Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mulas (Extra Part)


__ADS_3

Wildan menghentikan mobilnya di depan sebuah pesantren yang menjadi tuan rumah acara lomba. Saat turun dari mobil dia menghidupkan kembali ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab membuatnya berniat menelpon balik teman sesama dosennya. Tapi, belum sempat melakukan panggilan, dia membaca pesan yang sudah masuk terlebih dahulu. Dan ternyata, Lutfi teman dosennya itu mengabarkan jika Nilla sempat pingsan.


"Ummi, Wildan akan ke kampus. Ini kunci rumah, jika Ummi pulang terlebih dahulu." tanpa menunggu persetujuan dari umminya, Wildan langsung balik masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan hati gelisah memikirkan kondisi istrinya.


Jarak yang dia tempuh tidak terlalu jauh, tapi kecemasannya membuat perjalanan itu terasa lama. Hanya lima belas menit, saat ini dia sudah memparkir mobilnya asal asalan, kemudian berlari tunggang langgang menuju posko PMI. Menurut, informasi yang dia dapat dari Lutfi. Nilla langsung dibawa ke posko PMI.


"Assalamu'alaikum." ucap Wildan setelah mengetuk pintu ruang UKM itu.


"Waalaikum salam, ada perlu apa Pak Dosen?" sahut salah satu mahasiswa yang berjaga di posko. Tidak semua tahu jika Nilla istri dari dosen yang cukup dikenal karena kegantengannya itu.


"Nillanya ada di sini?" tanya Wildan dengan gusar.


"Anak tarbiyah yang baru saja pingsan itu?" gadis berkerudung coklat itu balik bertanya.


"iya... "


"Oh, baru saja dia pulang, Pak." jawaban gadis itu langsung saja membuat Wildan berbalik. Hatinya sangat panik hingga terlihat jelas di wajah gantengnya yang terlibat tegang. p


Dengan seribu langkah Wildan menghampiri mobilnya, dia mencoba menghubungi ponsel istrinya tapi tidak aktif.


Wildan kini melajukan mobilnya untuk pulang. hatinya begitu gelisah. Dia sangat merasa bersalah, semalam Nilla sudah terlihat tidak menghabiskan makanannya, ditambah lagi pertengkaran hebat mereka semalam. Dan dia juga tidak tahu apa Nilla sudah sarapan atau tidak.


"Astagfirullah." lirih Wildan dengan mengusap wajahnya saat berbelok ke arah rumahnya. Dia memelankan laju mobilnya saat melihat tidak percaya jika mobil abahnya sudah ada di depan rumahnya.


Wildan memarkir mobilnya sedikit menjauh, kemudian dia turun. Benarkah Nilla sudah dirumah? Pertanyaan itu yang memenuhi pikirannya.


Langkahnya mengendap pelan saat mendengar suara abahnya terdengar meninggi. Abah Arsyad terdengar sangat marah dengan seseorang.


"Di mana kamu gadaikan akhalakmu? Sebagai suamimu aku malu mendengar cerita itu." Suara amukan Abah Arsyad membuat Wildan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa gunanya Salatmu, jika Salat itu tidak bisa mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar? Iya hatimu sangat tamak dengan dalih untuk menyatukan dua pesantren dan memelihara keturunan. Tapi kamu menyakiti hati putrimu. Nilla sudah menjadi putrimu, Ummi. Ibu macam apa kamu ini, jika membuat putrimu sendiri dipoligami." Abah Arsyad terus saja memarahi Ummi Maryam. Ini pertama kalinya lelaki itu sangat marah dengan istrinya. Wildan juga merasa bersalah, saat mendengar tangisan umminya terdengar tergugu. Sebelumnya, dia tidak bisa mengingatkan umminya hingga akhirnya abahnya semarah ini pada umminya.


"Jika Hatimu diisi dengan bacaan Al-Quran, hatimu tidak akan sekeras ini, Ummi. Aku malu, bagaiamana aku akan mempertanggung jawabkan inj sama Allah nanti, karena tidak bisa membimbing istriku sendiri." Suara Abah mulai memelan tapi terdengar tajam.


"Maafkan Ummi, Abah. Ummi salah." Terdengar kalimat Ummi Maryam diantara isak tangisnya. Bahkan, dia juga duduk tersungkur di hadapan suaminya. Ambisinya menyatukan dua pesantren itu telah membawanya jauh dari sebuah kenyataan jika Nilla sekarang sudah menjadi putrinya, hingga ketidaksukaan pada menantunya itu tidak beralasan lagi.


"Minta ampunlah sama Allah karena kamu sudah berani mencoba mengatur sebuah kehidupan. Jangan mengecilkan siapapun karena yang kita anggap bukan siapa siapa, bisa jadi dimata Allah dia jauh lebih mulia dari kita." Kalimat Abah Arsyad membuat Ummi Maryam semakin tergugu. Melihat istrinya menangis sedemikian rupa membuat tangan keriput Abah Arsyad mengelus lembut kepala istrinya. Ini pertama kalinya beliau menegur Ummi dengan begitu tegas.


"Sekarang kemasi barang Ning Mayra. Di pesantren sudah disediakan tempat menginap untuk peserta. Ingat Ummi, Nilla putrimu sudah sepantasnya kamu menyayanginya lebih dari siapapun." pesan Abah membuat Ummi mengangguk. Dia bisa merasakan jika Abah sudah menyayangi Nilla seperti putrinya.


Mendengar kalimat Abahnya, Wildan menyandarkan tubuhnya di dinding. Rasa bersalahnya semakin besar, dia tidak bisa memahami perasaan istrinya. Mungkin saat ini hati Nilla sudah sangat terluka.


Mendengar langkah umminya masuk ke dalam. Wildan mulai beranjak masuk.


"Assalamu'alaikum." ucapnya kemudian menghampiri abahnya untuk bersalaman.


"Waalaikum salam." jawab Abah Arsyad lirih.


"Kamu Abah sekolahkan sampai jauh, harapan Abah agar kamu bisa mengaplikasikan ilmumu dengan baik. Memahami banyak permasalahan dengan teliti bukan seperti ini." Wildan masih terdiam. Dia semakin merasa sangat bersalah dengan Abah dan Istrinya.


"Jika ada yang tidak pas di hati, dibicarakan, bukan malah kalian tidak ada pulang untuk sekedar bersilaturahmi dengan orang tua." tutur Abah masih seperti menguliti kesalahan Wildan.


"Wildan pikir, Abah juga tidak menyukai Nilla seperti Ummi karena latar belakang Nilla." jawab Wildan masih dengan kepala tertunduk.


"Kamu saja bisa berfikir seperti itu, bagaimana dengan keluarga Nilla? Abah begitu malu dengan keluarga Nilla, jika mereka juga berfikir demikian." lirih Abah Arsyad dengan menyandarkan tubuhnya di kursi. Beliau menyayangkan jika keluarga mereka tidak bisa menjadi contoh dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia.


"Nilla mana?" tanya Abah.


"Loh Nilla belum sampai rumah?" Mendengar pertanyaannya abahnya Wildan langsung beranjak menuju kamar.

__ADS_1


Dan benar saja, kamar masih kosong, hanya ponsel Nilla yang masih tergeletak di nakas. Wildan mendekati ponsel istrinya dan ternyata sudah mati. Wildan langsung memasukkan ponsel istrinya dalam tas, dengan tergesa di keluar kamar untuk mencari istrinya.


"Aku akan mencari Nilla, Bah." ucap Wildan. Wildan sengaja tidak bicara jika Wildan sempat pingsan di kampus.


"Baiklah, Abah dengan Ummi akan pulang terlebih dahulu. Pulanglah ke rumah meski sejenak bersama istrimu. Kami menunggu kalian." tutur Abah yang pasti diiyakan oleh Wildan. Meskipun Abah sudah memarahi Ummi Maryam tapi beliau tetap mengajarkan pada anak anaknya untuk tetap menghormati umminya. Mereka akhirnya keluar rumah itu bersama meski dengan tujuan berbeda.


###


"Papa kenapa cuma Mama yang pakai mahkota ratu? Ale juga mau." Ale protes saat mereka persiapan melakukan foto maternity. Dia iri dengan dandanan mamanya. Dari tadi bocah itu terlihat cemberut, karena dia juga melihat mamanya sangat cantik dengan balutan gaun berwarna hijau Mint. Mendengar putrinya merengek akhirnya Zoya menyerahkan mahkota di kepalanya kepada Ale.


"Ny.Hans, tidak pakai mahkota juga masih cantik." puji MUA saat merapikan kembali tampilan Zoya. Saat merias wajah Zoya ada rasa puas dengan hasilnya.


"Pak Hans juga terlihat gagah dan ganteng." sahut Sang Fotografer saat mengarahkan gaya mereka. Hans hanya tersenyum tipis tanpa menghiraukan ucapan fotografer. Dia masih menikmati kecantikan istrinya yang luar biasa saat ini.


"Ale juga cantik. Ale kan anak Papa dan Mama." Sahut bocah itu yang merasa cemburu sedari tadi tidak ada yang memujinya.


"Iya, Kak Ale anak Mama paling cantik." Sahut Zoya dengan mengusap pipi lembut pipi gembul putrinya hingga membuat senyum manis tercetak di wajah putrinya.


Mereka memulai sesi foto. Berawal foto bertiga dan setelah itu baru mereka berdua, Hans dan Zoya. Sejak tadi Hans memang tidak banyak bicara, tapi matanya tidak lepas dari istrinya yang begitu cantik. Mata bulat dengan bulu lentik yang tertata cantik. Sapuan make up di hidungnya membuat hidung mungil itu terlihat semakin mancung. Apalagi, saat lipstik merah merona menghiasi bibir mungilnya rasanya dia ingin saja **********.


"Kami cantik sekali, Zoy." bisik Hans, saat wajahnya berada di dekat telinga istrinya.


"Sejak kapan aku cantik, Mas." gumam Zoya yang mulai pintar menjawab pujian suaminya.


"Sejak jadi istriku." jawab Hans dengan kembali berbisik. Momen sesi foto itu malah membuat mereka tidak fokus. Keduanya saling melempar kekaguman. selain Zoya yang cantik luar biasa, kali ini dengan baju setelan jas formal membuat Hans terlihat begitu gagah dan ganteng.


Seusai semua, Hans menuntun Zoya untuk kembali duduk, lelaki itu mengganti sepatu yang mempunyai heels enam sentimeter dengan sepatu flat.


"Mas perutku mules." ucap Zoya dengan meringis. Perutnya terasa mulas dan mengejang.

__ADS_1


"Hans jangan jangan Zoya mau melahirkan?" Mama Shanti langsung bergerak cepat saat mendengar keluhan Zoya.


TBC


__ADS_2