
Perjalanan orang orang baik tidaklah mudah, cobaan dan kesulitan terus menghadangnya Tapi, di sisi lain Tuhan sudah menyiapkan keikhlasan hatinya sebagai penawar untuk selalu menguatkan dan menyiapkan kebaikan yang selalu dia lakukan untuk mempermudah segala kesulitannya. (Quotations by Author)😜
🌷🌹🌷🌹
"Ma, apa Mas Hans tidak kembali?" tanya Zoya, dia seperti ketakutan jika Hans tidak kembali dan akan meninggalkannya. Padahal baru dua jam Hans keluar dari ruangannya.
"Aku datang, sayang!" sahut Hans saat mendengar kalimat Zoya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam dan mendekati Zoya yang menatapnya sendu.
"Sebentar lagi, aku akan membersihkan badanmu agar tidak lengket, ya?" ucap Hans dengan mencium kening istrinya. Mama Shanti hanya bisa mencebikkan bibir saat melihat kelakuan putranya. Memang tidak bisa disangka raut wajah datar terkadang malah terkesan cool itu ternyata bucin setengah mati.
"Mama, akan pulang. Besok Mama akan ke sini lagi." ucap Mama Shanti saat membereskan barang barangnya.
"Ale pulang sama Oma, yuk!" ajak Shanti mengingat Ale besok masih harus masuk sekolah.
"Nggak mau, Ale mau sama Mama Zoya."
"Ayo, Ale!" desak Shanti.
"Nggak mau!" tolak Ale dengan menghentak- hentakkan kakinya di lantai.
"Ale, besok Ale sekolah, kan? Ale pulang sama Oma, besok sepulang sekolah Ale bisa menemani Mama." sahut Zoya dia masih berusaha membujuk Ale.
Zoya memang seperti pawang bagi Ale. Meskipun dengan wajah manyun bocah itu memang tak kuasa menolak permintaan mamanya. Hans mengantar Mama Shanti sampai keluar ruangan.
"Hans, jaga perasaan Zoya. Dia seperti mengalami sindrom pasca keguguran." pesan Shanti yang sedari tadi memang memperhatikan menantunya sedikit sensitif dan banyak bersedih.
"Hans tahu, Ma. Jangan khawatir!" jawab Hans sebelum Mama Shanti dan Ale menghilang dari pandangannya.
Hans kembali ke dalam ruangan. Zoya, terlihat duduk bersandar menatap suasana di luar dari jendela ruangannya.
"Zoy, Ayo aku akan membersihkan badanmu! Biar kamu merasa lebih segar." tanpa persetujuan, Hans langsung menggendong Zoya ke dalam kamar mandi.
"Mas, aku akan mandi sendiri." Zoya merasa tidak enak jika Hans yang memandikannya.
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri! Biar aku yang membantumu." Hans tahu jika sebenarnya Zoya merasa malu. Tapi, kondisinya yang lemah membuat Hans tidak membiarkan Zoya melakukannya sendiri.
Masih di kamar mandi, Hans mengganti baju istrinya dan menyisir rambut panjang Zoya sebelum dia mengenakan kembali jilbab instan.
"Sekarang makan ya, Zoy?!" pinta Hans setelah meletakkan kembali tubuh ringkih istrinya di atas bed.
"Selamat sore. " Suara perawat membuyarkan percakapan mereka. Hans pun beranjak dari bed dan memilih berdiri di dekat jendela.
"Saya sudah mandi, Sus." ucap Zoya saat melihat peralatan mandi yang dibawa perawat.
"Loh, Ibu Zoya mandi sendiri?" perawat itu nampak kebingungan saat mendengar Zoya mandi sendiri.
"Saya yang membantunya." ujar Hans dengan nada dingin. Melihat ekspresi perawat seolah tak percaya membuat Hans semakin kesal.
"Oh ya sudah, tinggal menunggu dokter visit, ya! " ucap perawat itu kemudian meninggalkan ruangan Zoya.
Setelah kepergian perawat, Hans mulai memaksa Zoya untuk makan, bahkan dia menyuapi sendiri istrinya. Dia selalu memberi pengertian Zoya, keguguran pada kehamilan pertama memang banyak terjadi bahkan bisa dikatakan dengan presentasi 30%. Jadi banyak orang mengalaminya dengan berbagai faktor yang berbeda.
"Mas Hans kecewa, kan? Aku tahu itu, Mas!" ucap Zoya dengan mengunyah pelan makanannya.
"Kamu pikir aku akan meninggalkanmu karena kamu gagal memberiku anak?" tebak Hans, dia tahu Zoya merasa tertekan dan merasa bersalah karena kejadian ini, sehingga dia memikirkan hal yang tidak biasa.
"Ya Allah, Zoy. Jangan berfikir seperti itu! Lagian bagiku kamu bukan pabrik anak. Jangan mikir aneh-aneh." lanjut Hans, dia masih berusaha meyakinkan istrinya jika semua akan baik-baik saja.
####
Sudah tiga hari Zoya dirawat di rumah sakit, selain pemulihan pasca operasi kuret, dia juga harus di rawat untuk beberapa luka di bagian kaki dan kepalanya karena menggelinding dari tangga.
Saat ini, Hans hanya ingin menyelesaikan pekerjaan kantornya secepat mungkin, sudah tiga hari dia tidak fokus, untung saja Ryan cukup bisa diandalkan untuk bisa memback up semuanya.
Hans meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang penting, karena masih banyak antrian pekerjaan yang menunggu. Dia pun beranjak dari duduknya. Hari ini Zoya pulang ke rumah, tapi dia tidak ingin melewatkan untuk check up kondisi kandungan istrinya sebelum dia pulang.
Gegas, dia melangkah keluar karena ingin segera sampai rumah sakit.
__ADS_1
"Pak Bos, maaf belum menjenguk Nyonya!" sapa Kyara saat berpapasan dengan Hans. Gadis itu juga masih sangat sibuk dengan pekerjaan yang ditinggalkan Hans.
"Alhamdulillah Zoya sudah sehat! Lagian aku berterima kasih padamu, tiga hari ini kamu bekerja sangat keras." ucap Hans.
"Sebenarnya, reporter gadungan itu sih, yang banyak berjasa!" jawab Kyara dengan terkikik. Kyara dengan Renaldy memang pernah pergi bersama untuk mencari informasi ke TKP. Mereka memang terlihat lebih cepat akrab, meskipun Kyara sedikit bawel tapi Reynaldy cukup bisa menghandle gadis itu.
"Nyari kesempatan kamu, Ra. Sorry, aku harus jemput Zoya dulu!" pamit Hans yang di jawab anggukan oleh Kyara. Lelaki yang mengenakan kaca mata hitam itu pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menjemput Zoya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Hans saat selesai check up kondisi Zoya sebelum pulang. Mereka berada di ruang obgyn untuk melakukan USG.
"Bagus, kandungannya. Hasil kuretnya juga sudah bersih. Tapi, bisa program lagi setelah tiga bulan ya!" ujar dokter Hastuti sambil tersenyum tipis saat menuliskan resep.
Hans mendorong Zoya dengan kursi roda. Dia belum memperbolehkan Zoya berjalan sendiri.
"Apa aku bilang, semua akan baik baik saja. Kita masih beruntung, kamu masih bisa bertahan." ujar Hans saat mereka berjalan melewati koridor rumah sakit untuk kembali ke ruangannya.
Mama Shanti sendiri sudah membereskan semua barang, termasuk membayar biaya administrasi. Mereka sudah bersiap kembali ke rumah. Kali ini, Pak Dino yang ada di balik kemudi. Hans, Ale dan Zoya kini berada di bangku belakang. Sedangkan Mama Shanti berada di depan, beliau ikut pulang ke rumah Hans, beliau juga memutuskan akan menjaga Zoya saat masa pemulihan.
CRV putih itu melaju dengan santai menembus suasana jalan saat sore hari. Hans melirik Zoya, dia sama sekali belum melihat senyum di wajah istrinya sejak kemarin.
Ale juga tak mau ketinggalan, dia memperhatikan mamanya yang hanya terdiam. Ale juga masih bingung dengan sikap Zoya. Sejak kemarin Hans sudah memberi pengertian pada Ale, jika adek bayinya sudah pergi ke surga, tempat yang jauh lebih indah.
"Mama, jangan sedih ya! Kata Papa adek bayinya sudah berada di surga. Tempatnya indah banget!" ucap Ale sambil memeluk mamanya. Mendengar omongan Ale, Zoya hanya tersenyum kecut, tangan mungilnya mengelus kepala putri sambungnya itu. Hans yang melihatnya pun merangkul bahu kecil Zoya.
"Itu dengar apa kata Ale." timpal Hans membuat Zoya mengangguk, Zoya masih berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Saat melihat Ale, dia juga tersadar putrinya juga masih membutuhkannya.
"Mama, jangan nangis lagi, ya! Jangan bersedih lagi, nanti Mama sama Papa kan bisa buat adek bayi lagi." celotehan polos bocah itu membuat Hans ingin meledakkan tawanya, tapi masih ditahan karena takut Zoya akan tersinggung. Sementara Zoya sendiri pun menyimpulkan sedikit senyumnya.
Tak terasa dengan mendengar celotehan si gembul yang cerewet itu mereka sudah sampai di halaman rumah.
"Hans, sebaiknya Zoya di kamar bawah!" ujar Mama Shanti tidak ingin Zoya naik dan turun tangga untuk sementara.
"Iya, Ma. Tadi sudah aku bilang sama Bi Muna untuk menyiapkan kamar di bawah." jawab Hans dengan menggandeng Zoya saat istrinya menginginkan berjalan sendiri. Zoya memang menolak, saat Hans akan menggendongnya.
__ADS_1
TBC