Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Klien Mantan Pacar


__ADS_3

Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi dan berkulit halus kini berjalan dengan anggun masuk ke dalam kantor milik Hans. Hari ini, dia memang sudah mengatur janji pada pengacara ternama itu untuk berkonsultasi tentang pengajuan gugatan cerai yang akan dilayangkan kepada suaminya.


Diana menatap tamu yang akan menemui atasannya itu. Keren, mungkin kata itu yang akan diberikan pada wanita yang kini berdiri di depannya jika diwajibkan untuk memberi komentar.


"Hansnya ada, kan?" tanya wanita itu dengan membuka kaca mata hitam.


"Ada, saya akan memberi tahu Pak Hans,sekarang. "


"Jangan!" cegah wanita secepatnya


"Biar aku masuk sendiri saja!" lanjutnya, kemudian berjalan ke pintu ruangan Hans yang hanya berjarak dua meteran saja dari meja Diana, asisten Hans. Jari lentiknya itu membuka pintu ruangan orang nomer satu di kantor itu.


"Selamat siang, dengan Bapak Hans Satrya Jagad!" ucap Naura menggoda, masih dengan senyum yang tersungging di bibir.


"Ohhh , Nolla. Silahkan Masuk! " ucap Hans, kemudian beranjak dari meja kerjanya menyambut dan mempersilahkan Naura duduk di sofa.


"Apa kabar, Hans? " ucap Naura, wanita yang di panggil Hans dengan sebutan akrab Nolla.


"Baik, silahkan duduk! " jawab Hans dengan mempersilahkan Naura duduk.


"Bagaimana, kenapa harus ada kasus seperti ini?" tanya Hans yang sudah mendapatkan informasi dari Diana tentang kasus perceraian Naura. Senyum Naura pun langsung menyurut, wajah cantik itu kini berganti dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Aku sudah tidak tahan menjalani pernikahanku, Hans." suaranya terdengar lirih, terlihat matanya sudah berkaca kaca, wajah cantik Naura berlahan berubah menjadi sendu.


"Seharusnya, aku tidak menikah dengannya!" lanjutnya dengan menatap nanar lelaki di depannya. Lelaki yang pernah dia tinggalkan dulu, saat mereka harus terpisahkan karena melanjutkan kuliah di negara yang berbeda.


Naura adalah cinta pertama Hans sebelum bertemu dengan Renita. Nauralah yang merubah Hans menjadi sosok dingin dan kaku.


Pernah kecewa dengan keputusan Naura, Hans menutup diri dari kisah percintaan hingga bertahun tahun, kemudian datanglah Renita yang datang dengan segala pesona dan ketelatenannya mendekati Hans. Wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu memang berhasil menutup luka masa lalu Hans, tapi tidak untuk mengembalikan sikap humble Hans.


"Jangan menangis lagi, Nolla! " ucap Hans masih dengan panggilan sayangnya saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.


"Drt... drt... drt...! " ponsel Hans menyela situasi diantara mereka. Lelaki itu kemudian beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerja.

__ADS_1


"Iya, Zoy. "


"Assalamualaikum, Mas. Ale Panasnya tambah tinggi, saat ini aku membawanya ke rumah sakit Harapan Keluarga. "


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang! "


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam,. " Hans menutup telponnya dengan tergesa-gesa.


"Nolla... kita lanjut pertemuan kita lain waktu, ya? Putriku saat ini di rumah sakit." ucap Hans dengan membereskan beberapa kertas di mejanya dengan terburu buru.


"Bolehkah aku ikut Hans? " tanya Naura dengan berdiri dari duduknya.


"Boleh, ayo cepat kalau begitu! " Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan dengan terburu buru menuju mobil Hans. Sementara, Naura sengaja meninggalkan mobilnya di kantor Hans.


Langkah kaki panjang milik lelaki bertubuh tinggi tegap itu menelusuri koridor rumah sakit. Naura yang mengikuti Hans pun sedikit kewalahan karena sepatu highhellsnya.


"Bagaimana, Zoy? " tanya Hans saat membuka pintu ruangan VIP itu. Terlihat Ale sudah tertidur karena pengaruh obat.


"Mas, aku akan pulang sebentar mengambil barang yang dibutuhkan Ale, mumpung Ale masih tertidur. " ucap Zoya yang tidak persiapan apapun saat membawa Ale ke rumah sakit.


"Baiklah, nanti ke sini minta diantar supir saja." titah Hans.


"Iya, Mas! " jawab Zoya dengan mengambil punggung tangan Hans, kemudian menganggukkan kepala dan tersenyum saat melewati Naura.


###


"Nil...! " panggil Wildan saat melihat Nila yang berjalan melewati perpustakaan. Lelaki yang baru saja selesai memberikan materi kuliah kelas Filsafat Dakwah itu pun mengejar Nila.


"Iya, Pak. " jawab Nilla, mereka memang sepakat selama di kampus akan memanggil Wildan dengan sebutan Pak Dosen, kalau di luar kampus akan memanggil Abang.


"Bagaimana kabar, Zoya? " tanya Wildan tanpa basa basi.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi, ada hubungan apa Pak Wildan dengan Zoya?" Dari kemarin Nilla memang sudah penasaran dengan hubungan mereka. Tatapan Wildan memang terlihat berbeda saat melihat Zoya.


"Sudah lama aku mencintainya, Nil! " Kejujuran itu meluncur begitu saja. Lelaki itu sudah tidak mampu menyimpan sendiri perasaan yang sudah terpendam sekian lama.


"Astagfirullah.... ingat,Bang! Dia itu sudah menikah. " Nilla terlonjak kaget dengan pengakuan yang diberikan Wildan.


"Aku tahu itu, Nil. Tapi saat aku melihat suaminya memperlakukan Zoya kasar, aku seolah tidak terima. Kamu juga melihatnya, kan? Zoya seperti tertekan saat suaminya menarik lengannya begitu saja. " Nila terdiam. Dia memang melihat sosok suami Zoya adalah pria yang sedikit arogan. Nila mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku besi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ada rasa kasihan, seandainya memang benar Zoya mendapat suami yang tidak tepat.


"Nil...! " suara Wildan menyadarkan Nilla dari lamunan.


"Aku tidak tahu, Pak! " jawab Nilla masih memikirkan Zoya. Dia benar benar tidak tahu kondisi sebenarnya Zoya.


"Apa dia tidak pernah cerita ke kamu? " desak Wildan yang ingin tau keadaan Zoya yang sebenarnya.


"Tidak pernah, dia tidak pernah menceritakan banyak hal tentang perasaan yang sebenarnya. " jawab Nilla.


"Tapi, jika ada kesempatan aku akan mencoba mencari tahu keadaan Zoya yang sebenarnya. Bagaimana pun itu masalah rumah tangga dan aku hanya orang luar. " ujar Nila. Dia juga nggak bakal terima jika Zoya diperlakukan sangat buruk. Bagi Nilla, Zoya sosok perempuan berhati lembut, sedikit pun Zoya tidak ingin menyakiti orang lain.


###


Dengan berjalan tergesa-gesa, Zoya kembali ke rumah sakit dengan menenteng sebuah tas berisi pakaian Ale dan bubur yang sempat dia buat dari rumah. Dari tadi, Ale meminta bubur ayam seperti yang sering Zoya buatkan untuk sarapan.


Zoya menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu ruangan Ale yang sedikit terbuka. Dia sengaja mengamati sejenak, wanita cantik itu sedang menyuapi Ale dengan telaten. Bisa terdengar candaan mereka bertiga yang terlihat bahagia layaknya keluar kecil yang bahagia.


Berlahan dia memundurkan langkahnya, Zoya memilih berjalan mencari tempat duduk di taman yang ada di diantara jajaran ruang rawat inap.


Sebelum mendudukan bobotnya di kursi panjang yang terbuat dari besi, Zoya meletakkan barang bawaannya di atas rerumputan, kecuali rantang makanan yang yang berisi bubur pesanan Ale. Zoya memilih meletakkan di sampingnya.


Tatapannya menerawang menatap pengunjung dan petugas medis yang sedang hilir mudik. Entah, kenapa dia merasa kehadirannya saat ini tersisihkan. Apalagi Ale sepertinya merasa nyaman dengan wanita yang datang bersama suaminya itu.


Dipejamkan matanya yang sudah memanas, dia tidak ingin air matanya menetes. Ada rasa sedih yang menyelinap saat melihat pemandangan yang terlihat harmonis itu.


"Kenapa harus bersedih, Zoya? Seharusnya kamu sudah menyiapkan perasaanmu. " Zoya bermonolog dengan hatinya sendiri. Hari menjelang sore, Zoya masih bertahan dan terdiam di taman rumah sakit.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan Nyonya Hans Satrya Jagad? " suara bariton itu membuat gadis mungil itu menoleh.


Bersambung......


__ADS_2