
Dengan mengapit tasnya, Zoya menembus hujan yang kini meninggalkan rintik gerimis kecil. Dia memang sengaja meninggalkan rumah mewah milik Naura dan mencari taxi untuk membawanya pulang tanpa sepengetahuan Hans.
Di dalam taxi, air matanya terus meleleh. Bahkan berkali-kali, dia menyeka air matanya dengan kasar. Kenapa rasanya sesakit ini? Zoya merasakan hatinya begitu ngilu seperti ribuan sembilu telah menancap di sana. Dulu, saat bersama Wildan, dia masih bisa menahannya. Tidak seperti ini, tapi kenapa ini rasanya jauh lebih sakit.
"Mbak, ini mau kemana? " supir taxi itu memberanikan diri bertanya setelah menunggu Zoya terlihat sedikit tenang.
"Kita ke komplek perumahan Permata Garden Gang. Delima, No. 4." ucap Zoya memberitahu alamat lengkap rumah Mama Mertuanya. Tujuan Zoya saat ini hanya untuk menjemput Ale.
Taxi online itu pun berhenti tepat di depan rumah yang ada di kawasan perumahan elite tersebut. Dengan baju yang masih basah, kini Zoya berjalan memasuki rumah yang terlihat sepi.
"Loh, Mbak Zoya sendirian? " tanya Pak Bagus membuka pintu gerbang.
"Iya, Pak. Saya masuk ke dalam dulu! " Zoya bergegas meninggalkan lelaki yang masih menatapnya aneh itu.
"Assalamuaikum, Mama. " ucap Zoya dengan mengetuk pintu hingga beberapa kali.
Sesaat kemudian daun pintu bermotif ukiran bali itu akhirnya terbuka, "Zoya." ucap Bu Shanti terhenyak kaget saat melihat Zoya yang basah kuyup sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo, masuk? Kenapa hujan-hujanan, Sayang? Kemana Hans? Kenapa dia tidak mengantarmu? " cecar Shanti dengan beberapa pertanyaan, dan menarik lengan Zoya untuk masuk ke dalam.
"Mas Hans masih ada klien, Ma. Zoya yang memaksa pulang, sekalian menjemput Ale. " Bohong Zoya tak ingin Mama mertuanya mengendus masalah dalam rumah tangganya.
"Ayo, ganti baju dulu! Mama punya tunik panjang. Mungkin akan kedodoran jika kamu kenakan tapi dari pada kamu basah nanti masuk angin. " Shanti menarik lengan Zoya ke arah kamarnya. Sedangkan, Zoya mencari kehadiran Ale yang dari tadi belum dia temukan.
"Ma, Ale kemana? " tanya Zoya saat Shanti mengambilkan bajunya.
" Ale tidur di kamarnya Hans. Kamu nyusul saja ke sana, temani Ale tidur!" ucap Shanti dengan menyerahkan bajunya pada Zoya.
__ADS_1
Zoya pun bergegas menuju kamar Hans. Ini kedua kalinya dia mengunjungi kamar tersebut. Manik matanya menatap bocah yang terlelap di atas tempat tidur berukuran king size. Tatapannya kini berganti menatap beberapa foto yang menggantung di dinding kamar yang di desain dengan ornamen yang cukup mewah dan terkesan maskulin. Zoya bisa melihat selera suaminya yang cukup berkelas dalam hal apapun termasuk wanita. Setelah mengganti bajunya, Zoya pun merebahkan tubuhnya di samping Ale.
###
Hans kebingungan saat tidak mendapati Zoya di dalam mobil. Dia baru menyadari telah meninggalkan Zoya begitu saja. Hampir setengah jam, dia menenangkan Naura dan saat kembali ke mobil ternyata Zoya sudah tidak ada di sana.
Hans melajukan mobilnya dengan perasaan gusar. Tidak terpikirkan olehnya Zoya akan pergi begitu saja, apalagi saat itu hujan masih menyisakan gerimis.
"Kenapa kamu pergi, Zoy. " ucapnya dengan memukul setir. Dia membawa mobilnya pulang ke rumah untuk mencari Zoya. Hans hanya memarkir mobilnya di pinggir jalan di depan rumahnya. Lelaki berkaki panjang itu melangkah masuk ke dalam, mencari keberadaan istrinya. Tapi rumah masih sepi, bahkan Ale juga belum ada di rumah.
Dengan berlari kecil dia menuruni tangga. Hans kembali keluar dan melajukan mobilnya. Mungkin, Zoya ada di rumah mamanya. Pikirnya. Dia tahu, Zoya tidak akan pergi jauh tanpa sepengetahuannya.
Mercy E Class keluaran terbaru itu melaju dengan kecepatan tinggi. Dia belum merasa lega jika belum mengetahui keberadaan Istrinya.
Hans membunyikan klakson beruntun saat ada di depan rumah mamanya, lelaki paruh baya itu berjalan tunggang langgang untuk membukakan pintu gerbang. Dia juga hanya menghentikan mobilnya di halaman rumah Shanti. Dengan tergesa-gesa , dia melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mah, Mama! " panggilnya dengan tidak sabar membuat Shanti yang mendengarnya merasa kesal.
"Kenapa? Kamu keterlaluan, kamu membiarkannya pulang sendiri hanya karena menemui klien. Apa pekerjaan lebih penting dari keluargamu? " Shanti mulai mengomeli anaknya.
Hans hanya terdiam, mungkin Zoya sudah menutupi cerita sebenarnya. Hans akan beranjak pergi, "Tunggu! " Shanti menahan tangan Hans saat melihat lipstik merah menyala berada di kemeja putranya.
"Kamu jangan kurang ajar, Hans. " ucap Shanti dengan berapi-api, beliau mulai tersulut emosi.
"Apa lagi, Mama? " Hans masih merasa bingung dengan tatapan nyalang mamanya.
"Jadi ini yang membuat Zoya terlihat sedih, datang untuk menjemput Ale dengan baju yang sudah basah kuyup." Shanti menunjuk noda di kemeja putranya itu.
__ADS_1
"Ma, Bukan...! "
"Ingat, Hans! Kamu punya putri, kamu tidak ingin kan karma itu menimpa putrimu? Zoya mungkin tidak akan menceritakan masalah kalian. Tapi mama tidak selugu Zoya. Awas saja, jika sampai kamu menyakitinya! " ancam Shanti dengan menggebu-gebu kemudian mencari tempat duduk terdekat. Dadanya mulai merasa nyeri.
"Ma..." Hans mencari air minum, dia begitu panik melihat mamanya menekan dadanya.
"Ma.. bukan seperti itu ceritanya. Mama salah faham. " ucap Hans dengan menyodorkan air hangat untuk Mamanya.
"Sana temui istrimu di kamar. Mungkin dia sudah menangis karena kelakuanmu. " ucap Shanti setelah menegak setengah gelas air yang diberikan putranya.
"Astaga.. Kenapa jadi serumit ini. " gerutu Hans sambil berjalan menuju kamar lamanya.
Entah kenapa ada rasa gugup yang menjalar di tubuhnya saat rasa bersalah kepada Zoya memenuhi hatinya. Membayangkan Zoya sampai menangis membuatnya merasa semakin bersalah.
Tangannya membuka handle pintu kamar lamanya. Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Nampak Zoya memejamkan mata, tapi dia tahu jika gadis itu tidaklah tidur, bulu mata lentik itu masih bergerak halus.
Hans memilih merebahkan tubuhnya di belakang istrinya. Dia melingkarkan tangannya berharap Zoya akan membuka mata. Tapi, Zoya masih tidak bergeming, padahal Zoya tidak tahan dengan tangan Hans yang memeluk erat pinggangnya.
"Zoya, jangan pura-pura tidur! " bisik Hans dengan mendekatkan wajahnya di tengkuk putih istrinya membuat Zoya benar-benar tidak tahan untuk menggeser tubuhnya menjauh. Tapi, lengan itu membuatnya tidak bisa bergerak.
"Jangan seperti ini, Mas. Aku bisa salah faham." lirihnya terdengar dingin. Baru pertama kalinya, Hans mendengar Zoya berucap dengan nada dingin.
"Kamu kenapa? Kenapa pergi begitu saja? " tanya Hans dengan mengangkat sedikit kepalanya dan menekuk tangannya untuk bertumpu. Saat Zoya menoleh kebelakang wajah keduanya hanya berjarak tipis. Bahkan sapuan nafas Hans terasa di kulit pipi cabi itu.
"Aku tidak ingin mengganggu kalian, jadi aku memutuskan pulang saja." suara Zoya sudah terdengar parau.Tapi tidak, dia tidak akan menangis di depan suaminya. Dia tidak akan membuat Hans merasa bersalah padanya.
"Aku khawatir saat tahu kamu menghilang. " Hans menjatuhkan wajahnya pada wajah putih di bawahnya. Kulit wajah keduanya pun menempel dengan sedikit kecupan lembut dari bibir Hans di kelopak mata Zoya.
__ADS_1
Bersambung.....
Up lagi nggak ya? Kalau up banyak banyak ntar cepet end, bagi othor nge end cerita itu rasanya sedih banget lo, karena harus berpisah dari readers tercinta.