Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Hans Narsis Sejagad


__ADS_3

Meskipun ada sebuah benjolan dan luka lebam di kepala Ale, tapi menurut pemeriksaan dokter tidak ada yang perlu di khawatirkan pada kondisi Ale. Jika Ale mengeluh pusing pun itu hal biasa setelah menggelinding dari beberapa anak tangga. Dan itu pun sudah mendapatkan peringatan dari dokter agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.


"Papa, Ale kan sedang sakit! Bagaimana jika Papa belikan Ale Ice cream? Biar cepet sembuh." pinta Ale setelah selesai pemeriksaan.


"Nanti marah di katakan gendut?" goda Hans, masih dengan menggendong Ale menuju parkiran klinik. Ale tidak menjawab lagi dan Hans membukakan pintu mobil bagian belakang agar Ale cepat masuk.


"Aku akan menemani Ale di belakang, Mas." ucap Zoya tanpa melihat jika Hans sudah berdecih. "Dikira aku sopirnya, apa?" gerutu Hans kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi.


"Mas, jangan lupa beli ice cream!" Zoya kembali mengingatkan saat suaminya menghidupkan mesin mobil.


"Siap Nyonyah!" jawaban Hans penuh penekanan kala dua perempuan itu banyak permintaan dan buruknya lagi dia tak bisa menolaknya. Mendengar jawaban Hans, dua perempuan yang duduk di belakang itu terdengar cekikian meskipun keduanya sudah menutup mulutnya. Hans hanya meliriknya dari spion.


Dengan kaca mata hitam yang sedikit menyamarkan tampilannya, Hans mengekor di belakang dua wanitanya yang terlihat girang saat berjalan mencari tempat duduk di sebuah istana steak dan ice cream.


"Mas Hans, mau pesan rasa apa?" tanya Zoya setelah dia dan Ale sepakat untuk memilih rasa vanila coklat.


"Nggak usah, aku nggak terlalu suka ice cream." jawab Hans membuat Zoya mengembalikan buku menu pada pramusaji.


Sambil menunggu pesanannya datang, Zoya mengamati wajah ganteng di depannya. Kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung bangirnya membuat tampilan laki-laki di depannya semakin terlihat keren.


"Kenapa senyum-senyum? Aku ganteng ya?" tanya Hans, wajahnya masih menunduk menatap ponsel di tangan tapi di balik kaca mata hitamnya dia bisa melirik jika istrinya sedang memandanginya dengan tersenyum. Mendengar kalimat narsis Hans Zoya hanya tersenyum.


Sesaat kemudian, pramusaji datang dengan membawa dua mangkuk ice cream. Mata indah Zoya yang berbinar dan senyum yang merekah di bibir putrinya membuat Hans terbawa untuk menampilkan senyum di sudut bibir tipisnya. Kebahagian yang sederhana untuk kedua orang yang dia sayangi.


"Zoy, aku mau satu sendok saja!" ucap Hans ikutan tergoda saat melihat kedua wanitanya tengah asyik menikmati es cream. Zoya menjulurkan satu sendok es cream ke mulut Hans. Lelaki itu malah bergidik saat merasakan enegh di mulutnya.


"Ya ampun Pak Bos romantis amat! Pakai suap -suapan." Suara Kyara membuat keduanya menoleh, Hans dan Zoya. Kyara datang bersama Arum. Arum yang berbeda, saat ini gadis sudah mengenakan hijab.


"Ohhh, kalian! " ujar Hans kemudian menoleh ke arah Zoya. Spontan Zoya menghentikan suapannya menatap Arum dan menyuguhkan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Apa kabar Mas Hans, Zoya?" sapa Arum lirih. Suaranya penuh keraguan.


"Baik Mbak!" jawab Zoya singkat sedangkan Hans yang kini hanya menampilkan senyum canggung.


"Zoy, aku sekarang sudah berhijab." ujar Arum.


"Alhamdulillah, semoga istiqomah dengan niat yang mulia." ujar Zoya. Entah kenapa bicaranya begitu sulit terkontrol. Dia merasa tidak seharusnya dirinya banyak bicara.

__ADS_1


"Ale, salim sama Tante Arum dan Aunty Kyara! " ujar Zoya pada Ale yang seolah tidak peduli lagi pada sekitar.


"Assalamu'alaikum Tante, Aunty! Meja kita di sini udah penuh." bocah gembul itu berceloteh sesuka hatinya.


"Don't worry, Sayang! Aunty akan ke meja sebelah." jawab Kyara.


"Mari Zoya, Mas Hans." pamit Arum yang sudah ditarik Kyara untuk duduk di meja paling pojok.


Suasana mendadak membisu dan canggung, meskipun di buat sebiasa mungkin tapi tetap saja mereka merasa aneh. Sesekali Hans menoleh ke arah Zoya. Rona wajah yang sebelumnya terlihat bahagia kini mendadak kaku, bahkan dia seolah sengaja tidak mengalihkan pandangannya dari es cream.


"Sudah selesai? " tanya Hans memecah kebisuan diantara mereka.


"Sudah, Mas." jawab Zoya singkat mewakili.


"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Hans sudah bisa menebak gelagat tidak enak jika seperti ini.


"Sudah kenyang." mendengar kalimat singkat Zoya Hans pun beranjak untuk membayar tagihannya. Sementara, Zoya sudah menggandeng Ale menuju parkiran. Dengan langkah panjang Hans pun berjalan menuju parkiran karena tidak ingin menambah ribet urusan.


Sore yang masih dengan terik mentari mereka akhirnya kembali ke rumah. Selama perjalanan suasana menjadi hening, terjadi sebuah kekakuan diantara mereka termasuk Ale yang biasa berceloteh pun kini ikut membisu.


"Assalaamulaikum." ucap Ale saat membuka pintu utama rumah. Tidak melihat omanya di sofa yang biasa menjadi singgasana untuk bermain ponsel, bocah itu pun langsung mencari omanya ke belakang. Nampak Shanti sedang duduk santai di gazebo yang terdapat di dekat kolam renang, hal itu membuat Ale langsung menghampiri omanya.


"Apa? Ale bales nggak?" Shanti terkaget saat mendengar pengaduan cucunya.


"Tadi Dimas di marahin ibu guru. Tadi juga sama Papa kita ke dokter." jelas Ale.


"Loh gimana kok bisa , Zoy? " tanya Shanti saat melihat kedatangan Zoya.


"Assalamualaikum, Ma! " sapa Zoya langsung mengambil punggung tangan mertuanya.


"Tadi cuma check kondisi kepala Ale. Alhamdulillah tidak apa-apa." jawab Zoya.


"Itu ditegasin lo, Zoy. Aku nggak mau cucuku terluka." sifat protect Shanti spontan pun keluar.


"Iya tadi sudah Zoya bicarakan dengan gurunya . Dan kelas Ale sudah dipisah dengan kelas Dimas." jelas Zoya.


"Ale, ayo kita Salat Ashar dulu! Nanti keburu waktunya Asharnya habis." Ajak Zoya. Bocah gembul itu pun mengikuti saja apa yang di katakan mamanya.

__ADS_1


###


Setelah menemani Ale tidur, Zoya pun keluar dari kamar menuju balkon. Terdengar di bawah Mama Shanti sedang asyik mengobrol dengan Bi Muna yang sedang membereskan dapur. Sementara Hans masih mengurung diri di ruang kerja.


Zoya menatap sebagian suasana kota yang terlihat indah dengan temeram lampu dari atas Balkon. Suasana yang berbeda saat dia meresapinya dalam diam.


"Sayang..!" ujar Hans memeluk tubuh mungil itu dari belakang, sebuah kecupan didaratkan pada tengkuk yang masih tertutup rambut panjang istrinya. Seketika pula Zoya terkaget saat tiba- tiba pelukan itu mengunci tubuhnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Zoya kemudian menatap kembali pemandangan indah itu.


"Kamu itu yang ada apa? Dari tadi diam terus." Hans membalikkan tubuh mungil Zoya untuk menghadap ke arahnya. Zoya pun terdiam dan menunduk, hal itu membuat Hans harus menelangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi cabi itu.


"Mbak Arum cantik ya Mas saat mengenakan jilbab." lirih Zoya.


"Iya, emang kenapa?" tanya Hans dengan menatap iris mata cantik itu yang berubah menjadi sendu.


"Pengen tahu jawaban Mas Hans."


"Emang lebih cantik, kan?" goda Hans. Lelaki itu sukses membuat mata istrinya berkaca-kaca.


"Hae, kenapa harus menangis? Aku kan cuma menjawab pertanyaanmu." Hans terkekeh saat melihat sudut mata itu meneteskan air. Lelaki yang sudah tahu jika istrinya cemburu kini mendaratkan kecupan singkat di kening Zoya.


"Kamu cemburu?" tanya Hans dengan menampilkan senyum tanpa dosa saat melihat sudut mata istrinya mengembun.


"Bukan cemburu. Tapi menjawabnya terlalu jujur. Apa Mas Hans tidak tahu rasanya jika suaminya memuji perempuan Lain? Apa itu ada hubungannya dengan pembahasan poligami kemarin?" selidik Zoya.


"Duh, kok jadi begini? Kemarin itu aku cuma iseng saja membahas poligami. Terus kenapa jika Arum cantik? Banyak wanita cantik di luar sana selain Arum juga. Dan jika Aku mau mungkin hari ini aku sudah punya sepuluh istri." Hans masih merasa senang saat Zoya dilanda rasa cemburu.


"Emang niat poligami?" Air matanya malah terus saja meleleh. Dalam pikiran Zoya benar, mungkin banyak wanita di luar sana yang menginginkan sosok seperti Hans.


"Mau, asal ada yang lebih cantik hati dan rupa dari Zoya Kamila istri Hans Satrya Jagad lelaki terganteng sejagad. " ujar Hans kemudian menggendong tubuh mungil itu dan membawanya menuju ke kamar.


"Lebih cocok, Hans Narsis Sejagad." balas Zoya membuat lelaki itu tersenyum kecut dan kemudian berdecih. Zoya Kamila yang selalu membuatnya gemas, membungkamnya dengan ******* singkat di bibir mungil itu adalah cara yang tepat seperti yang saat ini Hans lakukan.


"Lebih tepatnya, entah kamu cantik atau tidak, tapi aku sudah jatuh hati padamu, Zoya Kamila." gumam Hans dalam hati saat menatap wajah ayu istrinya. Kakinya pun berhasil menutup kembali pintu kamar yang sudah berhasil dibukanya.


Bersambung...

__ADS_1


Hae gaes, readers tercintaku. Terima kasih masih selalu mensupport aku untuk selalu next. Ya allah, support kalian adalah kekuatan terbesar yang membuat aku selalu bersemangat. Terima kasih, untuk semuanya... like, hadiah, vote dan komen adalah support terhebat untuk aku, jujur saya juga banyak belajar dari komen komen readers. Matur Thank u kita bisa saling transfer knowledge untuk memperbaiki pola pikir kita. Yang baik dipakai yang buruk ditinggal saja.


Terima kasih 😘💕 I lope u keluarga besar rahasia cinta Zoya.


__ADS_2