
Pagi ini semua terlihat sibuk dengan urusan masing masing, nanti siang setelah Dhuhur rencananya mereka akan pulang ke kota.
"Zoy, bajuku belum disetrika!" panggil Hans saat melihat sekelebat bayangan istrinya. Hans masih memanaskan mesin mobilnya sebelum melakukan perjalanan.
"Iya, sebentar!" Zoya masih sibuk dengan persiapan apa yang akan mereka bawa nantinya. Untung saja Ale sudah berangkat terlebih dahulu dengan Mama Shanti. Beliau sengaja meminta Ale untuk menemaninya dalam perjalan pulang.
Setelah membereskan semuanya, Zoya masuk ke dalam kamar membawa setrika. Hans menyusul Zoya ke kampung memang tanpa persiapan, dia hanya membawa baju yang biasa dia gantung di dalam mobil, oleh karena itu Zoya harus mencucinya agar Hans bisa berganti.
"Sayang... " panggil Hans saat masuk ke dalam kamar. Lelaki itu memilih duduk di tepi ranjang saat menunggui Zoya menyetrika kemeja dan celananya. Saat tidak mendengar lagi suara bariton itu meneruskan kalimatnya, hal itu membuat Zoya menoleh dan berjalan mendekati suaminya setelah menyelesaikan aktifitasnya.
"Ada apa, Mas?" tanya pemilik suara lembut itu.
"Aku menemukan ini di dalam tasmu. Aku memintamu meminum itu untuk sementara. Kenapa masih utuh?" ujar Hans yang sempat menemukan pil kontrasepsi yang pernah dia berikan kepada Zoya saat mereka pertama melakukan kembali hubungan suami istri. Tas yang terbuka dengan sedikit memperlihatkan isinya membuat lelaki itu memeriksa isinya.
"Hmmm, aku..." Zoya susah menjawabnya, karena takut Hans akan marah karena tidak mengikuti perkataannya.
"Aku ingin cepat hamil lagi, Mas." ujar Zoya dengan menundukkan kepala, dia merasa bersalah karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan suaminya.
"Sayang, bukan seperti itu. Aku memintamu untuk meminum pil kontrasepsi itu hanya untuk tiga bulan. Bersabarlah sebentar, aku tidak ingin mengambil resiko apapun. Kamu sendiri sudah mengerti dengar sendiri, kan apa kata dokter." ujar Hans dengan memeluk pinggang istrinya. Kemudian menjatuhkan ciumannya di perut datar itu.
"Mbak Zoya, Mas Hans, makan siangnya sudah siap." ketukan pintu dan suara zahra dari luar membuat keduanya meregangkan pelukan kemudian saling menatap untuk sesaat yang berujung dengan sama sama tersenyum karena hampir saja mereka lupa waktu.
"Iya sebentar, ini lagi packing baju!" bohong Zoya kemudian bergegas keluar kamar, sementara Hans masih mengenakan kemeja yang baru selesai Zoya setrika.
Setelah makan siang dan Salat Dhuhur mereka langsung berangkat ke kota. Zoya mengambil tangan keriput kasar ibunya kemudian menciumnya seolah ingin mengambil semua doa dan restu jika ada di sana.
"Hati-hati dan sabar ya, Nduk!" ujar Nurma saat memeluk putrinya.
"Kami pamit, bu!" ucap Hans pada ibu mertuanya.
"Oh ya Ra, Besok motormu datang. Jaga ibu baik-baik!" ucap Hans setelah Zahra salim.
__ADS_1
Nurma melepas kepergian anak menantunya. Mobil sedan itu pun menghilang dari halaman rumahnya. Hatinya begitu terenyuh, saat mengingat cerita Shanti tentang lika liku pernikahan mereka.
"Semoga kamu selalu kuat dan sabar, Nduk. Ibu akan mendoakan yang terbaik untukmu." gumamnya dalam hati sebelum kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
###
Nilla berjalan sedikit tergesa saat melihat sekelebat bayangan Wildan yang berjalan menuju parkiran khusus mobil dosen. Dia sudah tidak peduli dengan apa kata mahasiswa lainya saat dia menghampiri dosen idola di kampusnya.
"Assalamu'alaikum, Bang!" sapa Nilla yang sempat menghentikan Wildan membuka pintu mobilnya. Wajah gadis itu terlihat manyun membuat Wildan tersenyum menatapnya.
"Waalaikum salam, cantiknya Abang! " Mendengar jawaban Wildan seketika Nilla menelan ludahnya dengan kasar.
"Maksud Abang apa? Hubungan kita sudah berakhir, kenapa orang tua kita malah menentukan tanggal pernikahan kita dalam waktu dekat ini." protes Nilla baru mengetahui rencana itu setelah menelpon ayahnya.
"Lebih baik kita menikah saja dari pada kayak kucing dan anjing." jawaban Wildan malah membuat Nilla melototkan matanya ke arah lelaki ganteng dengan sorot mata teduh itu. Wildan hanya tersenyum menanggapi reaksi gadis yang sudah memang sudah dia yakini untuk menjadi pendampingan hidupnya.
"Aku nggak mau menikah!" Penolakan Nilla malah membuat Wildan tersenyum, dia sebenarnya sudah mengerti alasan penolakan Nilla. Tapi, semua itu memang butuh waktu.
"Kalau ngomong sama orang itu dilihat! Biar yang diajak bicara bisa melihat jeleknya bibir manyunmu itu." Nada suara yang penuh kesabaran itu membuat Nilla bertambah kesal.
"Aku tidak mau menikah!" ketus Nilla, dia tidak menjadi pelarian semata.
"Tapi, minggu depan kamu akan menjadi istriku. Kamu tidak bisa menolaknya, orang tua kita sudah sepakat." jelas Wildan, dia memang tidak ingin menunggu lama lagi.
"Ayo aku antar pulang! " ajak Wildan.
"Tidak sudi. " Nilla langsung berbalik meninggalkan lelaki yang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya. Dia juga sudah hafal jika Nila memang sedikit frontal dibandingkan Zoya. Zoya lagi, mungkin itu yang membuta Nilla idak menerima pernikahan itu karena sosok Zoya masih meninggalkan jejak dalam hubungan mereka.
"Menyebalkan! Kenapa dia jadi pemaksa?" gerutu Nilla dengan mengambil sepedanya. Hari ini ujian terkahir semester ini. Tapi sebelum menganyuh sepedanya, dia mencari ponselnya karena terdengar sebuah notifikasi pesan.
[Aku sudah memesankan makan siang untuk dikirim ke kosmu]
__ADS_1
Nilla menutup kembali pesan yang dikirim Wildan di ponselnya. Wildan memang selalu mengerti jika Nilla jarang makan siang karena alasan sedikit berhemat.
###
Masih sore, saat jam yang menggantung di dinding kamar mewah itu menunjukkan pukul empat sore. Baru saja Hans merebahkan tubuhnya yang terasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh itu. Kedua tangannya pun ditekuk untuk bantalan kepala. Pandangannya kini lurus menatap langit langit kamar. Sebenarnya sedari tadi sedang memikirkan banyak hal saat Zoya kuliah. Waktu yang terbatas, takut akan pengaruh pergaulan, dan dia sendiri sendiri berharap Zoya akan kembali hamil lagi, belum lagi jika kuliah saat Hamil. Otomatis itu sudah menjadi pertimbangan lelaki itu.
Setelah membereskan semua barang barangnya. Zoya pun masuk ke dalam kamar, dia memang melihat Hans yang sedang menatapnya berjalan hingga menggantungkan jilbabnya di sebuah gantungan.
"Ada apa, Mas? " tanya Zoya yang kemudian ikut merebahkan diri disebelah suaminya. Tanpa menjawab pertanyaannya istrinya ekor mata tajam itu mengikuti setiap gerak istrinya yang berakhir dengan berbaring menghadapnya.
"Itu sebentar lagi kamu kuliah, aku takutnya kamu ikut pergaulan yang tidak semestinya." Jawab Hans yang kemudian memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah istrinya.
"Mas Hans tidak percaya sama aku?" tanya Zoya dengan seulas senyum yang membuat lelaki di depannya selalu merasa adem.
"Bukan begitu, aku khawatir saja, pergaulan mahasiswa itu beda beda. Ada yang nggak bener, ada yang bener, ada yang kelihatan bener tapi tidak bener." Hans menggeser tubuhnya, mengikis jarak mereka hingga lengan besar itu memeluk tubuh mungil di hadapannya.
"Hi hi hi... bener, nggak bener. Aku jadinya bingung sendiri." goda Zoya dengan tertawa lirih, irish mata indah itu menatap bahagia pada wajah tampan di depannya.
"Kamu ini sekarang suka menggodaku, Sayang!" ujar Hans dengan mendekatkan wajahnya pada pipi menggemaskan istrinya. hembusan nafasnya pun menyapu seolah menggelitik kulit pori Zoya hingga membuat perempuan itu sedikit bergidik geli.
"Nanti keterusan!" Zoya menahan bahu bidang yang semakin menempel di tubuhnya.
"Kenapa? Bukankah ini ibadah yang paling nikmat, kan?" seringai licik tersemat di sudut bibir tipis Hans.
"Mas Hans kan capek, lebih baik istirahat saja." elak Zoya, dia sudah mengerti jika suaminya akan melakukannya.
"Saat melihatmu, mana ada istilah capek. Apalagi yang di bawah, selalu tergoda saat bersentuhan dengan ini." Jari-jari itu sudah bergerilya dan menemukan mangsa yang sudah dia rindukan. Sudah hampir dua minggu mereka memang tidak melakukannya.
"Tok ... tok... tok ... Maaf, Pak Hans ada tamu." Suara ketukan pintu dan panggilan Bi Muna Menghentikan aktifitas yang baru saja akan mereka mulai.
Zoya selalu tersenyum saat suaminya gagal dengan niatnya, melihat tampang kesal di wajah ganteng itu memberi kesan lucu untuk perempuan yang saat ini ingin memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
Bersambung.....