Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mahar


__ADS_3

Hans terus menggandeng Zoya di sepanjang jalan yang dilaluinya. Sebenarnya, Zoya sendiri sudah risih saat orang-orang menatapnya. Apa yang di lakukan suaminya saat ini mengundang perhatian setiap orang yang melihat mereka.


"Mas, kita sudah terlalu jauh berjalan. Bahkan, ini sudah meninggalkan dusun. " ucap Zoya saat mereka berjalan terlalu jauh dan melewati hamparan sawah yang membentang sangat luas.


"Kamu capek? " tanya Hans.


"Bukan begitu, aku hanya mau mengingatkan jika nanti kita akan melakukan perjalanan pulang ke kota. " jawab Zoya. Meskipun begitu, tidak menghentikan Hans untuk menggandengnya dan terus melangkah. Hingga mereka sampai pada sebuah hilir sungai yang dipenuhi dengan batu batu karang.


" Ya Allah...mau apa kita ke sini, Mas? " Zoya tidak habis pikir, ternyata suaminya hanya mengajaknya untuk mengunjungi sungai yang ada di perbatasan kampung.


"Ayo, kemarilah! " titah Hans dengan membantu Zoya yang kesulitan untuk turun ke bawah karena bawahan rok yang dikenakannya.


Zoya hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan suaminya. Kenapa dia mendadak jadi seperti ABG? Pikir Zoya yang membiarkan Hans berjalan ke belakangnya, yang katanya akan mengambil sebuah kayu. Padahal, Hans mencuri foto dirinya dari arah belakang.


"Zoy, memang tetanggamu itu kurang urusan ya?" tanya Hans mendudukkan tubuhnya di bebatuan besar. Kaki putihnya itu bermain diantara aliran air yang cukup bening.


"Apa maksud, Mas Hans? " Zoya balik bertanya dengan menolehi lelaki yang bersedekap di sampingnya.


"Itu tadi, kamu mau nikah dengan siapa pun kan bukan urusan mereka. Lagian kurang ajar sekali mereka bilang aku bau tanah. Meskipun aku duda tapi tetap keren, kan? Mau nyari sepuluh Zoya juga dapet. " mendengar kalimat Hans membuat Zoya kembali menoleh ke arah suaminya.


"Iya bener, kalau untuk mencari sepuluh Zoya pasti dapat. " lanjut Hans sambil melirik gadis yang saat ini menatap ke depan.


"Bagaimana, Zoy? " Hans kembali menggoda Zoya yang awalnya hanya terdiam saja.


"Terserah Mas Hans saja. Mungkin Mas Hans bisa mendapatkan sepuluh perempuan yang lebih dari Zoya, tapi tidak akan menemukan yang seperti Zoya. " jawaban Zoya langsung disambut dengan gelak tawa Hans. Sudah lama lelaki itu tidak sebahagia saat ini.


"Zoy, bapak dulu kerja apa?" tanya Hans, kemudian menarik tubuh Zoya untuk mendekat. Tangannya merangkul pinggang kecil itu dan menempelkan wajahnya di lengan istrinya yang menggantung.


"Guru swasta, Mas! " jawab Zoya berusaha menarik tubuhnya menjauh tapi eratan tangan Hans yang cukup kuat menahannya.


"Oh pantesan, kamu pintar. Kenapa kamu nggak kuliah?"


"Kasian Ibu. Sebenarnya aku juga belum mau menikah. " kejujuran Zoya membuat Hans terbungkam. Wajahnya seketika berubah serius. Lelaki yang egois, dia paling sulit menerima penolakan.


"Kamu menyesal?" tanya Hans dengan melepas lengannya di pinggang Zoya.


"Tidak, aku bahagia punya Ale." ucap Zoya dengan seulas senyum di bibirnya, dia kembali membayangkan kelucuan bocah itu.


"Cuma itu? " desak Hans dengan merubah foto profil di WA nya dengan foto Zoya yang baru saja dia ambil dari belakang.


"Iya." jawab Zoya.


"Kamu suka sama laki laki lain? "


"Tidak! "


Ting...


Sebuah notifikasi pesan di ponsel Hans pun berbunyi.

__ADS_1


Astaga lo puber ke dua ya? mirip Abegeh lagi kasmaran


Ryan


Pamer! Dasar sugar Daddy


Anas


"Sialan.... " umpat Hans dengan menutup kembali mengunci layar ponsel nya tanpa membaca pesan lain di bawahnya. Hans kembali memasukan kembali ponselnya di saku celana pendeknya.


"Zoy, apa kamu takut denganku? " tanya Hans langsung ke intinya.


"Dulu iya, pas awal ketemu tapi sekarang tidak. Cuma kalau pas marah aku masih takut. " jawab Zoya.


"Kenapa takut? "


"Mas Hans emosian. " Hans langsung tertawa mendengar jawaban Zoya. Gadis di depannya selalu polos untuk menjawab semua pertanyaannya tapi diamnya Zoya selalu menyisakan rasa penasaran. Karena ada kalanya dia hanya menjawab pertanyaan dengan seulas senyum saja.


Sebenarnya, Hans ingin menyatakan perasaanya tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat Zoya masih enggan merespon sentuhannya dan dia belum tahu alasan Zoya terpaksa menikah dengannya.


Matahari yang mulai meninggi membuat mereka meninggalkan tempat itu. Mereka juga harus persiapan untuk pulang ke kota. Besok Hans harus melakukan sidang terakhir untuk Naura dan Ale juga masuk sekolah.


###


Hans kembali melirik jajaran buku yang tertata rapi itu. Rasa penasaran tentang buku yang disukai Zoya pun membuatnya berjalan mendekat ke arah rak buku. Kebanyakan buku religi, tapi ada yang menarik perhatiannya ketika matanya melihat sebuah buku diary. Dia ragu untuk untuk mengambilnya, tapi rasa ingin tahunya pun berhasil menguasainya. Tidak ada salahnya mengetahui rahasia istrinya. Toh, itu hanya masa lalu yang menjadi cerita lucu di masa mudanya. Anak perempuan memang paling senang menulis diary, pikir Hans.


"Mas... " panggilan Zoya membuat Hans segera menyelipkan buku diary di punggungnya. Mereka memang sudah bersiap untuk pulang.


"Ini uangnya yang mas titipin pas kita mau berangkat ke sini. " Zoya menyerahkan uang lima juta kepada suaminya.


"Kamu bawa uang tunai, nggak? " tanya Hans pada Zoya.


"Ada, satu juta, Mas. Rencananya, mau aku kasihkan ke Ibu. Nggak, apa apa kan? "


"Yang satu juta kasihkan ke Zahra bilang ongkos delivery dan yang lima juta kasihkan ke Ibu. " ucap Hans membuat Zoya sedikit ragu.


"Kenapa terdiam? " tanya Hans.


"Pasti Ibu menolak, jika jumlahnya terlalu banyak. Bagi kami uang segitu sangat banyak. "


"Kenapa? " Hans semakin penasaran.


"Sepertinya ibu merasa bersalah, jika menerima sesuatu dariku. Beliau tidak ingin di anggap menjual aku dengan memaksaku menikah dengan orang kaya. " terlihat sorot mata sedih di wajah istrinya.


"Zoy... " lirih Hans saat melihat guratan kesedihan di wajah istrinya.


"Hukum sosial terkadang menyakitkan, Mas. Apapun yang kita lakukan itu selalu salah saat kita berada di garis miskin. Aku yakin, Ibu juga banyak mendengar hujatan dari orang-orang karena menikahkan aku dengan orang kaya. Mereka akan menghakimi sesuka hatinya. "


"Seperti kejadian tadi pagi? " tanya Hans yang hanya di jawab anggukan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa harus mendengarkan yang tidak penting. Yang penting kan kamu, Zoy. " Mendengar ucapan Hans membuat Zoya berjalan ke arah suaminya, tapi untuk membuka pintu lemarinya yang sudah usang. Zoya mengeluarkan sebuah tas, yang ternyata berisi uang.


"Apa itu, Zoya? " tanya Hans begitu penasaran saat melihat tas yang isinya ternyata uang.


"Ini maharku dari Mas Hans. Mama Shanti menyerahkan uang seratus juta dan beberapa perhiasan yang aku bawa ke kota. Tapi saat aku ingin memberikan uang ini pada Ibu, beliau menolaknya. Sambil menangis, ibu mengatakan tidak ingin di anggap menjualku. Beliau berharap aku bisa hidup lebih bahagia. Saat itu, Ibu memang memaksaku untuk menikah, Mas." Hans mendekat ke arah Zoya dan mengusap air mata istrinya yang meleleh.


"Uang itu hakmu, Zoya. Sekarang kamu mau gunakan untuk apa? Jika di simpan di rumah itu sangat beresiko, bisa menimbulkan kejahatan jika ada yang mengetahuinya. "


"Aku tidak butuh uang itu, Mas. Aku ingin memberikannya sama Ibu. " jawab Zoya.


"Kalau begitu, aku akan membantumu bicara ke Ibu. " ajak Hans yang diikuti Zoya dengan membawa tas yang berisikan uang.


Terlihat Nurma membungkus makanan yang akan dibawa putrinya ke kota. Beliau tahu Zoya sangat menyukai sambal teri buatannya.


"Bu... " panggilan Zoya membuatnya menoleh. Ternyata sudah ada Zoya dan Hans berada di belakangnya.


"Ini dari Mas Hans! " Zoya menyerahkan uang lima juta pada ibunya.


"Kok sebanyak ini? " jawab Nurma dengan ragu.


"Dan ini aku berikan uang maharku untuk Ibu. " seketika Nurma menatap Zoya dengan pandangan menyelidik.


"Maksutnya apa, Zoya? " Tangis Nurma tak bisa ditahan lagi. Wanita paruh baya kini malah menangis tergugu. Rasa bersalah kini hadir saat dia mengingat harus memaksa Zoya untuk menikah.


"Ibu... jangan seperti ini!" Zoya berjongkok memeluk kaki ibunya, gadis itu pun ikut menangis. Dia juga bisa melihat rasa bersalah ibunya. Nurma merasa seperti menggadaikan masa depan putrinya saat menerima uang itu.


"Zoya bahagia, Bu. Mas Hans adalah suami yang baik, apa Ibu tidak melihat jika keadaanku jauh lebih baik. " Zoya menjatuhkan kepala di pangkuan ibunya, dia pun menangis di sana. Bagi Zoya semua adalah takdir dan sudah jodoh.


Hans memalingkan wajah saat melihat Ibu dan anak yang saling menangis. Terkadang saat seseorang sudah merasa sulit dengan keadaan justru akan di persulit lagi dengan lingkungan. Penghakiman sosial itu terkadang lebih menyakitkan karena tidak beralasan dan tanpa pembuktian.


"Eyang, Mama kenapa kalian menangis? " Ale yang baru saja keluar kamar Zahra pun menghambur ke arah Zoya.


"Mama sedih kita akan pulang meninggalkan Eyang sama Tante Zahra berdua di sini. " jawab Zoya dengan menyeka air matanya.


"Eyang, kita nanti ke sini lagi. Iya kan, Pa? " tanya Ale mengalihkan pandangannya ke arah papanya.


"Tentu, sayang. " jawab Hans, hatinya masih mengiba.


"Asyikkkk, Ale bisa belmain dan jalan jalan lagi sama tante Zahla! " bocah itu berteriak kegirangan mencairkan suasana yang mengharukan itu.


"Ibu, Zoya akan kecewa jika Ibu menolak apa yang sudah menjadi niat Zoya untuk memberikan uang itu kepada Ibu. " Suara tegas Hans membuat ibu mertuanya tidak bisa lagi menolak.


"Ini dari Mas Hans, Ra! Jangan biasakan morotin orang. " ucap Zoya menghampiri adiknya dengan membawakan uang satu juta.


"Makasih, Mas! Lain kali siap jadi baby sitternya Ale. " ucap Zahra membuat Hans tersenyum ke arah gadis itu.


Hans mengambil koper di kamar dan buku diary Zoya yang sudah dia selipkan di dalamnya. Setelah mereka berpamitan, mobil Mercy hitam melesak meninggalkan perkampungan. Pernikahan secara tidak langsung memberi mereka rasa keterbukaan, meski tidak secara langsung.


visual Ale

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2