
Wildan mengejar Nilla saat gadis itu keluar dari kelas. Nilla sebenarnya sudah merasa jengah saat Pak Dosen ganteng itu terus terusan menanyakan Zoya. Zoya.. Zoya... dan zoya, padahal Nilla sendiri akhir-akhir ini disibukkan mencari kos yang nyaman.Dan itu pun baru dia dapatkan. Sejak, dia mencari kerja sambilan, Nilla memilih untuk nge kos saja. Gadis itu bermaksut mencari kerja part time agar tidak terlalu memberatkan bapaknya membiayai pendidikannya.
"Nil... " suara bariton itu memaksa Nilla harus berhenti melangkah.
"Apalagi, Pak Dosen? Aku tidak punya banyak waktu jika membahas Zoya yang aku sendiri belum tahu kabarnya. " Mendengar kalimat Nilla yang langsung to the point membuat Wildan terkekeh.
"Jangan galak-galak kenapa? Entar jadi perawan tua, lo! " goda Wildan.
"Ohhh ceritanya nyumpahin? " Nilla sudah mulai kesal
"Bukan-bukan nyumpahin. " Wildan langsung meralat kalimatnya saat melihat wajah ketus mahasiswanya itu.
"Kamu kenapa, tiba tiba sewot itu? " Wildan mulai peka dengan mood Nilla yang cukup buruk.
"Aku sedang sibuk. Mau beres beres kamar kos baru. " jawab Nila.
"Loh, kamu nggak di pondok? Bapak kamu ngerti? " Wildan terkejut, saat Nilla mengatakan sudah pindah Kos.
"Bapak udah tahu. Sepertinya bapak sudah mulai percaya padaku. Aku juga butuh tambahan uang saku, semester depan sudah mulai banyak praktek. Kalau di pondok nggak enak jika keluar terus." jawab Nilla.
"Makanya jangan ditanyain tentang Zoya terus!" lanjut Nilla, bukan tidak mau memberikan informasi, tapi Nilla juga belum mengetahui kabar terbaru Zoya.
"Aku traktir makan siang mau? " tawar Wildan, lelaki ganteng dengan raut wajah kalem itu mulai membujuk gadis yang dari tadi terlihat sewot.
"Maulah, untuk pengiritan. " jawab Nilla mulai tersenyum mendengar kata traktiran.
Nilla berjalan terlebih dahulu mencari kendaraan umum untuk sampai di kafe yang telah ditentukan Wildan. Tidak hanya ingin mentraktir Nilla saja, Wildan juga akan menawarkan Nila untuk menjadi guru privat mengaji. Ya, kemarin salah satu temannya mencari guru ngaji untuk anaknya. Selain bisa mengaji, guru itu juga bisa mengajarkan ilmu tajwidnya juga.
###
Hari kedua Hans berada di rumah Mama Shanti. Lelaki itu sedang termenung di musalla setelah menunaikan sholat isya. Hans masih mengenakan baju koko dan sarung, wajahnya terlihat lesu sejak tragedi malam itu. Mungkin saja penyesalannya atau juga karena dia merasa jauh dari orang orang yang dia sayangi.
Dari ruang makan, Mama Shanti memperhatikan putra kesayangannya. Dua hari di rumahnya, Shanti melihat Hans menunaikan salat. Sungguh, hatinya sangat terenyuh. Ini yang dia harapkan selama ini. Putranya kewajiban untuk mengingat Sangat Pencipta.
Setelah memperhatikan Hans, Shanti melirik Zoya yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Terlihat Zoya mencuri pandang ke arah musalla. Ntah, apa yang dipikirkan menantunya, Wanita paruh baya itu tidak bisa menebak. Tidak bisa disalahkan, jika Zoya masih mendiamkan suaminya. Lagi pula, Shanti juga yang meminta Zoya memberi pelajaran pada putranya.
__ADS_1
"Mama, Kapan kita makan malamnya? Ale sudah lapal." ale tiba tiba berdiri di sampingnya dan menarik narik gamis Zoya.
"Ini baru Mama siapkan. Ale panggil Papa di musalla untuk makan malam, ya! " ucap Zoya. Ale segera berlari ke belakang rumah untuk mencari papanya yang masih duduk di teras musholla.
"Zoy, bikinkan Mama sambal matah, ya! " pinta Shanti saat melihat Zoya menggeser menu makan malam dari pantry ke meja makan.
"Iya, Ma." ucap Zoya. Langkahnya terhenti saat langkahnya terhadang tubuh tinggi yang menggandeng ale dari musholla.
Hans menatapnya penuh harap. Berharap Zoya mau menyapanya. Tapi, dia harus kembali bersabar, saat Zoya menggeser langkahnya dan kembali berjalan menuju pantry.
"Papa, ayo cepat! " Ale manarik lengan papanya menuju meja makan.
Setelah menyelesaikan semua, Zoya kembali ke meja makan. Semua sudah berada di sana.
"Ale beneran mau makan sendiri? " tanya Zoya saat mengisi piring Ale.
Hans menatapnya, biasanya Zoya mendahulukannya. Tapi, dia sadar jika istrinya memang sudah tidak ingin melayaninya lagi.
"Sabar, Hans. Waktunya untuk belajar mencintai yang tulus. " Hans bermonolog dalam hatinya. Dia mulai mengisi piringnya sendiri. Mungkin, tidak mudah bagi Zoya memaafkan kesalahannya.
Semuanya terlihat tenang. Si gembul pun terdiam karena menikmati makanannya. Dari tadi Hans melirik makanan istrinya, Zoya terlihat tidak berselera.
Zoya menatap Hans. sedangkan, suaminya hanya tersenyum. Zoya sangat merasa bersalah. Seharusnya dia yang melayani suaminya, tapi sekarang dia seperti mengabaikan suaminya. "Istri macam apa aku, Ya Allah? " gumamnya dalam hati.
"Zoy, besok mulai kursus memasak, kan? " tanya Shanti, ketika melihat wajah ayu itu tertunduk.
"Iya, Ma." jawab Zoya.
"Sekarang yang jemput Ale biar Mama! " jelas Shanti. Beliau sengaja mencarikan kesibukan untuk Zoya.
"Oh ya, pulangnya mampir ke swalayan belikan Mama bahan roti. "
"Iya, Ma. Zoya juga mau nyari buku di bazar buku yang dekat swalayan itu. " jawab Zoya.
Setelah berganti pakaian dengan kaos rumahan, Hans menghampiri Ale yang sedang bermain di depan TV ditemani Zoya. Tapi, kehadiran Hans membuat Zoya beranjak pergi ke kamar.
__ADS_1
"Loh, Mama mau kemana? Ale ikut! " teriak Ale dengan menarik tangan Hans agar mengikutinya juga.
Bocah itu masuk ke kamar dan langsung naik ke atas tempat tidur, saat melihat Zoya sudah berbaring di sana.
"Mama, ayo celitakan tentang sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq." pinta Ale.
"Papa, ayo ke sini? " Ale menarik lengan Hans agar berbaring di sebelahnya. Hans nampak ragu-ragu, tapi melihat Zoya tidak merespon dia akhirnya menikmati rebahan sambil mendengarkan Zoya bercerita tentang Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Hans tidak pernah bosan memperhatikan wajah cantik di depannya, dia juga mendengarkan apa yang diceritakan Zoya tentang sosok teladan yang pemberani dan selalu bersikap adil itu.
"Berarti Syayidah Aisyah seperti ayahnya? " tanya Hans, diakhir cerita Zoya.
"Iya, Syayidah Aisyah mewarisi sifat sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang taat kepada membela agama dan Rasulnya. " jawab Zoya, tapi mata indah itu hanya menatap Ale.
"Jadi besok Ale harus jadi seorang muslimah yang taat, ya! Ale juga harus cerdas seperti Syayidah Aisyah agar bisa menjaga diri sendiri. " sindir Zoya, Hans hanya terdiam. Dia sudah berjanji apapun yang dilakukan Zoya dia akan menerimanya.
"Iya, Ma. Ale halus lajin belajal bial pintal kayak Syiyidah Aisyah. " balas Ale.
"Sekarang Ale membaca doa mau tidur. Besok harus berangkat sekolah. " ucap Zoya dengan mengusap usap lembut pantat gembul itu.
Hans masih menikmati wajah yang sudah dia rindukan. Ale memberi kesempatan kepadanya untuk bisa menikmati pahatan indah Sang Pencipta. Hanya beberapa menit, Ale sudah tertidur pulas begitupun Zoya yang tadinya pura pura tidur pun juga ikut tertidur.
"Zoya Kamila, seharusnya dari kemarin aku sadar jika dirimu sudah menjadi milikku. Karena keangkuhan dan keserakahanku yang ingin memilikimu seutuhnya. kini hanya membuatmu menjauh dariku. Seharusnya, aku belajar mencintaimu dengan tulus bukan mengedepankan egoku. " Hans beranjak dari tempat tidur itu. Dia menyelimuti kedua perempuan yang saling meringkuk sebelum keluar dari kamar lamanya.
"Hans." panggil Mama Shanti saat melihat Hans keluar dari kamarnya.
"Iya, Ma. " jawab Hans kemudian berjalan menghampiri mamanya yang duduk di sofa.
"Apa rencanamu selanjutnya? "tanya Mama Shanti.
" Hans tidak punya rencana apa apa. Hans hanya ingin Zoya memaafkanku. " ucap Hans dengan lesu.
"Tiga hari kemarin kamu di mana? Mama sempat datang ke rumahmu tapi kata Bi muna kamu nggak pernah tidur di rumah. "
"Hans tidur di apartemen. " jawab Hans kemudian menyandarkan punggungnya di badan sofa. Dia menghela nafas panjang seolah lelah dengan hukuman ini.
__ADS_1
"Brrraaangghh... " Hans berjingkat kaget, saat terdengar suara barang pecah. Lelaki itu lari tunggang langgang menuju kamar lamanya yang menjadi sumber suara tersebut.
Bersambung.....