
Kyara menginap di apartemen Rey. Dia tidak bisa membiarkan lelaki itu sendiri dalam keadaan yang sangat buruk. Tapi, kemana Asisten pribadinya hingga dia tidak ada di samping sang bos di saat yang seperti ini? Pikir Kyara.
Gadis itu memilih merebahkan diri di sofa. Matanya sudah tidak bisa terpejam. Entah karena dia sudah tertidur cukup lama di kantor atau memang pikirannya sedang terganggu dengan sesuatu
Dia kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul dua belas malam, kemudian dia meraih kembali ponselnya dan membuka kunci layarnya. Dia berharap dengan membaca berita yang saat ini sedang viral, dia bisa mendatangkan rasa kantuk.
Hanya beberapa jam saja dia tertidur, Alarm Salat Subuh di ponselnya sudah berbunyi. Sebenarnya, dia sedang menstruasi, tapi Kyara bermaksut untuk pulang terlebih dahulu sebelum Rey terbangun.
Jari lentiknya membenarkan posisi kerudungnya yang sedikit acak-acakan karena dipakai untuk tidur. Meskipun punya masa lalu yang kurang bagus soal aurat, Kyara berusaha konsisten dengan segala keputusannya.
Langkahnya sedikit mengendap saat dia akan berjalan keluar apartemen.
"Mau ke mana, Ra?" tanya Lelaki yang saat itu bersandar di tengah pintu kamar. Kedua tangannya bersedekap di dada.
Wajahnya terlihat lesu. Tidak hanya rambut gondrongnya yang terlihat semprawut tetapi juga kemejanya yang sudah lecek membuat Rey terlihat sangat buruk.
"Aku akan pulang, Bang! Aku pikir Bang Rey sudah cukup bisa mengurus diri sendiri." jawab Kyara saat berhenti di depan lelaki itu. Jantung gadis itu tidak juga berhenti berdesir saat tatapan itu menghujam ke bola matanya.
"Tinggallah, sebentar! Mungkin besok kamu tidak akan bisa bertemu denganku lagi." ujar Rey. Kyara yang mendengar kalimat Rey membuat hatinya merasa ngilu, padahal sebelumnya dia berusaha menghindari lelaki yang sudah mengambil sebagian perasaan cintanya.
"Baiklah..." Kyara meletakkan kembali tasnya di sofa. Saat melihat Rey yang berjalan menuju ke dapur membuat gadis itu menyusulnya.
"Biar aku saja yang membuatkan minuman. Bang Rey ingin minum, apa?" tanya Kyara mengambil alih posisi Rey.
"Jahe hangat saja." jawab Rey. Kepalanya memang masih terasa pusing. Dia pikir minum jahe hangat akan menyehatkan kembali tubuhnya.
Lelaki yang terlihat lusuh itu kembali berjalan ke arah meja makan. Dia kembali menatap gadis yang masih mengenakan baju formal itu. Dia tidak ingat apa yang terjadi semalam setelah beberapa berandalan mengkroyoknya.
"Ra, apa kamu yang membawaku pulang? " tanya Rey, saat Kyara meletakkan jahe hangat di depan lelaki yang beberapa bagian wajahnya sudah membiru.
"Iya, Bang. Waktu aku pulang kantor, aku menemukan Bang Rey di jalan. Apa yang terjadi? " selidik Kyara.
"Apa kamu sering kerja sampai larut, Ra?" mendengar Kyara kerja hingga tengah malam membuat wajah Rey nampak tidak senang.
"Tidak, aku hanya ketiduran di kantor." jawab Kyara. Saat mendapatkan jawaban itu raut wajah Rey terlihat lega.
"Terus kenapa, Bang Rey sampai babak belur gitu?" tanya Kyara kemudian dia menyesap teh hangatnya.
"Ntahlah, akhir-akhir ini aku sering pergi clubbing. Semalam aku menghajar seseorang di club. Aku sulit mengontrol emosiku, Ra. Terlalu banyak masalah. Masalah pribadi dan perusahaan."
"Dan ketika di jalan, ternyata mereka menghadangku dan menghajarku, saat aku sudah mabuk berat." Rey menyandarkan punggungnya di badan kursi. Gadis itu bisa menemukan semburat kesedihan yang terpancar dari mata sayu di depannya.
"Sebenarnya ada apa, Bang?" selidik Kyara dengan rasa penasaran. Tapi Rey hanya terdiam, dia sulit untuk memulai cerita dan mengulik satu sisi dari kehidupannya yang sengaja di tutup rapat.
"Baiklah, kalau Bang Rey belum bisa bercerita, aku akan pulang saja!" ujar Kyara. Saat gadis itu berdiri dan ingin pergi. Rey kembali menahannya. Hanya gadis di depanya tempat ternyaman untuk bercerita.
__ADS_1
"Aku merasa buruk untuk saat ini, Ra!" penggalan kalimat Rey membuat Kyara kembali duduk. Dia masih menunggu dan memperhatikan Rey untuk bercerita.
"Aku kecewa dengan hidupku." setelah mengatakan itu membuat Rey kembali terdiam.
"Apa yang membuat bang Rey kecewa?" salah satu kelebihan Kyara, dia selalu cepat tanggap dengan situasi seseorang. Saat Rey sulit untuk bercerita dengan cepat dia langsung mengumpan.
"Zoya menolakku. Dengan penuh keyakinan dia memilih Bang Hans."
"Bukan itu saja, dia juga mengatakan hanya akan menikah seumur hidupnya." Kalimat itu yang sungguh membuat Rey sudah tidak punya harapan lagi.
"Bukankah dari awal bang Rey sudah tau resiko mencintai istri orang. " Meski hatinya tidak kalah dirundung rasa kecewa, tapi Kyara masih mencoba menjadi pendengar yang baik.
"Aku pikir aku masih bisa mendapatkan hati perempuan itu. Sebenarnya aku akan membawa paksa Zoya untuk pergi bersamaku."
"Bang...!" Sergah Kyara. Rey sempat tercengang saat suara Kyara yang begitu lantang.
"Buka seperti itu caranya. Kamu tidak akan mendapatkan cinta Zoya. bahkan, dia hanya akan membencimu. Kamu perempuan muslim punya fondasi yang kuat, Bang." Sekali lagi Rey kembali tercengang. Seberapa jauh Kyara mempelajari agama, hingga seolah dia mengenal seperti apa seorang muslimah sejati.
"Aku akan membuat Zoya bahagia. Aku akan memberikan semua yang dia inginkan." Kilah Rey.
"Cinta tidak egois, Bang. Sudah jelas Zoya mencintai suaminya. Bang Hans lelaki yang baik dan aku sangat mengenal mereka." lanjut Kyara saat beranjak berdiri.
"Belajarlah mengenali cinta dan obsesi."
"Ra, jangan pergi. Aku tidak ingin kamu menghilang dariku!" pinta Rey. Saat inj, Kyara melihat lelaki itu terlihat rapuh. Beda dengan Rey yang pernah dia kenal.
Kyara melangkah keluar diantar oleh Rey sampai ke pintu. Rasa penasaran dan ingin membantu membuatnya berjanji akan datang ke apartemen ini lagi.
Kepergian gadis itu menyisakan kalimat yang terus saja berdengung di otaknya. Antara obsesi dan Cinta. Rey terus saja berfikir untuk mengenali kembali perasaannya pada Zoya.
Saat pandangan pertamanya terhadap Zoya, dia melihat sosok keibuan Zoya yang selalu dia damba. Kesederhanaan Zoya yang belum pernah dia jumpai pada wanita manapun yang selalu mendekatinya. Dan tentu saja wajah cantik natural yang selalu membuatnya merasa adem dan tenang untuk terus menatapnya.
Cinta atau sekedar obsesi?
Lelaki yang masih belum bisa mengenali rasa yang begitu kuat di hatinya itu pun membanting tubuhnya di sofa. Sesekali, dia memijit pelipisnya untuk menghilangkan rasa pusing yang betah bersarang di kepalanya.
###
Zoya membawakan teh hangat ke kamar kerja Hans, sejak mengalami ngidam Hans tidak menginginkan kopi lagi. Sepulang mereka dari rumah Mama Shanti dengan membawa duo mahluk Tuhan paling fenomenal (Ale dan mamanya) Hans memilih untuk mengurang diri di ruang kerja.
"Tok... tok... tok... Mas, aku masuk ya!" ucap Zoya dengan membuka handle pintu ruang kerja suaminya. Dia mulai berani masuk ke ruangan syakral itu.
"Ada apa, Zoya?" tanya Hans, dia berhenti membalik buku yang akan dia baca. Dengan pelan dia memundurkan sedikit posisi kursinya.
"Aku bawakan teh, Mas."
__ADS_1
"Kenapa hari libur Mas Hans kerja terus?" protes Zoya dengan meletakkan teh di meja kerja Hans.
"Kemarilah!" Hans menarik pelan tangan Zoya agar mendekat. Perempuan yang masih tersipu malu saat beradu pandang dengan suaminya itu pun menurut saja.
Tangan kekar Hans mengomando tubuh mungil itu untuk duduk di atas pangkuannya. Posisi menyilang, membuat Hans dengan mudah memeluk dan mendaratkan ciuman singkat di bibir ranum istrinya.
"Mas Hans! " lirih Zoya dengan wajah memerah
"Dengarkan aku, Zoya! Aku harus kerja keras, katanya kamu hanya akan menikah sekali seumur hidupmu dan anak kita akan bertambah dua. Jadi aku harus bekerja lebih keras lagi, karena jika aku mati lebih dulu... " Saat mendengarkan kalimat Hans, Zoya mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Kalian.... " Zoya langsung saja membungkam Hans dengan ciumannya. Ya, kali ini Hans dibuat terkejut dengan sikap berani Zoya. Bahkan, tanpa memberi kesempatan Hans kemudian menyerang balik Zoya tanpa ampun.
"Mas, maksudnya. aku tidak ingin Mas Hans bicara buruk!" ujar Zoya saat Hans menggendongnya ke sofa.
"Kamu yang memulai Zoya!" jawab Hans dengan kembali mencium bibir ranum Zoya dengan rakus. Tangannya pun tak mau diam. Jari jari besar itu sangatlah aktif menjamah dan mengenali tubuh yang menurutnya semakin seksi.
"Mama..."
"Papa... Ale boleh masuk? " mendengar suara Ale membuat Hans bangkit dengan rasa kecewa.
"Iya, masuk saja!" ucap Zoya dengan membenarkan posisi bajunya yang sudah berantakan. Tidak butuh waktu lama bocah itu muncul dari balik pintu.
"Mama, apa misi berhasil? " Sebenarnya Ale meminta mamanya untuk membujuk Hans agar mau jalan jalan.
"Kalian merencanakan, apa?" tanya Hans dengan menatap tajam kedua wanitanya secara bergantian.
"Kita ingin pergi ke pantai. Bentar saja! Tidak harus menginap kok." pinta Zoya, tangannya mulai memberi sentuhan di lengan kekar suaminya membuat Hans tidak mampu lagi menolak.
"Baiklah, kamu dan Oma bersiap siap dulu!"
"Al, minta Pak Dino menyiapkan mobil putih dan mengantar kita ke pantai pasir putih." titah Hans dengan menahan pinggang Zoya agar tidak menjauh.
"Siap, Papa!" Bocah itu langsung melompat girang. Bisa terlihat rasa bahagia di wajah gembul itu.
"Sayang, jangan lupa bilang Minta tolong!" Zoya kembali mengingatkan Ale untuk tetep bersikap sopan.
"Baik, Ma! " jawab Ale dengan wajah sumringah saat akan keluar dari ruang kerja papanya.
Hans menarik lengan Zoya menuju sebuah ruangan kecil di sudut ruang kerjanya. Di sana hanya ada sebuah lemari brankas.
"Zoy, semua surat surat penting dan sejumlah uang ada di sini. Kodenya 'Zohans' ya! Jika aku tidak ada, aku ingin kamu mengurusnya. Aku pastikan kalian tidak akan kekurangan,
insyallah!"
"Mas Hans, jangan bicara seperti itu. Kami tidak hanya butuh uangmu saja. Kami juga butuh kebersamaan Mas Hans dalam kehidupan kami, menjaga dan membimbing kami. Jangan selalu bicara buruk!" Zoya memeluk tubuh atletis di depannya. Saat ini dia memang menangis. Dia tidak ingin merasakan lagi kehilangan seseorang yang dia sayangi. Tanpa terasa tangisnya menimbulkan sebuah isakan.
__ADS_1
Bersambung...
Hae gaes sebenarnya mau di end di episode ini. Tapi kok kos katanya sudah banyak. Jadi Kita end di episode berikutnya ya.... tepatnya episode 130....enaknya happy ending apa sad ending ya? Soalnya novel othor yang sudah tamat happy ending semua.