
Hans masih berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di dinding dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celana pendeknya. Mata tajam miliknya tak lepas memperhatikan setiap gerak Zoya yang sedang merapikan barang-barangnya di walk in closset.
Perempuan mungil dengan pesona yang dimilikinya ternyata tidak hanya menarik dirinya untuk jatuh hati. Tapi, aura kesederhanaan dan kebaikan hatinya mampu menyedot perhatian setiap orang yang ada di dekatnya.
"Mas Hans, kenapa hanya melihatku saja." Akhirnya suara lembut itu terdengar. Hans tidak menjawab, Dia hanya ingin Zoya mengalihkan pandangan ke arahnya, bukan hanya pada jajaran sepatu dan koleksian jam tangannya saja.
"Mas... " Diamnya Hans memang sukses membuat wajah ayu dengan rambut tergerai indah itu pun menoleh pada sosok yang kini tersenyum ke arahnya. Aneh, Zoya melihat sikap Hans memang terlihat aneh.
Saat melihat senyum Hans, Zoya hanya menghela nafas panjang kemudian mengulas senyum yang membuat orang yang melihatnya merasa adem. Wajah ayu bersahaja itu memang selalu terlihat menenangkan.
"Katanya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan? Kenapa malah berdiri tidak jelas di sini." ucap Zoya, terakhir yang di lakukan perempuan itu adalah membuka bagian lemari yang tertutup, dia penasaran apa isi di dalamnya, barang kali masih ada ruang kosong untuk barang yang lainnya. Tapi, ternyata bagian itu berisi baju perempuan yang masih tebungkus rapi, tentu saja dengan label yang masih melekat.
"Aku tidak fokus bekerja." jawab Hans singkat.
Tangan mungil itu mengambil satu diantara baju tersebut dan membukanya. Baju hamil. Zoya kini menatap Hans, tapi yang di tatap masih bermain dengan pikirannya sendiri. Dia mengembalikan lagi baju hamil itu ke dalam bungkusnya lagi, kemudian meraba perutnya yang sudah kembali rata.
"Kenapa tidak fokus?" tanya Zoya asal asalan. Pikirannya masih tertuju pada baju-baju hamil yang masih baru.
"Masalah hati! " Jawaban Hans membuat Zoya seketika menoleh. Tidak hanya menoleh, bahkan saat ini Zoya memilih berdiri mendekati suaminya.
"Mas Hans seperti anak muda saja!" dengan lembut dia mulai meledek suaminya.
"Memang yang punya hati cuma anak muda? Mereka yang sudah tua pun masih merasa cemburu." Hans masih menatap tajam perempuan yang masih menyungging senyum di bibirnya.
"Cemburu? Ada-ada saja! Mau cemburu pada siapa?" gumam Zoya masih terdengar di telinga Hans. Tangan besar itu mencekal lengan Zoya saat perempuan berhidung mungil itu akan berbalik meninggalkannya.
Tubuh mungil itu kini dalam rengkuhan lengan suaminya. Zoya hanya bisa mendongak dan menahan dada hidang itu dengan tangannya. Tapi masih saja percuma, tubuh atletis di depannya semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Tiga bulan masih lama?" Aroma Mint dari hembusan nafas Hans kini menyapu setiap inci kulit wajah istrinya. Permen mint memang andalannya untuk mengganti rokok yang biasa dia nikmati saat banyak pikiran.
"Baru dua minggu." lirih Zoya, mata keduanya saling tertaut menimbulkan debaran kuat dalam hati perempuan mungil itu.
"Kenapa lama sekali." Suara Hans yang mengeram pelan membuat Zoya kini tersenyum. Hari ini suaminya memang terkesan aneh.
"Aku sudah merindukanmu, Zoy!" Hans semakin mengikis jarah diantara mereka. Dekat dan hampir tak berjarak, hingga bibir tipis Hans kini menyecap dan kemudian ******* lembut bibir mungil istrinya. Sebuah dorongan dari rasa rindu dan cemburu membuat Hans menikmatinya dengan sangat sampai seperdemikian detik, lembut dan berlahan ciumannya beralih pada rahang dan turun di tulang selangkah.
"Aku yang akan tidur di bawah, kamu yang tidur di sini! Kamu hanya seperti pajangan yang menggoda saja." ucap Hans saat tiba-tiba menghentikan aksinya. Dia memang memilih tak ambil resiko melakukan hubungan suami istri untuk sementara.
Zoya hanya tersenyum saat melihat punggung bidang itu berlahan menghilang dari pandangannya. Dia sendiri sebenarnya sudah merindukannya, sentuhan lembut penuh cinta dari suaminya.
__ADS_1
###
Ale sudah bersiap dengan seragam sekolahnya, hanya saja belum mengenakan kerudungnya. Kerudung putihnya masih berada di tangan, bocah itu memang masih belum betah mengenakan kerudung. Pagi ini, Mama Shanti yang membantu Ale bersiap. Sementara, zoya masih menyiapkan menu sarapan yang sudah dipesan mereka sejak tadi malam.
Mama Shanti sudah pesan jika ingin makan sambel goreng kentang dengan ayam kecap, sedang si Ale ingin makan nasi uduk sama telur kecap, untuk Hans sendiri terserah karena tahu anak dan mamanya sudah banyak permintaan. Dia merasa kasihan dengan Zoya jika harus ikut request, meskipun di bantu Bi Muna tapi tetap saja itu akan sangat merepotkan Zoya.
"Mama, susunya Ale sudah jadi?" tanya Ale menghampiri Zoya di pantry.
"Ale minum jus ya? Sekarang minum susunya kalau malam saja."
"Yaaaah, Mama!" bocah itu langsung meluruhkan bahu dengan wajah merengut karena kecewa.
"Katanya, Ale ingin seperti Helen pergi ke Malaysia untuk perwakilan menari balet." bujuk Zoya.
"Jadi Ale harus banyak minum jus! Biar kalau ngedance bisa bagus." lanjut Zoya. Dia ingin mengatur pola makan Ale secara berlahan.
"Emang Ale bisa, Ma?" Bocah itu seolah tak percaya dengan kemampuannya.
"Tentu saja, kalau Ale sering latihan dan bersungguh-sungguh." Setelah mendengar penjelasan Zoya, dengan malas Ale kembali ke meja makan.
"Zoya, Hans kemana?" tanya Mama Shanti dengan menikmati teh tawarnya.
Dengan wajah segar dan kemeja lengan panjang, Hans menghampiri meja makan. Seperti biasanya, di sana sudah ada kopi hitam yang masih mengepulkan asapnya.
"Ma, besok aku akan ke TKP, Mama masih di dini, kan? Untuk menemani Zoya dan Ale. " tanya Hans dengan menyesap cangkir kopi panasnya.
"Daerah pelosok itu? " tanya Mama Shanti.
"Iya, Ma."
"Tempat asal perempuan bernama Arum itu?" lanjut Shanti dengan nada sedikit meninggi.
"Iya, tapi aku ke T-K-P bukan untuk bertemu Arum." Hans mengeja tempat yang akan dia kunjungi agar mamanya tidak menaruh curiga.
"Bawa Zoya! Jika tidak, Mama tidak akan datang ke rumahmu lagi! "
"Ma, Aku kerja bukan piknik!"
"Mama tahu tapi Mama tidak percaya denganmu, apalagi perempuan itu." ucap Shanti dengan sengit, sebenernya dia tidak hanya mendapatkan informasi dari Ale. Tapi Mama Shanti sempat mengorek keterangan dari Bi Muna. Dia tidak ingin Kejadian yang tidak diinginkan terjadi lagi.
__ADS_1
"Aku pergi dengan Kyara dan Reynaldy, Ma! " Hans mulai kesal dengan keputusan mamanya. Dia sangat menyesal, seharusnya dia tidak membahas ini dengan mamanya.
"Apapun itu, ajak Zoya! jika tidak jangan pergi sekalian." Keputusan bulat sudah diambil perempuan itu. Terlihat raut kesal di wajah keduanya, sementara Ale hanya menatap oma dan papanya dengan cuek kemudian menghabiskan jusnya.
"Mama, makan dulu! " Zoya menyodorkan piring dan sendok di depan Mama Shanti. Wanita paruh baya itu masih bersikap dingin karena belum mendapatkan jawaban pasti dari Hans.
"Sarapan sekarang, Mas?" tanya Zoya saat sudah berdiri di dekat Hans. Dia mengusap punggung suaminya agar sedikit bersabar menghadapi mamanya.
"Sedikit saja! " ucap Hans. Dia masih saja kesal, saat mamanya mencampuri banyak hal dengan urusannya. Tapi, meskipun begitu Hans memang tidak kuasa menolak perintah Shanti. Dia tidak ingin mengecewakan atau membuat beban pikiran mamanya hingga mamanya sakit. Rasa kehilangan saat kepergian papanya membuat Hans berjanji akan menjaga mamanya dengan baik.
Suasana membisu sejenak karena perang dingin antara ibu dan anak. Hanya denting benturan sendok dengan piring yang saat ini terdengar.
"Zoya, kamu sudah sehat? Sudah kuat melakukan perjalanan jauh." Suara bariton itu memecahkan kesunyian di meja makan.
"Aku sudah sehat, Mas!" jawab Zoya.
"Besok ikut aku ke TKP." gumam Hans masih menyelesaikan sarapannya.
"Manut sama orang tua itu lebih baik, Hans." timpal Mama Shanti dengan sedikit tersenyum. Beliau merasa lega, jika Zoya ikut dengan Hans. Entah kenapa, saat mendengar cerita dari Bi Muna Mama Shanti menjadi paranoid pada Arum, sosok yang belum pernah dia temui.
###
Sejak keputusan break dari Nilla, Wildan hanya bisa menatap gadis itu dari kejauhan. Sebenarnya, dia tidak setuju dengan keputusan itu. Tapi, Nilla sepertinya sudah bulat untuk memutuskan hubungan dengannya. Tidak ingin terulang lagi kisah cintanya yang berakhir ironis, Wildan berusaha mencari cara membujuk Nilla.
Mata sendunya, menatap gadis yang kini keluar dari kelasnya. Nilla memang cantik meskipun dia sedikit judes. Bukan judes sebenarnya, sikap ketusnya hanya dia tujukan pada wildan. Dia sendiri tidak mengerti setiap kali bertemu Wildan rasanya dia tidak bisa untuk bersikap lembut seperti dia bersikap pada yang lainnya.
Gadis itu melangkah menghampiri sepedanya. Dia memang selalu naik sepada, meskipun masih menjalin hubungan dengan Wildan pun dia tidak pernah berharap akan mendapat perlakuan spesial. Diantar jemput kemana pun yang dia inginkan. Tidak, mereka memang jarang bertemu. Hanya sekali dua kali jika itu memang sangat penting.
Nilla terheran saat sudah berada di dekat sepedanya. Setangkai mawar putih dan sekotak nasi sudah ada di dalam keranjang sepedanya. Tentu saja itu membuatnya mengedarkan pandangan ke segala arah.
Sosok ganteng dengan wajah teduh yang berdiri di depan kantor rektorat itu tersenyum padanya. Bukannya membalas senyumnya gadis itu malah cepat cepat memalingkan muka.
"Enak saja mau menyuapku dengan sekotak nasi." gumam Nilla kemudian mengayuh sepedanya untuk pulang ke kos. Meskipun begitu, dia senang sekotak nasi bisa membuatnya sedikit berhemat. Senyum tipis tersemat di wajah gadis itu, selain sekotak nasi dia juga menyukai mawar putihnya.
Nilla
Bersambung
__ADS_1