Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Anggukan Rindu


__ADS_3

Wildan mengejar Nila saat melihat gadis itu melintas jajaran ruang perpustakaan. Dari beberapa waktu yang lalu, dia merasa Nila seolah menghindarinya.


"Nillaaa..." Panggilan Wildan sempat menghentikan langkah gadis berkerudung biru itu. Nilla mematung sejenak hingga lelaki berwajah kalem itu berhenti di depannya.


"Ada apa, Pak Dosen!" panggilan formal Nilla membuat Wildan merasa Nilla sedang marah padanya. Gadis itu menatap tajam sosok lelaki di depannya dengan memeluk buku yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan.


"Kemarin kemana, Nil? Aku ke kosmu, bahkan aku sudah menunggumu cukup lama, ponselmu pun sampai sekarang tidak bisa di hubungi." jawab Wildan dengan sedikit mengatur emosinya.


"Aku mengantarkan Ale, kebetulan Zoya terjatuh dari tangga, hingga dia mengalami keguguran." jawab Nilla dengan sedikit kalem.


"Apa? Pasti dia tertekan karena poligami." gerutu Wildan, saat melihat aura kekecewaan di wajah Wildan, Nilla hanya terdiam dan menatapnya. Dia merasa Wildan masih menaruh sejuta perhatian pada sahabatnya itu.


Tanpa mengatakan sesuatu Nilla pergi meninggalkan Wildan. Baru, saat itu Wildan menyadari jika Nilla benar-benar marah padanya. Sebenarnya, hubungan mereka merenggang sejak diadakannya pameran lukis.


"Nilla...!" panggil Wildan mengejar Nilla. Dia sudah tidak peduli jika beberapa mahasiswanya menatapnya heran.


"Apa lagi? Bukankah sudah aku katakan dari dulu, keputusan Bang Wildan mengajakku menikah tidaklah benar!" ucap Nilla, dia masih menahan rasa yang menyesak di dalam hatinya.


"Bukan begitu, Nil!" Wildan sendiri bingung harus menjelaskan apa pada gadis di depannya.


"Sudah aku pikirkan matang-matang, Bang. Sebaiknya kita break saja. Aku juga akan lebih fokus pada kuliahku." Keputusan itu memang sudah Nilla pikirkan dari kemarin. Dari awal dia memang sudah meragukan perasaan Wildan.


"Nil, bukan begitu caranya!" Kali ini Wildan tidak setuju dengan keputusan Nilla yang sepihak. Dia masih berusaha mengejar gadis itu.


"Aku mohon, jangan semakin mempersulit keadaan! Sebaiknya pikirkan baik-baik untuk meneruskan hubungan yang kita sendiri tidak yakin dengan perasaan kita!" Wildan hanya terdiam. Bagaimana Nilla mengucapkan sebuah permohonan yang tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya.


"Memberi waktu dan jarak, untuk meyakinkan perasaan kita masing masing, aku pikir akan jauh lebih baik!" Kalimat terakhir Nilla hanya membuat wildan mematung. Dia tidak mengerti lagi bagaimana cara meyakinkan Nilla, yang dia tahu Nilla cemburu dengan Zoya. Dia meraup wajahnya dengan kasar, saat tatapannya mengiringi kepergian gadis yang sudah dia Khitbah itu.


###


Sepulangnya Zoya dari rumah sakit, Hans memang sedikit mengabaikan keadaan rumah. Tentu setelah dia menjelaskan pada Zoya, jika banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Hans memang lebih fokus pada pekerjaan yang sebelumnya sudah terabaikan. Apalagi sidang Antonio sudah hampir memasuki babak terakhir. Dia sangat berharap bisa membuktikan dengan sepenuhnya jika pemuda itu tidaklah bersalah.


Rasa lelah yang mendera, seusai dia keluar dari ruang kerja membuat Hans ingin sekali beristirahat. Sejenak dia berfikir, Semua pasti sudah istirahat termasuk Zoya.


Rumah memang terlihat sepi, sudah pukul sepuluh malam, tapi lelaki itu memilih menyalakan TV dan merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah. Satu lengannya diletakan di atas kedua matanya yang terpejam. Lelah, saat ini yang sedang dia rasa.


Sepasang mata indah itu memang sudah menatapnya dari jauh. Di meja makan, dengan menggenggam gelas air minum yang baru saja dia teguk setengah isinya, Zoya menatap suaminya yang terlihat sedang berbaring di sofa.

__ADS_1


Zoya's Pov


Aku melihat Mas Hans terlihat sangat sibuk. Bahkan, wajah lelahnya pun tak bisa di tutupi dengan tampilannya. Sudah setahun lebih aku menjadi istrinya. Jadi, aku mulai memahami setiap kali akan mengakhiri sebuah kasus, dia memang tidak pernah ada waktu untuk yang lainnya. Aku memang tidak terlalu mengerti tentang pekerjaannya, tapi aku berusaha memahami situasinya.


Seperti saat ini, aku sebenarnya sangat merindukannya. Tapi, aku tidak ingin menuntutnya lebih. Mas Hans sudah memberiku banyak hal. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Aku yang hanya gadis biasa, bahkan pendidikan yang aku miliki tenggelam tak terlihat lagi jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang dimiliki Mas Hans, itu membuat diriku merasa diakui keberadaanku sebagai istrinya saja sebenarnya sudah cukup, apalagi saat aku merasa dia memberiku banyak cinta, aku merasa Allah memberiku banyak hadiah dan cinta melaluinya.


Tapi, entah kenapa saat ini aku sangat merindukannya. Senyumnya yang terlihat kaku tapi manis, aku sangat menyukainya. Rayuannya yang terkadang terdengar hambar, tapi membuatku selalu ingin mendengarnya. Iya, Mas Hans bukan tipe romantis, meskipun begitu aku merasakan banyak cinta darinya setelah semua masa sulit yang kita lalui.


Zoya mencoba mendekati lelaki yang berbaring di sofa. Dengan gerak berlahan, dia meletakkan bokongnya di sisa tempat yang ada di sebelah tubuh yang masih tak bergeming itu. Mata tajam suaminya masih terpejam, karena itu Zoya berani menatapnya lebih lama, seolah meneliti detail wajah tampan di depannya. Hidung bangirnya dan bibir tipisnya tercetak jelas dan itu salah satu yang membuatnya terlihat sangat menawan.


Berlahan tubuh mungil itu menunduk. Dengan hati-hati zoya meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Bahkan, kini tangannya menelusup melingkar memeluk tubuh besar itu.


Dengan lembut tangan besar itu membalas merangkulnya, membuat Zoya terkaget sehingga akan menarik kembali tubuh dan tangannya untuk menjauh. Tapi, lengan besar itu terlalu kuat untuk menahannya hingga membuat Zoya hanya mampu mendongak, menatap wajah yang tersenyum tapi matanya masih terpejam. Hans hanya memejamkan mata tapi dia tidaklah tidur.


"Apa kamu merindukanku Zoya Kamila?" Suara baritonnya terdengar jelas membuat Zoya terdiam. Tapi, Hans bisa merasakan anggukan kecil di dadanya. Hal itu membuat Hans membuka mata, senyum tipisnya pun menghias di bibirnya.


Sebuah kedekatan dalam sebuah hubungan terkadang terbentuk karena naik turunnya sebuah rasa


"Maafkan aku, jika kamu merasa terabaikan!" Hans kemudian bangkit otomatis membuat Zoya juga mengikutinya.


"Aku bisa mengerti, Mas." Mata indah itu menatap lekat wajah yang saat ini tersenyum padanya.


###


Pagi ini Zoya berniat mengawali aktifitasnya seperti biasa. Sinar mentari yang menembus ke dalam rumah dari celah celah jendela dan ventilasi membuat pagi ini terkesan lebih segar.


Banyak hal yang harus Zoya lakukan kembali, dia tidak ingin rasa bersalah dan kesedihannya menjadikan seseorang yang seharusnya menjadi prioritasnya merasa terabaikan.


Dengan langkah tergesa Hans menghampiri Zoya yang ada di dekat kompor. Zoya sedang memasak bubur ayam kesukaan Ale dan membuat sambal matah yang menjadi favorit Mama Mertua.


"Zoy, kamu tadi naik ke atas untuk menyiapkan bajuku?" tanya Hans yang sudah mengenakan baju pilihan Zoya. Seulas senyum terbit dari bibir mungil Zoya, dia menatap suaminya yang sudah ada di dekatnya dengan tampilan yang sudah terlihat rapi.


"Iya, Mas. Aku harus mengerjakan sesuatu. Diam hanya akan membuatku terlarut dalam kesedihan." ucap Zoya.


"Tapi, apa kamu memang sudah benar-benar sehat? Dimana Bi Muna? Kenapa kamu masak sendiri?" cecaran pertanyaan dilontarkan Hans pada Zoya.


"Aku meminta Bi Muna ke pasar, Mas." jawab Zoya senyumnya tak lagi surut dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Mama...!" teriak Ale saat menghambur memeluk pinggang Zoya membuat Hans harus mengalah dengan sedikit memundurkan tubuhnya.


"Ya Allah, Ale. Bisa sedikit bersabar, nggak? Papa lagi ngomong sama Mama." gerutu Hans saat melihat Ale yang terlihat posesif.


"Ale cuma mau meluk Mama!" jawab Ale dengan bibir manyunnya.


"Iya, tapi setelah Papa bicara sama Mama." Hans memilih meninggalkan mereka karena percuma berdebat dengan bocah gembul itu. Nggak level bisiknya dalam hati.


"Kenapa Hans? Pagi pagi sudah kesal begitu." tanya Shanti menghampiri Hans dengan bucket bunga di tangganya.


"Itu juga Mama ngapain bawa bucket bunga?" Hans balik tanya saat Shanti duduk di meja makan.


"Tadi kurir bawain bucket bunga, katanya buat kamu!" Hans begitu penasaran mana mungkin pagi pagi sekali jasa pengiriman yang sudah buka.


Hans menarik bucket bunga tersebut dan membaca kartu yang ada di dalamnya.


Aku tunggu di restoran jepang ' Sussi Delicious' saat jam makan siang


Hans menutup kembali kartu undangan itu. Dia, membiarkannya begitu saja meskipun rasa penasaran bergelayut dalam pikirannya.


"Ale, cepetan! Papa yang akan mengantarmu berangkat ke sekolah!" panggil Hans dengan melihat Ale yang menunggui Zoya memasak bubur ayam.


"Iya, sebental!" jawabnya masih dengan berteriak. Shanti yang melihat kehebohan di pagi hari itu hanya bisa menggelengkan kepala.


Sesaat kemudian saat Zoya menggeser makanan ke meja makan membuat Ale juga mengikutinya. Bubur ayam buatan Mama Zoya memang sudah sangat Ale rindukan. Hans yang tidak menyukai bubur ayam rasanya ingin protes saja. Tapi, masih ditahannya.


"Aku juga bikin sayur asam buat Mas Hans dan Mama." mangkuk terakhir yang dibawa Zoya membuat Mata Hans kembali berbinar.


"Aku kira kamu sudah melupakan suamimu!" gumam Hans yang masih terdengar jelas di telinganya Zoya.


"Papa ili ya?" celetuk Ale dengan cuek membuat Hans melotot ke arah Ale yang masih menikmati bubur ayamnya.


"Sabar... Ale sudah mulai lebih dewasa dari setahun yang lalu, lo!" sahut Mama Shanti dengan senyum mengejek.


Bersambung...


Kemarin ada yang minta sekuel wildan dan Nilla. Jadi untuk pemanasan aku masukin sedikit sedikit di RCZ 😄😄😄.

__ADS_1


Happy reeading ya gaes semoga sehat selalu...


__ADS_2