Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Bicara Kematian


__ADS_3

Mendengar teriakan, tatkala dia hendak memasuki rumah, membuat Hans terhenyak kaget. Ale, itu tangisan putrinya yang begitu histeris membuat dirinya serempak bergegas mengayunkan langkahnya dengan berlari menapaki satu persatu anak tangga berbahan kayu. Dia sudah tak punya hati lagi, membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di lantai dua.


Langkahnya terhenti sejenak, jantungnya berdegup lebih hebat saat melihat sesosok yang sudah dia rindukan itu tergeletak tak berdaya di sofa. Wajah pucatnya tengah diusap oleh jari jari mungil sang putri yang terus saja menangis menanti mata indah itu terbuka. Sedangkan asisten rumah tangga mereka pun masih menggosok jari-jari mungil yang nampak lemah. Zoya masih belum sadarkan diri.


"Ya Allah, apa yang terjadi?" gumam Hans. Bergegas, dia mengambil alih peran Bi Muna yang berada di samping Zoya dan kemudian mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.


"Papa, Mama kenapa? Kenapa tidak bangun?" Hans masih mengabaikan pertanyaan Ale, sekelebat pikiran negatif yang menjelma membuatnya sangat bingung. Wajah lelah, tampilan yang sudah terlihat lecek sudah tidak dia pedulikan. Hanya Kecemasan yang kini terlihat dari sorot mata tajam yang menatap wajah pucat sang istri.


"Bi tolong, buatkan minuman Hangat!" ujar Hans dengan masih mengusap telapak tangan Zoya dengan minyak kayu putih, kemudian mengoleskan cairan dengan aroma tajam tersebut di sekitar hidung Zoya. Wanita paruh baya itu pun tergopoh-gopoh keluar saat mendapatkan titah dari majikan.


"Mama tidak apa-apa."Hans mencoba menenangkan isakan Ale. Bocah itu pun percaya dengan papanya, berlahan isakan Ale pun mulai tenang. Tapi, hati Hans sendiri masih begitu cemas dengan kondisi Zoya yang belum dia ketahui penyebabnya, diliriknya jam dinding, masih pukul setengah lima pagi. Jika lima belas menit lagi tidak sadar dia akan membawa Zoya ke rumah sakit saja.


"Sayang, aku pulang!" Hans menundukkan tubuhnya, dibisikkan kalimat itu di telinga Zoya kemudian mencium wajah pucat dengan mata yang masih terpejam iyu.


"Sayang, bangun!" bisik Hans sekali lagi, bisikan yang kedua disertai rasa khawatir yang sudah membubung tinggi. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.



Bulu mata lentik yang mulai bergerak membuat Hans menatapnya sekali lagi, meyakinkan jika istrinya benar benar sudah tersadar.


Zoya mulai mengerjapkan mata, menyempurnakan kesadarannya yang entah berapa menit sempat menghilang. Sepercik keraguan mulai membuatnya menatap sosok yang wajahnya hanya berjarak tipis dengannya.


Masih dengan ragu, tangan mungilnya mencoba bergerak, meraba wajah ganteng yang sulit dia percaya ada di depannya. mengusapnya berulang ulang untuk meyakinkan jika ini memang suaminya.


"Mas Hans? Benarkah ini Mas Hans?" gumamnya hampir tak terdengar, matanya melelehkan cairan bening yang tanpa henti. Rasa hampir tidak percaya dan bahagia kini membuncah dalam hatinya.


"Ini aku, Sayang?" jawab Hans dengan mencium kening istrinya. Menumpahkan kelegaan yang sempat tersita di detik detik istrinya tidak sadarkan diri.


"Mama, jangan tidur terus! Ale takut. Ale takut Mama tidak bergerak." tangis haru dan bahagia bocah itu membuat Zoya tersenyum. Dia bisa mengerti betapa Ale menyayanginya.


"Ale sayang sama Mama?" tanya Zoya dengan sedikit bergumam. Tatapannya mencari jawaban jujur yang akan dilontarkan bocah itu.


"Ale sayang Mama." Ale merebahkan tubuhnya dengan memeluk mamanya. Apa yang dilakukan bocah itu membuat hatinya begitu tersentuh. Ale, bocah kecil yang tidak disangkanya akan memberi cinta yang begitu besar untuknya. Bocah yang awalnya hanya membuat hatinya mengiba, karena anak itu begitu merindukan sosok ibu. Tapi, perasaan iba itu telah berkembang menjadi sebuah naluri yang begitu kuat. Hingga dia lupa jika dia hanya seorang ibu sambung.


"Mama sayang sama Ale." Zoya mencium puncak kepala putrinya meski tangannya masih memegang erat lengan suaminya. Seolah dia masih meyakinkan dirinya jika ini bukanlah mimpi.

__ADS_1


"Maaf, ini teh hangatnya, Pak." ucap Bi Muna setelah terdengar beberapa kali suara ketukan pintu.


Melihat wanita paruh baya itu membawakan teh hangat untuk istrinya, Hans langsung beringsut bangun. Dia menyambut secangkir teh hangat manis, hingga membuat wanita paruh baya itu bergegas keluar setelahnya.


"Sayang, minum dulu!" ujar Hans dengan satu lengan membantu Zoya bangun.


Dia meniup sejenak teh hangat itu sebelum menyerahkannya pada Zoya. Dengan banyak pertanyaan yang mengganjal di hati, dia masih menatap Zoya yang sedang menyesap isi cangkir tehnya hingga tinggal separo.


"Mas, berita itu? Itu mobil Mas Hans, kan?" tanya Zoya dengan menyerahkan cangkir tehnya pada Hans untuk ditaruh di nakas. Kemudian merebahkan tubuhnya kembali.


"Iya, semalam mobilku dipinjam teman yang satu hotel denganku. Ternyata dia bawa Asprinya."


"Ya Allah, aku melihat berita tadi pagi rasanya jantung berhenti berdetak. Ponsel Mas Hans juga tidak bisa di hubungi." sela Zoya masih dengan mata berkaca kaca. Kali ini dia seperti mendapatkan ribuan keberuntungan saat melihat suaminya ada di sisinya lagi.


"Maaf, charge aku masih di mobil. Setelah, video call denganmu, aku berencana langsung pulang." ujar Hans.


"Sudah tidak tahan! " Bisiknya lagi takut didengar bocah yang saat ini masih asyik memeluk mamanya dengan sedikit rasa kantuk. Ale yang menemukan mamanya saat terkaget mendengar teriakan Zoya. Untung saja, sesaat kemudian Hans sudah sampai di rumah.


"Terus?"


"Papa, ini Mama Ale!" protes Ale dengan memukul lengan papanya saat Hans menggeser posisi lengannya dari perut Zoya.


"Terus?" tanya Zoya lagi.


"Terus aku ngantuk, kita bobo bareng saja." jawaban konyol itu membuat Zoya ikut mencubit lengan suaminya. Greget banget, di kala dia bertanya serius malah mendapatkan jawaban konyol.


"Itu nasib teman Mas Hans gimana?" Zoya memperjelas pertanyaannya.


"Dia langsung meninggal ditempat bersama pacarnya. Mungkin cinta sehidup semati."


"Maksutnya? "


"Dia selingkuh dengan Asprinya. Makanya dia tidak bawa mobil, takut istrinya curiga."


"Astagfirullah, ya Allah." setelah menyebut nama Allah Zoya pun terdiam. Bisa terlihat gurat rasa takut dan sedih di wajah ayu itu.

__ADS_1


"Kenapa, sayang? " Diamnya Zoya membuat Hans penasaran.


"Kita tidak tahu akan kematian, usia juga bukan parameternya, bahkan sakit atau sehat tidak lagi menjadi simbol. Jika sudah seperti teman Mas Hans, hanya Allah yang tahu mereka termasuk golongan apa." lirih Zoya, tatapannya menerawang seolah kalimatnya juga mengingatkan dirinya sendiri.


"Zoy, jangan bicara seperti itu! Aku kok jadi ngeri. Meskipun aku banyak dosa, tapi aku berharap kita termasuk golongan husnul khatimah." Sekilas lelaki itu terbawa dengan ucapan istrinya.


"Terkadang, kematian menunjukkan seperti apa seseorang itu sebenarnya. Seperti halnya kita memang harus hati hati. Kalau Mas Hans selingkuh bisa jadi seperti itu." lanjut Zoya dengan melirik suaminya.


"Jangan menyumpahiku, Zoy! Aku tuh mana pernah selingkuh, paling para cewek cewek yang seneng dekat dekatku."


"Tapi sumpah aku takut kuwalat sama kamu, Zoy." ralat Hans setelah mendapatkan lirikan tajam istrinya.


"Papa takut sama Mama ya? " Sahut Ale.


"Papa bukan takut sama Mama, Papa sayang sama Mama. Iya kan Zoya." Hans malah sengaja mencium pipi Zoya didepan Ale. Sedangkan Zoya mengatupkan kelopak matanya dengan rapat sebagai protes. Dia juga menyesali jika Ale mendengarkan semua obrolan dewasa mereka.


Pukul lima pagi membuat Hans mengajak anak istrinya untuk jamaah Salat Subuh. Kini, matanya mulai mengantuk karena semalaman hanya tidur beberapa jam di dalam taxi.


"Telpon Mama dulu, Mas!" Saran Zoya saat mereka, keluar dari mushala. Zoya hanya cemas jika Mama Shanti akan melihat juga berita tersebut dan menganggap putranya yang ada dalam mobil tersebut.


"Ale juga mau bicara sama Oma. Rasanya sepi tanpa Oma." ujar Ale yang ikutan mereka masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponsel Zoya.


"Assalamualaikum Oma." Sapa Ale terlebih dahulu saat terlihat wajah omanya di layar ponsel. Mereka sengaja video call bersama.


"Waalaikum salam, ada apa kok pagi pagi sekali telpon?" tanya Shanti sambil tersenyum melihat anak cucunya berebut nampang di layar ponsel.


"Ma, mobilnya Mas Hans kecelakaan, tapi Mas Hans sudah di rumah." sela Zoya.


"Mobilku remuk, Ma. Takutnya asuransinya tidak bisa diklaim karena bukan aku yang mengendarainya." sahut Hans dengan merebut ponsel dari tangan Zoya.


"Mobil kamu pikirkan. Seharusnya masih bersyukur kamu selamat. Nanti beli lagi yang baru." jawab Shanti, dia sangat bersyukur putranya masih diberi keselamatan.


"Mama enak saja, tinggal bilang beli lagi. Nggak tahu apa, jika itu mobil harganya dua milyar." gerutu Hans dengan meninggalkan anak istrinya yang masih terlihat asyik mengobrol. Rasa kantuk membuatnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur dari pada berdebat dengan mamanya.


Bersambung...

__ADS_1


Bonus gambar ya gaes 🤭


__ADS_2