Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Rencana Untuk Zoya


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Zoy. Aku sudah banyak salah padamu, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya." Rasa bersalah itu menjalar menguasai hatinya, hingga mata dengan sorot tajam itu ikut mengembun saat istrinya mengingatkan semua perlakuan buruknya.Tenyata, Istrinya terlalu banyak memendam perasaan sedih, kecewa dan mungkin marah. Dan baru dia ungkapkan saat ini.


Berlahan tangan mungil itu membalas pelukan lelaki yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.


"Kring... kring... " Suara bel sepeda seseorang yang melewati mereka menyadarkan keduanya jika mereka masih berada di pinggir jalan.


"Maafkan, aku. selama ini tidak pernah memperhatikanmu." Dengan sedikit menunduk untuk menatap mata yang kini masih berair, jari jarinya pun mengusap pipi basah Zoya.


"Ayo, nanti keburu petang." ajak Zoya, mereka kembali menaiki motor butut itu. Kali ini lengan kecil itu melingkar di perut Hans tanpa harus di tuntun.


Pasar yang cukup ramai, mereka berhenti tidak jauh dari segerombolan orang yang menjajakan jualannya di pinggir jalan.


Hans masih berjalan mengekor di belakang istrinya. Penampilannya yang masih terlihat rapi meskipun memberi kesan kasual, serta wajah ganteng dan bodynya yang masih cukup six pack membuat pusat perhatian para wanita yang ada di sana.


"Zoy, masih lama?" tanya Hans saat sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan ibu ibu di sana.


"Sebentar, tinggal beli bumbu dapur." jawab Zoya sambil meneliti draf catatan belanja yang diberikan ibunya tadi. Lelaki itu sudah merasa tidak nyaman selain tatapan ibu-ibu, juga karena kondisi pasar yang sangatlah kotor menurutnya.


"Cepetan, Zoy!"


"Iya- ya, ini sudah selesai." jawab Zoya dengan memasukkan belanjaan terakhirnya ke dalam tas keranjangnya.


"Ayo, Mas!" ujar Zoya membuat Hans dengan sigap mengambil keranjang belanjaan dan segera menarik lengan istrinya untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan bau amis itu.


Dia kembali menaiki motor bebek itu, sinar mentari memang semakin meredup bersamaan tiupan angin yang terasa sepoi sepoi membuat perjalanan dengan motor bebek itu memberi kesan berbeda.


"Zoy, romantis ya suasananya." ucap Hans mencoba membuka pembicaraan dalam perjalanan, tangan kirinya tidak berhenti mengelus punggung tangan yang ada di perutnya.


"Biasa saja." jawab Zoya masih terdengar datar.


"Masih mode marah ini ceritanya?" tanya Hans, yang ingin mencairkan situasi yang masih belum stabil.


"Tidak, aku sudah terbiasa dengan suasana seperti ini." jawaban yang sedikit panjang membuat Hans tersenyum. Sementara bagi Zoya, dia memang tidak pernah ingin menyimpan semua rasa marahnya terlalu lama karena itu hanya akan menyakiti perasaannya sendiri.


Zoya's Pov


Aku merasa sedikit lega saat aku bisa mengungkapkan semuanya pada orang yang memang seharusnya mendengarnya. Suamiku adalah bagian dari diriku sudah seharusnya aku mengatakan apa yang aku rasakan, selain membuat hatiku lega. Aku juga bisa mengingatkan Mas Hans untuk bisa memperbaiki diri, kebiasaan bicara yang seenaknya itu tidaklah baik. Iya, jika aku istrinya masih bisa menerima semua perlakuannya, jika itu ditujukan untuk orang lain, mungkin akan membuat sebuah kebencian.


Aku mulai mengenal dan belajar untuk mengerti posisi sebagai seorang pendamping atau makmum. Dimana jika seorang imam yang salah, dia harus bisa mengingatkan dengan cara yang semestinya.

__ADS_1


Mas Hans bukanlah pria yang sangat buruk, dia juga sama denganku yang punya banyak kekurangan. Mas Hans memang arogan, tapi dia tidak pernah memukulku, hanya saja dia memang harus belajar untuk bicara lebih baik, dia juga yang menguatkan aku saat diriku terpuruk seperti halnya saat aku kehilangan calon bayiku. Tidak hanya kekurangannya saja yang bertahan dalam ingatanku tapi Mas Hans juga banyak memberi perhatian untukku dan Ale.


Menurutku pernikahan bukan sekedar kita bertahan atau pergi. Tapi, ada sebuah tanggung jawab kita atas hubungan itu di mata Allah. Meskipun Allah sudah mengatur, bagaimana cara seseorang untuk pergi, jika pernikahan itu bukan lagi sebuah ibadah. Tapi, berusaha sabar untuk saling mengisi dengan pasangannya mungkin itu sebuah usaha yang tidaklah buruk.


Perjalanan yang membawa mereka pada pikiran masing masing, akhirnya sampai juga di depan halaman rumah Bu Nurma. Hans mengernyitkan mata saat melihat mobil mamanya terparkir berjajar dengan mobilnya.


"Belum juga selesai masalah satu, udah datang trouble maker-nya." gumam Hans, keberadaan mamanya membuatnya berfikir akan menyulitkannya untuk membujuk Zoya pulang.


Zoya berjalan terlebih dahulu masuk lewat pintu samping. "Assalamu'alaikum." ucap Zoya saat mendapati Mama Shanti dan Bu Nurma sedang mengobrol di depan TV.


"Waalaikum salam... sini Zoy, Anak Mama!" balas Shanti dengan melirik Hans yang berada di belakang Zoya. Beliau memang tidak kaget jika putranya ada di sini. Beliau sudah sangat mengenal putra kesayangannya itu, Hans Satrya Jagad dia tidak akan kehilangan cara untuk mendapatkan keinginannya.


"Kapan Mama sampai ke sini?" tanya Hans yang kemudian duduk di sebelah mamanya begitu juga Zoya. Sementara itu Nurma mengambil barang belanjaan Zoya untuk di bawanya masuk ke dapur.


"Mama bawa brosur kuliah untuk Zoya." ucap Shanti dengan mengambil beberapa lembar brosur dari dalam tasnya. Dia membawa beberapa brosur dari beberapa kampus yang berbeda.


"Lah, kebiasaan Mama ini. Seharusnya ini di omongin dulu! Baru mangambil keputusan." Hans terlihat kesal karena sifat otoriter mamanya itu.


"Ini juga di omongin. Mama tidak sabar membicarakan ini, makannya Mama ke sini." jawab Shanti dengan nada bicara yang semakin tinggi.


"Mama ingin Zoya kuliah lagi. Kalau perlu usaha toko kue dan bunga milik Mama biar diambil alih olehnya." lanjut Shanti semakin membuat Hans bertambah kesal.


"Kenapa? Takut Zoya tidak mengurusmu? " Kamu takut tidak bisa mengatakan hal buruk lagi pada Zoya? Zoya putri Mama juga, Mama tidak terima kamu seenaknya bicara pada Zoya, apalagi di depan Mama." Kalimat Shanti membuat Hans terbungkam. Kesalahan yang dilakukannya pada Zoya tidak mampu lagi membuatnya berargumen. Hening, suasana mendadak Hening kala ketegangan itu terjadi.


"Mama.... " panggil Ale saat keluar dari kamar Zahra dengan wajah segar. Zahra baru saja memandikan Ale. bocah itu menghampiri Zoya dan bergelayut manja di pangkuan mamanya.


"Mas Hans, aku sudah menjaga Ale saat mas Hans sama mbak Zoya pergi kencan ke pasar."


"Iya, nanti Mas ganti motor jelek kamu dengan motor baru." ucap Hans datar, dia masih mengatur emosinya karena ide konyol mamanya.


"Zahra... " Zoya merasa malu saat Zahra mengatakan itu. Tapi, sebenarnya Zahra memang tidak tahu jika sudah terjadi ketegangan di antara tiga orang di ruangan itu.


"Ihhh.. pinter kamu Zahra. Bahkan lebih pinter dari Zoya." Shanti berteriak kegirangan saat mendengar kalimat Zahra yang membunuh kebisuan diantara mereka.


"Zoya boleh kuliah, tapi aku belum setuju jika Zoya mengurus usaha. Biarkan dia adaptasi dulu dengan kegiatan barunya, Ma. Lagian di luar pekerjaanku sebagai lawyer, investasiku masih lebih dari cukup untuk menjamin masa depan anak istriku." akhirnya Hans memberi keputusannya. Jika boleh jujur, Zoya sangat senang mendengarnya berarti dia bisa belajar lagi.


"Gitu baru anak Mama. Berarti Zoya masuk kelas apa? Regular apa non Regular? " tanya Shanti memastikan karena dia tahu Hans cukup bergantung dengan istrinya.


"Mendingan regular, dia akan punya banyak teman sebaya." jawab Hans dengan singkat. Nada bicaranya masih nampak datar karena keputusan yang diambilnya lebih berat untuk kebaikan istrinya dan dia harus menahan egonya.

__ADS_1


"Yakin?" Shanti mencoba meyakinkan putranya.


"Tapi terserah Zoya." Sahut Hans, kemudian matanya melirik ke arah Zoya. Dia bisa melihat mata indah itu terlihat berbinar. Dia tahu Zoya senang dengan keputusannya meskipun perempuan itu belum lagi memberi jawaban.


###


Setelah makan malam, Zoya menemani Ale tidur di kamar Zahra. Meskipun putrinya mulai lengket dengan Zahra tapi Zoya tidak akan melewatkan momen untuk menemani Ale tidur. Terlihat bocah gembul itu sudah terpulas membuat Zoya beringsut untuk turun dari tempat tidur. Dia mencium kening putrinya sebelum meninggalkannya bersama Zahra.


Saat berjalan menuju ke kamarnya. Mata indah itu melihat bayangan dua wanita paruh baya saling mengobrol di luar teras dengan senyum yang tidak surut dari keduanya. Zoya yakin jika mereka sedang bernostalgia.


"Semua sudah direncanakan, dirimu yang lama mendapatkan anak adalah jawaban jika kita akan menjadi besan." ujar Mama shanti dengan cekikikan. Zoya hanya menggeleng dengan tersenyum dengan tingkah mertuanya yang heboh.


Sejak makan malam tadi Zoya tidak lagi melihat bayangan suaminya. Dia mencoba mencarinya di kamar. Ternyata memang benar, suaminya tengah berbaring dengan menatap langit-langit kamarnya.


"Ale sudah tidur?" tanya Hans saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"Iya, sudah." jawab Zoya dengan duduk di pinggir tempat tidur.


"Kamu akan pilih kuliah regular apa non regular? " tanya Hans dengan bangkit dan duduk menghadap istrinya.


"Menurut Mas Hans aku pilih yang mana? Aku tidak terlalu mengerti tentang kuliah."jawab Zoya.


"Aku sebenarnya lebih suka regular. Kamu bisa bertukar wawasan dengan banyak teman. Itu akan merubah pola berfikirmu. Tapi, mungkin akan membuatmu lelah jika harus mengikuti kelas hampir setiap hari dan mengurus Ale."


"Yang paling lelah malah mengurus Mas Hans." lirih Zoya dengan senyum simpulnya membuat lelaki di sampingnya malah mendekat.


"Lelah tapi bikin nagih, kan?" goda Hans dengan memeluk tubuh mungil di depannya. Tubuhnya membungkuk membuat wajahnya mendekat pada wajah ayu itu.


"Maksudnya bukan itu, tapi lelahnya kalau sudah emosi ngomongnya nyelekit." Zoya berusaha mengelak meskipun begitu tubuhnya membiarkan suaminya memeluknya dan mencium pipinya.


"Berarti lusa kita pulang, ya!"


"Iya."


"Zoy, biarpun mulut dan sikapku arogan. Tapi aku sayang sama kamu, Zoy. Entah kamu percaya atau tidak, tidak sedikit pun aku berniat menduakanmu. Tidak ada wanita manapun selain dirimu."


"Amin ya Allah. Semoga yang dikatakan suamiku jujur." ucap Zoya dengan mengangkat kedua tangannya. Senyum dan lirikan Zoya membuat Hans semakin gemas. Dengan memeluk erat tubuh di depannya Hans juga menghujani Zoya dengan gelitikan yang membuat Zoya cekikikan menahan geli.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2