
Terlihat mobil BMW warna metalic itu membelok ke rumah mewah kediaman pengacara senior Indrawan Hutomo. Seorang lelaki perawakan Atletis dengan wajah tampan itu keluar dari mobil. Daniel dengan mengenakan stellan jas resmi, kini menjemput Kyara.
Sambil menunggu Kyara bersiap, Pak Indrawan menemani Daniel. Selama beberapa menit, kedua lelaki itu tenggelam dalam perbincangan. Daniel melirik Kyara yang sudah berjalan dengan anggun menuruni tangga.
Daniel yang tidak lagi fokus dengan obrolannya dengan Pak Indrawan, membuat lelaki berumur itu menoleh ke arah pandangan dokter ganteng tersebut.
Indrawan bisa mengerti, beliau juga mengakui jika putri kesayangannya kali ini terlihat lebih anggun. Long dress yang di padu dengan outer blazer dengan model kantor membuat kesan simpel dan elegan membalut tampilan gadis yang biasa tampil simple dengan celana kain.
"Kamu cantik sekali, Ra." puji Daniel tanpa basa basi, Kyara hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Kyara.
"Oke!" Senyum lebar tidak lepas dari wajah ganteng dokter Daniel.
"Kami permisi dulu, Om." pamit Daniel dengan bersalaman dengan Indrawan.
Indrawan menatap kepergian mereka. Beliau yakin, Dokter Daniel bisa menaklukkan hati putrinya. Beliau juga berharap Kyara bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Beliau sangat menyesal pernah berharap pada Rey, lelaki yang telah membuat putrinya jatuh cinta.
Mobil sedan itu melesak meninggalkan kediaman megah Indrawan. Rasa bahagia semakin membuncah dalam hati Daniel. Kali ini, dia bisa mengajak gadis sudah menjadi tipikalnya dalam acaranya.
"Kamu pernah pacaran berapa kali?" tanya Daniel membuat Kyara menoleh ke arahnya.
"Belum pernah, Dok." jawab Kyara. Meskipun gayanya yang dulunya begitu menggoda tapi pemikiran idealisme seorang Kyara membuatnya sulit menjatuhkan komitmen pada laki-laki untuk berpacaran.
"Panggil saja, Mas. Aku masih punya darah jawa." kalimat Daniel membuat Kyara tersenyum. Awalnya dia memang merasa Aneh saat dirinya harus memanggil si wajah bule itu dengan panggilan Mas.
Daniel membelokkan Mobilnya di parkiran sebuah klinik. Di sebuah Ballroom yang sudah disiapkan untuk pertemuan, terlihat tamu undangan dan wartawan yang akan meliputnya pun sudah banyak yang datang.
Daniel membukakan pintu mobil untuk Kyara. Keduanya berjalan bersama menuju tempat di mana acara sudah hampir dimulai.
Selama dua jam acara berlangsung, Kyara hanya duduk sendiri menatap ramainya orang yang saling tukar sapa. Kebanyakan tamu mereka orang orang kesehatan meski ada yang di luar profesi itu.
Kyara sudah terlihat jenuh, sudah sedari tadi dia hanya duduk sendiri. Dia bisa mengerti karena Daniel juga termasuk tuan rumah sehingga dia harus sibuk menyambut dan berbincang dengan tamu tamunya.
Sesekali Kyara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sore ini dia sudah ada janji dengan Hans untuk menemuinya. Kali ini, Kyara juga melirik dokter Daniel yang masih terlihat serius berbincang sehingga Kyara memutuskan untuk keluar acara tanpa harus berpamitan. Kyara berniat akan mengirimkan sebuah pesan saja pada lelaki itu setelah sampai kantornya Hans.
Dengan langkah cepat Kyara keluar meninggalkan gedung klinik menuju pinggir jalan. Dia mencari posisi yang sedikit menjauh dari depan klinik agar tidak terlihat mencolok.
__ADS_1
Saat tangannya akan memencet sebuah aplikasi taxi online, sebuah taxi berhenti tepat di depannya.
Kebetulan.
"Ke kantor Firma Hukum pengacara Hans." ucap Kyara saat sudah berada di dalam mobil.
"Oh iya mbak, hari ini bos kami berulang tahun jadi setiap penumpang akan mendapatkan hadiah dari kami." ucap sopir taxi dengan menyerahkan bucket kecil dan coklat ke arah Kyara, kemudian melajukan mobilnya kembali.
"Wah, bosmu baik juga ya? Tidak cuma tahu untung dan rugi." celetuk Kyara merasa heran. Tapi, dia terlihat senang menghidu wangi bunga yang sudah terangkai indah.
Sedari tadi sopir taxi itu memperhatikan Kyara dari spion. Dia juga sudah memasang kamera yang yang siap dia laporkan pada Rey. Tentu saja, semua kebetulan itu karena perintah Rey yang terus mengawasi Kyara.
Dokter Daniel
###
Hans memijat kepalanya yang sedikit pusing. Saat Zoya kesulitan tidur, istirahatnya pun tidak lagi berkwalitas. Sejenak Dia tertegun memikirkan istrinya. Hans selalu dilanda rasa cemas. Dia mengerti, kesulitan tidur memang biasa dialami wanita hamil, apalagi saat perutnya mulai membesar. Tapi, pengalaman ditinggal istri saat melahirkan membuat kecemasan sendiri untuk Hans.
"Maaf, Pak! Ini jadwal Bapak untuk besok." Setiap sore, saat menjelang pulang, Zuri menyerahkan jadwal acara bosnya untuk hari esoknya.
"Bapak kenapa? Sedang tidak enak badan?" tanya Zuri saat melihat Hans memijit kedua pelipisnya, wajahnya pun terlihat lesu. Setelah, mendapatkan perintah yang seakan dia sangat dibutuhkan, Zuri merasa kekakuan bosnya mulai melemah.
"Apa ada lagi yang bisa saya lakukan untuk Pak Hans saat ini?" Kali ini Hans menoleh ke arah Zuri. Biasanya Hans memang enggan menatap sekretarisnya itu, tapi nada bicara dan pertanyaan Zuri membuat lelaki itu merasa heran.
"Iya, mungkin saya bisa menghilangkan rasa pusing Pak Hans." Zuri tersenyum tapi Hans langsung memalingkan wajahnya. Saat Hans membuka kancing kemeja bagian atas karena merasa gerah, Kaki jenjang itu mulai melangkah mendekati bosnya. Gadis itu memang cukup berpengalaman menilai lelaki yang sudah terpengaruh dengan pesonanya.
"Keluarlah! " ucap Hans dengan nada dingin. Kemudian dia beranjak berdiri untuk menjauh dari tempat Zuri berdiri.
"Saya mengerti, Wanita hamil tidak bisa memberikan kepuasan." Gadis itu malah semakin nekat untuk membuka lagi tiga kancing atas dari kemejanya. Dia semakin penasaran, baru lelaki yang ada di depannya itu yang menolaknya.
"Keluarlah, beresin barang barangmu sekarang! Atau aku panggil security." Hans semakin geram. Lelaki itu mengusap tetes peluh di dahinya.
Awalnya Hans sempat dibuat salah tingkah, Biar bagaimanapun dia lelaki yang merasa sensitif saat suara sensual dan tubuh yang barbalut dengan baju seksi itu semakin mendekat ke arahnya. Zuri sengaja menunjukkan bagian tubuhnya yang bisa menyalakan hasrat lelaki. Tapi, lagi lagi bayang senyum polos istrinya, tawa putri kecilnya yang menggemaskan kembali membawanya pada kesadaran, jika keluarganya terlalu berharga jika dibandingkan dengan apapun.
"Jangan munafik, Pak! Aku menyukai Pak Hans dan Kita akan melakukannya atas dasar suka sama suka." Zuri semakin nekat mendekati Hans.
__ADS_1
"Aku berjanji akan merahasiakan hubungan kita dari siapapun!" Bahkan gadis itu langsung memeluk tubuh tinggi atletis di depannya . Dia yakin laki laki normal tidak akan menolak pesonanya, apalagi sedikit banyak dia juga tertarik dengan lelaki yang cukup berkharimatik itu.
"Sialan!" Hans mendorong tubuh tinggi semampai itu hingga membentur rak Buku.
"Brak... " Hans dan Zuri menoleh saat pintu ruangan di buka kasar oleh Zoya. Dengan langkah tertartih tapi berusaha melangkah cepat Zoya mendekati Zuri. Matanya menyala penuh dengan kemarahan. Emosinya yang sedari tadi sudah di tahan, kini seolah sudah berada di ubun ubun.
"Plak..." Sebuah tamparan mendarat di wajah cantik Zuri.
"Perempuan tidak tahu malu!" maki Zoya Di depan Zuri. Wajah putih Zoya terlihat merah padam, suaranya bergetar menahan amarah yang menyesak di dadanya. Hans yang terhenyak kaget karena kedatangan Zoya yang tiba tiba itu pun mendekati istrinya.
"Perempuan macam apa kamu itu, dimana harga dirimu? Kamu tahu, jika dirimu sangat menjijikkan!" Nafas Zoya mulai tersengal. Hatinya seperti diaduk aduk, belum pernah dia memaki seseorang sedemikian. Hans mulai memeluk tubuh istrinya, mencoba menenangkan Zoya. Dia bisa melihat kemarahan di mata istrinya itu pasti akan segera berganti dengan tangisan.
"Pergilah, beresin semua barangmu!" ucap Hans saat melihat Zuri sudah terpojok dengan memegangi pipinya. Gadis itu kemudian berlari ke luar ruangan.
"Kenapa Allah... "Hans langsung membekap bibir istrinya dia memeluk istrinya. Dia tidak ingin Zoya berbicara buruk.
" Sayang... istrigfar! " ucap Hans dengan masih memeluk erat istrinya yang sudah masih menyisakan emosinya.Tangis Zoya, akhirnya pecah. Hans tahu, ini akan terjadi.
"Mas.... " rintih Zoya, dia merasakan perutnya jadi terasa kencang.
"Sudah, sayang. Ayo duduk dulu!" Hans membawa Zoya untuk duduk di kursi kerjanya. tangannya menjulur mengambil gelas air putih untuk diberikan pada Zoya. Dia sendiri kemudian berjongkok dengan menekuk lututnya di lantai. Tangannya mengusap sudut mata Zoya yang sudah berair.
"Tarik nafas dan rileks." ucap Hans. Dia kemudian mengusap berlahan dan mencium perut istrinya. Seolah menenangkan dua bocah di dalam sana. Dia tidak ingin keadaan buruk barusan mempengaruhi kedua anak dan istrinya.
"Mas aku memukulnya." gumam Zoya dengan menatap telapak tangan yang digunakan untuk memukul gadis itu. Dia memang sudah melihat semuanya dari pintu yang sedikit terbuka. dia memang menunggu reaksi suaminya untuk menampakkan diri.
Melihat Zoya yang menyesali tindakannya, Hans kemudian berdiri. Dia merengkuh kepala Zoya dalam pelukannya.
"Maaf, Bang!" suara Kyara membuat Zoya dan Hans menoleh ke arah pintu. Gadis itu merasa heran dengan situasi yang cukup mengganjal.
"Masuk, Ra!" Hans mempersilahkan Kyara masuk. Gadis itu masih menolah noleh mengamati situasi sebelum dia mengajukan pertanyaan lagi.
"Bilang ke Zuri, gaji bulan ini besok akan di transfer ke rekeningnya.
Tanpa bertanya lagi, Kyara kembali menemui gadis itu untuk menyampaikan pesan dari mantan bosnya itu.
"Sebaiknya kita pulang saja!" ujar Hans saat melihat Zoya sudah mulai tenang bersandar di badan kursi. Bibirnya terus menggumamkan istigfar.
__ADS_1
Selain marah Hans bisa membaca wajah penyesalan istrinya, mungkin ini pertama kalianya Zoya memaki seseorang sedemikian kotornya.
TBC