
Jangan ragu untuk berharap pada Tuhanmu karena percayalah hanya Dia yang paling berkuasa atas semesta dan isinya.
Zoya masih berdiri di tepi balkon menunggu Hans pulang dari kantor. Pikirannya menerawang, mengulas kejadian tadi siang. Benarkah dia melakukan pembelian mobil seharga 2,1 Milyar? Memang bukan kerja kerasnya, tapi dia terlibat dalam transaksi tersebut. Belum lagi, keinginan yang sempat dia kubur dalam-dalam yaitu untuk kuliah. Hari ini, dia sudah mendaftar kuliah di fakultas Psikologi. Allah, sudah mengabulkan apa yang pernah dia cita-citakan, meski dengan cara dia harus menikah terlebih dahulu.
Mata indah itu melelehkan butiran kristal dari kedua sudutnya. Bukan tangisan sedih, tapi sebuah rasa haru jika banyak yang harus dia syukuri dalam hidup ini.
Kilasan kilasan masa sulit yang pernah dia lalui sepeninggalan ayahnya. Dia saksi, dimana ibunya bekerja sangat keras mencari sesuap nasi dan memenuhi segala kebutuhan keluarga mesti dengan tertatih tatih. Wanita paruh baya yang sudah berjanji akan menghabiskan sisa umurnya tanpa menikah lagi itu dengan mati matian menghidupi kedua putrinya.
"Zoy, Kenapa masih berdiri di sana!" Lelaki yang datang dengan kaos pass body itu berjalan menghampiri istrinya yang saat ini menunggu kedatangannya.
Hans melempar senyumnya saat melihat seulas senyum yang selalu dia damba itu menyambutnya.
"Aku menunggu, Mas Hans." jawab Zoya.
Hans mendekat menyambut uluran tangan istrinya untuk salim, kemudian membubuhkan ciumannya ke puncak kepala sang istri.
"Ayo kita masuk!" ajak Hans. Zoya terdiam, menatap sosok yang menghentikan langkahnya. Lelaki yang terlihat matang dengan pembawaannya itu sudah memberikan banyak hal. Matanya tak henti untuk menatapnya.
"Ada apa?" Hans membalikkan tubuh dengan menautkan kedua alisnya. Lelaki dengan aura kharismatiknya itu terheran, melihat air mata istrinya yang sudah membasahi pipi yang selalu dia hujami dengan ciuman.
"Zoy... " Wajah gantengnya mendadak terlihat serius. Dia tidak mengerti apa yang membuat Zoya menangis.
"Mas, Hans." Zoya menubruk tubuh atletis di depannya. Dipeluknya tubuh yang masih lengket karena bekas keringat.
"Ada apa?" tanyanya dengan lembut mengelus rambut panjang Zoya. Dibiarkan air mata istrinya membasahi kaosnya hingga menyentuh kulit dadanya.
"Ada apa, Zoy?" ulangnya.Tangannya kini memeluk tubuh mungil yang mendekap dadanya. Perasaan bingung kini memenuhi hatinya.
"Maafkan aku jika aku sudah salah padamu!" lanjutnya lagi, dia berusaha meregangkan pelukan istrinya.
Lamat-lamat ditatapnya mata indah yang dipenuhi dengan cairan bening. Diusapnya, hingga dia bisa melihat lagi binar di dalamnya.
"Terima kasih, Mas."
"Terima kasih sudah menjadikan aku seperti cinderlela. Terima kasih mau menerimaku, meskipun aku bukan perempuan yang tepat untuk Mas Hans...." Isak tangisnya menghentikan kalimatnya. Dia tak mampu lagi meneruskan apa yang ingin dia katakan.
Hans kembali memeluk kembali istrinya. Matanya pun ikut berkaca kaca kala dia mengingat awal pernikahannya. Gadis remaja yang datang dalam kehidupannya dengan rasa patah hati yang harus dia pendam sendiri. Gadis yang belum bisa dia terima keberadaannya, meskipun begitu dia tetap memberi banyak cinta untuk keluarganya terutama putrinya.
Hans mengusap sudut matanya yang berair. Dia kembali meregangkan pelukannya dan tersenyum pada istrinya. "Dasar cengeng! Sedikit sedikit nangis. Mirip Ale saja." ujarnya dengan membingkai wajah ayu di depannya. Tangannya kembali mengusap lelehan air mata istrinya.
"Aku hanya teringat masa sulitku bersama Ibu dan Zahra, Mas. Aku yang dulu ingin kuliah hanya bisa menatap kosong harapan itu. Tapi saat ini Mas Hans mengabulkan keinginanku selama ini." Zoya menyandarkan kepalanya di dada bidang Hans.
"Seharusnya kamu sudah sadar dari dulu jika aku memang jelmaan pangeran."
"Iya, kan?" Hans mengedipkan sebelah matanya dengan genit, membuat Zoya memukul pelan dada bidang itu. Tapi, bibir mungilnya tersenyum seolah menggambarkan rasa bahagianya saat ini.
Hans mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Mas Hans, pulang kerja kenapa pakai kaos?" tanya Zoya saat berada dalam gendongan lelaki yang membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Tadi aku diajak Ryan nge gym. Jadinya ya bau gini." Setelah menurunkan istrinya dia mengangkat ketiaknya ke wajah Zoya, sengaja memamerkan aroma keringatnya. Hingga Zoya menjepit hidungnya dengan dua jarinya.
"Banyak cewek seksi, ya?" pertanyaan Zoya membuat Hans menoleh, kemudian kembali tersenyum. Senyum yang menurut Zoya sangat menyebalkan.
"Banyak banget, bodinya semua seksi." Mendengar kalimat Hans membuat Zoya tertegun menatapnya.
"Tapi tidak ada yang lebih seksi dari ini." ucapnya, tangannya meremas gemas dada istrinya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya Allah..." Zoya hanya bergumam mendengar perlakuan nakal suaminya. Hans memang sangat berbeda, pernikahan keduanya dengan orang yang berbeda memang membawa banyak perubahan dalam hidupnya.
Zoya masih duduk di sofa kala suaminya masih berdiri di depan meja rias dengan menggosok rambut basahnya. Sebuah notifikasi di layar ponsel milik Hans yang tergeletak di dekatnya telah menarik perhatian Zoya untuk membukanya. Tapi, dilihatnya sekali lagi suaminya karena dia ragu jika Hans akan marah.
"Buka saja, sandinya masih sama Zohans." ucap Hans kala melihat Zoya dengan menatapnya dari cermin.
[Kapan kita ke sana lagi? Aku penasaran dengan ini cewek]
"Astagfirullah...!" Zoya terkaget, dia tidak menyangka akan melihat foto perempuan seksi di dalam pesan itu.
"Jadi yang Mas Hans lakukan seperti ini?" Zoya membawa ponselnya berjalan mendekati suaminya yang masih menyisir rambutnya di depan cermin.
Hans pun mengambil ponselnya dari tangan Zoya, dia begitu penasaran apa isinya hingga membuat wajah istrinya memerah menahan emosi.
"Duch, Ryan! " gerutu lirih Hans.
Zoya sudah tidak peduli dengan lelaki yang saat ini masih memperhatikan wajahnya. Mencari kerutan yang belum juga dia temukan.
"Zoy, mau kemana?" tanya Hans saat menyadari Zoya membawa bantal berjalan keluar kamar.
"Aku akan tidur bersama Ale, Mas."
"Terus aku bagaimana, Zoy? Siapa yang akan menemaniku?" protes Hans yang sudah tidak digubris lagi oleh istrinya.
Wajah segar itu langsung terlihat lungset bersamaan dengan bahu bidang yang meluruh. Semua gara gara Ryan, kali ini bujang lapuk itu berhasil membuat apes temannya ini.
###
"Hari ini aku akan mencari kado buat Nilla, Mas!" ujar Zoya ketika mengantar Hans sampai di garasi. Kalimat pertama yang terlontar sejak kericuhan semalam.
"Kamu naik apa?" tanya Hans mengurungkan niatnya untuk masuk mobil. Mobil baru mereka baru akan di kirim dari Showroom besok.
"Aku akan naik taxi." jawab Zoya kemudian mencium punggung suaminya. Tapi saat Hans akan mencium keningnya Zoya menghindar.
"Menolak suami dosa, lo." Hans langsung menarik Zoya dan mengunci tubuhnya sembari memberikan ciuman di bibir mungil istrinya. Hans memang selalu mendominasi situasi.
"Hati hati dijalan, Jangan pulang malam!"
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." ucap Hans sambil tersenyum melihat wajah cemberut istrinya.
"Waasalaikum salam." lirih Zoya masih dengan kesal. Tatapannya mengiringi mobil CR-V putih itu hingga menghilang dari halaman rumah mewah bernuansa putih.
###
Zoya memilih mencari sebuah perhiasan sebagai hadiah pernikahan Nilla. Kali ini, dia pergi tanpa Ale karena Mama Shanti mengajak cucunya itu pergi Arisan bersama teman socialitanya.
Perempuan yang mengenakan drees panjang dengan potongan overal itu berjalan memasuki sebuah toko perhiasan di dalam mall.
Matanya masih mencari sebuah kalung liontin yang cocok untuk Nilla yang punya selera simple.
Sepasang mata mengawasinya sedari tadi, lelaki itu masih duduk dari kejauhan dengan sebuah boneka yang baru saja dia beli.
Dengan lensa yang terus membidik perempuan pujaan yang terlihat cantik dengan jilbab berwarna mint, Rey tidak ada hentinya mengagumi Zoya. Hingga dia menyewa mata mata untuk mengetahui kemana Zoya keluar rumah.
Tak sabar menunggu hingga setengah jam lebih, akhirnya Rey berjalan masuk menuju toko perhiasan untuk menghampiri Zoya.
"Assalamu'alaikum, Zoy!" sapa Rey, saat berada di dekat Zoya.
"Waalaikum salam, Bang."
"Kebetulan ketemu di sini, Zoy. Oh ya, bisa pinjam jarimu untuk ukuran cincin?" pinta Rey membuat Zoya merasa sedikit aneh.
"Cincin untuk mamiku, kira kira ukurannya sama dengan jari manismu." jelas Rey membuat Zoya tersenyum lega.
"Boleh! " jawab Zoya.
" Mbak, cincin berlian yang itu!" Rey menunjuk satu cincin berlian yang di desain elegant.
"Maaf, biar aku cobanya sendiri." tolak Zoya saat Rey akan mencoba mengenakan cincin itu di jari manis Zoya.
"It's Ok." jawab Rey dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian tersenyum, dia melihat cincin pilihannya itu memang terlihat cantik di jari manis Zoya. Ah, seandainya saja. Hal itu yang terus berada di otak Reynaldy.
"Ok thank, ya! Oh iya, titip ini buat Ale." Rey menyerahkan sebuah boneka pada Zoya.
"Kebetulan, aku melihatnya sangat lucu! " lanjut Rey. Matanya tidak luput dari wajah ayu yang meneduhkan itu.
"Terima kasih, Bang."
"Aku duluan, Zoy." Lelaki itu pun meninggalkan Zoya. Dalam hatinya dia tersenyum bahagia. Hans yang begitu teliti pasti akan menanyakan dari mana boneka itu, sedangkan Zoya yang tak mampu berbohong akan menjawab jujur.
"Ini baru awal perjuanganku, Zoy! " gumam Rey mengiringi langkahnya menjauh dari toko perhiasan tersebut.
Bersambung...
Hehehe aku senyum dulu deh. Awalnya mau nggak Up, tapi ternyata masih ada yang nunggu... hehehhee gabut ngetik deh.... Sedih ya jika mau berpisah dengan Zohas.... ðŸ˜
__ADS_1