
"Zoy, kamu masih sakit?" tanya Hans saat merapikan bajunya di depan cermin. Dari pantulan cermin, dia melirik Zoya yang tengah duduk di sofa dengan tatapan menerawang.
"Sudah tidak lagi, Mas. Mungkin, kemarin aku minum es manado. Campuran sirsak dan kelapa mudanya membuat tekanan darahku langsung drop." jelas Zoya mengingat ini kedua kalinya dia minum es manado dan membuat kepalanya sedikit berdenyut pusing.
"Sudah aku bilang jangan kebanyakan minum es!" tutur Hans kemudian berbalik menghampiri istrinya dan bersiap untuk mengantar Ale. Rencana hari ini mereka memang akan kembali ke rumah. Seperti yang sudah mereka rencanakan, setelah mengantar Ale ke sekolah, mereka akan langsung pulang ke rumah, membahas masalah orang dewasa tanpa sepengetahuan Ale.
"Ayo, Ale pasti sudah menunggu di depan." Hans menarik lengan Zoya untuk segera berangkat.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sudah sampai di sekolah Ale. Bocah gembul itu langsung turun dari mobil bersama dengan zoya setelah mencium punggung tangan papanya. Hans hanya tersenyum, Zoya terlihat menggandeng Ale hingga ke gerbang dan melambaikan tangan setelah Ale mencium punggung tangannya dan berlari ke dalam kelas.
"Zoy, kamu yakin akan pulang ke rumah? " tanya Hans dengan kembali mengemudikan mobilnya ke arah rumah yang sudah tiga hari mereka tinggalkan.
"Lebih cepat lebih baik, Mas. Biar, tidak terjadi kesalah pahaman terus." jawab Zoya.
"Tapi, aku khawatir denganmu jika Arum sampai nekat." gumam Hans masih fokus dengan jalan di depan yang cukup ramai.
"Emang, mbak Arum mau ngapain? Toh, di rumah juga ada Bi Muna dan Pak Dino." ujar Zoya dengan menyungging seulas senyum untuk meyakinkan suaminya agar tidak perlu mengkhawatirkannya. Pada akhirnya, Mercy berwarna hitam itu berhenti tepat di halaman rumah bertingkat dengan nuansa warna putih.
Zoya's Pov
Saat ini, aku merasa begitu sulit. Satu sisi, kita yaitu aku dan Mas Hans akan melukai hati seorang wanita. Aku saja yang membayangkan betapa hancurnya perasaan Mbak Arum sedikit meragukan keputusan kami, apa lagi Mbak Arum yang mendengarnya. Tapi, satu sisi aku juga tidak ingin memberi peluang pada Mbak Arum untuk menggoda Mas Hans, jika ini akan terlarut itu akan semakin membuat keadaan semakin rumit. Sungguh aku merasa bersalah, karena suamiku memainkan semua permainan ini dan aku terlibat dalam masalah ini.Tapi, aku yakin Mas Hans tidak punya pilihan lain. Mbak Arum, aku tahu jika dia sudah mencintai Mas Hans, tapi aku memang tidak ingin berbagi cinta dengan wanita mana pun.
"Maafkan kami, Mbak Arum. " Zoya memejamkan mata dan membuang nafasnya begitu dalam saat dia keluar dari mobil. Detik detik yang cukup sulit dan membuat dilema.
"Zoy, ayo kita masuk! " ujar Hans dengan menggenggam tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Hans sedikit menarik tangan Zoya. Dia tahu jika Zoya masih dilema dengan keadaan ini.
Berbeda dengan Zoya yang meragu, Hans Bahkan justru terlihat yakin jika ini harus diselesaikan secepatnya. Semakin berlarut larut itu hanya akan lebih menyakitkan untuk Arum.
__ADS_1
Hans membuka handle pintu utama, suasana masih sangat sepi. Bahkan, di dapur pun Bi Muna tidak lagi terlihat. Tangan besar itu masih menggenggam erat lengan istrinya dan membawanya ke ruang utama.
"Mas Hans...! " Panggilan Arum menghentikan langkah keduanya. Arum sudah berdiri di dekat tangga dengan tatapan marah kepada Hans dan Zoya.
"Kalian keterlaluan. Kamu juga, Mas. Kamu tidak adil. Kamu meninggalkan aku di rumah sendirian tanpa kejelasan. Bahkan, Kamu juga menipuku. Aku juga istrimu, Mas." suara Arum menggema, wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang mungkin sudah tersimpan sejak beberapa hari yang lalu.
"Pernikahan kita tidak sah, Rum." Hans langsung menyela ucapan Arum. Gadis itu, mengernyitkan dahi. Tatapannya seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan Hans. Kakinya melangkah mendekati Hans yang masih berdiri bersama Zoya. Matanya menatap tajam mata lelaki yang dia anggap suaminya untuk mencari kebenaran.
"Jangan mencoba mengelak atas apa yang sudah terjadi, Mas! Kamu sudah menikahiku di depan warga." ucap Arum masih tidak percaya.
"Aku bicara sebenarnya, pernikahan kita tidak sah." Hans kembali meyakinkan Arum. Masih dengan nada yang lirih.
"Maksudnya?" Mata gadis itu mulai berkaca kaca. Tubuhnya terasa limbung, seperti sebuah badai yang menghantamnya berkali kali, hingga dia rasanya sudah tidak bertenaga.
"Iya, pernikahan atas kesepakatan waktu itu tidaklah benar. Ya, pernikahan kita tidak sah. Aku harap kamu bisa mengerti." Mendengar kalimat Hans yang meluncur begitu tegas membuat gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya sudah menganak sungai hingga mengalir membasahi kedua pipinya. Dia tak mampu lagi berkata kata, rasa kecewa dan tidak percaya membuat tenggoroknanya serasa tercekat.
"Iya, bukankah pada awalnya pernikahan kita hanya menyelamatkan diri dari amukan warga." lanjut Hans. Dia bisa melihat rasa kecewa gadis itu, tapi jika semakin terlarut itu hanya akan memperburuk keadaan dan perasaan Arum.
"Ini tidak adil untukku, jangan membohongiku dengan mengatakan pernikahan kita tidak sah." lanjut Arum masih memeluk Hans. Betapa hancurnya hati gadis itu saat semuanya hanya sebuah kepalsuan.
Zoya yang melihat semuanya pun bermaksud untuk beranjak pergi tapi tangan besar Hans menahannya untuk tetap tinggal. Tangis yang tergugu membuat hatinya miris, tapi sisi lain hatinya juga tidak tahan perempuan lain memeluk suaminya.
"Ini tidak semestinya. Kenyataannya kita bukan suami istri." ujar Hans dengan meregangkan pelukan Arum dan membawanya duduk di sofa.
"Inilah kenyataannya, kamu bukan istriku, Rum. Dan jangan lagi menggunakan cara buruk untuk aku mau menggaulimu. Itu dosa untuk kita, Rum." lanjut Hans dengan suara lirih. Arum tak mampu berkata apapun isakannya seolah menguasai seluruh tubuh dan pikiraannya. Kecewa, dia sangat kecewa dengan semuanya.
"Maafkan aku! Beberapa bulan cukup untuk menenangkan warga. Aku akan mengantarkanmu ke kampung jika kamu mau." ujar Hans dengan lirih, dia sangat hati-hati. Dia tidak ingin melukai perasaan Arum lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Atau kamu bisa menghubungi Deny untuk menjemputmu. Jika, kamu tetap di sini dalam jangka waktu lama itu sangat tidak baik untukmu. Kamu bisa melanjutkan hidup yang semestinya." lanjut Hans, saat melihat gadis itu hanya terisak. Zoya yang dari tadi hanya berdiri mematung pun ikut duduk di sebelah Arum. Tangannya mengelus bahu gadis itu. Dia bisa mengerti seperti apa rasa kecewa yang dialami Arum.
"Biar Bang Deny yang menjemputku. " jawab Arum, suaranya terdengar lirih, isakannya mulai terhenti tapi sorot matanya masih terlihat menyimpan rasa kecewa.
Sejenak Hans dan Zoya mencoba menenangkan tangisan Arum. Hingga beberapa menit dia mencoba menjelaskan dan menenangkan Arum.
"Kamu bisa mengerti, kan?" tanya Hans yang di jawab Arum dengan anggukan. Dia kembali melirik jam tangan classic yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku ada Meeting di kantor. Aku akan ke kantor saat ini!" pamit Hans. Lelaki itu kemudian melenggang, meninggalkan dua perempuan itu.
"Ini rasanya tidak adil untukku! " gumam Arum diantara isakkan yang tersisa. Dia berharap ada yang bisa mengerti perasan kecewanya.
"Tapi, jika memang terjadi poligami rasanya hanya akan menyakiti kita seumur hidup." jawab Zoya.
"Seumur hidup tidaklah sebentar, Mbak. Belum lagi Mas Hans adalah manusia biasa yang pasti tidak akan pernah adil. Dan kita perempuan biasa yang cenderung dengan sifat iri dan cemburu." lanjut Zoya.
"Bukankah kamu akan pergi, Zoy?" tanya Arum dengan menatap Zoya. Menanyakan keputusan yang pernah akan Zoya pilih.
"Aku mencintainya Mas Hans, Mbak. Dia suamiku, dan dia memilih bertahan denganku. Tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya." Zoya tidak ingin meninggalkan suaminya karena dia yakin jika cinta suaminya hanya untuknya. Apalagi, dia akan melahirkan buah cinta mereka.
"Mengharapkan cinta yang yang tidak semestinya hanya akan menyakitkan hati kita sendiri dan itu egois, Mbak! "
"Kamu tidak pernah mengerti perasaanku, Zoy. Aku sangat mencintai Mas Hans." kalimat Arum membuat Zoya terdiam. Dia hanya mengingat dia pernah merasa sangat mencintai seseorang tapi kenyataannya cinta tergantikan dengan cinta di atas ikatan atas nama Allah.
"Aku bisa mengerti, Mbak. Tapi jangan memaksa cinta karena itu akan membuat kita terluka. Ada kalanya kita harus membedakan mana obsesi atau memang cinta yang tulus." jelas Zoya. Dia berusaha meyakinkan Arum untuk tidak terjebak dengan keegoisannya.
Arum terbiasa dimanjakan Deny. Apapun keinginannya pasti terpenuhi. Tapi untuk Cinta? Siapa yang bisa memaksa atau mengaturnya? Tidak ada seorang pun.
__ADS_1
Bersambung....
Halo gaes readers aku tercinta... Terima kasih yang masih setya sampai di part ini. Semoga selalu diberi kesehatan. Untuk yang baru bergabung aku ucapkan selamat bergabung...