Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Main Belakang


__ADS_3

Nilla sebenarnya curiga jika Zoya sedang berada dalam masalah. Dia yakin raut lesu yang terlihat di wajah sahabatnya bukan hanya karena dia yang kurang tidur.


"Zoy, jaga kesehatanmu jangan sampai kamu kurang istirahat. Ingat! Kamu dan calon bayimu harus selalu sehat! " Hanya itu yang bisa Nilla ingatkan. Dia tidak bisa memaksa Zoya untuk bercerita. Zoya memang tipe orang yang sulit untuk menceritakan kesedihannya.


"Tentu saja, Nil. Hanya calon bayiku dan Ale yang aku fikirkan. Makanya aku ingin mulai menyibukkan diri dengan membuat kaligrafi agar bisa menghilangkan kejenuhanku." ucap Zoya dengan tersenyum ke arah Nilla. Tentu saja senyum yang sangat dia paksakan agar semua terlihat baik-baik saja.


Zoya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, cahaya matahari pun mulai meredup, dia merasa kasihan dengan Ale, jika dia tidak segera kembali ke rumah.


"Nil, biar aku yang bayar. " Zoya segera bangkit berjalan menuju kasir. Zoya mengerti jika Nilla tidak terlalu punya banyak uang karena dia sendiri hanya seorang guru private yang tidak seberapa penghasilannya.


"Duch-aku nggak enak lo, Zoy. Maksudku ingin sekali-kali mentraktir kamu, malah kamu terus yang bayar! " ucap Nilla dengan nyerngir kuda.


"Gak apa-apa! Mas Hans selalu memberikanku uang belanja lebih. " jawab Zoya dengan jujur. Dari sisi materi dia memang sudah bisa dikatakan lebih dari cukup. Tapi, masalah yang dihadapinya saat ini seperti menenggelamkan banyak nikmat yang sudah Allah berikan padanya.


Sebuah mobil yang sedari tadi mengawasinya kini bergerak maju menghampiri kedua perempuan berjilbab yang baru saja keluar dari cafe. Sang pengemudi selalu memperhatikan segala gerak gerik Zoya.


Mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Hans keluar dan menghampiri kedua orang yang sedari tadi dia perhatikan.


"Zoy, aku menjemputmu." ucap Hans saat berada di depan Zoya dan Nilla. Zoya yang tidak mengizinkan dia mengantarnya ke dokter kandungan membuat Hans memilih mengikuti Zoya dari jauh. Hans memang sempat menelpon Bi Muna. Dia menanyakan apa Zoya sudah berangkat ke klinik untuk periksa kandungan apa belum. Ternyata Zoya memang sudah berangkat terlebih dahulu membuat Hans segera berangkat untuk memperhatikan Zoya dari kejauhan.


"Tapi, aku akan pulang bersama Nilla." jawab Zoya yang sebenarnya tidak ingin pulang bersama Hans.


"Aku juga akan mengantarkan Nilla." Mendengar kalimat Hans membuat Nilla merasa sungkan. Tapi jika dia menolak, dia akan membuat Zoya merasa tidak enak pada dirinya.


"Baiklah... " jawaban Nilla membuat Hans membukakan pintu depan mobilnya untuk Zoya. Sementara, Nilla langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil.


Mercy E class itu meluncur ke arah kos-kosan Nilla. Di dalam mobil mereka hanya terdiam, sesekali Hans melirik wajah ayu di sampingnya. Wajah yang selalu ada dalam rindunya. "Bersabarlah, Zoy. Hanya enam bulan." gumam Hans dalam hati.


"Berhenti di sini saja, Bang! " ujar Nilla saat meminta Hans berhenti di sebuah gapura. Rumah kos Nilla sedikit masuk ke dalam, berselang beberapa rumah dari jalan raya.


Nilla pun turun, Hans kemudian melajukan mobilnya kembali membelah jalanan kota yang sangat padat. Senja yang memerah tembaga, menggantung dengan sangat indah di kota ini. Tapi, mereka tidak bisa menikmati semuanya, karena permasalahan yang saat ini mereka hadapi dalam rumah tangga cukuplah pelik.

__ADS_1


Hans kembali melajukan mobilnya dengan cukup lamban, selain ingin berlama-lama berdua dengan Zoya, jalan raya pun sangat padat saat menjelang petang.


Cahaya temeram lampu kota sudah mulai menyorot di sepanjang jalan. Mereka masih terdiam dalam keheningan di antara riuh ramai suara kendaraan.


"Apa kabarnya, Zoy? " tanya Hans dengan mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut yang sedikit nampak berisi. Dia bisa merasakan ada sebuah kerinduan yang mengalir dalam sentuhan lembut itu. Rasanya Zoya ingin menangis, dia bisa merasakan ada secuil rindu di hati suaminya yang tertahan untuk dirinya dan buah cinta mereka.


"Sehat, Mas. Usianya sekarang sepuluh minggu." Hatinya mengiba pada Hans saat dia memutuskan pergi sendiri untuk periksa. Dia tahu Hans juga ingin melihatnya juga. Tapi, hanya untuk menjaga jarak dengan suaminya dia malah membiarkan seorang bapak tidak bisa melihat perkembangan buah hatinya."Maafkan aku, Mas! " Ingin rasanya dia mengucapkannya tapi tenggorokannya terasa tercekat.


Hans menghentikan mobilnya di pinggir jalan membuat Zoya menoleh ke arahnya. Kini tatapan mata mereka saling beradu menyisakan rindu yang tak bisa tersampaikan karena sebuah luka.


"Kenapa kamu tidak ingin bertahan di sampingku, Zoy? " Mata tajam itu menelisik ke dalam bola mata indah yang selalu berbinar, tapi tidak untuk beberapa hari ini. Zoya masih terdiam, dia seolah tak mampu untuk berbicara.


"Kenapa kamu membiarkannya mengakui itu? Jangankan rasa kopimu atau aroma tubuhmu, gerakan matamu pun aku bisa mengenalinya."


"Aku hanya ingin belajar untuk tidak terbiasa dengan Mas Hans. Aku tidak setuju sebuah poligami, di sana bakal ada orang yang tersakiti. Aku tak sekuat itu, Mas. " jawab Zoya dengan meremas jemari tangan yang berada di pangkuannya.


Hans menghela nafas panjang kemudian di hembuskan secara berlahan. "Bukankah aku bilang, tunggu sampai enam bulan! " ucap Hans lagi, bukan hanya Zoya, dia juga merasa hatinya sedikit nyeri. Lebih tepatnya ini seperti sebuah kekacauan.


Zoya bisa merasakan detak jantung lelaki yang membuatnya takut kehilangan. Jujur, Zoya takut kehilangan, takut tidak bisa menjalani semua tanpa Hans. Tangisnya tergugu dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar itu, dia ingin menumpahkan semua rasa yang saat ini menghanyutkannya. Dengan memeluk Zoya, Hans menengadahkan kepala, dia tidak ingin air matanya yang sudah mengembun itu berhasil menetes.


"Maafkan aku, Zoya Kamila! " lirih Hans dengan suara parau, tapi masih sempat di dengar Zoya.


Berlahan Zoya melepaskan pelukannya. Saat itu pula jari-jari besar itu mengusap kedua matanya.


"Aku ingin pulang, Mas. Aku takut Ale mencariku." ucap Zoya membuat Hans kembali menghidupkan mesin mobilnya.


Jika bukan karena waktu magrib yang cukup singkat, Hans ingin mengulur perjalanan ini. Tapi dia dan Zoya belum sholat magrib.


Hans membelokkan mobilnya ke halaman rumah mewah yang berdiri dengan gagah dengan sinar lampu yang membuatnya semakin terlihat indah.


"Mas Hans, duluan saja! " Ucap Zoya saat keluar dari mobil. Zoya hanya ingin menjaga perasaan Arum saat mereka pulang bersama.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap Hans membuat Arum dan Ale menoleh ke arah pintu. Arum menghentikan gamenya di ponsel, kemudian menyambut kepulangan Hans.


"Waalaikum salam, Papa! " Ale segera berlari menghambur ke arah papanya.


"Mas Hans, mau makan? " tanya Arum saat menghampiri Hans.


"Aku akan sholat dulu! Ale sudah sholat? " tanya Hans sebenarnya hanya untuk mengingatkan. Dia tahu, Ale belum punya kewajiban untuk itu.


"Belum, kata tante Alum nanti aja, gamenya nanggung." jujur Ale tapi tidak membuat kaget Hans. Dia sudah tahu jika Arum tidak pernah salat.


"Assalamulaikum." ucap Zoya saat masuk ke dalam rumah. Arum yang melihatnya datang hampir bersamaan dengan Hans membuat gadis itu curiga jika mereka sudah menghabiskan waktu bersama di luar sana.


"Mamaaaaa." panggil Ale saat melihat kedatangan Zoya. Bocah gembul itu kemudian menghambur ke arah Zoya.


"Mama, kenapa lama? " tanya Ale.


"Mama tadi bertemu tante Nila." Zoya mengeraskan suaranya agar Arum merasa lega. Hans mengerti apa yang di maksud Zoya.


Hans Pov


Terbuat apa hatimu, Zoy. Kamu selalu memikirkan perasaan orang lain. Padahal belum tentu orang itu memikirkan perasaanmu. Kamu terluka, tapi kamu tak ingin orang lain merasakan luka itu. Seperti yang pernah kamu bilang ke aku. Jika kita merasakannya sakit jangan biarkan orang lain merasakannya.


Itu Artinya aku harus lebih bekerja keras menangani kasus Antonio. Agar semua cepat selesai. Dia masih butuh beberapa bukti lagi untuk menguatkan selain kalung yang dia temukan di sekitar rumah kosong itu.


Author Pov


"Oh ya ... " Suara Hans membuat Tiga wanita itu mendekat termasuk Ale.


"Dua minggu ini, aku mungkin tidak bisa diganggu. Aku akan menghabiskan waktu di ruang kerja. Jika aku tidak pulang itu artinya aku bersama Ryan untuk menyelesaikan pekerjaanku." pesan Hans sebelum dia berlalu menuju ke musala yang diikuti Zoya dan Ale.


"Apa itu benar adanya? Atau kamu menghindari ku, Mas. Lihat saja! Semakin kamu menjauh semakin aku punya banyak cara untuk menaklukkanmu Hans Satrya Jagad. " gumam Arum yang masih berdiri di antara sofa diruang tengah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2