Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Burjo (Bubur Kacang Ijo)


__ADS_3

Hans menikmati sebatang rokok yang menyala. Langit masih terlihat mendung, udara masih terasa dingin dan lembab karena hujan dan gerimis yang baru saja mereda. Pesan misterius dan beberapa accident itu sangat menganggu pikirannya. Bukan karena dia takut. Tapi, dia semakin penasaran dengan siapa yang dia hadapi sebenarnya.


Hans menghembuskan asap rokoknya ke udara. Membuat sosok yang baru saja mendekat ke arahnya terbatuk." uhuk -uhuk..." Dengan mengenakan kemeja kedodoran milik suaminya, Zoya menghentikan langkahnya di pertengahan pintu.


" Zoy... " sapa Hans, buru buru Hans mencecak puntung rokok saat mendapati Zoya terbatuk di sampingnya. Zoya mengibaskan tangannya untuk mengusir asap yang mengepul dari mulut suaminya.


Hans menatap istrinya yang mengenakan kemejanya, rambut di cepol ke atas membuat senyum samar tersemat di bibir tipis lelaki itu. Bagi Hans, saat ini Zoya terlihat seksi.


"Senyum Mas Hans mencurigakan. " celetuk Zoya yang berjalan untuk duduk di sebelah Hans. Zoya memang mencari keberadaan Hans.


"Kamu yang terlalu curigaan, Zoy. " sahut Hans. Padahal, dia sedang tersenyum karena melihat beberapa tanda merah di leher jenjang putih milik istrinya.


"Mas, aku cuma pakai ini. Ada yang orang yang lihat nggak, ya? " tanya Zoya dengan mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Nggak ada orang yang lihat di ketinggian lantai empat belas. " Hans menarik bahu kecil Zoya agar bersandar di dadanya.


Hening, mereka terbungkam menikmati malam yang berbeda dari sebelumnya. Perempuan di sampingnya saat ini memberi warna yang berbeda di hatinya. Rasa hati yang sulit untuk diungkapkan dan cuma bisa dirasakannya. Di usianya, yang bukan lagi remaja, dia merasakan sebuah perasaan yang menggebu dan bergejolak saat di dekat Zoya. Seperti, anak belasan tahun yang lagi dilanda asmara.


Zoya masih tampak malu-malu membuat Hans menarik lengan kecilnya untuk memeluk perut ratanya. "Aku memilikimu dengan sempurna. Meski aku tidak yakin jika diriku penghuni sepenuhnya di hatimu." gumam Hans, hatinya saat ini dipenuhi rasa bahagia.


"Zoy, besok kita akan tinggal sementara di apartemen. " ucap Hans membuat Zoya melepaskan pelukan Hans dan menatap tajam ke arahnya.


"Ale? " tanya Zoya.


"Iya besok kita jemput Ale. Setelah renovasi rumah selesai, kita akan kembali ke rumah. " jelas Hans membuat Zoya meluruhkan bahunya. Dia sangat merindukan putri sambungnya. Hans memang sengaja merenovasi rumah untuk meninggalkan kenangan buruk dari malam tragis itu.


"Ale sudah tidur apa belum ya, Mas? " Pertanyaan Zoya membuat Hans berdecih. Ale lagi, Ale lagi, ingin sekali dia memprotes.


"Kamu menikah denganku karena cinta sama Ale atau cinta sama aku, Zoya? " dengus Hans merasa cemburu dengan si gembulnya itu.


Zoya tersenyum saat melihat wajah merengut lelaki ganteng di depannya. Hidung bangirnya, bibir tipis, wajahnya selalu tampak bugar dan tubuh seksinya membuat Hans tidak terlihat jika sudah beranak satu.


"Kenapa menatapku seperti itu? " selidik Hans, tatapan Zoya membuatnya salah tingkah. Perempuan di sampingnya memang berhasil menjungkir balikkan hidupnya. Sosok Zoya memang tidak pernah terlintas dalam hidupnya. Apalagi mampu untuk menelusup menjadi bagian yang berpengaruh dalam hidupnya.


"Aku dulu menikah sama Mas Hans bukan karena cinta dengan Ale atau Mas Hans. Aku menikah karena tidak ingin mengecewakan Ibu. "cicit Zoya membuat Hans menarik tengkuknya dan ******* bibirnya hingga beberapa saat. Dia menatap bibir yang hampir membengkak karena rasa gemasnya itu.


" Aku akan membuatmu jatuh cinta Zoya Kamila. " Hans beranjak dari duduknya dan menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Jawaban polosmu terkadang membuatku kesal, Zoya! " gerutu Hans membuat Zoya merona dalam gendongan Hans . Rasa malu tetep menjadi bagian rasa yang mendominasi, saat harus bersentuhan dengan lelaki yang saat ini di dekatnya.


Hans menurunkan Zoya di dekat meja makan. Zoya menatap menu yang tertata di meja. Daging sapi lada hitam dan soto betawi membuat Zoya malah merasa mual.


Dengan tergesa-gesa Zoya berjalan ke arah wastafel. Perutnya seperti diaduk aduk saat melihat menu yang di pesan suaminya.


"Zoya.. " Hans melangkah mengejar Zoya yang menunduk di atas wastafel.


"Kamu kenapa? Pasti karena nggak makan siang dan malah makan lotes. " ujar Hans dengan memijit tengkuk istrinya hingga Zoya merasa lebih baik.


"Kamu mau makan apa? " tanya Hans saat Zoya berdiri tegak menatapnya.


"Aku tidak ingin makan, Mas. "


"Zoya... " Hans kini menatapnya tajam dengan berkacak pinggang.


"Baiklah, aku akan makan. " Zoya kembali ke meja makan. Dia mencoba menahan rasa mualnya saat melihat menu tersebut. Tapi, kenyataannya gagal. Dia malah berlari ke wastafel karena hampir tak bisa menahan rasa ingin muntah.


"Zoy...Zoya kamu kenapa? " Hans berjalan dengan langkah panjang mengejar istrinya.


"Aku nggak bisa makan itu, Mas. " tutur Zoya saat berdiri dengan mengusap bibirnya.


"Nggak usah, Mas. Aku ingin bubur kacang ijo. " lirih Zoya, sebenarnya dia sayang dengan makanan yang sudah dibeli. Tapi, dia benar benar tidak berselera.


"Ayo kita keluar cari burjo. Di sini banyak yang jual kalau cuma ingin makan burjo. " tawar Hans sambil tersenyum.


Zoya pun berganti dengan baju yang tadi siang dia kenakan. Mereka meninggalkan apartemen dengan berjalan kaki untuk menemukan warung burjo yang menjamur di kota yang sebagian penghuninya mahasiswa.


"Dingin? " tanya Hans saat melihat Zoya mengusap lengan tangannya. Lelaki itu membuka jaketnya dan meletakkan di bahu wanitanya. Zoya pun merapatkan jaket itu dengan kedua tangannya.


Hanya beberapa meter setelah keluar dari apartemen mereka menemukan warung burjo.


"Bungkus dua. " ucap Zoya.


"Aku nggak, lo! " elak Hans.


"Kalau aku makan dua porsi boleh, kan? " tanya Zoya sedikit malu-malu. Sedangkan Hans malah menautkan kedua alisnya merasa heran saja. Dia tahu porsi makan Zoya yang paling sedikit , dan kini ingin double porsi.

__ADS_1


"Boleh." jawab Hans membuat penjual burjo segera membungkus dua porsi.


Mereka kembali ke apartemen dengan membawa bubur kacang ijo sesuai permintaan istrinya.


###


Hans meninggalkan Zoya di apartemen. Hari ini, Zoya memang tidak ingin pergi ke mana pun, dia juga memilih absen untuk kursusnya. Hans bilang akan menjemput Ale saat pulang kerja nanti.


Hans membelokkan mobilnya di parkiran kantornya. Langkah panjangnya memasuki kantor. Pertama kali yang dia lihat kehebohan pegawai laki laki saling berebut pindah posisi duduk.


"Pagi, Pak! " sapa Diana dengan berdiri saat Hans berada di dekat mejanya.


"Itu kenapa pada heboh. Mereka seperti tidak fokus dengan pekerjaannya. Bukankah kita sedang menangani banyak kasus? " Hans mencecar Diana dengan banyak pertanyaan.


"Iya, Pak. Tapi, Nona Kyara sungguh menghebohkan dunia persilatan kaum pria. " jawab Diana yang juga merasa kesal.


"Ohh.... " Hanya itu yang terlontar dari bibir Hans. Lelaki dengan tampilannya selalu rapi dengan rambut klimisnya kemudian masuk begitu saja. Ryan yang melihatnya saat keluar ruangan langsung bergerak mengejarnya.


"Pak Bos. Bagaimana perkembangan kasus Antonio Diraja. " tanya Ryan .


" Masih lama, belum ada perkembangan apapun. Tapi, rencananya aku akan mencari bukti dengan lebih detail. " jawab Hans kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Selamat pagi Pak Bos ganteng! " sapa Kyara saat masuk ke ruangan Hans. Dua laki-laki itu terpaku menatapnya tapi dengan sudut pandang yang berlainan.


"Wouhhh.... aku nggak disapa, Ra? " seloroh Ryan menyambut kehadiran gadis dengan tampilan seksi itu penuh kekaguman.


"Selamat pagi Mas Ryan ganteng "


"Selamat pagi juga Kyara yang super seksi! " goda Ryan yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Hans.


"Oh ya, Ra. Aku balik ke ruangan dulu, sebelum kena semprot Pak Bos.


Ryan meninggalkan ruangan Hans, dengan mengedipkan sebelah matanya pada gadis yang mengenakan dress dengan potongan dada rendah yang dirangkap dengan blazer. tampilan Kyara benar-benar memukau, lipstik merah menyala, sepatu dengan hells dua belas senti, dres pendek dan seksi dengan memperlihatkan tonjolan dadanya yang sedikit menyembul.


"Pak Bos, besok aku akan melakukan sidang pertamaku. Bisakah Pak Bos menemaniku ke pengadilan? " tanya Kyara masih berdiri di dekat meja Hans.


"Besok aku ada acara, Ra. Mungkin, kamu bisa minta tolong ke lainnya yang sudah pernah melakukan sidang pembelaan. " Hans mengalihkan pandangannya dari gadis yang menatapnya penuh kekaguman. Hans mulai memeriksa laporan yang sudah di ketik ulang Diana untuk memperbaiki beberapa kesalahan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2