Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Membaca Perasaan Zoya


__ADS_3

"Brengsek! Ustad macam apa dia. "umpat Hans, sejak Ryan kembali membawanya paksa dari kafe, lelaki itu terus saja mengumpat penuh emosi.


" Berani sekali ustad gila itu mengatakan semuanya. " ucap Hans dengan menatap ke luar jendela.


Ryan menyodorkan segelas air pada sahabatnya yang masih tersulut emosi. "Aku baru tahu dirimu bisa semarah ini hanya karena hal seperti ini? " ucap Ryan saat di dekat Hans.


"Berani sekali dia akan mengambil Zoya. Mimpi itu bocah! "


"Makanya, cepat di bobol itu gawang. Biar punyamu nggak ngendap, nggak gampang emosian. " Ryan mulai memprovokasi Hans. Dia sebenarnya hanya menebak saja jika Hans belum melakukan malam pertama, tapi malah membuat lelaki itu menatap tajam ke arahnya.


"Sialan, Lo! " Hans ganti mengumpat ke Ryan yang dari tadi niatnya hanya menertawakan kelakukan sahabatnya itu. Duda beranak satu itu mirip remaja yang lagi kasmaran. Labil.


" Sabar Pak Bos... heran gua saat berhubungan dengan Zoya bawaannya emosian saja. Makanya cepat bikin anak. Zoya pasti nggak bakal kemana-mana jika punya anak dari kamu. Lihat saja sifat keibuannya saat bersama Ale. " jelas Ryan membuat Hans menarik nafas panjang meredakan segala emosi yang meluap di hatinya.


Hans mendengar ponselnya berbunyi, ternyata dari Zoya.


"Assalamualaikum, Zoy. " jawab Hans.


"Waalaikum salam, Mas. Mas, aku bersama Ale di rumah Mama. Mama malam ini ada pengajian. Jadi, aku membantu persiapan untuk nanti malam. " suara lembut dari sebrang memang sedikit memberikan rasa adem dalam hatinya.


"Baiklah, nanti aku pulang langsung ke sana untuk menjemput kalian. " jawab Hans.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. " Hans pun menutup panggilannya setelah mengakhiri percakapannya bersama Zoya. Suara lembut istrinya memang membuat Hans sedikit tenang.


"Entah kebaikan apa yang kamu lakukan, hingga selalu mendapatkan perempuan istimewa dalam hidupmu. " ujar Ryan membuat Hans berjalan dan mendudukkan bobotnya di sofa.


"Renita cukup istimewa dengan segala pesona meski aku memang tidak melihat cinta yang begitu menggebu. Sekarang Zoya, gadis itu terlihat sederhana tapi sangat unik lebih lebih aku bisa melihat cinta yang membara meski lo sudah berusaha menahannya. Gadis itu mampu menjungkir balikan perasaanmu. Seorang Hans Satria Jagad, yang menjadi dambaan banyak perempuan di luaran sana. Kini tak mampu mengendalikan perasaannya terhadap gadis kecil yang sederhana. " Ryan tersenyum tipis saat memikirkan kisah cinta sahabatnya.


"Berhenti merenteti ceritaku! Pergi dari sini, aku butuh sendiri. " usir Hans, dia memang butuh sendiri untuk merenungkan semuanya.


"Baiklah, aku juga mau pulang. Capek nungguin orang yang lagi emosi karena cembokur. " sindir Ryan berjalan keluar ruangan orang nomer satu di kantor ini.

__ADS_1


Hans terdiam, merenungkan perasaannya, Zoya gadis yang pernah di tolaknya mampu menjungkir balikkan perasaannya. Sejak kapan, seorang Hans jadi se posesive ini. Zoya mampu menunjukkan kekurangannya setelah selama ini dia sudah merasa memiliki segalanya yang diinginkan perempuan. Ternyata ada juga perempuan seperti Zoya, yang hanya menginginkan lelaki taat yang mampu memimpinnya berjalan menuju surganya.


Tiba tiba dia ingat diary istrinya yang sengaja dia simpan di laci meja kerja. Dia memilih berjalan mencari diary tersebut dan ingin membacanya kembali untuk melupakan emosinya.


Dari lembar perlembar dia membacanya. Dia semakin tahu, hidup Zoya menyimpan banyak kesedihan dalam hatinya. Di halaman terakhir dengan banyak lambang cinta membuat Hans semakin antusias untuk membacanya.


Dear Diary.


Betapa hancurnya hatiku saat ibu memintaku untuk menikah dengan seorang laki laki yang sama sekali tidak aku kenal. Apalagi dia duda beranak satu. Ya, tidak mudah bagiku menerima itu semua. Apalagi, aku sudah menyimpan perasaan cintaku terhadap seseorang yang sangat istimewa.


Ya Allah, hanya Engkau yang tahu jika aku sudah menyimpan cinta untuk seseorang. Gus Wildan, aku sudah mencintainya sejak lama. Mungkin saat teman teman mencoba menebak perasaan kami saat itulah aku mulai mencintainya. Tapi, aku selalu tahu diri. Aku hanya gadis biasa yang tidak layak mengharapkan putra kyai. Ya, perbedaan status sosial membuatku harus menyimpan rapat perasaanku. Seperti kebanyakan mereka yang akan menjodohkan putra putri mereka dengan yang sepadan.


Waktu berlalu, empat tahun Gus Wildan melanjutkan pendidikannya di Al- Azhar kairo mesir. kami terpisah cukup lama. Tapi, tidak menyurutkan perasaanku terhadapnya. Bahkan, aku selalu menyebutnya di sepertiga malamku agar dia selalu mendapatkan kemudahan di setiap urusan.


Saat dia kembali aku semakin mengaguminya. Sikap dan ilmunya yang terlihat lebih matang membuatku semakin mengaguminya. Tapi aku harus kembali menutup rapat perasaanku karena ibu menjodohkanku dan tidak mungkin aku menolaknya. Sungguh, aku kecewa dengan keadaan. Apalagi siang tadi Gus Wildan menyatakan perasaannya, jika sudah lama dia menaruh hatiku padaku. Dia ingin menunggu waktu yang tepat untuk melamarku. Tapi semua sudah terlambat, besok adalah pernikahanku.


Kecewa saat ini ku kecewa, tapi inilah takdir yang harus aku jalani dengan ikhlas. Tuhan memberiku jodoh seseorang yang tidak aku kenal sama sekali.


Zoya Kamila( Gadis yang belajar ikhlas dengan takdirnya)


Hans menutup Diary itu dengan kasar. Hatinya bergemuruh begitu hebat. Dia tidak pernah tahu jika ada cinta diantara mereka. Ke cemburuan yang membabi buta membuat lelaki itu mengambil kunci mobilnya bermaksut akan menanyai langsung istrinya. Dia tidak ingin lagi ada kesalahfahaman.


###


Suasana di rumah Mama Shanti memang terlihat repot untuk menyiapkan acara pengajian yang diadakan untuk mengisi arisan bulanan.


"Zoy, semua sudah siap? " tanya Mama Shanti memastikan persiapannya.


"Mama, om ganteng datang kesini. " panggil Ale saat melihat Wildan berada di depan pintu.


"Assalamualaikum, pak ustad masuk langsung masuk ke dalam saja. Soalnya sebelum masuk ke inti ada acara pembukaan dulu. " Wildan kemudian menjawab salam dan mengikuti Shanti masuk ke dalam. Betapa terkejutnya mereka berdua. Zoya dan Wildan tidak menyangka akan bertemu di sini.


"Apa kabar, Zoy? " tanya Wildan saat Zoya memberinya suguhan.

__ADS_1


"Baik, Bang. Tidak tahu jika Bang Wildan pembicaranya. " jawab Zoya.


"Om ganteng apa kabal?" sapa Ale kemudian salim kepada Wildan. Ale memang sudah mengenal Wildan sejak kecelakaan yang menimpa Zoya.


"Baik, Apa kabarmu cantik? " balas Wildan dengan menoel pipi gembul bocah cilik itu.


"Baik, Ale mau nonton TV dulu, ya! " pamit Ale kemudian berlari menuju ruang TV.


"Aku tidak tahu Zoy, jika Bu Shanti adalah mertuamu. " ucap Wildan dengan menatap wajah gadis yang masih mengisi hatinya. Zoya pun hanya tersenyum menanggapinya. Zoya berusaha menghindar dari tatapan yang lelaki yang pernah menjadi bagian dari hatinya. Dia tidak ingin rasa yang dulu tumbuh lagi.


"Silahkan, diminum dulu. Aku akan ke dapur melihat persiapan makanannya. " ucap Zoya bermaksut meninggalkan Wildan.


"Zoya... " Tangan Wildan mencekal lengan Zoya. Dia ingin menanyakan soal perlakuan Hans terhadapnya.


"Ehemmm..... " dehemanya itu membuat Zoya terperanjat kaget. Wildan pun melepas genggaman tangannya saat melihat Hans berdiri dengan tatapan menghujam ke arah mereka. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi yang saat ini membakar hatinya.


"Mas..." lirih Zoya saat Hans berjalan mendekatinya. Zoya mulai ketakutan saat melihat wajah suaminya menyimpan emosi yang kuat.


"Braaaang.... " Hans melempar nampan yang di tadinya di bawa Zoya. Tangannya mencengkeram lengan kecil itu dan membawa Zoya keluar dari pintu belakang menuju mobil.


Melihat Zoya diperlakukan seperti itu membuat Wildan berlari mengejar Zoya.


"Mas, tolong jangan sekasar itu! " ucap Wildan mencoba menghentikan mereka.


"Menyingkirlah sebelum aku menghabisimu! " ucap Hans dengan nada tajam.


"Tapi... "


"Tinggalkan kami, Bang. " ucap Zoya segera menyela kalimat Wildan. Dia tidak ingin terjadi keributan di rumah Mama Shanti. Itu karena Zoya sudah mengenali wajah marah suaminya.


Wildan hanya menatap kepergian Zoya yang di seret Hans untuk masuk ke dalam mobil. Mercy E class itu pun meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah mamanya tanpa berpamitan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2