
Lengan besar itu masih memeluk tubuh istrinya dengan sangat posesif setelah terjadi pelepasan. Di bawah selimut dan tanpa sehelai benang pun mereka masih menikmati sisa sisa percintaan yang baru saja terjadi.
"Baru satu ronde lo, Zoy. Masih sekali lagi." goda Hans dengan menyingkirkan anak rambut Zoya yang menempel di wajah karena peluh. Dia kembali mencium kening Zoya yang saat ini menghadap ke arahnya. Perempuan naif yang selalu membuatnya ketagihan.
"Untung kita sudah Salat Ashar saat perjalanan pulang ya, Mas." jawab Zoya yang terdengar tidak nyambung. Tentu saja mereka melakukannya masih dalam keadaan sore.
"Zoy, kamu tahu jika Reynaldy menyukaimu." mendengar kalimat suaminya Zoya langsung membuka matanya. Irish mata yang sangat indah itu membuat lelaki di depannya tersenyum.
"Iya. Apa kamu akan meninggalkanku?" lanjut Hans meneruskan kalimatnya saat tidak mendapat jawaban dari Zoya, hal itu malah membuat Zoya tersenyum. Dia hanya merasa lucu karena pemikiran suaminya.
"Mas Hans terlalu posesif. Apa aku perempuan seperti itu?" sahut Zoya kemudian menelusupkan wajahnya diantara dada bergelombang milik suaminya.
"Mau sekali lagi?" goda Hans membuat Zoya langsung menggelengkan kepala, sekali saja tulangnya serasa mau copot.
"Ting... tong... ting... ting." Suara bel membuat mereka saling meregangkan pelukan, tatapan mereka saling bertaut menerka siapa yang datang tanpa mengabari terlebih dahulu.
"Aku akan membuka pintu, kamu mandi duluan." Hans langsung mengenakan boxernya dan mengambil kaos di dalam lemari. Dengan menyugar rambutnya agar terkesan sedikit rapi, Hans berjalan dengan tergesa-gesa karena suara bel yang tiada hentinya.
"Assalamu'alaikum... " Suara Ale dan Oma saling beriringan saat pintu apartemen terbuka. Dua makhluk Tuhan yang begitu sensasional itu membuat Hans hanya bisa menaikan kedua Alisnya. Dia sudah bersiap jika separoh dari rencana gagal.
"Mama Zoya... " panggil Ale yang sudah berjalan menuju kamar.
"Ale! Salim dulu. " panggil Hans membuat putrinya berbalik untuk menghampirinya. Bocah itu menatap aneh papanya. Biasanya papanya selalu berpenampilan rapi tapi kali ini rambut papanya terlihat berantakan. Mama Shanti yang melihatnya pun sudah faham jika di apartemen ini sudah terjadi kisah percintaan panas yang baru dimulai setelah sebulan lebih berpuasa.
"Mama mana, Pa? " tanya Ale yang kemudian memilih duduk di sofa diikuti Shanti.
"Mama lagi mandi, sebentar lagi pasti selesai." jawab Hans.
"Ma, kenapa membawa Ale ke sini?" Mendengar pertanyaan Hans mama Shanti hanya tersenyum geli.
"Tentu saja karena Ale ingin bertemu Mama Zoyanya." ujar Mama Shanti. Tidak ingin menjawab lagi mamanya, Hans kemudian melangkah menuju ke kamar. Melihat papanya akan memasuki kamar, Ale pun bergegas berlari mengejar papanya.
"Papa, ayo kita jalan jalan. Sudah lama kita tidak jalan jalan." Ajak Ale dengan menarik narik lengan papanya.
"Ceklek... " Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi pun tersenyum saat melihat kehadiran Ale di sana.
__ADS_1
"Mama... !" Melihat Ale yang mau menghambur ke arah Zoya, Hans pun berusaha menghalangi terlebih dahulu untuk membuat kesal putrinya, lengan bergelombang itu sudah telentang akan memeluk Zoya terlebih duhulu tapi Zoya berusaha menghindarinya membuat tubuh mungil itu limbung dan membentur tembok di belakangnya.
"Ih, papa. Mama jatuh, kan! " gerutu Ale dengan menghentakkan kakinya sekali dan berkacak pinggang.
"Zoy, sakit?" Hans langsung mendekati Zoya saat istrinya mengelus kepalanya yang barusan terbentur dinding.
"Aku sudah punya wudhu, Mas! Jangan gangguin Ale kenapa?" gumam Zoya masih merasa kesal dengan keusilan suaminya.
"Kamu tuh, Al. Jadi Papa lagi yang disalahin Mama." Hans melempar kesalahan pada putrinya membuat Ale melotot dan menautkan alis ke arah papanya.
"Ha ha ha... kamu melotot ke arah Papa tidak jadi jalan-jalan, lo!" tawa Hans meledak seketika saat melihat ekspresi putrinya. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
"Ale tadi sama siapa? " tanya Zoya dengan mengeringkan rambutnya.
"Sama Oma! Oma lagi di depan TV." Mendengar kalimat Ale, Zoya pun kemudian bergegas mencari keberadaan Mama mertuanya.
Nampak wanita paruh baya itu sedang asyik melihat drama Korea Penthouse. Sebenarnya dalam hati zoya pun ingin tertawa jika Mama mertuanya juga penikmat drama Korea.
"Assalamualaikum, Ma." sapa Zoya dengan mengambil punggung tangan mertuanya untuk salim.
"Naik berapa ronde, Zoy? " ledek Shanti saat melihat rambut Zoya yang masih terlihat sedikit lembab. Zoya hanya tersipu tanpa menjawab pertanyaan Mama mertuanya.
"Ups... " Seketika Shanti langsung menutup mulutnya saat menyadari mulutnya meluncur tanpa sensor.
"Mama sih, bicara nggak pernah di filter." Sahut Hans saat keluar dari kamar juga masih dengan rambut basah.
"Papa, ayo jalan jalan!" Ajak Ale kemudian menghampiri papanya yang berjalan ke arah zoya dan mamanya.
"Kemana?" tanya Hans. Lelaki itu kemudian memilih duduk di tangan sofa yang dipunggungi Zoya. Sementara Ale kemudian naik di sofa yang ada diantara Mama dan omanya.
"Kita kemana, Zoy? " tanya Hans dengan menyandarkan kepala Zoya di dadanya, dengan mengusap kening Zoya dari belakang. sambil menunggu jawaban dari Zoya, Hans menatap wajah ayu itu yang sedikit mendongak ke atas.
"Mama ingin kemana?" tanya Zoya pada Shanti.
"Makan sate di dekat bandara ya Oma?" mendengar Ale yang menyela membuat Shanti melotot ke arah cucunya.
__ADS_1
"Nggak ada makan sate kambing." tegas Hans.
"Kita nyari makan yang dekat kampus itu lo, Mas!" usul Zoya yang kemudian disepakati banyak orang. sebenernya Hans sendiri lebih suka memilih restoran yang menyediakan private room. Tapi karena kesempatan akhirnya dia yang harus mengalah.
Mereka melakukan Salat Magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum keluar untuk mencari makan malam. Ale berjalan terlebih duhulu keluar dari apartemen dengan menggandeng omanya. Sedangkan Hans berjalan beriringan dengan Zoya. Lelaki itu masih sibuk dengan ponselnya, dia menjawab pesan yang dari Ryan.
Hanya sepuluh menit perjalanan, mereka sampai pada sebuah rumah makan yang ditunjukkan Zoya. Sebenarnya, Hans ragu jika masuk ke sana. Di sana telihat anak muda yang keluar masuk.
"Yakin, Zoy? " tanya Hans saat menghentikan mobilnya di parkiran.
"Iya, aku pernah makan bersama Nilla di sini. Ikan bakarnya enak, Lo." Zoya meyakinkan Hans untuk dengan menu andalan yang sering dia pesan bersama Nilla.
Terlihat Ale dan Oma sudah berjalan mencari duduk. Sedangkan Zoya dan Hans masih mengekor di belakang.
"Seandainya, kamu masih hamil kita bisa maternity shoot di sana! Katanya bagus." Tunjuk Hans saat melihat studio foto yang cukup ternama. Hans memang sebenarnya sudah mempunyai banyak rencana saat mendengar kabar kehamilan Zoya. Tapi, biar bagaimanapun Manusia hanya bisa berencana dan ternyata Allah berkata lain.
"Maafkan kecerobohanku, Mas!" lirih Zoya dengan wajah tertunduk, Saat menyadari jika ternyata suaminya sudah merencanakan banyak hal tentang kehamilannya, Zoya merasa bersalah karena kecelakaan itu.
"Ah sudahlah, Kita kan bisa buat lagi!" Hans kembali merengkuh bahu kecil itu dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Zoya kemudian membawa istrinya masuk kedalam menyusul Ale.
"Papa...!" Ale berdiri di atas kursi panjang dan melambaikan tangan saat melihat papa dan mamanya masuk ke dalam rumah makan.
"Mama sudah pesankan empat menu yang katanya andalan di sini. Tapi, jika kalian ingin yang lain ya pesan saja."
"Segini banyaknya siapa yang akan menghabiskan, Ma?" Hans hanya berdecak saat mejanya penuh dengan makanan.
"Ale yang akan menghabiskan, iya kan?" tanya Oma pada Ale dengan menaik turunkan alisnya.
"Iyeeeesss Oma! Ale suka semuanya." Bocah gembul itu masih saja bersorak. Sedangkan, Hans hanya mendengus saja.
Zoya masih terdiam saja, bahkan dia hanya mengambil sedikit makanan di piringnya. Hans merasa bersalah kenapa juga harus mengungkit persoalan yang akan membuat Istrinya kembali bersedih.
"Makan yang banyak, Zoy!" ucap Hans sambil menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Zoya.
"Biar bisa bikin adek bayi lagi! " Bisik Hans di telinga Zoya, membuat Zoya mencubit paha suaminya.
__ADS_1
"Mama sudah besar kok disuapin. Ale pinter, bisa makan sendiri." Gumam Ale merasa cemburu melihat papanya menyuapi mamanya.
"Ale mau disuapin? " tanya Shanti dengan cepat di jawab anggukan Ale. Semua pun tertawa saat melihat kelakuan Ale.