan mata.
"Mama....! " panggil Ale membuat Zoya menoleh ke belakang.
"Ale sudah bangun? Kita lagi perjalanan pulang." ucap Zoya. Ale bangkit dan duduk bersandar, bocah gembul itu masih terlihat bingung.
"Zoy, mau sarapan soto? Di sini ada soto yang terkenal enak. " tawar Hans saat berbelok akan melewati warung soto yang cukup fenomenal di kota itu.
"Ale, mau makan soto? " Zoya kini malah bertanya pada putrinya.
"Ndak mau, Ale mau bubul ayam buatan Mama saja! " jawab Ale, Kemudian Zoya menatap suaminya dan membuat Hans mengerti untuk langsung menuju ke rumah.
Jalanan masih cukup lenggang, hingga mereka dengan cepat sampai di komplek rumahnya. Hans mengernyitkan dahi, saat melihat sebuah mobil sedan terparkir di pinggir jalan tepat di depan rumahnya.
Hans membelokkan mobilnya dengan penasaran, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa yang datang pagi-pagi sekali.
"Zoy, aku duluan, ya! " Hans keluar dari mobil terlebih dahulu karena ingin segera melihat siapa yang datang berkunjung.
Matanya kini tertuju pada kaca jendela yang dilewatinya, seolah ingin menembuskan pandangan untuk mengetahui siapa tamunya.
"Nolla... " lirih Hans, saat melihat Naura duduk dengan gelisah menunggunya.
Saat melihat Hans berdiri di depan pintu, Naura langsung menghambur di depan lelaki itu. Tangan lentiknya mengambil tangan Hans yang menggantung.
"Hans, Aksara mengancamku, jika aku masih ingin bercerai dia tidak akan membiarkan hidupku tenang. Hari ini, kita akan melakukan mediasi pertama, kan? " ucapnya dengan suara parau, kalimatnya terdengar sangat ketakutan. Aksara adalah suami Naura yang tidak terima di gugat cerai olehnya.
"Tenanglah, aku yakin selama proses gugatan cerai, dia tidak akan berani macam-macam padamu. " ucap Hans.
"Maaf, permisi...! " suara Zoya membuat keduanya menoleh dan menggeser posisi mereka yang semula berada di depan pintu, agar Zoya dan Ale bisa lewat.
__ADS_1
Zoya berlalu begitu saja, meski hatinya seperti di remas saat matanya menatap tangan kedua orang itu saling tertaut. Zoya segera membawa Ale ke dapur.
"Ale, mau susu? " tawar Zoya saat mereka ada di dapur.
"Iya Mama. Ma, tante itu siapa? Kenapa seling pegang tangan papa? Pas di lumah sakit juga gitu. " tanya Ale saat membuntut di belakang Zoya. Deg... itu artinya Hans membiarkan Ale melihat interaksi mereka.
"Ale, sarapan seadanya, ya? Besok saja mama buatin bubur ayam yang lezat buat Ale. " bujuk Zoya yang diiyakan Ale.
Zoya menyiapkan pakaian Hans, ditaruhnya baju kerja Hans di atas tempat tidur, kemudian mengajak Ale untuk mandi terlebih dahulu.
Zoya memang sengaja menyuapi Ale terlebih dahulu tanpa menunggu Hans karena dia takut Ale akan terlambat. Dia juga nggak tahu jam berapa Hans akan berangkat ke kantor, sampai Ale menghabiskan sarapannya, tapi mereka berdua masih berada di ruang tamu.
"Sayang, jangan lari-lari! " teriak Zoya saat melihat Ale berlari mencari Hans untuk salim.
Zoya tersentak kaget, begitupun Ale yang seketika menghentikan langkahnya, saat sampai di ruang tamu.
"Bukan sayang, Papa Ale yang nolongin Tante! " jawab Naura sambil tersenyum ke arah Ale.
"Ale ayok salim sama Papa! Kita bisa terlambat." Ale kemudian salim pada Hans yang diikuti Zoya. Zoya meninggalkan rumah itu dengan rasa kecewa, marah dan tentunya rasa sakit yang menyeruak di dalam dadanya .
Di dalam Mobil, Zoya hanya terdiam, bahkan dia tidak menyadari jika Ale sudah memperhatikannya sejak tadi. Pak Dino menghentikan mobilnya di depan sekolah Ale, Mereka pun turun, Zoya mengantarkan Ale sampai di depan gerbang.
"Mama ... kemalilah! " ucap Ale dengan isyarat tangannya agar Zoya menunduk. Zoya pun mengikuti apa yang di katakan Ale.
"Mama, I love you! " bisiknya kemudian mencium pipi Zoya. Sontak saja Zoya terkaget., mata Zoya sempat membulat kemudian dia tidak tahan untuk tertawa.
"I love you to, Sayang! " Zoya mencium kening Ale sebelum bocah itu berlari menuju ke kelas. Hanya Ale yang selalu membuatnya bahagia. Dia berbalik menuju mobil untuk kembali ke rumah. Rasanya sangat malas sekali jika masih ada Perempuan itu bersama suaminya.
###
__ADS_1
Sejak tidak mendapat kesepakatan pada mediasi pertama Hans terkesan sibuk hingga mediasi kedua yang baru saja dilakukan itu pun bisa dikatakan gagal, karena Aksara yang ngotot tidak ingin bercerai dan Naura sudah ingin bercerai.
"Ehm.. ehm... Sepertinya ada yang sangat sibuk dengan seseorang. " Ryan berdehem di depan pintu ruangannya.
Hans hanya melirik Ryan yang berjalan menghampirinya di sof. Ryan pun mendudukkan tubuhnya di depan sahabatnya. Hans memang merasa lelah, akhir-akhir ini waktunya banyak tersita dengan kasus perceraian Naura. Dia juga tidak tega membiarkan Naura tertekan seorang diri dengan kondisinya yang sekarang.
"Sepertinya hubunganmu lebih dari sekedar pengacara dan klien. Kemarin aku lihat kalian makan siang bersama di cafe depan." sindir Ryan dengan hati hati.
"Bagaimana pun kita pernah berteman. " jawab Hans.
"Bahkan lebih dari sekedar teman kan, Hans? " Ryan terus mendesak Hans. Tapi, Hans hanya terdiam. Ryan hanya tidak ingin Hans terjebak pada cinta masa lalu yang pernah mencampakkannya. Bagaimana terpuruknya Hans saat itu membuat Ryan tidak terlalu menyukai Naura.
Hans hanya menghela nafas panjang, hatinya kembali bingung. Kedekatannya dengan Naura akhir akhir ini membuat Hans mengingat semua kenangan indah mereka. Bahkan, dia menghabiskan banyak waktunya untuk menemani Naura.
"Hans.... Bagaimana Zoya? " tanya Ryan dengan lirih.
"Dari awal sudah aku katakan. Nggak mungkin aku dengan Zoya. Tapi kami harus bertahan sampai Mama mengerti. Zoya terlalu kecil untuk bisa bisa hidup bersamaku. Dia juga sudah mengerti jika kita hanya butuh waktu saja untuk menyelesaikan ini semua. " jelas Hans, dengan berapi api. Dia merasa Ryan terlalu mendesaknya untuk menentukan pilihan.
"Apa itu artinya kamu akan memilih Naura? "
"Aku tidak berfikir ke situ. Orientasiku saat ini menyelasaikan perceraian Nolla dan memastikan Nolla aman dan baik baik saja. " jawab Hans.
"Aku harap kamu memikirkan posisi Zoya! " Ryan merasa kasihan dengan gadis itu. Menurutnya, tidak seharusnya gadis seperti Zoya dipermainkan seperti ini.
"Diamlah! Jangan terlalu mengurusiku. " Kalimat itu terlontar begitu sinis ke arah Ryan.
"Baiklah aku keluar dulu. Semoga kamu bisa memilih sesuatu yang tepat dan tidak menyesal dikemudian hari. " ucap Ryan dengan rasa kecewa karena ucapan Hans. Tapi dia sudah hafal bagaimana sifat Hans.
Bersambung....
__ADS_1