Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Saling Menguatkan


__ADS_3

"Bang, tolong Zoya! Selama ini, dia masih baik padaku." pinta Arum saat mobil Deny mulai melaju meninggalkan kompleks perumahan elite tersebut. Biar bagaimana pun selama ini Zoya selalu berusaha menjaga perasaannya. Dia juga berfikir, mungkin Zoya benar bersaing dengan orang yang sudah tiada saja harus mempunyai hati yang lapang. Apalagi bersaing dengan orang yang masih hidup. Ucapan Zoya saat itu selalu membuatnya terus berfikir.


"Kamu itu bodoh apa dungu?" dengan nada sinis Deny membentak Arum.


"Aku memang menginginkan Mas Hans, tapi aku tidak ingin dia sekarat seperti tadi, Bang! "


"Goblok!" Deny membenturkan kepala Arum ke jendela mobil. Sejenak Arum terdiam, rasa sakit di kepalanya tidak seberapa dibanding rasa kagetnya. Dia seperti tidak percaya jika abangnya melakukan hal tersebut. Dia kembali menatap Deny dengan rasa kecewa. Abang yang selalu memanjakannya, memberikan semua yang dia mau saat ini telah bersikap kasar padanya.


"Diamlah, jika tidak ingin hal buruk terjadi padamu!" ancam Deny membuat Arum merasa shock. Dia memang terdiam tapi otaknya sedang mengolah banyak hal tentang perubahan sikap abangnya. Dalam perjalanan pulang mereka terus membisu.


###


Mendengar kabar Zoya di bawa ke rumah sakit membuat Hans langsung meninggalkan pekerjaannya seketika. Dia belum sempat bertanya, apa yang telah terjadi pada Zoya. Tapi, dia yakin hal buruk telah terjadi. Dia melajukan mobilnya dengan menggila. Bahkan, beberapa kali dia mengklakson kendaraan yang ada di depannya saat dia merasa terhalangi. Rasa cemas yang mendera dalam hatinya membuatnya kehilangan kesabaran.


Dengan tunggang langgang dia berlari menuju ruangan bersalin, pikiran buruk terus berkecamuk. Terlihat Pak Dino mondar-mandir di depan ruangan, dengan raut wajah yang tak kalah cemas.


"Mbak Zoya di dalam, Pak! " Hans langsung menghambur masuk, pintu yang menghalangi seolah ditendangnya begitu saja. Terlihat Zoya yang sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Di dalam perjalanan saat Dr. Hastuti menelpon tentang kondisi istrinya, dokter belum selesai menjelaskan tapi Hans langsung menyela agar melakukan yang terbaik untuk istrinya.


Kedatangan Hans langsung di sambut oleh perawat yang meminta tanda tangan persetujuan untuk segera melakukan operasi kuret. Seketika, dia merasa tubuhnya langsung terasa lemas saat mendengar kata kuret, itu berarti dia sudah kehilangan bayi yang sudah dia nantikan.


Setelah melabuhkan tanda tangan persetujuan, Hans menyeka sudut matanya yang sudah berair. Dia melangkah keluar dengan lemas, beberapa kali, Hans menghela nafas panjang dan mengerjapkan mata, mencoba menyadarkan dirinya dari perasaan yang kini mencubit hatinya, rasa sedih dan kehilangan yang menguasai batinnya membuat lelaki yang memang masih shock itu terduduk lemas di depan ruangan. Tidak pernah terlintas ini akan terjadi pada istri dan anaknya.


"Bi Muna , Pak Dino, sebaiknya kalian kembali ke rumah." ujar Hans dengan menghampiri dua orang yang juga berada di depan ruangan. Tanpa banyak bertanya Bi Muna dan Pak Dini pun menuruti apa yang di katakan majikannya.


Beberapa menit kemudian seorang perawat memanggilnya masuk dan memberikan beberapa instruksi yang mesti dilakukan.


"Terima kasih, Dok! " ucap Hans pada Dokter Hastuti seusai melakukan operasi kuret, dokter Hastuti adalah dokter obgyn yang dia percaya untuk memeriksa kondisi kehamilan Zoya setiap bulannya. Mereka memang sudah saling mengenal karena dokter Hastuti adalah sepupu Mama Shanti.

__ADS_1


Saat semua sudah keluar, Hans menatap istrinya yang belum sadarkan diri. Wajah ayu itu kini terlihat pucat. Air mata lelaki yang berusaha tegar itu pun meleleh saat mendekati Zoya yang terkulai lemah.


"Semoga Allah selalu menguatkanmu, Sayang. " lirih Hans dengan menciumi wajah pucat istrinya. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana Zoya akan menghadapi semua ini. Terlalu banyak cobaan yang selalu menghampirinya.


Hans terus saja menggenggam tangan dingin yang tak berdaya itu. Sedikit pun, dia tak ingin melepaskannya. Hingga beberapa saat kemudian, mulut mungil itu berguman lirih menyebut nama 'Allah' dan sudut mata yang masih terpejam itu melelehkan air mata.


"Zoy, kamu sudah sadar?" Hans beranjak berdiri. Tangannya masih menggenggam erat jari-jari mungil istrinya saat dia beralih duduk di pinggir bed tempat Zoya berbaring.


Dia masih menunggu mata itu membuka, Hans tahu Zoya sudah sadar meski masih dalam pengaruh obat bius.


"Sayang, aku di sini! Buka matamu, Zoy." ucap Hans dengan mencium tangan istrinya hingga bertubi-tubi.


"Mas Hans... " panggil Zoya lirih hampir tidak terdengar saat dia membuka kelopak matanya. Tangannya yang sebelah mengelus perutnya yang sudah tidak berisi lagi.


"Mas Hans, bayi kita... " Kalimatnya menggantung, berganti dengan isakan tangis yang tergugu. Matanya pun tak henti-henti mengalirkan cairan bening. Hans langsung menelangkupkan kedua tangan di wajah pucat istrinya, tubuhnya pun membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah yang masih lembab penuh air mata.


Zoya berusaha bangkit saat dia merasa tubuhnya kembali seimbang.


"Jangan memaksakan diri, sayang!" ucap Hans dengan membantu Zoya duduk, dia juga mengatur posisi sandaran bed agar Zoya bisa bersandar nantinya.


"Mas, maafkan aku! Aku tidak bisa menjaga anak kita." lirih Zoya. Air matanya masih saja menganak sungai. Hans merengkuh tubuh mungil itu dan menenggelamkanya dalam pelukannya. Dia bisa merasakan jari-jari mungil itu mencengkeram kemejanya begitu kuat, membuatnya mengerti jika hati Zoya sedang rapuh.


"Jangan katakan itu, Zoya! Jangan salahkan dirimu. Tidak ada seorang ibu yang menginginkan itu terjadi." kalimat Hans membuat Zoya tergugu dalam pelukannya. Dia sudah kehilangan calon bayinya, dia tidak ingin istrinya tertekan dengan rasa bersalah yang tidak sepenuhnya adalah kesalahannya.


"Istirahatlah! Aku akan selalu di sini untukmu." ucap Hans membantu Zoya kembali bersandar di bed yang sudah diatur sandarannya.


"Apa Mas Hans tidak menyalahkanku?" lirih Zoya, Hans melirik tangannya saat dia merasakan jari-jemari mungil itu masih menggengam erat tangannya. Seperti ada rasa ketakutan yang mendera hati istrinya.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan Aku! Tidak ada yang salah di sini. Ini semua ujian untuk kita." Hans menatap mata sendu di depannya.


"Aku mencintaimu, Zoy. Kamu juga istriku, bagian dari diriku. Kita akan melewati masa sulit ini bersama." Hans memberikan sebuah senyuman pada Zoya. Tidak ada sedikit pun pikiran untuk menyalahkan Zoya. Baik Zoya akan melahirkan anaknya atau tidak, dia akan tetap mencintai istrinya.


"Anak itu rejeki dan titipan, kapan pun bisa diberikan dan kapan pun bisa diambil oleh- Nya. Aku ingin kamu secepatnya pulih. Jangan mikir macam - macam!" jelas Hans berusaha menyakinkan istrinya. Dia faham jika Zoya mengalami stress paska keguguran.


Hans mengusap wajah lembab istrinya. Dia bisa melihat, perasaan sedih itu belum juga surut sepenuhnya dari hati Zoya. Begitu pun dia, meskipun hatinya menyesalkan kejadian itu tapi dia harus tetap terlihat baik-baik saja untuk menguatkan istrinya.


"Assalamualaikum." Suara itu datang beriringan. Saat Mama Shanti, Nilla dan Ale memasuki ruang perawatan. Nila yang mengantar Ale ke rumah mendapat kabar jika Zoya dirawat di rumah sakit membuat Nilla memutuskan mengantar Ale ke rumah sakit. Kebetulan mereka bertemu mama Shanti saat berada di lobi. Mama Shanti memutuskan segera pulang saat mendengar Zoya jatuh. Beliau mengambil jadwal penerbangan paling cepat.


"Waalaikum salam." jawab Hans bersama Zoya.


"Sayang... " Mama Shanti memeluk menantu kesayangannya dengan hangat.


"Maafkan Zoya, Ma." lirih, Zoya saat masih dalam pelukan Mama Shanti.


"Sayang, tidak ada yang perlu disalahkan. Mama tahu diantara kita, kamu yang paling merasa sedih di sini,Zoy." Mama Shanti bisa mengerti keadaan psikologis Zoya. Beliau juga masih bersyukur, Allah masih melindungi Zoya meski kaki kiri Zoya terkilir.


Ale pun tak ingin ketinggalan, bocah itu segera naik ke atas tempat tidur, menciumi Mama Zoyanya yang terlihat sedih dan masih sakit.


"Ale, hati-hati! Mama Zoya sedang sakit." Hans memperingatkan Ale. Dia tidak ingin tingkah polah Ale akan menyakiti Zoya.


"Mama, jangan sedih. Masih ada Ale. Ale akan menjaga Mama. Mama cepet sembuh ya!" ucap Ale dengan memeluk Zoya. Bocah gembul itu sebenarnya belum mengerti jika adek bayi yang dia inginkan sudah tidak ada di perut mamanya.


"Ma, aku akan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil keperluan kita. Nanti malam aku akan tidur di sini. Aku titip Zoya sebentar, Ma." pamit Hans pada mamanya.


"Jangan khawatir! Zoya juga anak Mama." jawab Mama Shanti.

__ADS_1


Hans segera berlalu, dia memang berniat pulang hanya untuk mengambil keperluannya dan keperluan Zoya selama masa perawatan.


__ADS_2