
Berbahagialah dengan segala yang sudah kita punya, jangan menunggu kita punya segalanya untuk bisa berbahagia (mustahil) quatation by author
"Wah makan-makan ya? Oma ketinggalan nih. " sapa Mama Shanti saat beliau sengaja menghampiri mereka dengan membawa ponsel dan kaca mata bacanya.
"Papa, lihat itu Oma main ponsel terus!" adu Ale pada papanya.
Sehabis Salat Ashar Ale sudah membujuk Oma untuk di pinjami ponsel. Tapi, omanya masih belum memberikan, hingga Ale mengetahui kepulangan Zoya dan memilih menghabiskan waktu bersama mamanya.
Ale masih saja jengkel saat melihat omanya memegang ponsel. Bukannya tidak ingin membelikan ponsel sendiri, Zoya membiarkan Ale meminjam ponsel ke sana kemari untuk membatasi waktu putrinya memegang ponsel.
"Oma kan sudah besar, boleh dong pegang ponsel lebih lama." jawab Oma Shanti dengan ekspresi meledek cucunya.
Zoya hanya menggelengkan kepala, sedangkan Hans berdecih saat melihat mamanya yang malah manas-manasin Ale.
"Mama, kenapa Ale belum boleh punya ponsel sendiri?" Ale merajuk dan bangkit mendekati mamanya. Sedangkan Mama Shanti melihat cucunya dengan manja merayu mamanya.
"Kak Ale, kan masih kecil. Lagian Kak Ale kan masih boleh pinjam ponsel Mama, pinjam ponsel Papa jika untuk melihat Rico the series." jawab Zoya dengan memeluk tubuh gembul di dekatnya, kemudian menggelitik perut gendut putrinya dengan hidung mungilnya.
"Ha ha ha... Mama geli."
"Geli Mama... " Ale tertawa dengan menggeliat tubuhnya menahan geli di perutnya..
Hans Hanya tersenyum melihatnya, dia tahu Zoya sudah memikirkan banyak hal untuk Ale. Seperti saat ini dia pasti sudah memikirkan alasan tidak memberi Ale ponsel.
"Ayo kita persiapan Salat Magrib! " Hans mulai berdiri dan membantu Zoya bangkit. Mereka akan ke kamar terlebih dahulu untuk membersihkan diri setelah seharian berbalut dengan debu dan keringat.
Pukul sepuluh malam saat rumah sudah nampak sepi, Hans baru saja keluar dari ruang kerja. Langkahnya kini tertuju ke kamar Ale. Hanya untuk menge-check keberadaan dan situasi kamar Ale.
Setelahnya, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar. Terlihat Zoya kini sudah berbaring di atas tempat tidur. Tapi, tetap saja dia belum tidur karena si tukang pijat belum beraksi.
"Apa? " tanya Hans dengan angkuhnya karena sudah tahu maksud tatapan istrinya. Dia sengaja menunggu istrinya memohon terlebih dahulu.
"Hehehe... minta dipijit." ujar Zoya dengan menampilkan senyum yang sengaja di buat buat.
Hans memilih duduk di dekat istrinya. Rutinitas pun dimulai. Kurang lebih lima bulan sudah menjadi kebiasaan.
"Mas Hans, ini bukan dipijat tapi dielus." protes Zoya dengan memukul pelan punggung tangan suaminya yang sudah masuk ke dalam daster dan bergerak naik hingga ke paha.
"Hahahaha... " mendengar amukan Zoya Hans malah tertawa, senang sekali saat bisa menggoda istrinya.
"Sudah ah, Nanti ujung ujungnya plus plus." ujar Hans, kemudian merebahkan tubuh di samping Zoya.
__ADS_1
"Emang nggak mau, yang plus plus?" goda Zoya dengan mengelus rahang suaminya. Dia terus saja menggoda Hans yang terlihat cuek, padahal dalamnya sudah menahan.
Tanpa banyak bicara langsung saja lelaki itu menerjang lampu hijau yang diberikan oleh istrinya. Bagi Hans tidak ada kata bosan untuk menjamah tubuh istrinya, meskipun saat ini dia harus berhati hati karena perut Zoya yang semakin membesar.
"Zoy, Bagaimana zuri menurutmu?" tanya Hans dengan memainkan anak rambut istrinya yang masih basah karena keringat.
"Kenapa , Mas? Dari awal dia aku nggak menyukai gadis itu. Aku sendiri tidak tahu alasannya." jawab Zoya, dia masih melingkarkan lengannya dada telanjang suaminya.
"Lama lama aku merasa tidak nyaman dengan Zuri. Tapi, rasanya tidak etis jika mengeluarkannya tanpa alasan yang tepat." Mendengar kalimat suaminya Zoya langsung meregangkan pelukannya di tubuh berotot itu.
"Apa ini yang Mas Hans ingin bicarakan sedari tadi? " tanya Zoya.
"Iya, sekarang aku merasa mengganjal jika tidak membicarakan semuanya denganmu." ujar Hans dengan mencium kening perempuan di depannya.
Keberadaan Zoya memang sudah masuk begitu dalam, tidak cuma di hati Hans saja tapi semua sisi dari kehidupannya
Hening sejenak, dalam pikiran Zoya pun berkecamuk dengan berbagai pemikiran.
"Zuri tidak diapa apain, kan, Mas? " tanya Zoya penuh selidik.
"Astaga, Zoy. Nggak percayaan amat."
"Bagaimana jika dia yang ngapa ngapain aku? Aku kan ganteng, macho cuma.... " kalimatnya menggantung.
"Cuma sedikit kere saja. Hehe, hehehe .... " ujar Hans dengan mencubit hidung istrinya. Zoya senang saat melihat rasa cemburu istrinya.
"Mas, Bagaimana jika Zuri direkomendasikan pada Mbak Kyara atau kantor lain yang lagi membutuhkan sekretaris." ujar Zoya saat setelah mempertimbangkan banyak hal.
Hans Terdiam sejenak, mempertimbangkan usul Zoya. Tidak ada salahnya mencoba usul istrinya. Mungkin dia akan menemui kyara secepatnya.
###
Hans berlari menuruni tangga. Dia mencari wanita yang selalu menjadi candu baginya. Segala hidupnya hanya tentang Zoya. Perempuan dengan perut besar itu membawa secangkir kopi ke meja makan.
"Sayang, Nanti periksa kandungan kan?" tanya Hans saat menghampiri istrinya. Ciuman ringan mendarat begitu saja di puncak kepala perempuan yang punya tinggi hanya sebatas bahunya.
"Iya, Mas. Ale juga ingin ikut."
"Katanya ingin lihat adiknya." jawab Zoya dengan mendudukkan tubuhnya di kursi. Dia tidak betah jika harus berdiri lama.
"Mama boleh ikut?" tanya Mama Shanti yang susah memperhatikan obrolan keduanya.
__ADS_1
"Masak hanya periksa kandungan bawa satu komplek?" elak Hans membuat wajah Mama Shanti langsung cemberut.
"Kalau nggak boleh ya sudah." cebiknya terlihat sangat kesal karena penolakan.
"Nanti kita rekam ya, Ma. Biar Mama juga bisa lihat." ujar Zoya mencoba menjadi penengah.
Akhirnya Hans menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Zoya yang semalam minta izin akan bertemu Nilla terlebih dahulu pun mendapat anggukan dari lelaki gagah di depannya.
"Hari hati jika keluar."
"Dan jangan lupa Share lokasi saat susah sampai tempat kalian." ucap Hans sebelum dia meninggalkan meja makan. Semakin hari lelaki itu semakin protect akan banyak hal tentang Zoya.
###
Sudah enam bulan dia berpisah dengan gadis yang terlambat membuatnya menyadari jika dia sudah jatuh cinta padanya.
Dengan hawa dingin yang menggigit hingga ke tulang, Rey menyelesaikan makan siangnya di sebuah cafe bersama Mami Carol. Musim dingin membuat dirinya enggan keluar. Tapi, ada yang harus dia bicarakan dengan maminya untuk sebuah kesepakatan.
"Apa kamu yakin? Kamu tidak menginginkan perusahan ini?" tanya Mami Carol pada Rey. Jika Rey sudah tidak menginginkannya itu artinya tidak ada lagi yang bisa mengikat Rey padanya.
Wanita itu menatap heran putranya. Rey yang selalu mengikuti segala planning yang dia tentukan itu pun kini mulai membuat keputusan sendiri. Rey, yang yang sudah tidak bisa dia ancam. Reya yang punya pemikiran sendiri.
"Aku yakin, Mi. Aku sudah tidak ingin terikat dengan Carmax Corp." tegas Rey. Dia tahu keputusannya akan membawa pengaruh besar untuk masa depannya. Tidak ada perusahaan dan tidak ada lagi kemewahan. Mungkin, dia juga akan kehilangan cinta karena tidak ada lagi yang bisa dia banggakan.
Mungkin jika hanya untuk menyelesaikan study di kota Berlin ini dia masih bisa. Tapi, dia tidak akan pernah menerima tawaran Mami Carol untuk menikahi seorang anak gadis hanya karena membangun sebuah kerajaan bisnis.
Jika dulu, Maminya berhasil membawa Rey pergi dari Indonesia lantaran ancaman akan mengeluarkannya dari sebuah posisi sebagian putra mahkota kerajaan bisnis Carmax Corp.
"Baiklah bersiaplah untuk menjadi gelandangan." ancam Mami Carol sebelum meninggalkan Rey sendiri.
Rey hanya tersenyum sinis, menatap punggung wanita yang penuh dengan ambisi itu. Enam bulan membuatnya berfikir jika dia akan meninggalkan jejak wanita yang sudah membesarkannya.
"Aku ingin punya keluarga yang bahagia. Aku tidak akan mengikuti jejakmu, Mam." gumam Rey dalam hati. Dia berharap punya keluarga yang bahagia, yang selalu merasa cukup. Tiba tiba dia kembali teringat pada Hans dan Zoya. Hans memang masih merasa iri dengan keluarga itu, bukan karena dia punya segalanya. Tapi, mereka terlihat bahagia dengan segala yang mereka punya.
Dia kembali menyesap secangkir kopi hangatnya. Pikirannya kembali pada Kyara.
Tatapannya kembali menerawang mengingat saat motor Honda Retro miliknya melaju dengan kencang menembus jalan sepi dengan menuju sebuah bukit.
"Ra, menurutmu cinta sejati seperti apa?" teriaknya bersaing dengan deru suara motornya.
"Aku tidak bisa menjawabnya, Bang. Tapi cinta sejati akan ada jika sudah mendapatkan ujian akan kesetiaan dan ketulusannya. Seberapa kuat seseorang menggenggam perasaannya untuk sang kekasih." jawab Kyara tak kalah berteriak dengan mengarahkan ke telinga.
__ADS_1
Kalimat itu sudah dia buktikan pada Kyara. Saat memilih keputusan ini, dia bukanlah siapa siapa. Dia juga tidak punya apa- apa untuk dibanggakan. Dia hanya punya cinta untuk gadis yang memenuhi ruang rindunya.
TBC