
Zoya mengakhiri sholat isya dan membaca Al Qur'an seperti biasanya. Dia membereskan mukena dan Al-Qur'an untuk ditaruhnya kembali di rak yang ada di kamar Ale. Tidak ada bocah itu rasanya sepi, tidak seperti biasanya, Ale selalu menirukan dia membaca Al Qur'an dalam versinya sendiri. Zoya tersenyum sendiri saat mengingatnya, bocah itu memang sudah mencuri hatinya.
"Pasti Mbak Renita perempuan yang cerdas. " gumamnya karena dia melihat Ale punya daya ingat yang sangat bagus. Dan sekali lagi, dia sudah merindukan Ale.
Zoya keluar dari kamar dengan membawa buku yang pernah dibawakan Wildan. Malam ini dia seperti kesepian tanpa Ale. Langkahnya mengayun menuju ruang keluarga yg terhubung langsung dengan balkon. Di sana, nampak Hans menghentikan tangannya memijit kepalanya yang sedikit pusing saat menyadari kehadiran Zoya. Matanya melirik buku yang bersampul kuning itu, yang dia yakini pemberian ustadz yang membuat moodnya sangat buruk.
"Zoy, bisa memijit kepalaku sebentar? "
"Iya, Mas! " Hans selalu memastikan jawaban iya dari Zoya. Belum pernah dia mendapat penolakan dari istrinya.
"Duduklah di sini! " ucap Hans dengan meminta Zoya untuk duduk di satu sofa dengannya. Zoya pun hanya menurut saja. Tapi saat itu Hans langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Zoya, membuat gadis itu langsung terserang gugup. Ini pertama kalinya dia harus beradegan layaknya sepasang kekasih. Sebenarnya, Zoya sudah mulai terbiasa dengan Hans tapi tidak juga sedekat saat ini. Menurut Zoya Hans adalah suami yang cukup bertanggung jawab meski awalnya Zoya tahu Hans sangat menentang pernikahan ini.
"Zoy, jika di lantai atas kamu bisa membuka jilbabmu! Tidak akan ada orang yang akan naik ke atas kecuali saat membersihkan ruangan. " ucap Hans. Hans tidaklah suami buruk untuk Zoya, lelaki itu tidak punya alasan untuk membenci Zoya. Tapi, jika mencintainya mungkin belum, masih ada Renita di hatinya.
"Iya, Mas! " jawab Zoya dengan memulai pijatan lembut di kepala Hans.
"Aku suka melihatmu tidak berjilbab! " Kalimat itu meluncur begitu saja, padahal Hans ingin menyimpan saja kekaguman untuk wajah cabi dan rambut indah istrinya itu.
Berlahan Zoya membuka jilbabnya. Wajahnya memerah, tersipu saat tatapan Hans tepat di wajahnya. Bahkan, tangan Hans dengan jailnya membuka gelungan rambut panjang yang langsung jatuh terurai mengenai wajahnya yang sedang tersenyum keki.
Hans hanya ingin menggoda Zoya, dia senang saat melihat pipi cabi itu berubah menjadi kemerah-merahan.
"Ayo pijat lagi kepalaku! " titah Hans membuat Zoya terkesiap karena terlalu sibuk mengatur degup jantungnya yang serasa hampir melompat.
"Seperti ini? " tanya Zoya mencoba bersikap sebiasa mungkin. Tapi tatapan Hans yang tak beralih darinya membuat siksaan sendiri di hati Zoya. Dia harus bekerja keras untuk menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa wajahmu merona, Zoy?" Senyum Hans yang sangat langka kini terbit di wajah ganteng lelaki itu. Senang sekali menggoda gadis pemalu yang saat di dekatnya itu.
"Nggak kok, biasa saja, Mas! " elak Zoya dengan menampilkan senyum malu malunya. Tanpa mereka sadari, ada rasa bahagia dari interaksi semacam itu. Ditambah lagi pijatan tangan mungil itu benar benar memberikan rileks untuk Hans.
"Aku kangen Ale, Mas!" ujar Zoya membuat Hans menatap kembali mata bulat Zoya. Tatapan mereka saling beradu. Tanpa disadarinya, mungkin lebih tepatnya Hans terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran.
__ADS_1
"Besok kita jemput Ale. Aku antar kamu ke rumah Mama dan aku jemput pas pulang kantor dan kita langsung ke pesta. " jelas Hans yang di jawab anggukan Zoya. Mereka menghabiskan waktu bersama, meski akhirnya mereka kembali tidur di kamar yang berbeda.
###
Zoya menyiapkan pakaian yang akan Hans kenakan saat pesta. Setelah itu dia baru akan mendandani Ale terlebih dahulu.
Zoya bisa mendengar suara deru mobil Hans saat memasuki garasi rumah Shanti, Zoya mempercepat geraknya mengikat rambut Ale dan menyelesaikan urusan Ale. Agar bisa menyambut kedatangan suaminya.
"Sayang, Ale sama oma dulu ya? " pinta Zoya kemudian menurunkan Ale dari kursi rias.
"Iya, Mama!" Zoya menggandeng Ale keluar kamar, dan membawanya ada Shanti yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Ihhh.... Cucu oma cuantik kayak oma!" goda Shanti saat melihat Zoya dan Ale berjalan ke arahnya.
"Aku milip Mama Zoya, nggak mau milip oma! "jawab Ale dengan bersungut di depan omanya. Menurut Ale omanya sudah terlalu tua untuk dimiripkan dengannya.
" Ma, titip Ale! " ucap Zoya kemudian berjalan ke depan menyambut kedatangan Hans. Saat mendapati Hans, Zoya pun salim dan mengambil tas yang di bawa suaminya.
"Aku tinggal ganti saja, Mas. "
"Baiklah aku akan mandi terlebih dahulu." Hans memasuki kamar mandi sementara Zoya kini berganti pakaian dan menambah sapuan bedak dan lipstik tipis tipis di wajahnya yang berkulit cerah.
Zoya kembali merapikan bagian jilbabnya agar terlebih rapi. Saat itu Hans keluar dari kamar mandi. Matanya menatap gadis bergaun hitam yang terlihat elegant. Hans tidak menyangka jika Zoya bisa tampil se elegant itu.
"Mas, aku tidak pintar merias wajah! " ucap Zoya menyadarkan kekaguman Hans pada dirinya.
"Tidak masalah, itu sudah bagus. Aku tidak suka perempuan bermake up tebal. " ucap Hans kemudian mengambil bajunya yang berada di tempat tidur. Batinnya sangat memuji tampilan Zoya, tapi dia seolah tidak terlalu peduli dengan semuanya.
Mereka kini sudah bersiap berangkat. Zoya masuk ke dalam mobil dan memangku Ale. Melihat kepergiaan mereka, Shanti memang sangat bahagia. Tidak salah Shanti memilih Zoya, meskipun dia hanya lulusan Aliyah yang penting bisa mengimbangi putranya dari segi apapun.
Sepanjang perjalanan Hans mencuri pandang ke arah Zoya, rasanya dia tidak ada bosannya melihat gadis di sebelahnya.
__ADS_1
Hans membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan klassik yang sengaja disewa Anastasya untuk acara ulang tahunnya. Nampak tamu undangan sudah mulai ramai, dari dalam mobil, semua tamu terlihat berkelas. Gadis itu benar benar dilanda kegelisahan, ini pesta mewah pertama yang dihadirinya.
Hans, membuka pintu mobil untuk Zoya, kemudian mengambil Ale untuk digendongannya. Sebelah tangannya kini menggandeng Zoya untuk masuk ke dalam restoran.
Ruangan tampak ramai oleh tamu, Hans melihat banyak teman kuliah yang di undang Anas. Ada yang tetep berdiri saja tapi ada pula yang duduk di meja kursi yang sudah disediakan.
Tapi sebelum duduk mereka di sambut Ryan, Anisa, Dita, Varo, Albert dan Anas sendiri.
"Eh Zoya, hampir saja aku tak mengenalnya! " ujar Ryan terlihat senang ketika melihat Hans dan keluarga kecilnya. Menanggapi Ryan, Zoya hanya mengulum seulas senyum manisnya.
"Tamu kehormatan dipersilahkan duduk! " goda Varo saat melihat Hans merangkul Zoya untuk membawanya duduk.
Hans Meletakkan Ale untuk duduk sendiri. memang seperti tamu spesial yang duduk satu meja dengan si mpunya pesta. Sesuai perintah Anas, seorang waiters membawakan menu untuk teman teman spesialnya.
Zoya menatap steak yang ada di piringnya. Dia tak ingin membuat kesalahan, karena dia tidak ingin mempermalukan suaminya. Tapi, untuk memakan Steak dia belum pernah.
"Ayo silahkan, dinikmati! " ucap Anas, matanya mengarah ke Zoya yang terlihat kaku. Senyum sinis terlihat di bibir perempuan yang menjadi bintang untuk malam ini.
Nampak Zoya grogi memegang pisau dan garpu, juga nampak saos yang sedikit tercecer di pinggir piringnya. Hans memotong steak di piringnya sebelum dia berdiri mengganti piring Zoya dengan piringnya.
"Seorang muslimah tidak akan mengalah begitu saja dengan keadaan! " bisik Hans di telinga Zoya sebelum kembali ke kursinya.
Zoya malah menyuapkan steak yang diberikan Hans ke mulut Ale terlebih dahulu.
"Hans sepertinya istrimu perlu kursus kepribadian untuk masuk di kelas kita. " Mendengar kalimat itu Hans hanya mengedipkan matanya ke arah Zoya.
"Yang perlu kursus kepribadian, mereka yang krisis karakter, Mbak! Mereka yang perlu pembinaan untuk bisa menghargai orang lain. " sahut Zoya dengan lembut dengan masih menyungging senyum di bibirnya.
Mendengar kalimat Zoya semua tertawa, lebih lebih Ryan yang memang tidak terlalu menyukai Anas yang bicara tidak pernah diatur.
Hans menjulurkan tangan, mengusap punggung Zoya seolah menyalurkan kekuatan, dia tau Zoya harus mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengucapkan itu.
__ADS_1
Bersambung....