
Lebih tepatnya, entah kamu cantik atau tidak, tapi aku sudah jatuh hati padamu, Zoya Kamila." gumam Hans dalam hati saat menatap wajah ayu istrinya. Kaki panjangnya pun berhasil menutup kembali pintu kamar yang sudah berhasil dibukanya.
Diletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dan Hans pun menyusul membaringkan tubuhnya di dekat Zoya. Kepalanya bertumpu pada satu tangannya dengan siku tertekuk.
"Kenapa kamu cengeng sekali? Padahal aku melihatmu sebagai wanita yang kuat untuk bertahan." ucap Hans dengan mencubit puncak hidung Zoya.
"Aku sudah tidak ingin merasakan seperti malam saat Mas Hans meminta ijin untuk poligami. Seandainya Mas Hans tahu bagaimana rasanya, sepertinya aku ingin mati saja saat itu, tapi tidak bisa." jelas Zoya membuat Hans tersenyum.
"Maafkan aku!" hanya itu yang terucap saat hidung bangir itu menempel pada pelupuk mata yang lembab itu. Mungkin, ini yang namanya trauma, rasa cemas yang timbul jika harus berkaitan dengan hal yang menyakitkan.
Lelaki itu memeluk hangat istrinya, dia tahu banyak hal sulit yang sudah di lalui Zoya.
"Zoya, lusa kita akan ke pesta temanku. Kamu harus menemaniku." ucap Hans masih dengan memeluk Zoya.
"Ceklek... " Suara pintu yang terbuka membuat pelukan mereka pun memudar.
Terlihat Ale sedang berjalan menghampiri tempat tidur mereka dengan rasa kantuk yang masih nampak.
"Ale tidurnya ingin ditemani Mama." ujar Ale kemudian merangkak ke atas tempat tidur menjauhkan tubuh Hans dari Zoya.
"Ale, kamu sudah besar, kamu tidur sendirilah!" protes Hans saat bocah itu menelusup diantara dia dan Zoya.
"Papa juga sudah besar, kenapa minta ditemani Mama?" sahut Ale tanpa peduli lagi dengan papanya. Bocah itu menindihkan kakinya di pinggang Zoya.
"Ya ampun, makin suka membantah saja ini bocah." gerutu Hans, tapi diabaikan Ale, bocah itu masih memeluk erat tubuh Zoya. Berlahan dia bangkit dan meninggalkan dua wanitanya yang saling memeluk.
###
"Zoy, Zoya... " Sambil menuruni tangga Hans terus saja berteriak memanggil Zoya. Dia tahu rutinitas pagi istrinya adalah di dapur. Terlihat sosok yang dia cari sedang membawa secangkir kopi hitam ke meja makan. Seperti biasa sarapan sudah siap terlebih dahulu saat Ale akan berangkat ke sekolah.
"Zoy, hari ini aku akan mengisi seminar di kampus. Aku maunya pakai kemeja polos saja." protes Hans karena tadi sebelum beraktifitas di dapur, Zoya menyiapkan kemeja bermotif salur.
"Iya, Mas. Aku lupa jika hari ini jadwal Mas Hans menghadiri undangan di kampus." jawab Zoya. Perempuan itu kemudian bergegas berjalan menaiki tangga yang diikuti Hans dari belakang.
Dari jauh Mama Shanti hanya menggelengkan kepala merasa heran melihat ketergantungan putranya pada Zoya. Setahunya, dulu bersama Renita Hans tidak begitu tergantung. Dia bisa menyiapkan semuanya sendiri.
"Untung saja Zoya stock sabarnya belum habis." gumam Shanti masih menikmati secangkir teh hangatnya.
Di kamar Zoya masih terlihat repot karena semua yang di siapkan untuk suaminya ternyata salah semua. Dari kemeja, jam tangan sampai warna dasinya.
"Jangan cemberut gitu, dong!" goda Hans saat melihat Zoya terdiam mencari jam rolex sesuai permintaannya.
"Aku kan sedang mencarikan pahala untukmu, Zoy." lanjut Hans saat Zoya menyerahkan kemeja warna abu-abu muda.
__ADS_1
"Iya, aku tahu!" jawab Zoya singkat.
"Yah, resiko punya suami orang penting, Zoy." Mendengar Hans yang terus saja bicara narsis, Zoya hanya menghela nafas berat. Tidak ada lagi lelaki cool seperti kesan orang di luaran tentang Hans.
"Ingat ya mas, dibalik kesuksesan suami ada doa seorang Ibu dan istri." jawab Zoya setelah memberikan jas warna navy untuk suaminya.
"Mau kemana? Tungguin sebentar! Kita turun bersama." Hans mencekal lengan Zoya yang akan meninggalkannya. Zoya pun berhenti kemudian meluruhkan bahunya sebagai tanggapan atas permintaan suaminya.
"Tolong pasangin sekalian dasinya!" pinta Hans. Zoya kemudian berjinjit, sementara tubuh tinggi itu sedikit membungkuk saat tangan mungil itu merangkai dasi di leher suaminya.
"Cup...." Hans mencium pipi cabi zoya.
"I love you, Terima kasih untuk setiap doamu. Doa di sepertiga malam yang tidak pernah terlewatkan." ciuman singkat dan ucapan terima kasih suaminya membuat wajah putih itu kini bersemu merah.
"Aku tidak pernah mendoakan Mas Hans saat tahajud." bohong Zoya. Tapi malah membuat lelaki di depannya tersenyum.
"Aku pernah beberapa kali mendengarnya kamu berdoa untuk aku dan Ale. Meskipun, aku belum bisa menjalankan tahajud tapi saat kamu terbangun aku pun ikut terjaga." jelas Hans kemudian merangkul tubuh mungil itu untuk keluar dari kamar. Mereka kembali turun menuju meja makan.
Shanti yang melihat kedatangan anaknya dengan tangan merangkul bahu istrinya pun hanya menatapnya tanpa berkedip, kemudian menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal.
"Tumben nggak komen, Ma." ucap Hans saat berada di dekat mamanya, lelaki itu melihat tatapan mamanya penuh arti.
"Bingung mau komen apa? Terlalu nano nano." Mendengar jawaban Mama Shanti membuat Zoya malah tersenyum. Dia mulai menyiapkan piring sarapan untuk suaminya.
"Siap, tapi ada uang jalannya lo!"
"Hmmmm! " Hans hanya berdehem saat mendengar tanggapan mamanya. Tidak ingin ada perdebatan lagi, Hans memilih menyelesaikan sarapannya dengan tenang.
###
Malam pukul tuju malam, mereka sudah sampai si sebuah ballroom sebuah hotel. Suasana cukup meriah meski terbilang hanya sebuah pesta kecil. Semua teman-temannya di kalangan pengusaha dan teman kuliahnya sebagai undangan, kini mulai berdatangan.
Seperti biasa saat mendatangi sebuah pesta Zoya memang selalu grogi, rasa percaya dirinya sedikit terkikis saat harus membaur dengan kalangan menengah ke atas.
"Mas, bagaimana tampilanku? Aku nggak malu maluin, kan? " tanya Zoya saat Hans membukakan pintu mobil untuknya.
"Cantik, sangat cantik!" jawab Hans, kali ini Hans memang bicara jujur. Tubuh mungil yang saat ini terlihat anggun berbalut gaun berbahan tile bordil dengan model potongan mengembang untuk bagian rok bawahnya dan sedikit menambahkan aksen batik yang sama dengan yang dikenakan oleh Hans membuat Zoya benar-benar terlihat elegant.
Hans menggandeng Zoya memasuki ruangan, kali ini mereka pergi tanpa Ale karena acara pesta yang sedikit formal.
Hans membawa Zoya untuk mengucapkan selamat pada Rudi dan Melani. Setelah itu mereka membaur dengan tamu undangan lainnya yang beberapa memang sudah Hans kenal.
"Wah, akhirnya bisa ketemu lagi dengan lawyer ternama di kota ini." ujar Rafa teman kuliah Hans. Sesaat mereka saling berpelukan.
__ADS_1
"Ini istriku Zoya." Hans memperkenalkan Zoya pada temannya yang ada di situ. Mereka menatap Heran Zoya. Entah apa yang dipikirkan teman temannya Hans sendiri tidak peduli lagi.
Kelompok kecil mereka dalam pesta malam ini seperti magnet untuk teman kuliah mereka termasuk Ryan yang juga datang, kali ini perjaka tua itu datang sendiri.
"Bagaimana jika kita manggung lagi. Kita berlima! " Seketika ide yang dilontarkan Rafa membuat kelima lelaki yang sedang bergerombol itu terlihat berbinar kecuali Hans. Mereka seolah ingin bernostalgia saat zaman kuliah yang sok- sokan jadi anak band.
"Nggaklah, kalian saja! " jawab Hans, dia tidak ingin meninggalkan Zoya yang terlihat sulit membaur dengan yang lainnya. Selain usianya nampak paling muda, hanya beberapa orang perempuan yang mengenakan jilbab, itu pun mereka tidak mengenal Hans.
"Ayolah Hans, sekali saja. Dulu vokalmu yang paling keren pada masanya." bujuk Rafa.
"Boleh kan, Zoya?" tanya Ryan dia paling tahu alasan Hans enggan naik ke panggung.
"Terserah Mas Hans saja." lirih Zoya, jawaban Zoya bagaikan angin segar untuk ke empat sahabat Hans. Mereka langsung menarik Hans ke atas panggung dan menggantikan posisi Band ibu kota yang sengaja diundang Rudy sebagai bintang tamu.
'Manusia Bodoh' lagu yang pertama yang mereka nyanyikan. Zoya tersenyum saat suaminya menyanyikan lagu band favoritnya dengan sangat bagus. Hans, sendiri tidak lepas menatap Zoya dari atas panggung. Dia sedikit lega saat beberapa istri temannya mengajak Zoya ikut bergabung.
"Zoya, kenapa diam saja?" Sapa salah satu istri teman Hans. Wanita wanita yang suaminya manggung bersama Hans kini mendekati Zoya. Bahkan, ada beberapa juga wanita yang masih single. Tampilan mereka benar benar seksi dan anggun.
"Silahkan minum! Jarang jarang kita bisa berkumpul untuk pesta." ucap seseorang wanita yang datang sendiri dengan menyodorkan sebuah minuman.
"Santai saja, kita semua temannya Hans." ujar istri Rafa menimpali.
"Diminum, Zoya." yang lainnya menimpali. Sementara Zoya merasa heran kenapa air putih yang ditawarkan, padahal tadi dia melihat Jus. Merasa sungkan dengan yang memberi minuman membuta Zoya segera meminumnya. Spontan dia menyemburkan keluar meski sudah ada yang tertelan.Dia merasakan rasa pahit.
Semua malah tertawa saat melihat reaksi Zoya. Hans yang baru saja menyelesaikan laginya dan melihat sedikit keributan di kelompok istrinya pun segera berlari mendekati Zoya.
Wajahnya sudah merah padam, saat dia sempat melihat Zoya menyemburkan minuman dari mulutnya.
"Apa apaan kalian? " Bentak Hans saat melihat wajah putih Zoya berganti memerah. Hans menggeretakkan rahang menahan emosi yang sudah membuncah dalam dadanya. Dia merasa istrinya sedang dikerjai.
"Maaf, aku kira istrimu sudah tahu minuman yang dipegangnya tadi." jawab Nuke. Wanita yang memberi Zoya minuman.
"Ba**sat....!" umpat Hans dengan membawa Zoya keluar dari pesta. Hans sudah tidak peduli jika dia sudah menjadi pusat perhatian. Saat ini fokusnya pada Zoya yang terus memukul pelan kepalanya karena merasa pening.
"Kamu tidak apa-apa, Zoy? " tanya Hans saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tenggorokanku rasanya terbakar, kepalaku juga sakit rasanya." keluh Zoya masih dengan memijit- mijit kepalanya.
"Kamu kira apa tadi?" Hans mulai melajukan mobilnya menembus jalan raya.
"Aku kira air putih tapi kok aromanya beda." jawab Zoya dengan memejamkan matanya dan bersandar di sandaran kursi yang sudah diatur Hans.
Bersambung...
__ADS_1