Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Poligami(Extra Part)


__ADS_3

Hans masih berdiri di depan cermin. Bukan untuk menatap bayangannya sendiri melainkan melihat istrinya yang masih cemberut. Sedari tadi, Zoya selalu merengek tidak mau ditinggal.


Tapi, dia juga merasa kasihan. Istrinya benar benar terlihat sedih. Saat bayangan istrinya, beranjak dari tempat duduknya, dia berpura pura seolah masih merapikan rambutnya.


"Mas Han, jangan pergi!" rengek Zoya sekali lagi dengan memeluk tubuh atletis itu dari samping. Tangannya melingkar, meski cakupan lengannya tidak bisa sepenuhnya mencakup tubuh suaminya.


Lelaki itu kemudian tersenyum menatap cermin. Tatapan samar dia tujukan pada Zoya yang kali ini terkesan sangat manja.


"Takutnya, Mas Hans tidak bisa pulang tepat waktu. Kita akan ada syukuran buat mereka!" Sambil mengelus perutnya Zoya menyandarkan kepala di lengan kokoh itu. Tidak henti hentinya Zoya merayu suaminya.


Lelaki yang hanya menatap tingkah istrinya dari cermin itu pun menghunus lengannya keatas lalu merangkul pundak kecil itu.


"Sayang, aku akan secepatnya pulang. Lagian demi karirku dan itu juga demi masa depan anak anak kita." ucap Hans dengan menenggelamkan tubuh mungil itu dalam. rengkuhan lengan bergelombangnya.


"Sebelum pergi, boleh dong minta bekal yang cukup." Saat tidak mengerti dengan kata 'bekal' yang di maksud, Zoya pun meregangkan sedikit pelukannya, kemudian mendongak menatap wajah yang saat ini tersenyum padanya. Kedua tangannya masih melingkar seolah tidak rela melepaskan kepergian suaminya.


"Mas Han, sudah tidak punya uang?" Selidik Zoya. Dia tidak ingin jika suaminya yang bekerja untuk keluarga sampai kekurangan uang.


"Bukan itu, sayang!" Hans semakin gemas dan mencubit dagu lancip istrinya.


Hans tidak peduli lagi wajah melongo Zoya, dia langsung saja mencium bibir mungil yang menjadi candu baginya. Mencecapnya hingga ********** dengan lembut.


Pertempuran yang tidak direncakan pun terjadi hingga Zoya tertidur pulas dalam pelukan suaminya karena kelelahan.


Hans menatap cermat wajah ayu yang masih terlihat lembab. Setelah bertukar keringat Zoya pun tertidur, sementara Hans masih menikmati kebersamaan mereka di atas ranjang. Disingkirkan anak rambut yang menutup sebagian wajah ayu itu. Kemudian, ditatapnya begitu lekat hingga dia tersenyum. Gadis belia yang mampu menyita satu sisi ruang cinta di hatinya.


Hans Pov


Bagaimanapun dia sama dengan perempuan pada umumnya. Manja dan pencemburu. Terlihat sekali jika saat sedang hamil seperti ini. Bahkan, jika merengek dia seperti gadis remaja pada umumnya.


Umur sepuluh tahun dia telah kehilangan orang terdekatnya, sosok pelindung yang seharusnya menjadi tempat mengadu dan bertumpu, memaksanya untuk bisa dewasa menghadapi kenyataan hidup. Pupusnya sebagian rasa percaya diri membuatnya menjadi sosok yang tertutup dan terbiasa menahan tekanan. Aku membayangkan, semua itu adalah hal sulit yang harus dilaluinya di masa kecil dan remajanya.


Hidup mendewasakannya terlalu cepat. Bahkan, dia harus menikah di usia yang terlalu muda. Dan kebetulan Allah memberi rejeki tanpa menundanya.


Zoy... semoga aku bisa membahagiakanmu, memanjakanmu, menggantikan kasih sayang bapak yang sudah lama menghilang.


Hans terus saja mengelus wajah putih yang terlihat tenang hingga menggeliat gelisah. Zoya yang merasakan sentuhan di wajahnya pun mengerjapkan mata. Matanya masih terasa lengket. Pergulatan panas yang dipimpin suaminya membuat Zoya sangat kelelahan.


"Mas Hans tidak tidur?" tanya Zoya saat melihat suaminya yang masih memeluknya itu tersenyum. Tubuh mereka masih lembab dan tanpa sehelai benang saat berada di bawah selimut.


"Hatiku masih mengganjal jika kamu tidak merelakan aku pergi." ujar Hans dengan mengelus lembut rambut panjang istrinya.


"Aku takut mas Hans akan terbujuk syaitan saat pergi bersama sekretaris baru itu." Zoya masih memainkan jari telunjuknya di dada bidang suaminya.


"Kamu cemburu sama Zuri?" tanya Hans dengan tersenyum kemudian menundukkan pandangan untuk menemukan wajah cemburu sang istri.


"Iya, aku cemburu." mendengar pernyataan istrinya Hans pun tergelak. Dia tidak menyangkal jika istrinya cemburu dengan sekretarisnya.


"Ya Allah, Zoy. Mana mungkin aku tertarik dengan model yang begituan. Jika pun aku tertarik itu sama Arum. Dia termasuk wanita tipeku. Wajahnya lugu dan cantik natural."


"Ya sudah temui saja Mbak Arum! Bukankah dari awal aku tidak pernah melarangmu, Mas." Zoya segera memunguti pakaiannya yang ada di bawah. Dia setengah berlari menuju kamar mandi, membuat Hans semakin mencemaskannya. Buru buru dia memakai celana boxer dan mengejar istrinya yang sudah mengunci pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Zoy, maksudku bukan seperti itu!" kalimat jujur yang meluncur begitu saja malah menjadi bumerang untuknya. Padahal, bagi Hans fisik dan apapun itu sudah tidak mempengaruhi perasaan yang dia miliki terhadap istrinya. Lagi-lagi dia sangat menyesali kalimat tidak penting itu terlontar begitu saja.


"Zoy, Zoya. Jangan berlebihan, Zoy!" Hans terus saja menggedor pintu kamar mandi. Takutnya terjadi sesuatu di dalam.


Hampir setengah jam Hans dia berdiri dan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Hatinya semakin cemas karena belum ada tanda tanda istrinya akan keluar.


Beberapa kali dia meraup wajahnya dengan kasar. Berusaha menghalau kecemasan yang tertuju pada Zoya dan dua buah hatinya.


"Ceklek! " Zoya keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambut basahnya dengan handuk.


"Zoy... " Hans berusaha mengejar Zoya yang melewatinya dengan acuh.


"Jangan menyentuhku!" Suaranya melantun dengan pelan. Tapi, terdengar sangat mengintimidasi dan begitu tajam, hingga menghentikan langkah lelaki itu. Kali ini istrinya terlihat lebih galak dari induk singa.


"Bukan itu maksudku, Zoy... "


"Berhentilah berbicara, Mas! Jika tidak bisa berbicara dengan baik, diam akan jauh lebih baik." lanjut Zoya. Hans hanya menelan ludahnya dengan kasar. Ini pertama kalinya Zoya bicara dengan nada tinggi padanya. Lelaki itu hanya menatapnya dari kejauhan, tatapan penuh permohonan maaf.


Setelah mengeringkan rambutnya, Zoya mengambil jilbabnya dan keluar dari kamar. Tidak ingin istrinya marah, Hans pun bergegas mengikutinya.


"Zoy, mau kemana?" ucapnya masih mengejar Zoya. Takut istrinya akan kabur.


"Zoy... " Hans langsung meraih tangan Zoya agar berhenti.


"Apaan lagi, Mas? Aku lapar." ucap Zoya dengan meluruhkan bahunya.


"Mas Hans itu mandi saja. Lihatlah! Mas Hans sangat jorok sekali!" Selain lapar, Zoya memang masih kesal dengan suaminya.


"Baiklah, aku akan mandi. Tunggu aku di bawah! Setelah mandi aku juga akan makan." sahut Hans ketika hanya mendapatkan tatapan tajam Zoya.


Zoya sebenarnya ingin makan bakso, tapi sudah pukul satu dini hari. Nanti, pasti buntutnya akan ribet lagi. Zoya memutuskan hanya membuat susu saja.


Segelas susu ternyata tidak cukup mengenyangkan. Tapi, di kulkas hanya ada sarden dan beberapa makanan yang tidak dia inginkan.


"Mana makanannya?" tanya Hans saat menghampirinya sedang tertegun di meja makan. Lelaki berhidung mancung itu menatap gelas kosong bekas susu yang masih dipegang istrinya.


"Aku ingin makan bakso." lirihnya dengan mengelus perutnya. Dia tahu mustahil mendapatkan bakso saat dini hari. Di terminal, saat dia menjumpai warung bakso itu pun pasti sudah tutup.


"Aku akan carikan!" ucap Hans. Kalimat lelaki itu membuatnya mendongak. Dia merasa heran saja, tumben sekali suaminya pengertian.


"Aku ikut!" ujar Zoya.


"Kamu di rumah saja. Ini aku juga akan menyisir jalan mencari tukang bakso keliling yang berjodoh." jelas Hans saat mengambil kunci mobilnya di dekat TV.


"Aku ikut, pokoknya." Sergah Zoya. Dalam hati Hans istrinya memang berbeda sejak hamil. Sudah, cengeng, posesif, ngotot, menyebalkan semua. Tapi, dia semakin mencintainya.


Mereka akhirnya menyisir jalanan mencari tukang bakso hingga ada sebuah gerobok bakso yang berhenti di depan sebuah gang wilayah rumah kos para mahasiswa. Zoya memang ingin makan di tempat membuat Hans harus menunggunya makan.


"Zoy, cobain." ujar Hans dengan mengambil sendok di tangan istrinya kala melihat Zoya makan dengan lahapnya.


Setelah menghabiskan dua porsi dengan direcoki Hans yang juga menginginkannya akhirnya mereka pun kembali pulang.

__ADS_1


Di dalam mobil, sesekali hans melirik Zoya yang hanya menatap Ke luar jendela. Dia merasa, Zoya enggan untuk melihatnya.


"Zoy, nggak sakit apa kepala noleh kesitu terus?" ucap Hans dengan menarik dagu istrinya.


"Kenapa tidak memilih Mbak Arum, jika dia tipemu, Mas."


"Karena, Aku mencintaimu, Zoy. Selain kamu tipeku, hatiku sudah tidak bisa berpindah ke lain hati." jawab Hans, dia menunggu reaksi Zoya. Tapi, masih tidak ada reaksi apapun. Meskipun begitu, dia meraih tangan istrinya menggenggamnya, dia bukan tipe orang yang bisa banyak bicara untuk merayu seorang wanita.


###


Nilla masih mengemas oleh-oleh yang akan di bawa oleh mertuanya. Sedangkan Ummi Maryam masih duduk menunggunya dengan berbagai wejangan yang terus saja beliau sampaikan.


"Oh ya, Nil. Jangan menunda momongan! Kami berharap kamu secepatnya memberikan kami penerus untuk kami yang sudah tua." Nilla hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya. Melakukannya saja mereka belum, bagaimana bisa dia hamil.


"Bagi keluarga besar kami semakin banyak anak itu semakin bagus." wejangan terakhir mertuanya membuat Nilla terdiam. Tiba tiba ada rasa takut dalam hatinya. Baginya, Anak itu urusan Allah. Dan manusia tidak bisa mendekte apa yang sudah menjadi kehendaknya.


Terlihat Sedan Camry berhenti di depan rumah minimalis itu. Mobil keluarga besar Arsyad sudah menjemput Ummi Maryam.


Setelah melepas pelukan perpisahan secara bergantian. Ummi Maryam menatap Wildan dengan begitu dalam. Putra kesayangan yang seharusnya mengampu pondok pesantren malah menjauh dari keluarga.


"Gus, seorang lelaki itu boleh berpoligami. Apalagi untuk memperkuat berjuang di jalan Allah."


Deg... Kalimat itu tidak hanya mengejutkan Wildan. Tapi, juga Nilla. Bahkan, gadis itu menatap hampir tak percaya pada mertuanya, dia merasa tidak yakin dengan apa yang barusan dia dengar.


"Ya sudah, Ummi pulang dulu. Jangan lupa, jika ada liburan kamu pulang, Gus!" ucap Ummi Maryam sebelum melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil. Wildan yang masih terkejut dengan kalimat umminya yang membahas poligami, itu pun hanya tersenyum melepas kepulangan umminya.


Berlahan bayangan mobil sedan itu menghilang dari pelupuk mata. Nilla pun bergegas masuk. Hatinya begitu kacau, hingga tidak ada ekspresi yang bisa dia keluarkan untuk menunjukkan suasana hatinya.


Gadis itu lebih memilih pergi ke belakang. Di tepi kolam, dia berhenti kemudian mencari makanan ikan ikan yang bergerak begitu lincah. Dia merasa hidupnya semakin rumit.


Wildan menatapnya dari belakang. Dia tahu, Nilla terluka karena ucapan umminya. Bagi lelaki itu semua yang diucapkan umminya adalah bentuk kekecewaannya selama ini.


"Jika ingin menangis, menangislah!" ucap Wildan dengan menahan tangan Nilla yang akan menaburkan makanan ikan. Gadis itu tidak menyadari jika permukaan kolam sudah hampir penuh karena butiran makanan ikan.


"Tidak ada yang perlu aku tangisi." ucap Nilla masih menahan sesak di dadanya. Terlalu banyak hal yang seolah meremas hati dan jantungnya.


"Apa kamu tidak yakin dengan cintaku, Nil?" Wildan memutar tubuh kecil itu untuk menghadap ke arahnya. Dia bisa melihat mata istrinya yang berkaca kaca meski berusaha untuk di sembunyikan.


"Aku mencintaimu, Nil. Perasaanku dan pernikahan ini bukan hanya permainan semata. Aku menjalaninya dengan pikiran, hati dan nuraniku." Wildan membingkai wajah istrinya, dia sedikit mengangkat wajah cantik di depannya agar tatapannya bisa menelisik hingga ke hati perempuan yang saat ini menjadi bagian dari dirinya.


Jika pikiran bisa menipu, hati bisa berbohong, tapi tidak dengan nurani.


Berlahan, dia mengikis jarak keduanya. Dengan lembut, dia kemudian merengkuh istrinya dalam pelukannya.


"Aku suamimu, Nil. Takdir, semesta dan janjiku pada Allah sudah mengikatku bersamamu." bisik Wildan membuat rasa hangat menjalar di hati gadis yang saat ini semakin lemah untuk menahan tangisnya .


Nilla tidak mampu bicara lagi selain tangisnya yang semakin tergugu dalam pelukan tubuh kekar itu. sebenarnya, Nilla bukan tipe gadis yang mudah menangis. Tapi, kata kata Wildan mampu menggoyahkan hatinya


"Aku mencintaimu, Bang. Aku juga tidak ingin kita berpisah atau ada orang ketiga diantara kita! Aku takut, Bang. " Ingin sekali gadis itu mengucapkannya. Tapi sayang, lidahnya terlalu kelu karena belum memahami arti dirinya dalam pernikahan ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2