
Apa yang di katakan Hans memang benar dua minggu dia menghabiskan waktu untuk mempelajari kasus Antonio. Selain mencoba mencari celah dengan adanya bukti yang ada, dia juga mempelajari kasus yang hampir punya kemiripan. Hans memang sedang memfokuskan diri menghadapi sidang selanjutnya. Kalung yang ditemukan di sekitar TKP sengaja belum dia bahas di sidang. Dia memilih untuk memeriksa terlebih dahulu sidik jari yang menempel di sana berharap akan memberikan clue untuk memenangkan kasus karena kemungkinan menurutnya kalung itu terputus bukan terlepas jika dilihat dari patahan rantainya.
Pada awalnya hanya Kyara yang membantu Hans untuk menangani kasus ini. Tapi, semakin lama kasus ini terlihat semakin rumit, Hans juga meminta Ryan untuk ikut bergabung agar kasus Antonio bisa terselesaikan dengan baik.
"Aku kasihan sama Zoya dan Ale. Dalam kondisi hamil dia harus menghadapi semuanya." keluh Hans saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju TKP. Mereka bertiga saat ini menuju ke TKP. Hans, Ryan dan Kyara. Sebenarnya, Hans tidak ingin Kyara ikut, tapi gadis itu memaksa membuat Hans mengizinkannya dengan catatan memakai pakaian yang sopan.
Hae, senangnya dalam hati
kalau beristri dua
Oh, senangnya dunia seperti ana yang punya
Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Oh, kepada istri muda
I say, I Love you
"Bisa diem nggak? Berisik! " hardik Hans saat mendengar Kyara bernyanyi.
"Kan cuma nyanyi, Pak Bos. Tapi bener nggak si kata Ahmad Dani, punya istri dua itu enak." ledek Kyara dengan hati-hati, mood bosnya kadang memang tidak bisa ditebak.
"Bikin pusing saja." jawab Hans yang juga membayangkan jika itu beneran terjadi pastilah dia akan cepat mati mengenaskan.
" Katanya cantik ya? Bagaimana kalau kamu tergoda, Bro? " timpal Ryan mengingatkan.
"Tidak ada yang lebih menggoda kecuali Zoya! " jawab Hans dengan tegas.
"Setengah percaya dengan Pak Bos. Dengan aku yang bodiku aduhai saja tidak dilirik sama sekali, apalagi Arum yang katanya orangnya polos, ya. " seloroh Kyara menambahi.
Hans Hanya menghela nafas panjang, dia tidak ingin meladeni dua orang yang memang sedikit stress karena beberapa hari ini juga ikutan direpotkan dengan tumpukan kerjaan. Meskipun begitu, kelakar mereka berdua memberikan sedikit hiburan di saat detik detik menegangkan hidupnya.
Perjalanan yang cukup jauh membuat Ryan yang menyetir menggerakkan pelan punggungnya untuk merubah sedikit posisinya untuk melancarkan peredaran darah.
"Sebentar lagi akan sampai! " ujar Hans dengan melirik ke samping.
__ADS_1
"Pertama kita akan kemana?" tanya Ryan yang sudah membelokkan mobilnya ke jalan kampung.
"Kita akan ke rumah Pak lurah terlebih dahulu. Aku sudah membuat janji. " jawab Hans.
"Untuk apa? " tanya Kyara sambil mengantuk di jok belakang, dia sedang menikmati perjalanan yang melewati kawasan hutan.
"Aku ingin memecahkan petunjuk yang ada di kalung itu terlebih dahulu. Siapakah pemilik kalung dengan bandul huruf D. Jadi, aku akan meminta nama warga di sini dari kepala desa." jelas Hans. Ryan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang sedikit menjorok ke bawah. Tanah di daerah ini memang tidak merata. Ada yang meninggi ada yang menjorok.
Mereka memeriksa semua kartu keluarga milik penduduk untuk menemukan nama yang bisa dikaitkan dengan huruf 'D'.
"Pak Bos, kayaknya banyak nama yang bisa dihubungkan tapi yang lebih logis cuma ada dua yaitu Dandy Prasetya dan Deny Andar Harsono, yang lainnya si anak balita dan satu orang dewasa sudah merantau tiga tahunan di Jakarta. " ujar Kyara, penduduk kampung memang tidaklah banyak. Rumah mereka saja saling berjauhan, tapi wilayah kampung yang cukup luas membuat rumah warga satu sama lain saling berjauhan.
Setelah mengakhiri urusan di rumah Pak lurah, mereka memilih berjalan kaki menuju TKP yang jaraknya memang sedikit jauh, karena jenis mobil sedan Mercy sangat berat jika digunakan untuk menempuh perjalanan di kampung tersebut.
"Loh, Mas Hans, silahkan mampir ke gubukku! " sapa Dandy saat berpapasan dengan Hans, Ryan dan Kyara.
"Terima kasih, lain kali saja, soalnya kita buru-buru. Oh ya, aku persilahkan Mas Dandi datang ke rumah. Rencana lusa mau ada acara kecil-kecilan." Hans membuat undangan untuk Dandy. Acara dadakan yang tiba tiba saja muncul di otaknya.
"Insyallah, Mas. Sekalian, rencananya memang mau ke kota." jawab Dandy yang memang akan ke kota untuk membeli beberapa peralatan yang akan digunakan untuk budi daya ikan.
"Kalau gitu kita permisi dulu, Mas Dandy! " pamit Hans kemudian berjalan kembali ke arah TKP. Sampai di tempat, hal yang membuat mereka penasaran adalah gubuk yang hampir lapuk itu.
"Iya kata penduduk setempat yang tinggal di sana adalah orang gila. Tapi mungkin iya, orangnya awut-awutan." jelas Hans malah membuat Kyara semakin penasaran. Mana ada orang gila mengerti membersihkan rumah. Di sekitar gubuk memang terlihat bersih.
"Kita ke sana, aku jadi ingin lihat seperti apa orangnya. Biar bagaimanapun aku pernah kuliah Psikologi lulus strata satu. "
"Gila lo, kuliah double? " Ryan merasa heran tak mengira Kyara cukup berpotensi dengan gayanya yang bisa dikatakan sedikit vulgar.
"Pinter tapi sengklek! " sahut Hans yang memang pernah memeriksa prestasi Akademik Kyara yang cukup bagus.
Sebuah motor trill melaju dengan sangat gaharnya. Dari kejauhan Deny, terlihat mengendalikan kuda besi itu ke arah mereka.
"Loh Hans, ada acara apa ke sini?" tanya Kakak iparnya dengan masih duduk di atas motor.
"Survey saja, Mas Deny! "
"Mampir ke rumah." Deny mempersilahkan Hans untuk singgah ke rumahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Tapi kita memang buru-buru untuk pulang! Tapi, aku harap Mas Deny lusa datang ke rumah. Sebenarnya, aku akan meminta Arum yang mengundang Mas Deny. Tapi, berhubung kita bertemu sekalian saja aku yang bicara. " ujar Hans dengan mengharap jawab iya dari Deny.
"Baiklah aku usahakan sekalian menjenguk Arum. Kalau begitu aku permisi." ucap Deny. Tapi, Hans bisa melihat saat Deny akan beranjak pergi, lelaki berkulit sawo matang itu menoleh ke arah gubuk itu.
"Pak Bos, kenapa wanita itu seperti ketakutan saat melihat keberadaan kita?" tanya Kyara dengan rasa penasaran.
Kyara mendekati gubuk itu hingga beberapa kali dia mengetok pintu dan berucap salam, tapi tidak ada tanda-tanda si pemilik mau membukakan pintu membuat gadis itu semakin penasaran. Mana ada orang gila mengumpulkan kayu bakar? Kyara sempat melihat perempuan paruh baya itu meletakkan kayu bakar dengan tergesa-gesa.
Panggilan Hans mengajaknya untuk kembali pulang membuat Kyara dan Ryan mengikutinya. Mereka kembali pulang karena takut kemalaman saat sampai di rumah.
###
"Zoy, Mas Hans tidak pulang? " tanya Arum melongok dari balik pintu kamar Ale. Arum melihat Zoya masih menunggui Ale untuk menjadwal buku yang akan di bawa ke sekolah.
"Aku tidak tahu, Mbak! " jawab Zoya yang memang tidak tahu keberadaan Hans. Komunikasi Zoya dengan Hans sedikit mengabur saat Hans menikah lagi.
"Baiklah, nanti kalau Mas Hans kembali beritahu aku! " pesan Arum kemudian dia kembali menutup kamar embali Ale.
Zoya melirik jam yang ada di atas meja belajar Ale. Sudah pukul sembilan malam, tapi suaminya belum pulang. Dia sedikit khawatir. biasanya dia akan menelpon untuk menghalau segala kecemasannya, tapi tidak untuk saat ini. Dia memilih menyimpan kecemasannya.
"Ma, Ale kangen Papa. Apa Papa tidak kangen Ale? " tanya bocah gembul itu saat mereka baru merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Papa sedang sibuk ya! Nanti kalau pekerjaan Papa sudah selesai, Ale bisa minta Papa untuk jalan jalan. " Zoya mulai membuat Ale mengerti tentang pekerjaan papanya.
"Sama Mama dan adek bayi, kita akan bermain lagi sepelti dulu. " ucapan Ale membuat mata Zoya mengembun. Dia sendiri tidak bisa menjanjikan keinginan putrinya akan terkabul. Zoya memeluk tubuh gembul itu hingga keduanya kini terlelap.
Malam pun merambah semakin larut menjadikan rumah sudah terasa sepi. Hans berlahan melangkah menaiki tangga, dia tidak ingin ada suara yang bisa membangunkan orang rumah yang sudah terlelap.
Tujuan pertama ingin melihat Ale dan Zoya. Dia tahu Zoya pasti akan tidur di kamar Ale. Tangannya membuka pintu dengan berlahan agar deritnya tidak lagi mengganggu dua perempuan yang saling memeluk.
Dengan membuka kancing dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku, Hans mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Berlahan, tangannya mulai memijat kaki putih istrinya."Aku merindukan kalian. Tapi, bersabarlah sebentar!" gumam Hans dalam hati. Dia sendiri sudah menahan rindu yang sudah membubung di dalam hatinya.
"Mas...!" Zoya terhenyak kaget saat dia merasakan tangan besar memijat kakinya. Spontan Zoya menarik kakinya membuat Hans menatapnya penuh tanya.
"Apa aku tidak boleh memijat kakimu? Katanya ibu hamil cepat lelah? " ujar Hans merasa kecewa dengan penolakan Zoya.
"Bukan begitu, Mas. Mas Hans sudah terlihat lelah. Aku sudah banyak istirahat, Mas! " Jelas Zoya karena dia menarik kakinya karena tak ingin menambah rasa lelah suaminya, Zoya bisa membaca rasa kecewa di wajah Hans.
__ADS_1
"Aaaarrrghhhhhh..... " teriakan Arum membuat Hans terkaget dan beranjak, berniat akan melihat apa yang terjadi dengan gadis itu. Sementara, Zoya berlahan mengikutinya karena takut terjadi hal buruk pada Arum karena teriakan Arum yang cukup menggema dan memecahkan keheningan rumah.
Bersambung.