
Hans turun dari mobil, dengan panik, dia berlari kecil menuju ruangan tempat biasa Zoya kursus memasak. Kehadirannya menarik perhatian banyak orang, tampilannya yang elegant, pembawaan yang kharismatik, wajah ganteng dan tubuh yang proposional membuatnya menjadi pusat perhatian. Tapi, dia tidak peduli lagi. Saat ini, dia benar-benar mencemaskan istrinya.
"Mbak Zoya berada di ruang sebelah. " Saat melihat hans, perempuan berumur empat puluh tahunan itu pun mengantarkan Hans ke ruang Zoya berbaring.
"Mas.. " panggil Zoya saat melihat kehadiran suaminya di depan pintu.
"Papa... Mama sakit, Hik hik hik" Ale yang masih sesenggukan itu pun berlari menghampiri Hans yang akan melangkah mendekati Zoya. Kaki jenjang itu pun tertahan, membuat Hans memilih menggendong Ale mendekati Zoya. Setelah menjemput Ale, Zoya baru ikut kelas memasaknya.
"Mama nggak apa-apa. " terang Hans pada putrinya yang terlihat begitu mencemaskan Zoya.
"Sayang, kamu kenapa? " Panggilan 'sayang' yang spontan dari Hans membuat hati Zoya mendapat getaran yang tidak biasanya, seolah ada yang membawanya serasa melayang.
"Bapak sebaiknya membawa mbak Zoya ke dokter obgyn. " sela wanita berumur empat puluh tahunan itu mendekati mereka.
"Obgyn? " ulang Hans, dia sedikit meragu karena rasa senang yang tiba-tiba dia rasa saat mendengarnya.
"Iya, sepertinya mbak Zoya hamil muda. Tapi sebaiknya di pastikan saja dulu. " saran Bu Windy membuat Hans mengangguk setuju. Hans tidak dapat menahan senyumnya saat membayangkan jika Zoya benar benar hamil.
Masih menggendong Ale, Hans membantu Zoya bangkit, " kamu bisa jalan? Atau mau di gendong? " tawar Hans setengah menggoda Zoya yang sudah terlihat malu -malu.
"Aku jalan saja, Mas. " Hans mengapit tubuh mungil istrinya menuju mobil. Mereka memang meluncur menuju klinik bersalin terdekat.
Lelaki yang saat ini memangku putri gembulnya itu pun sulit meredam jantungnya yang semakin berdebar saat mendengar penjelasan dokter bername tag Diah. Rasa bahagia kini membuncah dalam hatinya.
"Selamat Ibu Zoya. Janin dalam kandungan Ibu kurang lebih berumur tiga minggu. Jadi, Ibu Zoya harus hati hati, jangan terlalu capek dan jaga nutrisi makanannya ya. " jelas dokter Diah saat memperlihatkan janin sekecil biji jagung di layar monitor pada Zoya. Seulas senyum memperlihatkan, betapa bahagianya Zoya saat ini. Kini, seorang perawat membantunya bangkit dan berjalan menuju meja dokter .
"Mas..." Bibir Zoya hanya bisa memanggil suaminya tanpa bisa mengeluarkan kata lainnya. Mata indah itu pun berkaca kaca diikuti senyum manis yang menghiasi wajah ayu itu.
"Aku bahagia, Zoy. " Hans langsung memeluk Zoya. Rasa bahagia keduanya, kini tak bisa terbendung lagi.
"Ehem.. ehm... " deheman dokter Diah membuat mereka tersadar dari rasa bahagia yang membumbung tinggi.
"Mama sakit apa? " tanya Ale masih menampilkan ekspresi bingung menatap Mama dan papanya.
"Anak cantik, sebentar lagi akan punya adik. " sahut dokter Diah dengan Menulis resep vitamin untuk zoya.
__ADS_1
"Kapan? " tanya Ale, merasa dari kemarin akan punya adek tapi adeknya belum ada juga sampai sekarang.
"Masih lama. Ale sabar ya, menunggu adeknya. Jagain Mama biar sehat! " jelas Hans.
Mereka keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah sumringah. Setelah menebus vitamin, Hans membawa mereka kembali ke mobil.
"Mas , kita belanja bahan dulu ya? " ajak Zoya saat mereka tengah berada dalam mobil yang melaju menuju arah apartemen.
"Baiklah, nyonya. " jawab Hans masih menatap zoya. Rasanya dia tidak tahan untuk meluapkan rasa bahagianya.
"Mas Hans ini.... "
"Kenapa, Zoy? Tok cer, ya?" goda Hans dengan melirik lagi istrinya. Ternyata memang tidak ada bosannya bagi Hans menatap istrinya. Senyum itu pun enggan surut dari wajah ganteng nan kharismatik itu.
"Mas, ada Ale. Mbok ya, disaring sedikit bicaranya. " protes Zoya membuat Hans malah tergelak. Dia kemudian mengambil tangan zoya dan menggenggamnya erat.
"Zoy, aku belum mengajarimu banyak gaya. Eh, nggak taunya malah Hans junior sudah nongol duluan. " Wajah Hans terlihat serius menatap jalan ke depan. Tapi bicaranya membuat Zoya greget banget sama suaminya itu.
"Gaya apa, Papa? " Akhirnya nyahut juga, bocah yang sedari tadi diam saja di belakang. Ternyata yang namanya seorang anak, itu tetep memperhatikan dan rasa ingin tahunya terlalu besar.
"Gaya katak, Ale! " jawab Hans asal-asalan.
"Ale sudah bisa itu. Ale bisa ngajalin Mama. " sahut Ale lagi.
"Ale anak pinter. Tapi, biar Papa saja yang ngajarin Mama, ya!" sahut Hans sambil menahan tawanya. Sedangkan, Zoya memalingkan wajah menahan kesal dan gemas pada orang di sebelahnya karena bicara yang sembarangan.
Hans membelokkan mobilnya tepat di depan sebuah swalayan yang tidak jauh dari letak apartemen mereka. Sebelum mengambil Ale di jok belakang, dia membukakan pintu mobil untuk Zoya terlebih dahulu. Bagi Zoya ini sangat berlebihan, tapi Zoya hanya menampilkan senyumnya sebagai ucapan terima kasih.
###
Wildan masih menunggu Nilla di teras kos gadis itu. Terlihat Nilla baru saja meletakkan sepedanya di dekat pagar kos. Dia bisa menebak apa yang terjadi saat melihat lelaki berwajah kalem itu menatapnya dengan lesu. Sudah setengah jam wildan menunggu Nilla.
"Assalamualaikum, Pak Ustad. " ucap Nilla dengan mendaratkan tubuhnya di kursi. Rasa lelah karena perjalanan dari rumah tempat dia mengajar private mengaji memang cukup jauh.
"Wa'alaikumsalam, baru pulang? " tanya Wildan masih dengan lembut dengan menatap wajah cemberut gadis berkerudung coklat.
__ADS_1
"Ya iyalah, udah tahu gitu. " seloroh Nilla dengan nada malas. Dia tahu pasti Zoya lagi yang akan menjadi topiknya saat melihat wajah lecek ustad muda itu.
"Manis dikit kenapa, Nil? Biar tambah cantik. "
"Sejak kapan, Pak Ustad pinter ngerayu? " sergah Nilla dengan menatap tajam lelaki di depannya.
" Baru belajar belum pinter , sejak patah hati, kemarin Zoya bilang sudah menerima pernikahannya dan dia juga bahagia bersama suaminya. " curhat colongan Wildan seperti biasanya.
"Kemarin kemana saja, Pak Ustad. Lagian, seharusnya Pas Ustad ngerti merebut istri orang itu dosa. Masak hadis itu cuma ditujukan untuk perempuan saja. Jika mengambil suami orang tidak diakui ummat Rosul nantinya. Pak Ustad kan lebih paham, kan? " Nilla memang biasa berkata gamblang tentang apa yang sedang di pikirkannya.
"Ya Allah, bicaramu itu lo sedikit diedit biar lebih halus untuk orang yang patah hati, Nill. " Tidak hanya wajahnya saja yang tercover kalem tapi pembawaan Wildan juga sangat lembut.
"Nikah, yuk! " kalimat Wildan yang tiba-tiba membuat mata Nilla membulat. Dia tidak mengerti maksud perkataan lelaki yang satu kampung dengannya itu.
"Maksudnya? " tanya Nilla masih bingung.
"Iya, nikah. Aku akan melamarmu. " sambung Wildan dengan entengnya.
"Ogah ah... " jawaban Nila yang spontan membuat Wildan menyandarkan tubuhnya di badan kursi.
"Padahal dulu banyak cewek timur Tengah yang ngajakin aku nikah. Ada juga yang dari Indonesia tapi aku menolaknya. Eh, nggak tahunya sekarang di tolak sana sini. " lirih Wildan terlihat kecewa. Nilla pun termenung sejenak. Tidak ada yang bermaksud menolak orang sebaik dan seganteng Wildan.
"Ogah jika cuma buat pelarian. " lanjut Nila. Dia juga tidak mau sebagai tempat pelarian rasa kecewanya.
"Aku serius, Nil. Tidak ada maksutku mencari pelarian tapi mungkin sudah saatnya aku berumah tangga. Mungkin aku belum mencintaimu sepenuhnya. Tapi kita bisa sama sama saling belajar, kan?" bujuk Wildan. Beberapa hari dia melakukan solat istikharoh tapi yang terlihat malah Nila. Gadis ketus yang tidak sengaja memang selalu menjadi tempat curhatnya. Mungkin Allah memilihkan seseorang yang nyaman meskipun belum bisa mencintai sepenuhnya. Itu yang dipikir Wildan saat memaknai petunjuk-Nya.
"Bagaimana? Nanti jika kamu mau biar Abah dan Ummi datang ke rumahmu secepatnya. " Nilla menelan salivanya. Tidak pernah terfikir olehnya jika Wildan kini melamarnya. Harus senang atau sedih? Nilla sendiri menjadi bingung.
"Oh ya, nanti kalau Zoya nitip kaligrafi kabari saja aku. Aku akan mengambilnya di sini. " ucap Wildan, kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Nilla yang masih terbengong.
"Ehhh.... kasih waktu aku satu bulan untuk memikirkan tawaranmu, Pak Ustad! " Nila setengah berteriak saat Wildan sudah sampai di samping mobilnya.
"Jangan panggil aku Pak Ustad. Aku bukan Ustad. Akun hanya penceramah." balas Wildan kemudian masuk ke dalam mobil. Bagi Wildan status Ustad sangatlah berat. Dia merasa hanya seorang penceramah saja yang mentransfer apa yang dia tahu kepada orang yang mau mendengarkan.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf ya semalam aku ternyata pindah dimensi ke alam mimpi jadi Up deh heheheh...