
Sesekali Hans melirik sosok yang ada di sampingnya. Tapi, yang di perhatikan masih terlihat tenang menyuapi putrinya, ikan yang berduri membuat Zoya tidak membiarkan Ale makan sendiri.
"Ehem ehem... " deheman suara bariton itu membuat ke empat perempuan yang ada di meja makan itu menoleh ke arah Hans secara bersamaan. Tapi hanya sejenak saja, kemudian mereka kembali melanjutkan sarapannya. Hingga akhirnya, Bu Nurma dan Zahra pamit terlebih dahulu untuk melihat hasil kebunnya.
"Kenapa ikannya nggak di makan?" tanya Zoya masih dengan nada dingin.
"Durinya banyak." jawab Hans dengan menatap ke arah Zoya yang sedikit pun tidak ingin melihat wajah ganteng suaminya. Tapi, meskipun begitu dia langsung mengambil piring Hans untuk memisahkan duri dari daging ikan. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya setiap kali memasak ikan berduri.
"Sayang...!" Hans menahan lengan Zoya saat perempuan mungil itu akan pergi ke belakang setelah menyelesaikan semuanya.
"Terima kasih." ucap Hans. Sorot mata tajam nya menunggu reaksi dari istrinya, tapi ternyata sia-sia. Zoya yang berusaha melepaskan cengkeraman di lengannya pun percuma. Sedangkan, Ale sudah berpindah ke ruang tengah untuk menonton TV.
"Lepaskan, Mas! Semua bukan apa apa, aku hanya bisa melakukan hal kecil itu." sindir Zoya, dia masih berusaha meronta. Tapi Hans malah menarik tubuh istrinya hingga akan terjungkal ke arahnya.
Tatapan mereka pun saling beradu, deguban jantung yang masih sama, saat jarak mereka begitu dekat. Perasaan yang bercampur membuat Zoya tidak mengerti harus berbuat apalagi. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap, keduanya masih menikmati perasaan yang masih berdesir di hati masing masing. Zoya sendiri kini merasa menegang saat lengan kekar melingkar di pinggangnya, mengunci pergerakan tubuhnya.
Hans Pov
Membedakan kamu marah hanya masalah diam dan bicara saja. Nyatanya, kamu masih sangat mengerti itu. Zoya Kamila, bagaimana jika aku tanpamu? Sungguh sangat buruk bagiku karena hidupku seolah bergantung padamu.
Aku bukan tipe orang yang bisa membujuk perempuan yang sedang merajuk. Tapi, aku merasa lucu saja ketika aku berkelakuan seperti seorang player di depanmu. Seandainya saja kamu tahu, hanya kamu yang bisa membuatku melakukan ini, menjatuhkan harga diriku untuk merayu perempuan.
Terkadang aku lupa jika kamu masih perempuan remaja pada umumnya. Saat melihatmu melakukan semua peranmu sebagai istri dan ibu, kadang aku malah membebanimu dengan banyak hal, jadi wajar jika kamu marah apabila kamu merasa aku tidak pernah menghargaimu. Tapi, marahmu, cemberutmu dan merajukmu seolah menyadarkan aku jika kamu memang masih remaja.
###
Saat menjelang sore, Hans masih duduk di sebuah gubuk kecil di bawah pohon yang ada di halaman samping rumah mertuanya. Suasananya cukup tenang, lelaki itu hanya menghabiskan rokok dengan ponsel di tangannya untuk mengisi kekosongan waktunya. Ale masih bersama Zahra, sudah sejak tadi mereka tidur siang di kamar Zahra. Sedangkan Zoya, tentu saja masih mendiamkannya. Bagaimana lagi dia harus membujuk istrinya, lelaki itu seolah sudah kehilangan akal.
Hans memasuki rumah, setelah menghabiskan beberapa batang rokoknya. Didiamkan istri membuatnya nampak sedikit lesu.
"Zoy, kamu bangunin Zahra. Minta dia mengantarkanmu ke pasar." Hans mendengar perintah mertuanya untuk istrinya tatkala dia akan masuk ke kamar.
__ADS_1
"Zahra pasti ngomel kalau di bangunin, Bu." Zoya sudah sangat hafal kebiasaan adiknya.
"Tapi, kalau di warung pojok sore begini ikan dan sayurnya sudah tidak lengkap, bahkan tinggal sisa." jelas Bu Nurma. Di rumah itu hanya Zahra yang bisa naik motor. Itu pun hanya motor buntut yang mereka punya.
"Biar saya saja yang mengantar Zoya ke pasar." Suara bariton itu membuat ke duanya menoleh. Di tengah pintu Hans berdiri.
"Apa tidak merepotkan, Nak Hans?" Bu Nurma menjadi sungkan antara mengiyakan atau menolaknya.
"Pasarnya nggak bisa naik mobil. Itu pun di dekat waduk dan kita hanya punya motor bebek itu." hanya itu cara Zoya yang masih enggan pergi bersama Hans.
"Tidak masalah, Ayo mumpung Ale masih tidur." Hans begitu bersemangat, ini bisa menjadi kesempatan untuknya. Setiap peluang memang tidak dia sia siakan.
Mereka bersiap siap, Hans mengeluarkan motor Zahra terlebih dulu sambil menunggu Zoya yang sedang mengambil keranjang belanjaan.
Saat melihat Hans duduk di atas motor bebek, seketika langkah perempuan mungil itu terhenti, kedua alisnya saling bertaut ketika dia melihat pemandangan yang begitu aneh. Hans terlihat aneh saat duduk di motor butut itu, kakinya terkesan terlalu panjang saat di tekuknya di atas motor. Bahkan, motor itu terkesan mengecil saat tubuh tinggi atletisnya duduk di atas motor itu.
"Nunggu apa lagi? " tanya Hans saat melihat istrinya dari spion. Zoya nampak mematung menatap punggungnya dengan heran. Tapi, panggilan Hans, akhirnya membuat Zoya mendekat dan duduk di belakang suaminya.
Zoya membonceng ala cewek, dia hanya berpegangan pada besi di dekat jok motor. Menyadarinya, Hans lalu menarik tangan mungil itu dan melingkarkan di perut kerasnya.
"Belok kiri dan lurus terus, melewati sawah." jelas Zoya untuk setengah perjalanan mereka. Setelah mendapat penjelasan itu, Hans langsung melajukan motornya dengan pelan.
Tidak hanya merasa aneh saat melihat suaminya duduk di atas motor butut itu, tapi dia juga merasa aneh karena lajunya motornya yang terlalu pelan, hingga orang yang mereka lewati juga menatapnya penuh heran. Belum lagi, tangan kiri Hans masih memegang lengan Zoya yang melingkar di perutnya.
"Jangan norak, Mas! Semua orang memperhatikan kita." ucap Zoya yang akhirnya membuka obrolan di sela sela dia harus menyapa orang yang dia kenal, dia merasa risih saat orang yang dilewati menatap dirinya dengan begitu aneh.
"Emang Kenapa? Kamu istriku. " jawab Hans dengan santainya.
"Ini di kampung, Mas. meskipun, suami istri akan terlihat aneh jika seperti ini. Kita bisa jadi bahan pembicaraan."
Hans Masih tidak peduli dengan ucapan istrinya. Dia masih saja dengan cueknya melewati orang yang menatapnya aneh. Sementara, Zoya ingin sekali menyembunyikan wajahnya. Tapi, untung saja saat ini mereka sudah mulai melewati jalanan yang kanan kirinya sawah.
__ADS_1
Hans menghentikan motornya di tengah sawah . Dia kemudian menstandartkan motornya dan memutar sedikit tubuhnya agar bisa berjajar dengan istrinya menatap hamparan sawah yang luas." Kenapa berhenti?" tanya Zoya dengan heran.
"Barang kali kamu ingin bernostalgia saat pacaran di sini dengan cinta monyetmu." ledek Hans membuat Zoya mendongak melayangkan lirikan tajam ke arahnya.
"Aku tidak pernah pacaran!" elak Zoya.
"Sama ustad itu?" desak Hans.
"Aku tidak pacaran. Sudahlah biarkan itu menjadi rahasia cinta Zoya."
"Nggak usah cari gara gara lagi. Satu kemarin belum selesai." lanjut Zoya dengan nada kesal.
"Iya... ya... tapi, ngambeknya jangan lama ya? Bisa kacau semua urusanku, Zoy." ucap Hans dengan merangkul pahu mungil di sebelahnya.
"Apalah, aku ini. Aku hanya peran pembantu saja... " Kalimat Zoya menggantung membuat Hans menoleh ke arahnya.
"Zoy..." panggil Hans dengan lirih saat melihat mata indah sudah berkaca kaca.
"Iya, seperti itu kenyataannya. Apa pernah mas Hans menganggapku sebagai pendamping Mas Hans? Aku hanya istri dengan apa yang sudah dilakukannya tidak ada artinya." tangan Kecil itu menyeka air yang sudah melelahkan terjatuh.
"Zoy, bukan seperti itu! Aku memang salah, aku banyak menyakiti perasaanmu. Tapi, sungguh kamu sangat berarti untukku."
"Sudahlah, kita harus cepat sampai pasar." Zoya mencoba mengingatkan jika tujuan utamanya memang pergi ke pasar.
"Tidak, kita harus menyelesaikan semuanya sekarang! " tegas Hans, dia tidak menyangka jika Zoya punya pemikiran seperti itu selama ini .
"Apa lagi, Mas? Aku memang selalu tak berdaya. Mas Hans yang paling benar. Aku sendiri ragu, apa artiku untukmu, Mas? Tolong hargai aku sedikit saja. Sakit aku rasanya, saat Mas Hans pernah memakiku, membentakku di depan banyak orang dan menyalahkan aku atas kejadian di pesta itu... "
"Zoya!" Hans pun berdiri mendekatinya. Memeluk perempuan yang saat ini terbawa emosi.
"Jika tidak menginginkanku, kenapa mempertahankanku... Aku juga punya hati dan perasaan yang juga ingin difahami." tangis Zoya meledak saat dalam dekapan dada bidang Hans. Mendengar keluhan istrinya selama ini, membuat hatinya terasa tercubit. Betapa jahatnya dia selama ini pada istrinya, dia juga sangat mencintai perempuan yang saat ini dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Zoy. Aku sudah banyak salah padamu, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya." Rasa bersalah itu menjalar menguasai hatinya, hingga mata dengan sorot tajam itu ikut mengembun saat istrinya mengingatkan semua perlakuan buruknya.Tenyata, Istrinya terlalu banyak memendam perasaan sedih, kecewa dan mungkin marah. Dan baru dia ungkapkan saat ini.
Bersambung