Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Semakin Perhatian


__ADS_3

Zoya mengerjapkan mata karena perutnya yang terasa lapar. Pijitan Hans ternyata membuatnya tanpa sadar sudah terlelap. Di liriknya Ale, sebelum dia beranjak bangun. Putrinya sudah terlelap dengan memeluk bantal yang di jadikan guling. Sementara Zoya sudah tidak melihat hans di dalam kamar. Zoya berniat ke dapur, mencari sesuatu yang bisa mengenyangkan perutnya. Untuk saat ini, Dia memang lebih cepat merasa lapar.


Dengan langkah malas dia membuka pintu kamarnya. Suasana rumah memang sudah terasa sepi, mungkin Mama Shanti sudah berada di kamarnya.


"Zoy, mau kemana?" tanya Hans saat melihat Zoya keluar kamar. Sedari tadi, dia memang sedang melihat televisi karena Zoya yang berniat diajaknya bicara malah tertidur karena pijatan di kakinya yang membuatnya nyaman.


"Aku lapar, Mas." ujarnya malah memilih duduk di sofa yang sama dengan Hans.


"Kamu ingin makan apa?" tanya Hans, mungkin saja Zoya menginginkan sesuatu yang berbeda seperti kehamilan pertamanya.


"Apa ya? Aku hanya lapar tapi aku takut makan, jika makan tengah malam terus bisa menjadikan aku bulat. Tubuhku ini sudah berukuran pendek." ujar Zoya dengan menyandarkan kepala di lengan suaminya.


"Zoy, mau gendut mau bulat, atau mau keriput kamu tetap istriku, Ibu dari anak anakku. Ayo aku temani, di dapur!" Hans menarik lengan istrinya menuju meja makan. Menurut Hans, itu dikarenakan ada dua nyawa di perut istrinya yang juga butuh asupan makanan.


"Mas bisa buatkan aku jus, saja?" pinta Zoya. Baru kali ini dia mengatur makanannya. Kalau dipikir pikir, dia merasa mirip dengan suaminya.


"Sama telur rebus, mau?" tawar Hans. Barangkali bisa membuat istrinya lebih kenyang tanpa harus memakan nasi.


"Boleh, jika mas Hans tidak merasa direpotkan." jawab Zoya merasa berbeda saja.


"Tentu tidak, Sayang. Bikin anaknya saja penuh semangat. Hahaha! " sahut Hans kemudian meninggalkan zoya di meja maka dan pergi ke pantry untuk memenuhi permintaan istrinya.


Zoya terus saja memperhatikan Hans yang tengah asyik membuat jus dan merebut telur di dapur. Bagaimana bisa, dia tidak jatuh cinta dengan lelaki seperti itu? Senyum tipis terbit di bibir mungil Zoya seolah mengulas semua pemikiran yang sedang me-replay kembali proses dia mengenal seorang Han Satrya Jagad.


Zoya's Pov


Aku tidak pernah menyangka jika lelaki yang sering kali membuatku takut kini begitu perhatian padaku. Mas Hans memang lebih perhatian dari sebelumnya.


Mas Hans yang sekarang terlihat lebih berbeda. Kesan pertama yang kudapat dari lelaki itu adalah angkuh dan cuek. Aku tidak terlalu berharap banyak pada pernikahanku di awalnya. Pertama, aku melihat sikapnya yang dingin seolah dia tidak bisa menerima kehadiranku, saat itu pula aku sudah pasrah dengan takdir Allah. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk pernikahanku.

__ADS_1


Tapi, semakin lama aku merasa mendapat banyak cinta dari lelaki yang terkadang membuatku kesal. Iya, Mas Hans bukanlah sosok yang sempurna seperti halnya diriku. Bicaranya yang seenaknya dan sikapnya yang arogan membuatku kesal bahkan pernah sakit hati. Tapi, Mas Hans selalu membuatku jatuh cinta dan selalu jatuh cinta, karena dia selalu belajar untuk memperbaiki semuanya. Menurutku itu jauh lebih baik dari pada menemukan orang baik yang selalu merasa dirinya baik.


Han Satrya Jagad, yang selalu meninggalkan kesan Kharismatik , smart dan cool pada setiap orang yang melihatnya. Mungkin, tidak ada yang menyangka jika sebenarnya sifat asli Mas Hans sedikit konyol, apalagi jika sudah masuk ke ranah genit, aku kadang merasa kesal sendiri. Tapi, mungkin itu salah satunya yang membuatku selalu jatuh cinta padanya.


"Kenapa senyum senyum? Jangan bilang, aku tambah ganteng ya!" Menanggapi kalimat suaminya, Zoya hanya tersenyum. Ah, tentu saja Putra Mama Shanti memang tak beda jauh dengan beliau.


"Terima kasih untuk jus dan telur rebus made in Mas Hans." jawab Zoya dengan memeluk pinggang keras lelaki yang masih berdiri di dekatnya.


"Kamu pengen lagi, ya?" goda Hans dengan senyum licik di sudut bibirnya.


"Cukup, Mas. Ini sudah cukup kenyang." Jawab Zoya masih menyandarkan kepalanya dan tangan melingkarkan tangannya di perut suaminya.


"Bukan itu, tapi pijat plusnya. Kalau udah peluk peluk manja gini kan isyarat membangunkan yang di bawah perut." goda Hans dengan mengelus bahu kecil istrinya.


"Mas Hans, yang dipikirkan itu melulu!" Zoya mendorong tubuh atletis itu untuk memberi jarak dan kemudian mencubit perut Hans hingga mengaduh kesakitan.


Hans memilih duduk di depan Zoya. Lelaki yang masih memancarkan rasa bahagia kala dia melihat wajah yang semakin terlihat gembil itu tidak bisa berhenti untuk tersenyum.


Dia bisa mengerti rasa tidak enak yang dirasakan orang yang sedang hamil. Bukan sakit, tapi rasa tidak nyaman yang sangat luar biasa. Hans tahu, setelah memeriksakan diri. Dan ternyata penyebab rasa mual, pusing bahkan keringat dingin yang kadang muncul itu karena kehamilan simpatik.


"Zoy, kalau kamu merasa mual atau kurang enak badan bilang, ya!"


"Aku tadi dikasih obat anti mual yang membuat kondisiku jauh lebih baik." lanjut Hans membuat Zoya menghentikan kunyahan di mulutnya hanya untuk memperhatikan maksud ucapan suaminya.


"Iya, kamu yang hamil aku yang ngidam." jawab Hans dengan menatap tajam istrinya.


"Ya Allah, ternyata karena sudah tahu rasanya orang ngidam lantas Mas Hans baru perhatian banget sama aku." Zoya mulai mengerucutkan bibir, merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Hans.


"Bukan begitu, Zoy. aku juga ingin belajar jadi suami yang baik, agar istriku tidak pindah ke lain hati." seloroh Hans asal-asalan, tapi sukses membuat Zoya tercengang. Dia hanya ingin mengisi keheningan saat menemani istrinya menghabiskan makanan dan minumannya.

__ADS_1


"Deg..." seketika itu pula senyum di wajah Zoya pun menyurut. Dia kembali teringat dengan sikap Rey yang membuatnya takut. Takut akan menimbulkan fitnah dan segala kenekatan lelaki yang tidak terlalu dikenalnya.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku pun hanya akan menikah sekali seumur hidupku. Seperti ibuk yang setia kepada Bapak. Seperti itu pula yang tertanam dalam diriku." guratan rasa cemas kembali terlukis di wajah Zoya. Suaranya pun terdengar sedikit bergetar membuat Hans mengernyitkan dahi. Dia merasa heran dengan reaksi yang berikan istrinya.


"Zoy, Ayo dihabiskan telur dan jusnya nanti kembali istirahat." titah Hans. lelaki itu masih penasaran, sebuah kolerasi yang cukup signifikan yang dia temukan dengan kejadian tadi siang, saat menemukan Zoya berlari kecil di kampus barunya.


###


Diantara pekatnya malam, Kyara menghentikan mobilnya, saat dia melihat seseorang yang tidur kenal telungkap di atas bamper depan mobilnya.


Itu mobil Rey, tentu saja dia sangat mengenal mobil Rey. Dia yakin jika itu adalah Rey. Meskipun begitu, Kyara sangat hati-hati mendekatinya. Jalanan yang cukup sepi dan hari pun mulai merambat ke tengah malam. Jika bukan karena ketiduran di kantor mungkin dia sudah menikmati empuknya kasur di apartemennya.


Saat pandangannya dengan jelas menangkap sosok Reynaldy, Kyara pun terkejut dan bergegas mendekati lelaki yang sedang tidak berdaya di atas bamper depan mobilnya.


"Bang Rey!" ucap Kyara dengan tersentak kaget, dia mencoba membalik tubuh tengkurap itu. Luka lebam pun menghias diantara wajah ganteng lelaki yang sempat mencuri hatinya.


Dengan susah payah Kyara membawa Rey yang setengah sadar itu masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu, sedikit panik saat melakukan mobilnya menuju apartemen Rey.


"Ya ampun, Bang. Bikin susah saja!" keluh Kyara dengan setengah melempar tubuh Rey ke atas ranjang apartemen lelaki itu. Berat. Tentu saja itu sangat berat bagi Kyara harus memapah tubuh yang sempoyongan. Blusnya sudah basah oleh keringat dan jilbabnya pun sudah acak acakkan.


Melihat tangan Rey yang berusaha membuka kancing blus kemejanya, membuat Kyara membantunya.


"Jangan pergi! Aku sudah tidak ingin sendirian lagian." ucap Rey dengan menahan tangan Kyara. Matanya masih terpejam dengan bau alkohol dari mulutnya yang terendus begitu kuat.


"Aku tidak butuh itu semua! Aku benci Mami." racau Rey menarik perhatian Kyara. Gadis itu semakin dibuat penasaran.


"Istirahat, Bang!" ucap Kyara, tapi lengan Rey semakin menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat. Rey terus saja menggeleng pelan dengan kelopak mata tertutup. Kyara merasa tidak tega, saat melihat sudut mata Rey meneteskan air.


"Apa yang terjadi denganmu, Bang?" gumam Kyara dengan menatap wajah yang penuh luka lebam itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2