Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Bertemu Wildan


__ADS_3

Hans hanya terkekeh saat tatapan tajam istrinya tertuju ke arah Kyara. Ya, dia hanya berfikir, mungkin anaknya kelak akan banyak mirip ke dia dari pada Zoya. Tatapan tajam Zoya baru dia temukan saat istrinya sedang mengandung anaknya.


Hans membawa Ale dan Zoya berjalan menuju ruangannya.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu. " ujar Hans saat melewati meja Diana.


"Baik, Pak. " jawab Diana sambil melongo, tatapannya mengiringi keluarga kecil bosnya yang menghilang dari balik pintu ruangan.


"Ya ampun, sweet banget sih. Istrinya masih sangat muda, makanya Pak Bos awet muda. " gumam Diana masih menatap pintu ruangan bosnya itu.


"Heh, melamun..." kahadiran Ryan sungguh mengagetkan Diana. Gadis itu menghela nafas panjang untuk meredakan rasa kagetnya.


"Itu loh, Pak Bos awet muda mungkin karena istrinya yang masih muda banget. " jelas Diana.


"Muda, cantik dan solehah. Entah kebaikan apa yang di lakukan Hans hingga mendapatkan yang seperti itu. " sahut Ryan sambil tersenyum geli. Dia sendiri belum memantapkan pilihan pada seorang gadis untuk hidup berkeluarga.


"Bang, ngomong-ngomong. Mbak Kyara bajunya sekarang tertutup dan serius sekali cara kerjanya. " Diana mengajak Ryan bergosip diujung jam kerja mereka. Mereka sebenarnya sudah bersiap siap untuk pulang.


"Iya, kemarin habis kena semprot sama Pak Bos. Belum tahu saja dia, kalau bosnya diam diam killer. " Mendengar informasi yang diberikan Ryan, Dia malah cekikikan dengan menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan.


"Om Lyan. " panggil Ale saat membuka pintu ruangan Papanya dan melihat Ryan sudah berdiri di depan meja asisten Papanya. Hans memperbolehkan Ale keluar ruangan asal tidak pergi keluar kantor.


"Eh, si cantik Ale. Kemari, ayo kemari! " Ryan memanggil Ale untuk mendekat. Ryan yang berniat pulang pun menundanya karena ingin terlebih dahulu menggoda si gembul.


" Ale, pulang sama Om yuk! " ajak Ryan dengan menoel novel pipi gembul Ale.


"Nggak mau. Ale mau pelgi. Kata Mama kita akan mencali mainan buat adek bayi." Mendengar kalimat Ale, Ryan dan Diana saling bertatap. Mereka saling melempar Pandangan yang penuh dengan pertanyaan. Membeli mainan, sebenarnya hanya alasan Zoya untuk mengajak Ale ke kantor papanya. Dia ingin meminta maaf karena sikapnya semalam.


"Adek bayinya siapa?" sela Diana yang sangat penasaran.


"Adek bayi Ale. Bental lagi Ale punya adek bayi." jelas Ale kemudian duduk di kursi.


"Oh, ternyata hamidun. Gila tok cer banget. Perasaan baru kemarin, langsung jadi saja. " celetuk Ryan. Soal pemerkosaan itu hanya Ryan dan Anastasya yang tahu.


"Wah,daun muda ya, makanya Pak Bos langsung proses terus. " sahut Diana, Ale yang mendengar bahasa kedua orang dewasa itu pun hanya terdiam karena masih bingung tapi dia tetap memperhatikan.


Di dalam ruangan, Hans baru menyelesaikan dan membereskan pekerjaannya. Zoya yang sedari tadi terduduk lemas dengan membalas pesan dari Nilla. Beberapa pesan dari Nilla yang mengingatkan dirinya jika kaligrafi pesanan Wildan belum di sentuhnya sama sekali. Ada sebuah beban amanah yang kini membuatnya menghela nafas panjang.


"Ada apa, Zoy. " tanya Hans dengan menoel pipi Zoya, tempat favorit Hans saat menggoda istrinya. Hans mendaratkan tubuhnya di tangan sofa di sebelah Zoya.


"Aku belum membuat kaligrafi pesanan Bang Wildan. " jawab Zoya kemudian menyandarkan kepalanya di tubuh Hans. Pertama kalinya Zoya bermanja dengannya, membuat senyum tipis terbit di wajah kharismatik itu. Rasa tidak senang saat wanitanya menyebut nama itu pun terganti dengan rasa bahagia karena tingkah manja istrinya.

__ADS_1


"Kamu baru whatsappan sama dia? " cecar Hans penuh kecurigaan.


"Nggak, Mas. Ini, Nilla. Katanya kalau sudah selesai suruh menghubungi dia. Kaligrafinya mau diambil sama Nilla. Tapi kepegang aja nggak, bagaimana bisa selesai? " lirih Zoya dengan berfikir cara menyelesaikan semuanya. Padahal, dia susah untuk memaksa moodnya agar bisa mengerjakan banyak hal.


"Bilang aja sama Nila kalau kamu lagi hamil. Dia pasti ngerti." Hans melingkarkan lengannya dan mengusap pipi kenyal itu.


"Mas, untuk yang semalam aku minta maaf, sudah marah marah sama Mas Hans dan memukul perut Mas. " kalimat Zoya membuat Hans mendongakkan wajah istrinya, kemudian tersenyum pada wanita yang sudah mengambil sebagian dari hatinya.


"Tok... tok.... tok. " suara ketukan, kini mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu.


"Masuk! " ucap Hans dengan kembali mengusap usap pipi Zoya. Tapi, Zoya yang merasa tidak enak berusaha melepaskan diri.


"Pak, ini jadwal untuk besok, termasuk jadwal kunjungan untuk ke lapasnya Antonio Diraja. " ucap Diana merasa sungkan sendiri dengan kelakuan bosnya itu. Tidak di sangka seorang lawyer yang terkenal cuek dan berkarkater datar bisa semanis itu pada istrinya.


"Kalau begitu saya permisi pulang, Pak! " Diana pun bergegas keluar.


"Di... " panggil Hans menghentikan Diana yang akan membuka pintu untuk keluar.


"Tolong, panggilkan Ale untuk masuk. "


"Iya, Pak. " suasana kantor sudah mulai sepi.


"Ale, dipanggil Papa. " Diana menghampiri Ale dan Ryan dengan menenteng tas untuk segera pulang.


"Sebental Aunty. " jawab Ale masih menikmati ice cream di tangan.


"Di, tunggu bentar, nanti bareng aku. Pak Bos lagi ngapain? " tanya Ryan dengan melihat Ale sudah menghabiskan ice creamnya apa belum.


"Pak Bos lagi pacaran. Duch Bang, jiwa jombloku meronta saat melihat bos semanis itu sama istrinya. " Ekspresi Diana Membuat Ryan malah tergelak. Memang belum ada yang tahu bucinnya Hans kecuali Ryan.


"Apa itu pacalan Aunty? " tanya Ale kemudian mengambil tissu untuk mengelap mulutnya saat selesai memakan ice cream.


"Duch, anak Pak bos ini kritisnya nggak beda sama bokapnya. " gumam Diana mulai kelimpungan.


"Ayo Ale, kita ke ruangan Papa, Om Ryan mau pulang nih. " jawab Ryan kemudian menggandeng tangan kecil penuh lemak itu ke ruangan Hans.


Setelah mengetuk pintu Ryan membiarkan Ale berlari ke sofa. Di sana Hans dan Zoya masih duduk berdekatan.


"Aku pulang dulu, Bro. " pamit Ryan kemudian keluar mengejar Diana yang sudah menunggu di parkiran.


"Papa, pacalan itu apa? " tanya Ale yang sudah naik di pangkuan papanya.

__ADS_1


"Siapa yang ngomong pacaran? " tanya Hans.


"Kata Aunty Diana Papa lagi pacalan sama Mama. "


"Ya ampun, ternyata mereka pada ngegosip. " ujar Hans.


"Apa, Papa? "


"Pacaran itu duduk berdua kayak gini. Ayo, kita jalan jalan, yuk! Ale mau? " jawab Hans sekenanya. Membuat Ale hanya mengiyakan saja. Mereka memutuskan pergi ke Mall untuk membeli baju dan beberapa makanan.


Hans menggandeng putrinya untuk mengikuti Zoya yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju salah satu bazar bahan makanan. Sambil mengingat apa yang dia butuhkan, Zoya melihat dengan beberapa produk yang akan dia ambil.


"Assalamualaikum, Zoy. " sapa Wildan yang sudah berdiri di dekatnya, tepatnya di lorong perlengkapan peralatan untuk mandi.


"Waalaikum salam, Bang. Sendirian? " tanya Zoya.


"Iya, maklum bujang. Jadi belanja sendiri. "


"Oh ya, Bang. Maaf, aku belum sempat mengerjakan kaligrafinya. Aku nggak enak badan akhir-akhir ini. "


"Loh, kamu sakit? " tanya Wildan cukup anthusias.


"Zoya sedang Hamil, jadinya harus banyak istirahat. " sahut Hans, dengan menggendong Ale dan satu tangannya kemudian merengkuh pinggang istrinya dengan posesif.


"Ohhh, selamat ya, Mas." ucap Wildan masih melayangkan senyum ke arah Hans yang masih menampilkan wajah datarnya.


"Sebental lagi aku punya adek bayi, Om ganteng. " sahut Ale membuat Wildan mengalihkan pandangannya dan tersenyum ke arah bocah gembul itu..


"Untuk kaligrafi jangan dipikirkan, kemarin cuma mau aku bawa sekalian ke pameran lukis temanku, siapa tahu banyak peminatnya. Kalau begitu aku permisi dulu. Jadi kakak yang baik ya cantik."


"Assalamualaikum" pamit Wildan kemudian meninggalkan mereka bertiga. Bagaimanapun Wildan masih merasa sungkan, tidak mudah baginya melupakan Zoya. Tapi, dia juga tidak ingin mengharap lagi perasaan yang pernah ada untuk Zoya.


"Waalaikum salam. " Sahut mereka hampir bersamaan.


"Mas ini apa apaan sih. " Zoya mencubit pinggang suaminya.


"Auhhh...apaan sih, Zoy? " Cubitan Zoya membuat Hans merasa kegelian.


"Kenapa? Biar tahu jika kamu sudah milikku sepenuhnya dan nggak ngarep kamu lagi, Zoy. " jelas Hans membuat Zoya tersenyum, ingin sekali dia menertawakan keposesifan suaminya yang layak untuk disejajarkan dengan anak remaja.


Bersambung. ....

__ADS_1


__ADS_2