
Belajarlah Untuk bisa mengenali diri sendiri, sungguh orang yang sangat merugi dia yang tak mengenali segala kekurangan dan kesalahan yang ada dalam dirinya, sehingga dia tidak mampu untuk memperbaiki kesalahannya dan memperbaiki kekurangannya. (Author's statemen)
Hans memijit keningnya untuk merilekskan kembali untuk otot matanya yang sudah terasa lelah. Di sandarkan tubuhnya, tangannya menjulur mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak begitu saja diantara ceceran buku yang baru saja dia baca.
Pukul sepuluh malam, dia yakin semua sudah mulai bersiap untuk mengistirahatkan diri. Apalagi si gembul, dia yakin sudah berada di dimensi lain alias alam mimpi. Senyum tipis itu kembali tersemat saat mengingat tingkah putrinya. Meskipun, sedikit pemberontak tapi Ale termasuk anak yang penurut.
Setelah menumpuk beberapa buku yang tercecer, Hans pun bangkit dari duduknya."Saatnya quality time dengan istri tercinta." gumamnya dalam hati membuatnya bersemangat meninggalkan ruang kerja.
"Tapi, apa mungkin dia sudah tidur, ya?" Hans bermonolog dengan pikirannya sendiri.
Lelaki berhidung mancung itu berjalan menuju ke kamar, Mata tajamnya sempat melirik kamar Arum yang sudah tertutup membuta Hans kembali melangkah menuju tujuannya.
Ayunan langkahnya terhenti setelah melewati ruang keluarga. Hans memundurkan dua langkah kakinya untuk meyakinkan di balkon masih ada seseorang.
Sileut tubuh mungil dengan rambut tergelung indah itu sedang terdiam dan menunduk. Berlahan dia mendekati istrinya yang tidak bergeming sama sekali. Hans semakin penasaran apa yang sedang dilakukan Zoya hingga segitunya tak peduli dengan sekitarnya.
"Zoy.... " Panggil Hans dengan menepuk pelan pipi perempuan yang menyadarkan kepalanya kepala sofa. Mata indah itu tertutup oleh kelopak mata yang sudah mengatup.
"Zoya kenapa tidur di sini? " tanya Hans saat mata itu mulai mengerjap. Zoya kembali memulihkan kesadarannya.
"Aku menunggu Mas Hans." Zoya kembali bersuara, suaranya terdengar sedikit berat.
"Ada apa? Kenapa tidak masuk ke ruang kerja?"
"Aku takut mengganggu. Mas... " Kalimatnya menggantung, dia seolah ragu mengutarakan keinginannya membuat Hans menatapnya agar dia melanjutkan kalimatnya.
"Aku ingin makan martabak." lirihnya merasa nggak enak karena ini sudah jam sepuluh malam lebih.
"Martabak favoritnya Ale." lanjut Zoya.
Hans menghela nafas, bukan masalah martabaknya. Tapi, dia sedikit ragu karena biasanya jam sembilan saja sudah penjualnya sudah tutup, belum lagi jaraknya yang lumayan jauh.
"Kalau keberatan nggak usah ya nggak apa." ralat Zoya saat melihat ekspresi keberatan suaminya.
"Baiklah, aku akan keluar sebentar!" Hans berdiri kemudian mengusap-usap kepala Zoya sebelum meninggalkan Zoya.
"Oh ya, sebaiknya kamu masuk ke dalam, Zoy. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. " Teriak Hans dengan menoleh ke arah Zoya yang segera beranjak.
__ADS_1
Hans kini mengambil kunci mobilnya yang terletak di partisi tempat TV. Sebenarnya dia sudah males keluar rumah, tapi mau bagaimana lagi, tidak setiap hari Zoya mengajukan permintaan. Lagian, mungkin ini faktor ngidam. Pikiran Hans, untuk mengumpulkan semangat mencari martabak yang diinginkan istrinya yang sedang hamil.
Tidak butuh waktu lama, Hans sudah menenteng martabak buruannya. Dia merasa beruntung karena masih menemukan si penjual yang sudah siap berkemas untuk pulang.
Di dalam mobil, diantara jalanan yang masih terlihat sedikit lenggang, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap Zoya akan menghabiskan semuanya.
Mercy E Class itu sudah terparkir rapi di garasi. Dengan sedikit tergesa Hans berjalan memasuki rumah. Kakinya menapaki anak tangga dengan berlari kecil. Berharap Zoya tidak merasa terlalu lama menunggunya. Hans berhenti sejenak saat di depan televisi tak ada siapa pun, bahkan pintu kaca penghubung antara ruang televisi dan balkon sudah tertutup.
"Pasti dia menunggu di kamar." gumam Hans seraya berjalan menuju ke kamar.
Tangannya membuka handle pintu, suasana yang sunyi membuatnya mengedarkan pandangan.
"Ya Allah, Zoy." keluhnya dengan perasaan ramai antara kesal, jengkel dan tentu saja gemas saat melihat istrinya sudah terlelap di atas tempat tidur. Setelah meluruhkan bahunya dan meletakkan kantong plastik berisi martabak, Hans mendekati sosok yang sudah tak bergeming. Meskipun kesal, tapi saat mengingat perempuan yang sudah mendampinginya dengan penuh kesabaran kini membuatnya tersenyum tipis. Senyum yang seolah mengingatkan, sudah tiba saatnya sebuah pembalasan terjadi, di mana dia yang sedang diuji kesabarannya.
###
Hans, Menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dengan jas dan dasi yang menggantung di lengan tangannya, dia mencari Zoya di dapur.
"Zoy, tolong benerin dasiku." pinta Hans saat sampai di ruang makan. Zoya yang mengaduk kopi untuk dirinya pun berjalan ke arah meja makan dengan membawa secangkir kopi untuk yang baru selesai dia buat.
"Tolong benerin, dasiku!" pinta Hans pada perempuan yang punya tinggi hanya sebahunya.
"Ini bukan benerin, Mas. Tapi memakaikan." Meskipun mulutnya menggerutu,tapi Zoya tetap melakukannya, mengenakan dasi sebenarnya Hanslah yang mengajarinya, tapi seiring berjalannya waktu, lelaki itu malah merasa tergantung dengan Zoya, hanya untuk mengenakan dasi pun, dia akan meminta bantuan istrinya.
"Mas, tumben perangkat sepagi dan seformal ini?" tanya Zoya masih merasa heran.
"Iya, ada pertemuan penting. Nanti kita juga harus periksa kandunganmu, kan?" jawab Hans dengan melirik jam tangan classic ynag melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh ya, Arum belum keluar sama sekali?"
"Belum, biar nanti aku yang bawakan sarapannya ke kamar." Hans mendengarkan kalimat Zoya dengan menyesap kopinya yang masih lumayan panas.
"Aku berangkat dulu! Hati-hati di rumah. " pamitnya dengan mencium kening istrinya.
"Mas Hans tidak sarapan dulu? "
"Aku terburu-buru, Zoy." ujar Hans. Dia meninggalkan Zoya dengan langkah tergesa setelah Zoya mengambil punggung tangannya untuk salim.
__ADS_1
###
Setelah mendapatkan telpon dari Nilla, jika dia akan meminjam Ale untuk praktek temannya fakultas psikologi. Dan nanti akan mengantarkannya pulang jika sudah selesai. Hal itu membuat Zoya memutuskan untuk istirahat sejenak. Tubuhnya terasa lelah, setelah kegiatan paginya di dapur.
"Mbak- Mbak Zoya! " panggil Bi Muna setelah mengetuk pintu kamar Zoya beberapa kali. Zoya memang berpesan, jika Deny sudah datang, Dia ingin Bi Muna untuk membangunkan dirinya jika tertidur. Hari ini dia merasa sangat lelah, hingga memutuskan untuk istirahat sebentar.
"Iya sebentar, Bi!" sahut Zoya. Dengan mengenakan jilbab instannya, dia berjalan untuk membukakan pintu.
"Mas Deny susah datang." ucap Bi Muna saat Zoya membuka pintu kamarnya. Ternyata, Deny memang datang tepat jam satu siang. Bi Muna dan Zoya pun berjalan beriringan menuju ke lantai bawah untuk menemui tamunya.
Terlihat, Deny bersama satu orang lelaki yang cenderung terlihat seperti body guard. Arum sendiri terlihat berkemas, kamarnya yang terbuka membuat Zoya sudah bisa melihatnya saat menuruni tangga.
"Bi, tolong buatkan minum untuk Mas Deny! " titah Zoya pada Bi Muna.
"Tidak usah, aku tidak akan lama!" suara dingin Deny membuat Zoya sejenak terdiam. Tapi kemudian, dia memilih untuk menemui Arum yang sedang menata barangnya di kamar.
"Mbak, maafkan segala kesalahan dan hal yang menyakitkan yang pernah kami lakukan pada Mbak Arum." ucap Zoya, saat berdiri di samping gadis yang masih berkemas.
"Aku memang kecewa, tapi mungkin aku harus banyak belajar dari semua yang sudah terjadi." ucap Arum dengan menghentikan gerak tangannya. Sejenak dia tertegun dengan helaan nafas yang cukup berat, kemudian mengusap air matanya yang kembali menetes. Arum masih tidak bisa menahan air matanya saat merasakan kekecewaan.
"Mbak, kami menyiapkan sesuatu untuk Mbak Arum, jika tidak suka atau membuat Mbak Arum merasa lebih sakit, Mbak Arum bisa membuangnya di jalan, tapi kami, aku dan Mas Hans tulus masih ingin menjalin silaturahmi. Saya harap tidak ada dendam dan kebencian, diantara kita. Tapi, saya mengerti jika mbak Arum masih merasa marah." Zoya berucap penuh hati-hati. Dia memang berharap tidak ada sebuah kebencian yang tersisa, yang akan dibawa sampai mati.
"Sebentar, aku akan mengambilkan bingkisannya di kamar." pamit Zoya, kemudian dia kembali baik ke atas menuju kamarnya untuk mengambil bingkisan yang kemarin sudah dia persiapkan. Satu set busana muslim lengkap dengan jilbabnya. Zoya berharap suatu saat Arum bisa mengenakannya.
"Ayo, Rum! Tidak usah berlama lama di rumah penipu." pekik Deny dengan nada penuh emosi. Zoya yang mendengarnya di lantai atas pun terburu buru untuk turun ke bawah. Dia mempercepat langkahnya saat menuruni tangga.
"Aaaaarrrggghhhh..." Teriak Zoya, suara yang biasa lirih kini menggema hingga ke seluruh sudut rumah besar itu saat tubuhnya menggelinding ke bawah.
"Zoya! "
"Mbak Zoya! " Pekik Bi Muna bersamaan dengan teriakan Arum. wajah keduanya panik saat melihat Zoya Merintih kesakitan dengan darah yang sudah menggenang di sekitar pinggangnya.
"Bang, tolongin Zoya!" ucap Arum dengan suara bergetar. Dia sangat ketakutan dengan melihat keadaan Zoya.
"Kita pulang saja! Masih ada pembantunya." Deny langsung menarik lengan Arum begitu saja bahkan lelaki berkulit sawo matang itu menyeret Arum yang masih menoleh ke belakang.
Bersambung....
__ADS_1