Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Menemukan Arum


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan wanita berpenampilan awut awutan itu, mereka tergopoh-gopoh berjalan menuju tempat yang ditunjukkan olehnya. Mereka sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi yang pastinya Hans sedang menyadari jika wanita itu bisa bicara dan itu memberi sedikit harapan untuk kasusnya. Seperti yang pernah dikatakan Kyara, kemungkinan besar dia adalah saksi utama tentang pembunuhan Kinanti.


Perjalanan dengan jalan kaki membuat Zoya dan Kyara sedikit kewalahan. Hampir setengah kilometer jarak yang sudah mereka lalui dan saat ini mereka berdiri di luar pagar yang menjulang tinggi. Di dalam paga itu terlihat bangunan megah mirip mension.


"Tunggu!" ujar Hans saat melihat semuanya akan memasuki gerbang.


"Apa yang terjadi dengan Arum?" tanya Hans masih menatap wajah bingung wanita paruh baya itu.


Tak menjawab lagi, wanita tua itu menarik lengan Hans setengah memutari pagar tembok yang menjulang tinggi itu. Ada sebuah dinding pagar yang terbuat dari kayu, dan di sana terdapat sebuah lingkaran lubang dengan diameter tiga puluh centimeter, dari situ wanita paruh baya selalu memperhatikan keadaan Arum di dalam.


"I-ituuu.... " ucap wanita itu masih dengan tergagap. Bicaranya belum bisa lancar sepenuhnya.


Hans mencoba melihat ke dalam. Tapi, keadaan sepi, hanya beberapa orang laki- laki yang terlihat mondar-mandir.


"Aa-aruuuummm di sekap?" jelas wanita paruh baya itu.


"**- olong...Aa- anaaaakkkuuuuuu! " tangis yang terkesan histeris berganti dengan isakan yang tergugu, karena wanita itu langsung membungkam mulutnya dengan kuat.


"Tenang... tenang dulu! Kita akan membantumu. Tapi, ceritakan sedikit saja apa yang sebenarnya terjadi? " Kyara menghampiri wanita itu mencoba menenangkannya. Tangan Kyara menggenggam tangan keriput lusuh itu, seolah meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


"Arum di sekap! Arum putriku.... hik hik hik" Wanita itu tak kuasa menahan tangisnya. Sungguh bagi mereka, apa yang diucapkan wanita itu malah membuat mereka semakin bingung.


"Tolong Arum!" pinta wanita itu dengan air mata yang sudah menganak sungai. Bibirnya pun terus bergetar.


"Bang, kita masuk saja. Mereka tidak terlalu banyak!" ajak Reynaldy yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


Mendengar kalimat Rey, Zoya mendekat ke arah Hans. Tangannya menarik lengan suaminya, tatapannya sarat penuh dengan kecemasan. Dia, sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya.


"Kamu tunggu di sini bersama Kyara dan Ibu ini. Aku dan Rey akan masuk ke dalam." ucap Hans dengan menggenggam kedua bahu istrinya yang terlihat sangat mencemaskannya.


"Aku akan baik-baik saja!" ujar Hans kembali meyakinkan Zoya.


"Ra, kamu di sini bersama Zoya dan Ibu ini. Segera hubungi kepala desa, kalian masuk saat kepala desa bersama orang orang sudah sampai di sini." pesan Hans kemudian mengajak Rey untuk masuk ke dalam sebagai tamu.


Hans dan Rey berjalan menuju gerbang pintu masuk. Ketukan lingkaran besi yang berbentur dengan papan tebal yang menjadi pintu gerbang membuat seorang lelaki berperawakan tinggi besar itu muncul.


"Aku mencari Arum!" ucap Hans kepada penjaga itu.

__ADS_1


"Arum tidak ada di sini! " jawabnya singkat saat akan menutup kembali pintu gerbang itu, tapi tangan Rey dengan gesit menahannya.


"Jika tidak ada Arum, kami ingin bertemu Deny." lanjut Rey.


Sesaat kemudian terdengar suara tepukan tangan dari atas mension. Deny sedang memberi isyarat pada penjaga untuk mempersilahkan Hans dan Rey masuk.


Nampak sangat jelas mension yang sangat megah dan halaman yang sangat luas. Hans dan Rey juga tidak luput untuk memperhatikan sekitar. Terdapat beberapa orang yang menghuninya. Tapi, memang tidak terlihat satu pun seorang wanita di sini.


"Silahkan masuk, Tuan Hans Satrya Jagad! " Suara berat itu terdengar bersamaan munculnya sosok yang sudah Hans kenal. Deny Andar Harsono calon mantan kakak ipar yang gagal, lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku mencari Arum, Mas!" ujar Hans setelah mereka duduk di sofa.


"Untuk apa? Untuk kamu permainkan?" balas Deny dengan menyilangkan kedua kakinya. Tatapannya terlihat tidak menyukai kehadiran Hans di sini.


"Ada yang ingin aku sampaikan." Hans masih bingung harus beralasan apa lagi.


"Tidak ada Arum di sini. Aku sudah membawanya untuk tinggal di luar kota." jawab Deny masih terlihat tenang, dua pengawalnya masih setia berada di belakangnya.


"Di mana? Jika hanya luar kota tidak akan sulit untuk menemuinya." desak Rey yang sudah menaruh curiga pada lelaki berkulit sawo matang itu.


"Tolong..... keluarkan aku. Braaaakk...braaaaakkk! " suara yang sangat dikenal Hans.


"Bukankah itu Arum? " tanya Hans dengan sekali bangkit dari duduknya.


"Habisi laki laki ini! " perintah Deny pada dua orang di belakangnya. Baku hantam pun terjadi, di susul tiga orang anak buah Deny yang kemudian datang dan ikut mengkroyok Hans dan Rey.


Baku hantam pun terjadi, dua lawan lima, membuat Hans dan Rey sangat berhati-hati apalagi diantara mereka membawa pisau lipat.


Tendangan dan pukulan tidak lagi mereka rasa, apalagi besetan pisau yang sudah merobekkan kulit diantaranya pun tak mereka hiraukan. Lengah sedikit saja nyawa mereka taruhannya. Hans melayangkan tendangannya pada anak buah Deny yang akan menusukan pisau ke arah perut Rey, hingga anak buah Deny itu kepalanya membentur pilar hingga berlahan tubuhnya merosot. Sementara Hans sendiri terkena tendangan yang tidak dia sadari hingga membuat tubuhnya terjungkal jauh. Rey masih bergerak dengan lincahnya membekukan lawannya, dia tidak ingin memberi kesempatan pada lawannya.


Hans yang melihat Deny berjalan menuju sebuah senapan laras panjang yang menggantung di dinding itu pun menendang lelaki itu hingga terperosok di sudut. Saat ini kesempatan Hans mengambil senjata itu.


"Berhenti! " Hans menodongkan senapan laras panjang itu di kepala Deny hingga membuat dua dua anak buah Deny yang masih bertahan itu pun ikut mengangkat tangannya.


"Mas Hans! " teriak Zoya saat melihat suaminya menodongkan senjata. Tidak hanya takut suaminya membunuh seseorang, tapi dia juga cemas saat darah kental mengalir dari robekan kulit di lengan bergelombang suaminya.


Kehadiran Zoya, Kyara dan wanita paruh baya itu memberi kesempatan Deny dan anak buahnya untuk lari tunggang langgang menuju Jeep yang sudah terparkir di halaman.

__ADS_1


Saat melihat kehadiran kepala desa dan beberapa warga yang ada di belakang Zoya, Hans pun mencari di mana suara Arum berasal. Semua mengikuti Hans mencari keberadaan Arum kecuali warga yang membereskan anak buah Deny yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tolong... brak.. brak..." suara itu kembali terdengar dari lantai atas membuat mereka segera berlari menaiki anak tangga.


Pintu kamar yang masih terkunci membuat Hans mencoba menendangnya beberapa kali hingga bisa terbuka.


"Mas Hans...! " teriak Arum dengan memeluk tubuh tegap di depannya. Gadis itu terlihat awut awutan dengan tangisan takut yang terlihat jelas. Tidak hanya tampilannya yang musuh, tapi bisa terlihat beberapa lebam di tubuh dan wajahnya.


"Rum, semua sudah baik baik saja!" Hans mencoba mengurai pelukan Arum, tapi eratan lengan Arum di pinggang Hans masih melingkar dengan kencang.


Semua tatapan orang yang ada di sana, kini beralih ke arah Zoya, termasuk tatapan Hans yang menangkap mata Zoya sudah berkaca-kaca. Hans berusaha melepaskan pelukan Arum tapi gadis itu masih terlihat ketakutan hingga membuat Hans semakin dilema.


Saat melihat Zoya akan menuruni tangga Hans punya melepas paksa Arum dan mengejar Zoya. Tangannya pun mencekal lengan Zoya agar berhenti.


"Zoy, mengertilah! "


"Iya, teruskan saja! Dia memang tanggung jawab Mas Hans." sindir Zoya dengan air mata sudah meleleh sampai di pipi. Tangannya berusaha menghentak untuk melepaskan diri dari cengkeraman jari-jari besar Hans.


"Zoya! " bentak Hans membuat Zoya terjingkat kaget. Suaranya menggema, membuat semua orang menatap keduanya.


Wajah Zoya yang sudah merah padam itu pun tidak bisa disembunyikan lagi. Hatinya terasa nyeri saat suara lantang itu membentaknya di depan banyak orang. Belum lagi rasa malu saat menyadari semuanya menatapnya.


Cengkeraman Hans pun mengendur saat melihat air mata Zoya yang terlihat mengalir deras di wajah ayu itu. Hans baru menyadari jika bentakannya sudah melukai hati istrinya.


"Ayo, sebaiknya kita ke rumah saya saja, biar aman! " Suara pak lurah sedikit mencairkan suasana.


Mereka pun berjalan bersama menuju rumah pak lurah. Wanita paruh baya itu hanya menatap lega putrinya yang saat ini di gandeng Kyara.


Sementara Zoya dan Hans masih tertinggal di belakang bersama Hans. Hans yang berusaha membujuk Zoya pun belum juga berhasil. Zoya sendiri merasa tak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Setiap kali dia masih merasakan dadanya terasa sesak, saat suaminya memeluk wanita lain di depan matanya dan itu sudah berulang ulang dalam hidupnya.


Setengah jam mereka berjalan hingga akhirnya mereka sampai di rumah pak lurah. Semua orang masuk ke dalam ruangan rumah berbentuk joglo itu. Mereka mulai mendiskusikan kelanjutan untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk semuanya.


Sementara Zoya masih duduk di teras, dia masih sibuk meredakan perasaannya yang muncul di saat yang tidak tepat. Biasanya dia bisa menahan rasa cemburu dan marahnya Tapi entahlah, saat ini rasanya begitu sulit.


"Minum dulu, biar sedikit lega!" Rey menyodorkan sebotol air mineral ke arah Zoya. Zoya hanya mematung menatap sosok itu dengan tatapan aneh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2