Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Menjemput Zoya


__ADS_3

Azdan subuh pun terdengar, Lelaki itu pun terbangun. Dia melihat dua perempuannya masih terlelap. Senyum tipis terbit di bibirnya. Tatkala, dia menatap putri gembulnya yang menindih tubuh mungil istrinya. Hans terheran, karena tidak biasanya Zoya bangun terlambat. Tapi, dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan menunaikan salat subuh terlebih dahulu. Dia pikir, itu karena semalam Zoya tidur terlalu larut.


"Zoy, bangun." Hans mengusap pipi cabi itu dengan tangan basahnya. Kelopak mata indah itu pun mengerjap, karena merasakan sentuhan tangan dingin suaminya.


"Mas Hans sudah salat? Kenapa tidak membangunkanku." tanya Zoya Masih bergelung selimut saat melihat Hans sudah mengenakan baju koko. Rasanya dia masih enggan bangun jika bukan karena waktu subuh yang sudah mepet.


"Aku melihat tidurmu nyenyak banget. " jawab Hans masih dengan menatap wajah ayu istrinya meskipun baru bangun tidur.


"Iya, semalam juga nggak bangun untuk solat malam." Zoya melirik jam yang ada di dinding. Gegas, dia langsung bangkit saat menyadari waktu subuh mulai habis.


"Aku, solat subuh dulu ya! " Dengan cekatan, Zoya menyibakkan selimut tebalnya dan menurunkan kakinya untuk melangkah.


"Zoy,..!" Hans menahan lengan Zoya.


" Muachh... " Hans memonyongkan bibir tipisnya, kelakuannya sempat membuat Zoya tercengang dan mengernyitkan dahi. Hans tergelak saat Zoya berlalu dengan menggidikkan bahunya.


"Astagfirullah, amit amit.... kesambet demit dari mana Mas Hans." gerutu Zoya sambil berjalan menuju musala yang ada di belakang. Bagi Zoya, itu terlihat aneh. Hans yang pertama kali terlihat jarang tersenyum hingga yang emosional kini mendadak segenit itu. Sungguh mengerikan, batinnya.


###


Hans keluar dari mobil. Dengan gaya coolnya dan kesan kharismatik yang selalu dia tinggalkan pada setiap orang yang menatapnya, dia berjalan masuk ke dalam kantor. Sidang pertama kasus pemerkosaan dan pembunuhan baru saja dilewatinya. Dia sebenarnya tidak menyukai kasus pidana. Tapi, dia merasa ada kejanggalan dari peristiwa itu yang membuatnya menerima kasus tersebut. Masa depan seorang mahasiswa KKN sedang dipertaruhkan.


Hans merasa heran. Kantor yang biasanya tenang kini menjadi sedikit gaduh. Tapi, dia tidak terlalu mempedulikan hal itu.


"Ada apa kantor jadi seheboh ini? " tanya Hans saat berdiri di dekat meja Diana.


"Ada cewek seksi yang mencari Bapak. Katanya mau bergabung di kantor kita. " jelas Diana dengan tampang sedikit merengut.


"Orang baru, Bos? " tanya Ryan menimpali.


"Cucok banget buat semangat di kantor. " lanjut Ryan dengan tersenyum keki. Sementara, Hans masih dengan gaya coolnya masuk ke dalam ruangannya.


"Duh, Bang Ryan ini kebangetan. Nambahin daftar saingan gua untuk dapetin seseorang. " sungut Diana ketika Hans sudah masuk ke dalam ruangannya. Diana sedikit kesal dengan berita ikut bergabungnya Kyara di kantor tempatnya bekerja.


"Loh... loh, siapa yang lagi lo incar, Di? Ntar , gua bantuin deh! " goda Ryan.

__ADS_1


"Ada deh, kalau Bang Ryan tahu malah dibantuin tambah runyam jadinya." jawab Diana membuat Ryan terkekeh. Gadis dengan pakaian blus bermotif floral itu pun kembali duduk dan memeriksa kembali data-data yang harus dia susun dan rapikan. Sementara, Ryan kembali ke ruangannya dengan senyum riang yang melekat di bibirnya.


"Selamat siang, Bang. Aku panggilnya Abang saja ya, biar nggak terkesan tua." sapa Kyara saat melihat Hans masuk ruangan dengan membawa beberapa arsip yang dia letakkan ke meja kerjanya terlebih dulu, sebelum dia berjalan menghampiri Kyara yang sudah duduk di sofa tamu.


"Sudah lama? " tanya Hans kemudian duduk di depan Kyara. Hans mengalihkan pandangannya, jika bukan karena sungkan dengan Pak Indrawan, dia pasti sudah memberi tahu deretan peraturan berpakaian untuk pegawai wanita di kantor ini.


"Aku cuma ingin menyerahkan lamaran dan kurikulum vitae. " ucap Kyara.


"Sebenarnya tidak perlu juga. Di sini kamu bukan karyawan, bisa dikatakan pengamat saja." jawab Hans dengan nada datar, meski begitu dia tetep menerima stap map yang di serahkan Kyara dan memeriksanya.


"Cukup berprestasi untuk akademik. " lirih Hans. Kyara memang termasuk pintar, tapi dia juga cukup liar untuk pergaulan.


"Baiklah, besok biar Diana yang menunjukkan ruangan dan menjelaskan job kamu. " ucap Hans yang ingin mengakhiri percakapan mereka.


" Ok, Thank you."


"Oh ya, sebaiknya kenalan dulu dengan Diana sebelum pulang. " pesan Hans saat perempuan itu berdiri dan akan melangkah keluar.


"Oke, bos ganteng. " celetuk Kyara dengan genitnya. Cewek dengan tinggi semampai itu berjalan keluar. Rambut panjang dengan model curly itu pun terayun seirama dengan lenggokkan tubuhnya saat meninggalkan ruangan Hans.


"Astaga, coba bukan anak Pak Indrawan. Pasti, nggak bakalan aku bolehin masuk kantorku. " gerutu hans kembali ke meja kerjanya. Dia ingin kembali memeriksa beberapa arsip dari kasus yang baru dia tangani. sore ini dia ingin menjemput zoya saat pulang dari tempat kursus.


###


Zoya berjalan keluar dari bangunan kecil tempatnya belajar memasak. Wajahnya terlihat sangat lesu. Sebenarnya dia sudah lapar karena dari siang dia belum makan.


"Zoy, kamu dijemput atau pulang sendiri? " tanya Rianty teman satu kelompoknya.


"Pulang sendiri, Mbak. Tapi, masih ingin duduk di sini dulu. " jawab Zoya memilih duduk di teras depan.


"Kalau begitu aku duluan ya. Takut keburu hujan. " jawab Ryanti, kemudian berlalu meninggalkan zoya yang tengah menyandarkan tubuhnya di sebuah bangku panjang.


Satu persatu teman temanya meninggalkan tempat itu. Saat dia sendiri akan beranjak, zoya melihat seorang penjual lotes(rujak) yang sedang mendorong gerobaknya. Langkahnya sedikit berlari untuk menghentikan abang penjual lotes.


"Mas, lotes. " ucapnya membuat si masnya pun berhenti.

__ADS_1


"Yang pedes, ya! " pinta Zoya tanpa mengingat dia belum makan siang.


"Baik, Mbak. " dengan mengapit tote bagnya, Zoya menunggui masnya membungkus lotes pesanannya.


Zoya berlari menenteng pastik yang berisi lotes . Dengan tidak sabar, dia segera membuka bungkusnya. Tubuhnya yang merasakan seperti panas dalam, membuatnya segar saat memakan potongan buah dengan sambal yang sangat pedas.


"Sudah makan siang belum? " suara bariton terdengar bersamaan dengan jari-jari besar yang menoel noel lembut pipi kenyalnya dari belakang, membuat Zoya terkaget hampir tersedak.


"Mas Hans... " lirihnya saat menoleh. Hans membingkai wajah ayu istrinya dan mencium puncak kepala Zoya. Kemudian, berjalan memutar untuk duduk di samping istrinya.


"Mau, Mas? " Zoya menawari Hans dengan menyodorkan lotes yang dia pegang.


"Nggak mau. Lagian gerimis gini makan lotes apa enaknya? " jawab Hans.


"Enak kok. Terus, ada apa mas Hans datang ke sini? " tanya Zoya masih dengan menikmati makanannya.


"Mau jemput tentor kursus kamu. " Mendengar jawaban Hans membuat Zoya menoleh ke arah suaminya.


"Ya, jemput kamulah sayaaaanggkuuuu. " jawab Hans dengan merengkuh dan mendekap istrinya ke dalam dalam dada bidangnya.


"Mas malu, kalau dilihat orang. " ucap Zoya berusaha menghentikan aksi suaminya.


"Mereka yang belum halal saja tidak malu. Kita yang dapat pahala masak malu? " sahut Hans menambah ciumannya di pipi cabi berkulit halus itu.


"Sebentar ya, aku mau menghabiskan ini dulu. " ijin Zoya. Dia benar-benar menikmati makanan pedas asam itu. Hans menatap Zoya dengan Heran. Meskipun ada rasa khawatir karena Zoya belum makan nasi malah makan pedas asam.


Hans melajukan mobilnya menembus jalan yang sedikit lenggang karena mendung. Di jalan, sepeda motor kini berkurang jumlahnya karena cuaca yang semakin gelap.


Di dalam mobil Zoya hanya terdiam, meski dia tahu Hans melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari rumah Mama Shanty.


"Aaakh.... " pekik Zoya , saat sebuah mobil Triton mendorong mobil sedan yang sedang ditumpanginya. Tapi, saat Hans meminggirkan mobilnya, bermaksud berhenti. Mobil tersebut malah meluncur dengan gesitnya tanpa meninggalkan jejak.


"Astaga, sial! " umpat Hans dengan geram.


"Sabar, Mas. "Zoya kembali menggenggam tangan Hans yang sedang tersulut emosi.

__ADS_1


Hans dibuat geram. Beberapa kali seseorang seperti sengaja ingin merusak mobilnya. Ini kedua kalinya. Bahkan, dia baru mengurus asuransi untuk perbaikan karena kerusakan pertama.


Bersambung.


__ADS_2