Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Romantis(Extra Part)


__ADS_3

"Sebaiknya kita pulang saja!" ujar Hans saat melihat Zoya sudah mulai tenang bersandar di badan kursi. Bibirnya terus menggumamkan istigfar.


Selain marah Hans bisa membaca wajah penyesalan istrinya, mungkin ini pertama kalinya Zoya memaki seseorang sedemikian kotornya.


Tidak ada jawaban dari Zoya, emosi yang sulit diartikan kini masih berkecamuk dalam hatinya. Ada rasa marah, sedih dan menyesalkan semuanya bercampur. Mungkin lebih tepat Zoya mengalami 'Shock'.


Hans masih menatap Zoya, yang mana pandangannya menerawang mengisyaratkan dia tak mampu lagi untuk mengekspresikan perasaannya.


"Sayang..." panggil Hans, dia kemudian menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin. Di kecupnya berkali kali mengungkapkan perasaan yang teramat dalam.


"Aku merasa lemas." jawab Zoya, suaranya masih terdengar lirih.


"Sebaiknya kita ke dokter, ya?" tawar Hans, tapi Zoya hanya menggelengkan kepala. Zoya hanya merasa kehilangan semua tenaganya.


Hans kemudian bangkit, dia merengkuh dan membawa kepala istrinya untuk bersandar di perutnya.


"Bang, sekarang bagaimana?" tanya Kyara yang tiba tiba terdengar saat gadis itu kembali masuk ke ruangannya. Kyara juga tak kalah tegang. Apalagi saat melihat Zoya yang masih menyandarkan kepalanya di pinggang lelaki bertubuh tinggi atletis itu. Kyara bisa membaca air muka gelisah dan rasa sedih di antara guratan wajah ayu itu.


"Mbak Kyara, tolong antarkan perempuan itu pulang!" kalimat Zoya membuat Hans meregangkan pelukannya. Kemudian menatap Zoya penuh tanya. Dia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan istrinya.


"Oh ya., Mbak..." kalimat Zoya kemudian menghentikan langkah Kyara dan menoleh ke arah Zoya.


"Katakan padanya, jangan coba coba merusak keluargaku, karena aku bisa melakukan lebih dari sekedar memaki atau menampar." jelas Zoya, bukan tanpa alasan meminta Kyara untuk mengantar gadis itu. Tapi, dia yakin hati kecil gadis itu juga merasa sakit.


"Baiklah!" Kyara memang sudah menganggap Zoya dan Hans sebagai keluarganya, jadi apa yang di minta oleh mereka tidak akan pernah ditolaknya.


Tangan kecil Zoya kembali memeluk pinggang suaminya, dia juga menyembunyikan wajahnya di balik perut datar itu. Hans tahu pasti Zoya mulai menangis, lelaki itu sudah hafal istrinya.


Bagaimana dia bisa melakukan lebih dari yang dilakukan hari ini? Saat ini saja setelah melakukan semuanya dia terlihat kacau.


Setelah menunggu Zoya tenang, Hans pun membawa pulang istrinya, bukan ke rumah lagi. Tapi, dia akan membawa Zoya ke apartemen karena dia merasa banyak yang harus dia bicarakan bersama Zoya.


Di apartemen, sepulang dari kantor dan Salat Magrib Zoya memilih untuk duduk di balkon. Dia seperti membutuhkan banyak oksigen, dan suasana bebas untuk melesak rasa yang menyesakkan.


Hans sengaja membuat susu untuk Zoya, setelah Zoya mengatakan dia belum ingin makan. Sedari tadi perhatiannya tidak luput dari Zoya yang masih banyak diam.


"Sayang, minum dulu!" Hans menyodorkan segelas susu coklat khusus untuk ibu hamil saat berada di depan Zoya.


"Terima kasih, Mas." ucap Zoya kemudian meneguk seperempat isi gelasnya dan meletakkan kembali di meja yang ada di sebelahnya. Hans pun ikut duduk di dekat Zoya.


Hans mengusap sudut bibir Zoya yang masih menyisakan bekas susu dengan ibu jarinya. Dia pun menundukkan kepala menempelkan dahinya di dekat pelipis Zoya. Ingin sekali dia bisa mengungkapkan perasaan sayangnya pada perempuan yang menjadi bagian dari hidupnya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, selalu memasukkan dirimu pada situasi yang tidak nyaman." lirihnya, entah kenapa mata Hans terasa memanas. Kalimat yang terdengar begitu dalam membuat Zoya memejamkan mata merasakan debaran jantungnya yang kian menghentak tak karuan di dadanya.


"Percayalah, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Karena itu, aku selalu bercerita banyak hal denganmu, aku berusaha lebih terbuka untuk hal apapun denganmu, sayang." Kalimat Hans seolah menyentuh hati Zoya. Kali ini Hans memang berbeda. Suasana malam yang terasa tenang membuat dirinya mengeluarkan sisi terdalam dalam perasaannya.


Zoya menoleh, hingga hidung mereka saling menyentuh. Iya, wajah mereka hanya berjarak tipis bahkan hembusan nafas keduanya saling menyapu.


"Aku sudah melihatnya sendiri, Mas. Sebenar ha aku datang saat Zuri baru masuk ke ruang Mas Hans. Aku hanya menunggu reaksi Mas Hans. Tapi kenekatan gadis itu membuatku kalap, tidak bisa menahan rasa cemburuku. Bagaimana bisa suamiku dipeluk peluk perempuan lain?" ujar Zoya, tangannya menelusup diantar lengan kekar itu dan memeluk dada bidang suaminya. Hans pun membalas pelukan Zoya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.


"Tapi, Mas... " Zoya kemudian mengurai kembali pelukannya. Tapi Hans hanya menautkan kedua alisnya.


"Kotak makananku, Mas. Aku meletakkan di meja yang ada di pojokan tadi." jelas Zoya yang ingat tujuan dia datang ke kantor membawa makanan untuk suaminya.


"Ya Allah, Zoy. Kotak makanan merusak momen romantis kita." ujar hans dengan mencium gemas pipi caby istrinya hingga bertubi tubi.


"Mas Hans... " kelihatan sekali jika Zoya merasa kewalahan dengan tindakan suaminya.


"Aku mencintaimu, Zoy." Kali ini mencium bibir ranum istrinya dengan lembut. Cinta membuat sesuatu yang ada di diri Zoya begitu istimewa untuk lelaki ingin menghabiskan waktu malam ini hanya berdua.


###


Kyara memang mengantar Zuri dengan taxi. Selama dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka.


Zuri menghentikan taxi, di sebuah rumah minimalis yang didesain cukup modern. Kyara sendiri sedikit tercengang, saat melihat rumah Zuri. Mewah. Sebuah rumah yang cukup mewah untuk ukuran seorang sekretaris.


"Silahkan masuk!" ucap Zuri masih terdengar lemah.


Betapa semakin tercengangnya kyara saat gadis itu membuka gerbang rumahnya. Minicooper. Mobil keren itu mendiami garasi rumah Zuri membuat Kyara semakin penasaran.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Kyara.


"Iya, aku tidak punya keluarga." jawab Zuri dengan tenang.


"Kenapa kamu mengantarkanku? Bukankah aku memang pantas di jauhi." lanjut Zuri dengan begitu datar. Kejadian itu tadi tidak seberapa dari pada yang sebelumnya pernah dia alami. Bahkan, dia pernah di maki habis habisan di depan banyak karyawan.


"Perempuan hamil itu yang memintaku." jawaban Kyara membuat Zuri tercengang. Kemudian dia tersenyum kecut seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan gadis di depannya.


"Iya, dia terlalu baik untuk seseorang yang akan menggoda suaminya." Zuri masih terdiam, dia belum bisa menangkap maksut dari perkataan Kyara.


"Dia masih memikirkan perasaanmu. Kamu tidak tahu itu, bukan?" Zuri menatap Kyara, pandangannya kini melemah meski dia belum mengerti sepenuhnya maksud Kyara.


"Dia tahu kamu terluka karena itu dia memintaku untuk mengantarkanmu. Aku bisa melihat penyesalan di mata Zoya." Zuri terdiam, dia tertunduk. Matanya memanas, tapi masih ditahannya. Dia tidak yakin ada orang yang masih peduli dengannya.

__ADS_1


"Perempuan hamil itu namanya Zoya. Hatinya begitu lembut hingga saat menyakiti seseorang dia akan merasa terluka sendiri. Aku tadi sempat melihat dia menangis, meski di sembunyikan dalam pelukan Bang Hans." Mendengar kalimat Kyara, Zuri menangis.


Kyara mendekati gadis itu. Dia memeluk Zuri, Saat Zuri menangis dia yakin jika gadis itu punya sisi manusia yaitu perasaan.


"Menangislah hanya untuk sejenak. Lanjutkan hidup yang jauh lebih baik." lirih Kyara dengan mengelus bahu yang semakin bergetar itu. Kyara juga bisa merasakan jika gadis itu kesulitan bernafas karena isak tangisnya.


"Hidupku seperti yang paling buruk. Aku sudah membuang jauh perasaanku, aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi." lirih Zuri seperti orang yang tengah putus asa.


Kyara meregangkan pelukannya, dia menatap dalam gadis yang ada di depannya. Apa apa? Pertanyaan itu yang ingin sekali dia lontarkan.


"Aku pernah menjalin hubungan yang salah. Namanya Arka, dia pria beristri, tapi dia selalu cerita tidak ada kecocokan lagi dengan istrinya, bahkan dia merencanakan untuk bercerai. Kami menjalin hubungan, di kantor aku sebagai sekretarisnya dan saat malam aku sebagai kekasihnya. Istrinya tinggal jauh dari di Singapura. Dia memberi harapan yang besar padaku. Hingga suatu saat, ternyata dia malah memilih untuk melepaskanku."


"Aku kecewa, itu awal aku salah jalan dan berakhir ke kota ini hanya untuk mencari kehidupan yang baru. Tapi, saat melihat Pak Hans aku kembali tergoda."


"Dan kamu ternyata salah orang." sela Kyara.


"Iya, dia berbeda. Bahkan aku sempat tidak percaya."


"Setiap lelaki pasti akan memujiku, pujian adalah hal yang biasa bagiku. Bahkan aku bagai candu bagi mereka. Mereka selalu mencariku untuk memujaku. Tapi, tetap saja ternyata aku hanya di jadi pemuas mereka. Mereka tidak ingin kehilangan istri mereka tapi, mereka juga tidak ingin aku pergi dari ranjang mereka." Kyara menelan ludahnya kasar mendengar cerita Zuri. Matanya kemudian meneliti dengan detail gadis di depannya. Iya, Zuri memang cantik, mata coklatnya yang Indah, kulitnya yang bersih, bibirnya yang bulat dan penuh terlihat begitu sensual. Apalagi bodynya, Zuri memang sangat sexy, dadanya montok dengan pinggang ramping dan tinggi yang semampai. Kyara percaya jika akan sangat sulit bagi pria untuk menolak pesonanya yang cukup memukau.


"Ehm.. ehm.. Kamu tidak menyukaiku kan?" tanya Zuri saat memergoki Kyara menatapnya penuh selidik.


"Nggaklah, aku sudah menyukai seseorang. Tapi kamu memang cantik." jawab Kyara dengan jujur.


"Tapi aku tidak beruntung. Tidak ada yang tulus mencintaiku." balas Zuri dengan tersenyum getir.


"Lain kali kita bisa saling bercerita. Tapi, aku peringatkan lagi. Jangan ganggu abangku! Aku orang pertama yang akan menghajarmu sebelum Zoya." ujar Kyara dengan melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Jangan khawatir! Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku." Jawab Zuri.


"Aku pulang dulu, ya!" pamit Kyara.


"Ehmmm.... Bisakah kita berteman?" tanya Zuri dengan ragu.


"Tentu, bahkan kita sudah berteman." Kyara kembali memeluk gadis itu. Zuri merasa hatinya kembali hidup saat seseorang tidak lagi jijik untuk berteman dengannya.


Kyara pun berjalan keluar gerbang. Baru saja dia akan mencari taxi tapi sebuah mobil taxi menghampirinya.


"Loh kamu lagi? " ucap Kyara yang masih hafal sopir taxi tadi siang.


"Kebetulan sekali ya, Mbak." jawab Sopir itu dengan melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Tidak ada bunga gratis?" canda Kyara yang malah merasa akrab dengan sopir itu.


"Kali ini, ongkosnya yang gratis." Mendengar jawaban sopir tersebut Kyara merasa terheran saja. Dia menatap sekali lagi sopir itu.


__ADS_2