Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Telat


__ADS_3

"Kenapa harus bersedih Zoya? Seharusnya kamu sudah menyiapkan perasaanmu. " dia bermonolog dengan hatinya sendiri. Hari menjelang sore, Zoya masih bertahan terdiam di taman rumah sakit.


"Apa yang kamu pikirkan Nyonya Hans Satrya Jagad? " suara bariton itu membuat gadis mungil itu menoleh.


Zoya menoleh ke arah sumber suara. Di sana Hans sudah berdiri tegap dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Mas Hans. " lirih Zoya dengan seulas senyum yang tak pernah tertinggal terbit di bibirnya.


Hans berjalan mendekat ke arah Zoya, "kenapa tidak masuk? " tanya Hans dengan menatap wajah yang saat ini mendongak membalas tatapannya.


"Aku takut mengganggu. " ujar Zoya dengan tenang.


"Ayo, masuk! Ale sudah menunggumu sejak tadi. " ucap Hans kemudian menenteng tas yang tadinya dibawa Zoya dari rumah.


Mereka berjalan ke arah ruangan Ale, Zoya sebenarnya merasa tidak enak jika masih ada Naura. Kakinya melangkah dengan meragu saat mendekati ruangan Ale, tapi saat melihat di dalam sudah tidak ada siapa pun kecuali Ale, Zoya pun seolah bernafas lega.


"Mama, kenapa lama sekali? " tanya Ale saat Zoya memasuki ruangan itu dan berjalan ke arah putri kesayangannya.


"Mama tadi membuatkan Ale bubur dulu. Ale mau makan? " tanya Zoya seolah tidak melihat jika Ale baru saja makan dengan di suapi Naura.


"Ale balu saja makan, Ma! " jawab Ale.


"Ale tidur ya, biar Ale cepat sembuh, dan Ale bisa masuk sekolah lagi. " ucap Zoya, sementara Hans duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Ale masih semangat semangatnya sekolah karena dia baru lima hari masuk sekolah. Zoya masih berdiri di pinggir ranjang menunggui Ale hingga bocah itu tertidur lagi karena pengaruh obat.


Suara dering ponsel Zoya terus saja berbunyi, gadis mungil itu mendekati tasnya dan mengambil ponselnya yang berada di dekat Hans.


"Assalamualaikum, Bang. " seketika Hans menatap Zoya saat mendengar nama panggilan yang di sematkan setelah salam.


"(...) "


"InsyaAllah datang, cuma aku nggak bisa janji. " jawab Zoya.

__ADS_1


"(...) "


"Waalaikum salam warohmatullah. " jawab Zoya dengan menutup panggilan teleponnya dan memilih duduk satu sofa dengan Hans.


"Siapa? " tanya Hans, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Bang Wildan, yang pernah datang ke rumah bersama dengan temanku Nilla. "


"Ada hubungan apa kamu dengannya? " tanya Hans dengan rahang yang sudah mengeras.


"Teman, Mas. " Zoya mulai merasakan suara Hans yang terdengar dingin saat mencecar pertanyaan tentang ustad yang sering kali mengacaukan moodnya.


"Kamu yakin dia tidak menyukaimu? " Zoya hanya bungkam tidak mampu menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku akan ke kantin sebentar! " ucap Hans kemudian bergegas meninggalkan Zoya dengan perasaan kesal. Dia merasa ada sebuah emosi yang membuatnya susah untuk di redam jika harus membahas lelaki itu dengan Zoya.


Hans masih mengaduk kopinya yang baru datang, lelaki itu rasanya ingin terus mengumpat. Dia tidak pernah merasakan perasaan yang sedemikian buruk, emosi dan kesal yang tak jelas.


"Sial ...apa mungkin karena aku tidak bisa melampiaskan rasa kesalku hingga perasaan kesal itu membentuk emosi tersendiri? " gerutunya mencoba memahami perasaan yang saat ini meledak ledak di dadanya. Ingin sekali dia menghilangkan banyak pertanyaan di otaknya tapi pertanyaan tentang ustadz muda itu malah berkembang di otaknya. Apa mereka sering berhubungan? Apa di luar sana mereka sering mengatur pertemuan? Sejauh mana hubungan Zoya dengan ustadz itu? Rasanya dia benar benar tidak bisa mengontrol semua pemikiran yang tidak bisa dia temukan jawabannya. Tapi, tidak mungkin menanyakan itu langsung pada Zoya. Bukankah terserah dia mau berhubungan dengan siapapun dan terserah aku mau berhubungan dengan siapapun karena pernikahan ini sebatas status saja. Kerja otaknya yang tak bisa dikendalikan membuat Hans semakin sulit mengontrol emosinya.


###


Zoya sendiri sudah mengerti jika suaminya seolah tidak ingin bertemu dengannya. Tapi, dia masih berusaha bersikap biasa, meski hatinya merasa sangat sedih.


"Besok seperti biasa kalian akan diantar Pak Dino, tapi aku yang akan menjemput kalian. Karena mobil yang satunya akan diservice. " ucap Hans saat berpapasan dengan Zoya di dekat tangga, tanpa menunggu jawaban dari Zoya laki laki itu langsung melenggang menuju ruang kerja. Zoya sendiri kemudian memilih masuk ke kamar Ale. Gadis itu tidak mengerti kesalahan apa yang tiba-tiba membuat suaminya bersikap dingin kepadanya.


"Salahku apa, Ya Allah. " gumamnya dalam hati, dia masih bingung alasan suaminya bersikap seperti itu. Mungkin, besok dia akan menanyakan itu pada suaminya. Saat ini, Zoya memilih merebahkan tubuhnya di dekat Ale, hanya bocah gembul itu yang mampu memberikan rasa bahagia meski hanya sekedar melihatnya terlelap. "Sayang, Kamu akan tetap jadi malaikat kecil mama. Meski Mama tidak melahirkanmu. " gumam Zoya dengan memandangi dan mengelus pipi gembul Ale. Ada sebuah perasaan yang mengikat Zoya dengan gadis itu.


Di sebuah ruang yang tenang, di balik meja dia hanya bisa mendengus kesal. Rasanya dia sulit mengarahkan fokusnya dengan apa yang saat ini dikerjakannya. Ya, baru kali ini dia merasakan emosi yang sulit untuk dia namai dan dia fahami.


"Argghhh....! " teriaknya dengan menyugar rambutnya dengan jari jari kedua tangannya. Hans memilih kembali ke kamarnya, dia pikir otaknya butuh untuk diistirahatkan.

__ADS_1


###


Hans mencoba menghubungi ponsel Zoya tapi tidak diangkatnya. Dia semakin dibuat kesal oleh istrinya. Kedatangan Naura untuk konsultasi dan membawakan makan siang untuknya membuat Hans lupa jika siang tadi, dia harus menjemput Ale dan Zoya.


Lelaki itu segera menyambar kunci mobilnya, dan kemudian keluar dari ruangannya. Dengan melirik jam tangan yang melingkat di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore membuat Hans memilih langsung meluncur ke rumah untuk melihat apa istri dan anaknya sudah kembali.


Hans memarkir mobilnya dengan sembarang setelah sampai halaman rumah. Dia langsung masuk kerumah dengan berlari kecil. Suasana rumah masih nampak sepi, Hans semakin memppecepat langkahnya untuk sampai kamar Ale, tapi masih kosong.


Lalaki itu semakin bingung, di kembali menurjni tanggal, tapi saat akan membuka pintu rumah dia melihat Zoya turun dari sebiha mobil Fortuner berwarna hitam.


Emosinya mulai tersulut, tapi dia masih mencoba menunggu istrinya di dalam rumah.


Rasanya dia tidak sabar menunggu Zoya yang terlihat berjalan menggandeng Ale untuk masuk ke dalam rumah.


"Ceklek... " betapa terkejutnya Zoya saat membuka pintu Hans sudah berdiri di depan pintu.


"Dari mana kamu? Kenapa tidak mengangkat telpon? " tanya Hans terdengar dingin. Zoya bisa merasakan suaminya menyimpan kemarahan terhadapnya.


"Ale masuk kamar dulu ya! " ucap Zoya dia tidak ingin Ale melihat kemarahan papanya.


"Siapa yang mengantarmu? " Hans seperti tidak sabar mencecar Zoya dengan banyak pernyataan.


"Bang Wildan, Mas! Maaf Mas, Aku lupa membawa ponsel. "


"Sudah berani kluyuran kamu! " teriak Hans terdengar menggema di seluruh ruangan, Zoya mengeratkan tangannya memeluk totebag di dadanya. Bahkan Ale, menghentikan langkah saat akan memasuki kamarnya. Bocah itu memilih melihat kedua orang tua di dekat tangga.


"Jangan mengajari anaku liar, kluyuran tak jelas. " tubuh dan tatapan Hans seolah mengintimidasi Zoya. Membuat perempuan itu memundurkan langkahnya hingga tubuh mungil itu membentur tembok.


"Mamaaaaa...! " teriak Ale terlihat bocah itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa menghampiri Zoya yang nampak terpojokkan.


"Papa jahat.... " kalimat Ale seperti menyadarkan Hans. Bocah itu menangis dan terisak dengan memeluk kaki Zoya.

__ADS_1


"Mama tidak apa apa, Sayang. Ayo Ale ganti baju dulu! " ucap Zoya, Kemudian membawa Ale masuk, sementara Hans memilih keluar rumah dengan membanting pintu.


Bersambung.....


__ADS_2