Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mendadak Gila(Extra Part)


__ADS_3

"Eh tau nggak, katanya Pak Wildan udah married ya?"


" Masak, sih? Kemarin aku lihat Pak Wildan dekat dengan Bu Indira. Apa dia memang menikah dengan Bu Indira?"


"Nggak tau juga, sih. Kabar itu sudah menyebar, tapi masih simpang siur kebenarannya."


"Emang jadi sama Bu Indira? Mending sama aku saja. "


"Ngarep, lu!"


Sejenak mereka tergelak menertawakan salah satu cewek yang mengharapkan sosok idola itu.


"Eh kemarin ada yang lihat ada mahasiswi yang pulang bersamanya? "


"Masak iya, sih? "


Obrolan keenam gadis itu saling bersahutan menggema di telinga Nilla yang berada di belakang mereka. Mereka masih berjalan bersama setelah keluar dari kelas.


Nilla yang diam- diam hanya mendengarkan gadis-gadis itu menggosipkan suaminya. Dia pun pun segera mengambil ponselnya dari dalam tas.


[Bang, Aku tunggu di dekat tempat fotocopi yang ada di sebelah timur kampus]


Setelah mengirim pesan untuk suaminya. Nilla mempercepat langkah kakinya meninggalkan segerombolan mahasiswa yang bergosip itu.


Beberapa pemikiran sempat terlintas dalam benaknya. Seumur umur baru kali ini rasa percaya dirinya sedikit menciut. Kemarin Mayra seorang hafizhoh, putri pemilik pondok pesantren, sekarang seorang Dosen. Sungguh Nilla merasa sangat berkecil hati. Apa kabar dirinya yang hanya seorang mahasiswa?


Nilla terus saja mempercepat langkahnya agar dia sampai terlebih dahulu di depan fotocopy sebelum Wildan sampai terlebih dahulu.


"Tin... tin... tin.. " suara klakson


membuat Nilla menoleh. Pajero milik Wildan itu sudah berhenti di belakangnya.


Tanpa ragu dia langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kemudi. Kepalanya menyandar dengan mengatur nafas yang sudah memburu.


"Kenapa, Sayang?" selidik Wildan dengan melajukan kembali mobilnya.


"Sudah makan? " lanjutnya lagi karena belum mendapatkan jawaban dari istrinya.


"Bang, kenapa Abang memilihku jadi istri Abang? Abang pasti tahu kan, jika banyak yang berharap jadi istri Abang?" Kali ini Nilla langsung to the poin. Wildan hanya tersenyum pada istrinya.


"Tidak ada yang memaksa jodoh. Kamu saja menghindari Abang, memblokir nomer Abang, ujung ujungnya juga nikah sama Abang."


"Abang yang maksa aku nikah, kan? " desak Nilla untuk membenarkan.


"Hehehe tapi kamu cinta, kan, sama Abang?" tanya Wildan membuat Nilla tertunduk, wajahnya merona bahkan dia menggigit bibir bawahnya menahan malu. Nggak mau - Nggak mau, ujung ujungnya nggak mau menolak pesona seorang Wildan Yusufi.


"Kamu sudah Salat Ashar, Nil? " tanya Wildan memecahkan keheningan diantara mereka.


"Sudah, Bang. Tadi saat pergantian kelas." jawab Nilla.


Tanpa bertanya lagi, Wildan membelokkan mobilnya di sebuah kafe. Nilla, menoleh ke arah suaminya, tatapannya menuntut sebuah penjelasan.


"Aku yakin kamu belum makan siang." sahut Wildan.


"Bang, sebentar lagi kita sampai rumah." ujar Nilla mengingatkan.

__ADS_1


"Abang tahu, tidak terus menerus kan, kita makan di luar bersama." Wildan langsung turun dari mobil, begitupun Nilla. Lelaki itu menghampiri istrinya yang masih terlihat ragu untuk masuk ke dalamnya.


"Bang, apa masakan Nilla kurang cocok di lidah Abang? " tanya Nilla dengan menghentikan langkahnya saat berada di dekat bangku yang menjadi tujuan mereka duduk.


"Bukan begitu, Sayang! " jawab Wildan dengan membingkai wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. Nilla, terlihat canggung menyadari jika mereka masih ditempat umum.


"Apa seperti ini ya? Sebenarnya sosok Bang Wildan." Batin Nila.


"Abang tidak ingin kamu telat makan. Kalau puasa ya puasa, kalau nggak puasa ya harus makan." jawabnya dengan senyum penuh arti. Masih menggandeng Nilla, Wildan membawa istrinya masuk.


Setelah memesan makanan, mereka kemudian memilih tempat duduk yang nyaman. Bagi Wildan, Nilla banyak berubah, Istrinya terlihat canggung dalam bersikap dengannya.


"Nil, kamu kenapa?Abang merasa kamu selalu canggung di depan Abang." Wildan menjulurkan tangan menggenggam tangan kecil istrinya. Nilla terdiam sejenak, dia sedang mengatur nafas dan jantungnya yang detaknya sudah tidak karuan.


"Bang, Nilla merasa bersalah pada Abang, sudah sering Nilla bersikap kasar pada Abang., padahal Abang selalu sabar menghadapi Nilla. Nilla juga merasa tidak pantas untuk Abang." Nilla menunduk. Dia tidak mampu menatap mata sayu yang saat ini menatapnya begitu dalam.


"Abang mencintaimu, Abang juga suka Nilla yang dulu. Nilla yang selalu mengungkapkan pemikirannya. Itu salah satu sisi menariknya dirimu di mata Abang." Kalimat Wildan, membuat Nilla mendongak. Iya dia menatap mata wajah ganteng di depannya untuk menemukan kebenaran.


"Iya, kita menikah tidak hanya dalam hitungan waktu. Kita menikah untuk selamanya. Jangan membatasi untuk menjadi dirimu sendiri. Itu hanya akan menjadi protes bagi dirimu sendiri."


Senyum itu terbit dari bibir mungil di wajah cantik itu.


"Saat pertama kita jadian Abang selalu menghindari dariku. Bahkan, aku merasa Abang tidak pernah mencintaiku."


"Aku hanya pelarian rasa kecewa Abang. Hanya perhatian Abang yang selalu menyapaku untuk tetap bertahan."


"Tapi saat aku menjauh, Abang malah selalu mendekat, membuatku merasa di permainkan, Bang."


Wildan pun tersenyum, tatapannya begitu menggoda Nilla. Perempuan yang mengenakan kerudung warna pasta itu dibuat salah tingkah dengan tatapannya.


"Abang ini laki laki normal, sayang. Jika kita sering bertemu, mungkin Abang tidak akan tahan melihat kecantikanmu." jelas Wildan dengan mencubit gemas hidung istrinya. Tentu, saja baginya tidak ada pacaran. Dia menganggap komitmennya bersama Nila secara tidak langsung untuk mengkhitbah gadis galak itu.


Keduanya saling bertopang dagu di depan televisi yang mati. Ale yang sudah bisa membaca dan menulis mengirim pesan pada papanya untuk cepat pulang.


[ Pa, cepat pulang! ]


Hans yang sedikit cemas mendapatkan pesan dari Ale bergegas untuk pulang. Dia begitu mencemaskan Zoya. Sejak kandungan Zoya semakin membesar rasa cemas menghantui lelaki itu.


Sesampainya di rumah, Hans segera berlari mencari kedua wanita yang selalu menjadi prioritasnya.


"Ada apa?" langkahnya terhenti saat melihat anak dan istrinya masih membisu dengan masih bertopang dagu.


"Ada apa? Kenapa meminta Papa pulang cepat?" Hans yang pada dasarnya selalu mengkhawatirkan istrinya pun terlihat panik. Wajahnya kedua wanita juga tidak seceria biasanya.


"Papa, kata Mama, Adek bayi lagi ingin lihat Kak Ale battle sama Papa." jawab Ale dengan menarik lengan papanya untuk duduk diantara mereka.


"Battle apa?" Hans masih bisa mengerti maksud ucapan dari putrinya.


"Battle dance Papa. Tadi saat Mama jemput Ale di tempat dance, katanya ingin lihat Papa sama Kak Ale battle dance." jelas Ale panjang lebar agar papanya tidak lagi bertanya. Hans yang mendengarnya pun hanya mencebikkan bibir. Tidak penting banget. Kalimat itu ingin sekali dia lontarkan, tapi tetap ditahan.


"Bener, Zoy? " Hans masih menganggap itu akal akalan Zoya dan putrinya.


"He-em." jawab Zoya dengan mengangguk.


"Ih... Papa nggak percayaan. Mama sampai nggak mau makan lo, Pa!" lanjut Ale.

__ADS_1


"Bener, Zoya?" selidiknya lagi masih belum percaya.


"He em." Jawab Zoya masih belum bersemangat.


"Papa, si. Nggak percayaan." protes Ale yang merasa tidak dipercaya oleh papanya.


"Aku nggak bisa dance, lo." Hans mulai bingung, dia nggak bisa ngedance sama sekali jika hanya untuk menyanyi mungkin masih bisa. Lelaki itu mencari akal untuk mengelak dari permintaan istrinya.


"Kamu bohong, kan, Zoy? Seharusnya Setelah trisemester pertama sudah tidak ada acara ngidam." elak Hans, masih mencoba menghindar. Dia juga tidak yakin itu beneran ngidam.


"Mas Hans tidak mau?" tanya Zoya dengan lirih. Lelaki itu kemudian menggeleng. Karena, dia hanya menganggap itu akal-akalan Zoya saja untuk mengerjainya. Mana ada ngidam model begituan? Pikir lelaki itu.


Dia menatap Zoya dengan wajah lesu meninggalkannya di depan TV. Jika, kamar tempat yang dia tuju, dia yakin istrinya sedang ngambek. Dia masih melihat Zoya tempat yang berjarak, perempuan itu menyeka matanya sebelum membuka pintu kamarnya.


"Apa dia benar benar menginginkannya? Tapi, aku juga tidak melakukan dance." Hans masih bergelut dengan pikirannya. Antara menuruti dan tidak.


"Papa, kalau Mama tidak mau makan, dua adek Ale nggak mau keluar ya?" tanya Ale, tangan gembul itu menggoyang-goyangkan tangan papanya.


"Bener, Mama tidak mau makan?" Hans kembali bertanya pada Ale yang berdiri di sebelahnya.


"Ale sudah bujuk Mama, biar dua adek Ale cepat keluar. Tapi, Mama cuma menggeleng saja." jelas Ale. Dia memang sempat membujuk mamanya untuk makan, seperti Zoya membujuk dia untuk makan saat dia merajuk.


Hans menggandeng Ale masuk ke dalam kamar. Terlihat Zoya sudah bergelung selimut tebal. Fix, Zoya lagi ngambek. Hans sudah hafal itu.


"Sayang, aku akan melakukannya dengan Ale." ucap Hans saat duduk di samping istrinya yang berbaring memunggunginya.


"Benarkah? " Zoya menoleh, Hans baru melihat binar mata indah istrinya yang sempat menghilang.


"Tapi, habis itu kamu makan ya?" pinta Hans dengan mengelus pipi basah itu dengan telapak tangannya.


" Kak Ale mama minta ikat rambutnya, ya!" pinta Zoya membuta bocah itu segera ke kamarnya untuk mengambil ikat rambut.


Hans melipat lengan kemejanya bersiap untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayang. Iya, terbayang pun tidak.


"Mama, ini?" Ale memamerkan lima ikat rambut yang terbuat dari karet.


"Iya sayang." Mendengar jawaban Zoya ale pun mendekat.


"Mas Hans sedikit menunduk!" Pinta Zoya tapi lelaki itu belum bisa menurutinya


"Buat apa? " tanya Hans.


"Aku akan mengikat rambut Mas Hans." jawab Zoya tanpa beban, sedangkan Hans melotot kaget mendengar ucapan istrinya.


"Keterlaluan kamu, Zoy." geram Hans, nadanya masih penuh dengan penekanan. Baginya ini keterlaluan.


Zoya terdiam menatap Hans yang sudah tersulut emosi. Hans berdiri, tapi masih membalas tatapan Zoya, lelaki itu bisa melihat mata itu sudah berkaca kaca dengan wajah mengiba di depannya. Dia menyugar rambutnya mencoba meredakan emosinya.


"Aku tidak memaksa, Mas Hans." Lirih Zoya kemudian meletakkan ikat karet itu kembali. Hans melihat dua wanitanya dengan bergantian. Ale juga terdiam menatapnya, seperti tatapan permohonan.


"Baiklah, kamu boleh melakukakannya."


"Hore eee. " Ale berteriak girang saat mendengar suara lirih papanya. Hans mulai membungkukkan badannya di depan Zoya. Rambut pendek yang dikuncir lima itu diikat sekenanya.


"Terima kasih, Mas." ucap Zoya dengan menahan pundak itu sejenak, dia juga mendaratkan ciuman di pipi Hans. Setidaknya, itu sedikit mendinginkan emosinya yang hampir meledak.

__ADS_1


Saat melihat bayangan dirinya di cermin, hatinya ingin mengumpat. Dia terlihat layaknya orang gila. Yah, ini pertama kalinya dia mendadak menjadi gila dan itu demi anak dan istrinya. Saat umpatan di hati ingin meledak, dia kembali mengelus pipinya dimana Zoya mendaratkan ciumannya. Tentu saja agar dia merasa lebih sabar.


Bersambung


__ADS_2