Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kyara Resign


__ADS_3

"Selain menutup aurat, kamu tahu kegunaan jilbab?" Masih dengan mengelus lembut rambut lurus istrinya, Hans melontarkan pertanyaan dengan penuh imajinatif. Zoya Hanya menggeleng.


"Untuk menutup kissmark!" Mendengar pernyataan suaminya Zoya langsung membuka matanya, ekspresi mendelik dia suguhkan pada lelaki yang saat ini malah tergelak.


"Ha...ha...ha..." mereka masih menikmati kebersamaan di bawah selimut, tanpa sehelai benang pun.


"Jadinya tidak masalah jika aku kasih stempel di mana-mana. Habis gemas banget saat melihat property kamu!" obrolan yang masih berhubungan dangan aktifitas yang baru saja mereka tuntaskan, membuat Zoya tidak begitu mempedulikannya.


"Kamu tahu, Nggak? Enaknya nikah sama Duda?"


"Malas jawab, kalau sudah berbau narsis." Zoya menahan selimut untuk merubah posisi, belum sampai memunggungi Hans, tangan kekar lelaki itu langsung menahannya.


"Kamu tidak akan nyenyak jika tidur dengan tubuh lengket." Hans langsung memakai boxernya dan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengerti Zoya kesulitan berjalan setiap kali mereka berhubungan badan. Kali ini, mereka memang benar-benar membersihkan diri sebelum menikmati tidur nyenyak.


###


Zoya masih berjalan di antara jajaran buku yang berada di salah satu toko buku yang ada di mall. Satu satu tangannya masih menggandeng bocah gembul yang kini juga menikmati beberapa jajaran buku yang masih dia lihat satu persatu.


"Mama, beli buku gambar buat Ale, ya!" ujar Ale dengan menunjuk rak buku khusus untuk buku gambar dan mewarnai.


"Ambil saja, mana yang Ale suka!" ujar Zoya dengan melihat kemana bocah itu berada. Dia terus saja mengamati putrinya, hingga bocah itu kembali dengan membawa satu buku gambar dan satu buku mewarnai.


"Ini, Ma!" Ale menyerahkan kedua buku itu pada Zoya.


Mereka kembali lagi melangkah, Zoya bermaksud ingin mencari buku parenting. Dia ingin sekali membeli buku resep masakan dan buku parenting.


"Ini juga, bagus! " Suara berat itu membuat Zoya menoleh pada sosok yang kini menyodorkan sebuah buku psikologi perkembangan dan pendidikan anak usia dini.


"Hmmm... " Zoya terlihat ragu, tapi Rey masih tersenyum padanya.


"Untuk Ale, kan?" Rey seolah sudah mengerti apa yang ada di pikiran Zoya.


"Assalamualaikum, Om!" Ale yang mengetahui jika mamanya kini berbicara dengan seseorang yang sudah dia kenal pun segera mendekat dan memberikan salam.


"Waalaikum salam, cantik. Lama tidak berjumpa, bagaimana jika kita minum es cream?" tawar Rey, mata cowok jangkung itu melirik ke arah Zoya yang hanya terdiam menatap Ale.


"Asyik, mau Om. Ale suka! " Bocah itu bersorak begitu girang, sementara Zoya masih merasa sungkan.


Karena bujukan Ale, akhirnya Zoya mengikuti apa mau putrinya. Mereka berjalan di sebuah istana es cream yang ada di dalam Mall.


Zoya masih merasa ragu saat mereka bertiga memasuki istana es cream. Apalagi Rey yang sedari tadi tidak melepas tatapannya dari perempuan ayu berkerudung merah itu. Warna yang cantik untuk kulit putihnya. Pikir Rey, kekagumannya mengalir tiada henti.


"Kesini naik apa, Zoy?" tanya Rey saat mereka menemukan sofa tempat mereka akan menikmati es cream.


"Taxi, Bang. " jawab Zoya dengan diikuti senyuman.

__ADS_1


"Aku dengar mobilnya Bang Hans kecelakaan, ya?" Lanjut Rey ketika seorang pelayanan menaruh pesanan es cream di meja mereka.


Ale yang memang sudah menginginkannya pun langsung menggeser salah satu mangkuk es cream untuk segera di santapnya.


"Ale makannya pelan-pelan." ujar Zoya , dia tidak menyadari jika sedari tadi lelaki yang duduk di depannya sedang memperhatikan setiap geriknya.


"Mama, mau Ale suapin? " tanya Ale saat Zoya menatapnya.


"Bagaimana jika Om saja yang suapin Mama?" Mendengar kalimat Reynaldy, Zoya menoleh ke arah lelaki itu. Tatapannya penuh selidik, dia layangkan pada sosok di depannya. Apa maksud dari ucapan laki laki itu? Seperti itu yang sedang Zoya pikirkan.


"Becanda, Zoy." Saat melihat perubahan wajah Zoya yang menatapnya serius. Lelaki itu pun kemudian meralat ucapannya.


"Yang boleh suapin Mama cuma Ale dan Papa." sambung bocah itu tanpa melihat orang yang diajak bicara.


"Emang Papa sering suapin Mama?" selidik Rey.


"Ale, cepat habisin!" Zoya mencoba mengalihkan Ale dari pertanyaan Rey. Tapi, sepertinya sia sia. Ale terlihat antusias menanggapi Rey hingga dia menghentikan sendokan es cream yang akan masuk ke mulut.


"Iya, kalau Mama lagi ngambek. Kata Papa Mama nggak mau coklat, maunya di cium sama di peluk gitu." jelas Ale, tubuh gembul itu sedikit bergoyang penuh semangat saat menceritakan kembali apa yang pernah dikatakan papanya itu pada Rey.


"Benarkah?" Pertanyaan Rey semakin lirih, senyum kecut pun tergambar jelas di wajah gantengnya. Ada hal yang sedikit mengkoyak hatinya saat mendengar bocah kecil itu bercerita. Rasa cemburu. Itu yang di rasakan Rey saat ini.


"Maaf Bang, jangan didengerin Ale!" Zoya mulai sungkan dengan situasinya sekarang. Ada sebuah perasaan kurang nyaman dengan semuanya.


"Ale, ayo cepetan! Pasti, Papa akan menunggu kita!" Zoya ingin sekali mengakhiri kebersamaan ini. Beberapa kali dia memergoki tatapan yang tak biasa dari Rey kepadanya.


"Iya, Mas Hans meminta kami untuk datang ke kantor." Lirih Zoya. Masih menundukkan wajah menikmati es cream. Padahal dia hanya tidak ingin membalas tatapan lelaki di depannya.


"Kalau begitu sekalian bareng aku saja." tawar Rey. Berharap kali ini Zoya tidak menolaknya.


"Tapi... "


"Ayolah, Zoy. Sekalian saja aku akan bertemu Kyara." bujuk Rey lagi membuat Zoya tak punya alasan lagi untuk menolak.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun akan berangkat ke kantor Hans. Zoya masih menggandeng Ale dan mengapit totebag yang berisi buku yang baru saja mereka beli.


Mereka sampai pada sebuah mobil jaguar warna metalic, " Aku duduk di belakang bersama Ale saja." ujar Zoya saat Rey akan membukakan pintu mobil bagian depan.


"Baiklah." sambung Rey setengah kecewa.


Dia membiarkan Zoya dan Ale duduk di bangku belakang. Rey sendiri berjalan memutar untuk duduk di belakang kemudi.


Sebelum, melajukan kembali mobilnya. Dia melirik kembali Zoya dari spion." Baiklah, suatu saat aku akan membuatmu duduk di sampingku, Zoy." ujar lelaki dengan hidung mancung itu. Rambutnya yang sedikit gondrong pun terlihat klimis dengan pomade.


Dengan berjalan halus, Jguar itu melintas diantara ramainya kota. Musim kemarau yang belum berujung. Siang yang akan menjelma menjadi sore membuat sinar mentari sedikit meredup diantara hembusan angin yang menerbangkan debu dan dedaunan kering yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


Sedan Jaguar metalic itu membelok di halaman kantor milik Hans. Dengan sigap, lelaki dengan tampilan formal yang di lengkapi dengan sepatu pantofel itu membukakan pintu untuk Zoya dan Ale.


"Terima kasih." ucap Zoya penuh dengan kekakuan saat lelaki lain memperlakukannya seperti itu.


Melihat Ale yang langsung berjalan memasuki kantor papanya, Zoya pun melangkah dengan terhuyun mengikuti putrinya. Pemandangan yang luar biasa bagi Rey. Seandainya yang seperti itu anak dan istrinya, bayangan bayangan semu mulai bertebaran saat langkahnya mengekor memasuki bangunan yang tidak begitu besar tapi terlihat mewah.


"Assalamulaiakum, Papa." teriak Ale saat melihat papanya berdiri di dekat meja Diana bersama Kyara yang sudah mengepack semua barangnya untuk resign.


"Waalaikum salam." Hans mengelus rambut putrinya, saat Ale memeluk kaki jenjangnya. Sementara, Tatapan tajamnya kini tertuju pada sosok yang berada di belakang istrinya.


"Aunty mau kemana?" tanya Ale saat melihat beberapa barang yang ada di dekat Kyara.


"Aunty mau pindah kerja." jawab Kyara.


Hans masih menatap Rey, bahkan tak ada sapaan yang dilontarkannya saat Zoya mendekat ke arahnya. Suasana mendadak canggung.


"Selamat sore." sapa Rey memecahkan keheningan diantara mereka. Netranya kini beralih pada sosok yang terlihat tidak senang melihat kedatangannya.


"Aku hanya ingin menemui Kyara." ujar Rey kemudian untuk memecahkan kekakuan diantara mereka.


"Benarkah? Kebetulan, Bang."


"Tolong angkatin barangku ke mobil!" Kyara terlihat tersenyum keki menyambut kedatangan Rey.


Hans pun langsung masuk ke ruangan setelah Kyara dan Rey meninggalkan kantornya. Ale sendiri diajak Ryan untuk membeli makanan di kafe yang ada di depan kantor.


"Kenapa datang bersamanya? Apa tidak ada taxi di kota ini? Apa perlu aku membelikanmu mobil sendiri?" Pertanyaan pertanyaan sarkas mulai dilontarkan Hans saat ruangannya mulai tertutup. Nampak, lelaki itu menghempaskan tubuhnya di kursi meja kerjanya.


Zoya terdiam dengan wajah menunduk dan berdiri di dekat suaminya yang masih duduk dengan mengetuk ketukan bolpoin di meja.


"Maaf, Mas." Terdengar suara lirih itu memecahkan keheningan. Suaranya terasa tercekat kala dia tidak bisa menjelaskan semua kejadian di mall hingga dia harus datang bersama laki laki lain dalam satu mobil.


"Mau berdiri terus?" tanya Hans, wajahnya masih terlihat datar tanpa sedikit pun senyum.


"Mau kemana?" tangan besarnya dengan gesit menahan Zoya dan menariknya lagi untuk mendekat, saat Zoya bermaksud mencari tempat duduk.


"Duduklah!" nada dinginnya masih mengomando bersamaan dengan gerak mata yang mengisyaratkan istrinya untuk duduk di atas pahanya.


Berlahan dan penuh keraguan Zoya pun sedikit bergeser mendekat, tapi rasa malu membuatnya terdiam sejenak. Tapi tangan besar itu menariknya hingga terduduk di atas pangkuan Hans.


"Aku tidak suka kamu bersama laki laki itu!" ujar Hans kemudian melingkarkan kedua lengannya di pinggang istrinya. Wajah mereka saling berdekatan, tapi keduanya masih menegang dengan emosi masing masing. Cemburu dan rasa bersalah.


"Maafkan aku, Mas. Tadi kami juga sempat makan es cream karena Bang Rey menawari Ale dan Ale menginginkannya." Zoya berusaha menjelaskan, meski wajahnya masih menegang.


"Tadi kita bertemu di toko buku GM." rasa bersalah, malu dan rasa berdesir di dadanya pun bercampur kala hembusan nafas mereka saling beradu.

__ADS_1


Hans hanya tersenyum samar, kala dia harus melihat wajah merona istrinya. Dia tetap Zoya yang sama, Zoya yang masih dia percaya meskipun ada sedikit rasa cemburu karena dia tahu perasaan Rey pada istrinya. Apalagi dia mengenal sosok Rey, lelaki yang tak bisa dianggap enteng tentang kecerdikannya.


Bersambung.


__ADS_2