Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Menahan Malu(Extra Part)


__ADS_3

Zoya masih saja terlihat irit bicara, meski beberapa kali suaminya mencoba menarik perhatiannya.Tapi, apa yang dilakukan Hans adalah hal yang percuma untuk saat ini.


Kini Hans hanya bisa memperhatikan Zoya mondar mandir bagai setrikaan. Untuk apa? Tentunya untuk menyiapkan keperluan yang akan Hans bawa besok. Semarah apapun Zoya, dia akan kembali. Jika bukan untuk pasangannya tentu saja tujuannya untuk hakekat pernikahan yang sebenarnya. Dia akan selalu berusaha menata niatnya agar bisa menjalankan kewajiban.


"Zoya, kalau marah nggak usah menyiapkan semua keperluanku." ucap Han yang ikutan kesal karena diamnya Zoya. Perempuan itu pun sukses berhenti di dekat tempat tidur.


"Jika sesuatu kebaikan dilakukan tanpa keikhlasan akan mubazhir kan, Zoy." Zoya menghentikan gerakannya, sejenak dia mencerna apa yang baru saja dikatakan suaminya. Ucapan lelaki yang memang pandai mengolah kata itu tidaklah salah.


"Apa Mas Hans Tuhan? Yang tahu kapan amal ibadah seseorang diterima atau tidak?" jawab Zoya, meskipun dia membenarkan apa yang telah diucapkan oleh suaminya.


"Jika semua menunggu ikhlas, baru mereka akan melakukan kebaikan. Maka dunia ini sudah rusak sejak dulu, Mas." Zoya masih membantah kalimat suaminya. Kesal tentu saja, itu karena dia masih merasa sangat kesal pada Hans. Sementara, Hans merasa heran, istrinya sudah mulai terampil dalam membalas semua kalimatnya.


"Mas Hans itu imam, jangan heran jika seorang makmum mengikuti jejak imamnya."


"Bisa jadi, jika pasangan kita selalu melukai perasaan kita, Kita juga harus pandai mempertahankan diri." Sindiran sindiran mengalir begitu ringannya diikuti rasa kesal yang masih meluap.


" Kenapa aku dulu selalu mendambakan ingin bersanding dengan seorang yang faham agama?" Sejenak dia menatap begitu tajam suaminya. Bahkan, semua pergerakan tubuhnya seketika berhenti.


"Kamu masih berharap dengan ustadz gila, itu?" Kalimat Hans membuat Zoya terbungkam. Hans sedari tadi hanya duduk di sofi, kini menghampiri istrinya yang masih berdiri mematung. Zoya merasa kemarahannya sudah lepas kendali. Kalimatnya tidak jauh beda dari suaminya.


Berlahan, Zoya terduduk lemah di tempat tidur. Dalam hatinya dia kembali berucap istighfar. Emosi membuat dirinya lupa akan tatanan yang seharusnya. Dia kembali mengelus perutnya, tidak seharusnya dia mengumbar amarah dalam keadaan hamil.


Melihat istrinya terduduk lemah dalam diam. Hans menurunkan emosinya. Lelaki itu tertegun menatap Zoya, hal yang tidak dia inginkan adalah jika Zoya benar benar marah padanya.


"Maafkan aku, Zoy. Bukan maksudku membentakmu!" ucap Hans memecahkan keheningan diantara mereka.


"Seperti itu, Mas, rasanya! Jika pasangan kita memuji orang di masa lalunya." ucap Zoya dengan lemah, berlahan matanya menitikkan air yang sudah dia tahan.


Hans memilih duduk di samping Zoya. Mereka kembali terdiam merenungi pertengkaran yang terjadi. Tidak mudah menyatukan dua karakter dan pemikiran yang berbeda.


"Maafkan aku, Mas. " Zoya mengambil punggung tangan Hans. Dia menangis sambil bertahan mencium punggung tangan suaminya.


"Maafkan aku sudah berani membantahmu, Mas." ucap Zoya diantara isakannya.


Hans terdiam, kemudian menarik lengan tangannya dan berganti memeluk istrinya, mendaratkan ciuman di puncak kepala yang kini bersandar di dadanya. Dalam hatinya, pertengkaran ini semua karena dirinya. Dengan tidak sengaja, dia yang pertama membuat marah istrinya. Dan benar apa yang dikatakan Zoya, saat orang yang dicintai memuji orang lain di depan kita, ternyata itu rasanya sangat sakit. Mereka kembali meresapi kesalahan masing-masing.


Dalam sebuah hubungan yang diperlukan tidak hanya cinta, tapi cara berkomunikasi yang baik dan berusaha mengerti pasangan masing masing sesuai dengan karakter masing masing.

__ADS_1


"Damai?" tawar Hans dengan mengajukan jari kelingkingnya yang di sambut oleh Zoya. Keduanya kini saling melempar senyum.


"Cinta? " lanjut Hans, kemudian dijawab anggukan oleh Zoya.


"Kalau begitu cium, dong!" pinta Hans dengan mengarahkan pipinya.


"Ngelunjak itu namanya, Mas." jawab Zoya yang tak peduli.


"Kalau kamu nggak mau mencium, ya...biar aku saja yang mencium." langsung saja Hans mencium pipi istrinya. Bukan


ciuman manis penuh romantis. Tapi mencium gemas perempuan yang selalu membuatnya mengalah.


###


Sebelum ke kantor, mereka menjemput Ale dari sekolah terlebih dahulu. Kali ini mereka diantar oleh Pak Dino karena Hans akan berangkat ke Bali sore ini.


"Ingin oleh oleh apa, Zoy? " tanya Hans ketika mereka berdua duduk di bangku belakang. Sejak dari rumah, Zoya cemberut. Dia masih merasa berat melepaskan suaminya pergi.


"Jangan suka janji janji, Mas. Nanti lupa, ujung-ujungnya bikin aku kecewa." Zoya sudah hafal Hans seperti apa, hingga dia tidak berharap apapun. Hans hanya terkekeh, beberapa kali dia memang melakukan kesalahan itu. Entahlah, dia sulit sekali untuk menjadi romantis, selalu membawakan pesanan pasangan, apalagi memberikan surprise kepada pasangan yang kadang dianggapnya hanya sesuatu berlebihan yang dilakukan oleh cowok.


Mama dan papanya yang masih berdebat membuat Ale hanya diam dan mengantuk. Mobil yang di tumpangi mereka pun berhenti di depan kantor, membuat mereka pun segera turun.


"Sudah! Tapi, kita masih punya waktu satu jam sebelum pergi ke Bandara. Aku akan mengatur pekerjaanku terlebih dahulu." ucap Ryan yang kemudian pergi ke arah ruangan Aldo, salah satu lawyer juga di kantor Hans.


Hans membawa istri dan anaknya untuk masuk ke dalam ruangan. Saat melewati meja Zuri kedua perempuan itu sempat beradu pandang. Untuk Zoya sendiri merasa heran karena Zuri masih disibukkan dengan tugas kantor. Sedari tadi Zoya bisa melihat gadis itu masih terlihat betah menatap komputer di mejanya.


"Mas..." Panggil Zoya menghentikan langkah Hans yang akan menyusul Ale ke sofa.


"Mas Hans pergi dengan siapa?" tanya Zoya hanya untuk meyakinkan kebenaran akan tebakannya.


Hans kembali mendekati istrinya yang masih tertinggal di belakang. Dia menyungging senyum yang sulit untuk diartikan.


"Aku akan pergi dengan Ryan. Aku tidak ingin kamu gelisah dengan banyak prasangka negatif saat aku jauh darimu." tutur Hans menatap lekat perempuan yang saat ini merona, menahan malu. Zoya merasa saat ini seperti tertuduh. Karena rasa cemburuanya, dia selalu menuduh suaminya.


"Nggak usah malu kayak gitu juga kali, Zoy!" Hans semakin mendekat. Dia merasa geli saat melihat wajah Zoya memerah seperti kepiting rebus.


"Maaf, jika selalu su'udzon." lirih Zoya merasa tidak enak hati. Sementara Hans malah mengelus pipi yang sudah merah dan terasa memanas itu. Jika tidak ada Ale sudah diciumnya perempuan yang menggemaskan itu.

__ADS_1


"Mamaaa.... Kita nanti pulang dengan siapa?" panggil Ale yang sudah terlihat rebahan di sofa.


"Tentu saja diantar Pak Dino. Papa akan berangkat bersama Om Ryan ke bandaranya." jawab Zoya. Pertanyaan, Ale memberi kesempatan Zoya untuk menghindari tatapan tajam penuh damba dari mata suaminya.


###


Di sebuah ruangan yang bernuansa girly Kyara meletakkan tasnya di atas meja. Lelah. Disaat rasa lelahnya saat ini sudah sangat menggila. Ya, usahanya melupakan Rey membuat tubuhnya seorang ingin berteriak untuk sekedar mengeluh.


Sejak Rey tidak bisa dihubungi lagi, dia memutuskan lebih fokus untuk mencapai titik tertinggi dari karirnya.


Rey, tapi kekuatan akan bayangan lelaki itu sungguh cukup magic untuk menguasai ingatannya. Rindu. Mungkin kata itu yang tepat untuk rasa yang yang tertuju pada lelaki yang meninggalkan setitik harapan.


Rasa rindu yang berbalut dalam sebuah kekecewaan ketika Rey menghilang tanpa jejak. Kyara kembali tersenyum sinis disaat dia masih mengharap lelaki yang tidak bisa membalas cintanya.


"Ra... " panggil Pak Indrawan, setelah mengetuk pintu kamar putrinya hingga beberapa kali. Lelaki berumur itu melihat putrinya bersandar lemah di sofa yang berada di dekat jendela.


"Iya, Pa!" ujar jawab Kyara lemah membiarkan papanya menghampirinya di sofa.


"Besok ada yang ingin berkenalan. Dia dokter bedah di Health Hospital." ucap Pak Indrawan yang langsung to the poin.


"Besok Kyara sibuk, Pa." jawab Kyara, dia merasa malas jika berurusan dengan perjodohan dan apapun istilahnya.


"Jangan banyak alasan. Kalau memang perlu, Papa yang akan menghandle pekerjaanmu." jawab Pak Indrawan. Dia tahu, jika putrinya masih berharap pada Rey. Tapi, Indrawan sendiri tidak ingin Kyara larut dalam harapan kosong. Dia selalu memantau putrinya. Gadis itu satu satunya alasan dia masih menjalani hidup ini dengan baik.


"Papa harap, kamu bisa move on." kalimat terakhir Indrawan sebelum meninggalkan kamar putrinya.


Kyara hanya tertegun menatap punggung papanya yang berlahan menghilang dari balik pintu kamar yang kembali tertutup.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Satu sisi, Papa tidak salah. Tapi sisi lain dari hatiku tidak bisa dibohongi. Aku bukan tipe perempuan yang bisa memaksakan perasaan." Kyara masih bermonologue dengan hati dan pikirannya. Menghilangnya Rey membuat Kyara kehilangan pegangan. Hatinya bimbang, apalagi sejak dulu dia tahu jika sedikitpun dirinya tidak ada di hati lelaki yang membawa pergi cintanya itu.


Setiap orang punya caranya masing masing untuk mencintai ( by komen reader)


Kyara berjilbab


__ADS_1


TBC.


__ADS_2