Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Ketahuan Poligami


__ADS_3

Kyara terlihat berlari kecil mengejar Hans, ketukan hellsnya yang berbenturan dengan marmer menarik perhatian banyak orang yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.


"Pak Bos. " panggil Kyara dengan nafas yang sedikit terengah-engah. Dia tidak tahu jika Hans akan pulang lebih awal sebelum dia mengutarakan apa yang dia tahu. Jam Menunjukkan pukul tiga sore, tapi Hans sudah berniat pulang, padahal biasanya Hans pulang menjelang atau setelah magrib.


"Ada apa? " tanya Hans dengan menunggu Kyara yang masih nampak terengah-engah.


"Ada yang ingin aku omongin." ucap Kyara masih dengan mengatur nafasnya.


"Iya, ada apa?" tanya Hans dengan ekspresi datar. Dia ingin secepatnya pulang, dia mendapatkan informasi dari Bi Muna jika Zoya menginginkan bubur kacang ijo dan lotes(rujak buah).


"Itu, soal si Deny. Please, ayolah duduk sebentar!" ajak Kyara yang langsung berjalan menghampiri sofa yang ada di loby kantornya.


"Fix, aku yakin pelakunya si Deny, kakak iparmu, Pak Bos! Aku memang tidak bisa membuktikan, tapi percakapan antara istri muda Pak Bos dengan abangnya membuatku yakin, tapi sayang itu tidak bisa untuk bukti di pengadilan. Kita masih ada banyak PR. " jelas Kyara dengan meluruhkan bahunya. Bibirnya mengatup mengerucut karena sudah tak bisa berkata lagi.


"Aku sudah tahu. Kemarin, aku meminta Arum untuk memperlihatkan foto-foto mereka berdua saat bersama. Dan pemilik kalung itu memang Deny."jelas Hana yang juga tidak tinggal diam.


"Sempat di save kan, Bos?" sela Kyara begitu antusias. Dia tidak ingin kecolongan sedikitpun.


"Iya... tenang saja! " jawab Hans.


"Selamat sore... " Kedatangan Pak Indrawan mengakhiri pembicaraan mereka. Pengacara senior itu sudah berdiri dengan kaos santai di dekat mereka.


"Wah kehormatan Pak Indrawan berkenan berkunjung di kantor saya! " ujar Hans yang langsung berdiri dan bersalaman dengan tamu kehormatannya.


"Bentar, Pa! Kyara akan membereskan pekerjaan Kyara." Kyara bergegas beranjak menunju ruangannya. Sementara Indrawan dan Hans kembali duduk di sofa.


"Terima kasih, Hans. Kyara banyak berubah, sejak menangani kasus kriminal bersamamu dia lebih aktif sharing, dia terlihat sangat anthusias sekali. Aku juga melihat banyak gaya hidup dan sudut pandangnya yang lebih baik dan dewasa." Indrawan menceritakan tentang perubahan Kyara, dia juga sudah mengetahui jika Hans pernah memarahi putrinya habis habisan. Tapi, itu malah membuatnya senang, ada pembelajaran untuk Kyara karena dirinya tidak akan bisa untuk memarahi Kyara secara langsung.


Mereka menghabiskan waktu sejenak di sore hari, hingga Kyara datang dengan menenteng tas bersiap untuk pulang. Indarawan ingin mengajak putrinya untuk makan bersama dan datang ke makam almarhumah mamanya.

__ADS_1


"Pak Bos, aku ijin pulang dulu, ya!" ujar Kyara yang dijawab anggukan oleh Hans.


Setelah kepergian mereka dari kantornya, Hans pun bergegas untuk mewujudkan niat awalnya membelikan apa yang sedang di inginkan Zoya. Dia berusaha menyempatkan memeperhatikan Zoya di saat kehamilannya.


###


"Assalamualaikum, Ma. " ucap Zoya saat pertama kali membuka panggilan telpon Mama Shanti.


"Waalaikum salam, Zoy. Apa kabarmu?" Shanti yang akan menanyakan kabar calon cucunya memilih untuk menanyakan kabar menantunya terlebih dahulu karena mendengar suara Zoya yang lesu.


"Baik, Ma. Bagaimana kesehatan, Mama?" Zoya sebenarnya sudah kangen dengan Mama mertuanya. Biasanya disaat seperti ini Mama mertuanya yang selalu memberi dukungan.


"Baik. Oh ya, berhubung suami Niar lagi keluar kota dan Mama belum bisa pulang, syukuran empat bulananmu nanti, kita adakan saat Mama sudah pulang, ya! " Tradisi empat bulanan seorang menantu menurut shanti harus dilakukan oleh keluarga pihak lelaki.


"Iya, Ma. Lagian ini baru dua belas minggu. Mama tenang saja. " jawab Zoya.


"Ya sudah Zoya, Mama tutup dulu ya, makan yang teratur biar ibu dan bayinya sehat. Jangan sampai stress! Itu akan berpengaruh pada janinmu.Assalamualaikum. " pesan Mama mertuanya hanya membuat Zoya menarik nafas. Bagaimana dia tidak stress jika menghadapi masalah seperti ini?


Zoya masih duduk di gazebo yang ada di dekat kolam renang dengan segala peralatan kaligrafi yang sengaja dia siapkan untuk mengisi kekosongannya. Dia berharap bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.


Sejenak dia tertegun, tentang hubungannya dengan Hans yang semakin rumit dan tidak jelas. posisinya benar benar digantung dengan sejuta harapan karena sikap Hans yang seolah tidak ingin melepasnya.


Zoya mengisi waktunya dengan membuat kaligrafi. Setelah Ale tidur sepulang sekolah, Arum pergi belanja diantar oleh Pak Dino dan Hans sendiri yang pastinya belum pulang bekerja, membuat Zoya berniat meneruskan menulis kaligrafi. Seperti yang pernah di tawarkan Wildan, kemarin Nilla yang kembali memberi tahu jika Dia bisa menitipkan beberapa karya kaligrafinya saat teman Wildan mengadakan pameran karya lukisnya.


Zoya tersentak kaget saat sebuah tangan besar menutup matanya, mungkin saat ini fountain pen-nya sudah merusak salah satu huruf yang sempat dia tulis. Aroma tubuh yang sangat dia kenali menguar membuat rasa nyaman yang memang sebenarnya dia rindukan.


"Mas, jangan seperti ini! " pinta Zoya dengan nada datar, tangan mungil itu berusaha melepaskan telapak tangan Hans yang menutup kedua matanya. Sebelum melepaskan jari-jemari tangannya dari kedua mata Zoya, Hans mendaratkan ciuman di pipi cabi yang sering terlihat merona. Pipi yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Jangan seperti itu, Mas! " ucap Zoya saat Hans mengambil duduk di depannya.

__ADS_1


"Masih halal kan, zoy? " Pertanyaan Hans membuat Zoya terdiam. Zoya kembali menyiapkan diri untuk kembali menulis.


"Kamu ingin makan sesuatu, Zoy? " tanya Hans dengan menatap wajah yang terlihat menunduk menatap karya yang sedang dia kerjakan. Jilbab yang membingkai wajahnya membuat paras ayunya terlihat sangat bersahaja.


"Tidak, Mas. Aku tidak menginginkan apa pun." jawaban Zoya membuat Hans beranjak dari duduknya menuju ke dapur. Kebohongan yang sudah terbongkar sebelum dilakukannya.


Sore yang masih terlihat sepi, Dia ingin menghabiskan moment ini bertiga, termasuk dengan calon buah hatinya yang ada di perut Zoya.


Hans membawa nampan yang berisi semangkuk bubur kacang ijo dan sepiring lotes, dia berjalan dengan tersenyum meski istrinya tidak melihatnya sama sekali.


"Zoy, mau? " tanya Hans saat meletakkan nampan itu di sebelah Zoya. Apa yang baru saja disodorkan Hans membuat Zoya menelan ludahnya, dia sudah membayangkan betapa segarnya memakan lotes tersebut. Matanya kemudian menatap, sosok di depannya tanpa ekspresi, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis. Kamu masih bisa tersenyum, Mas. sedangkan hidupku masih terasa kamu gantung. Itulah yang ingin Zoya katakan, seandainya dia mampu untuk berucap.


"Kita selesaikan sambil jalan, ya! Aku minta kamu harus bertahan selama beberapa bulan lagi, ya." ucap Hans dengan menyuapkan sepotong buah ke mulut istrinya. Saat ini hatinya bercampur aduk, perhatian Hans membuatnya bahagia. Tapi, dia takut jika ini hanya semu. Kesepakatan pernikahannya dengan Arum memang mencuri kecemasan wanita hamil tersebut.


"Zoy- Zoya. " Arum memanggil Zoya, gadis itu berjalan mendekati Zoya dengan menenteng beberapa paper bag hasil dari shoppingnya seharian.


"Ada apa, Mbak? " tanya Zoya saat Arum berdiri di dekatnya.


"Ada yang mencarimu sepasang cowok dan cewek berjilbab. Aku memintanya menunggu di ruang tengah." Mendengar apa yang di sampaikan Arum membuat Zoya beranjak. Hans sebenarnya penasaran, tapi Arum yang menahannya membuat mata tajam lelaki itu menatap tubuh mungil yang berlahan menghilang masuk ke dalam rumah.


Dua pasang mata menatap Zoya penuh selidik, Wildan dan Nilla tidak berfikir lagi apa tujuan mereka datang ke rumah ini. Pengakuan Arum yang mengatakan pada keduanya jika dia istri kedua Hans membuat Wildan dan Nilla terhenyak kaget.


"Zoy, katakan itu tidak benar! " Nilla tidak sabar lagi untuk menanyai Zoya dan menarik lengan kecil itu untuk duduk di sebelahnya.


"Zoy, kenapa kamu mau dipoligami? " Sahut Wildan merasa tidak terima.


"Tidak seperti ini, zoy. Kamu tidak akan pernah bahagia jika mau di madu!" Wildan mengusap wajahnya kasar, ada kekecewaan di wajah lelaki itu. Nilla yang melihat kecemasan Wildan membuatnya menenggelamkan suaranya. Ada cemburu yang diam diam menelusup hatinya.


"Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan. " Zoya masih menutup rapat rahasia keluarganya. Dia tidak ingin orang lain tahu permasalah yang ada. Meskipun Nilla sahabat terdekatnya, dia belum bisa bercerita.

__ADS_1


"Tidak seharusnya madu itu tinggal satu atap, Zoy." Mendengar kata madu membuat hati Zoya rasanya kembali teriris. Dia tidak pernah membayangkan sebuah hubungan poligami harus dia jalani.


Bersambung.


__ADS_2