
"Karena itulah aku tidak suka perempuan yang ambisius dalam karir." ucap Rey yang sempat membuat Kyara tercengang. Rey bercerita tentang latar belakang keluarganya yang masih berpengaruh padanya hingga saat ini.
Sejak kecil, hanya untuk bertemu mama dan papanya saja, Rey bisa menghitungnya dengan jari. Hingga akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk berpisah demi mengejar karir mereka masing masing.
Kyara bisa mengerti jika Rey sangat menginginkan sosok keibuan yang pandai mengurus rumah. Broken home menyisakan luka yang dalam bagi lelaki yang sangat pandai menutupi rasa sakitnya itu.
"Saat pertama kali aku melihat Zoya, dia begitu menyayangi Ale. Aku melihat ketulusan itu. Dia tahu bagaimana mendidik anak kecil. Dia juga sederhana dan tidak neko-neko."
"Jadi saat banyak rumor dan skandal tentang Bang Hans rasanya aku tidak terima. Aku ingin membawa Zoya pergi saja. Zoya berhak untuk bahagia." Rey terus saja bercerita seolah ini terlahir dia bertemu dengan Kyara.
"Bang Rey, salah. Bang Hans tidak seperti itu, dia sangat menyayangi Zoya dan keluarganya. Begitu pun Zoya, dia sudah bahagia di tempat yang tepat." jelas Kyara.
"Aku sangat mengenal mereka." lanjut Kyara membuat Rey tersenyum.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Rey, Kyara bisa menyimpulkan jika Rey mengalami trauma bukan cinta, bukan pula sebuah obsesi.
Lelaki yang sudah menyiapkan dua koper untuk keberangkatannya ke Jerman pun masih begitu berat meninggalkan Indonesia.
"Aku yakin Abang akan bertemu perempuan yang tepat untukmu, Bang." Kyara masih mensupport lelaki yang saat ini tersenyum padanya.
"Seperti kamu?" sela Rey membuat kyara terhenyak kaget. Gadis itu hanya mematung, ini pertama kalinya sosok Kyara tak bisa berkutik. Dan itu malah membuat Rey terkekeh dan mengusap kepala yang terbungkus jilbab itu.
"Tunggu aku dua tahun jika kamu bersedia! Aku akan meyakinkan perasaanku terlebih dahulu, Ra." Rey masih tersenyum menatap wajah gugup Kyara.
Lelaki itu sudah tahu perasaan gadis itu, kala dia mencari Kyara yang tidak kunjung datang ke apartemennya. Di rumah keluarga Indrawan bukanya menemukan Kyara malah bertemu pengacara senior yang ternyata tak kalah konyolnya dari pelawak.
Saat bertemu Rey, Pak Indrawan bisa langsung mengenali lelaki yang sudah membuat putrinya jatuh cinta. Dan sosok Papa yang begitu menyayangi putrinya itu pun bercerita banyak tentang perasaan Kyara.
"Ra, ini untukmu! Sering sering kirimi aku fotomu!" Rey menyerahkan Sebuah kamera digital kepada Kyara.
"Maaf, aku juga sudah membawa kotak ajaibmu!" ledek Rey membuat Kyara terkaget dan menatap sosok di depannya penuh dengan penuh selidik.
"Apa? Kembalikan, Bang!" pinta Kyara tapi kotak itu memang sudah masuk ke dalam kopernya.
Kotak ajaib, adalah kotak pribadi milik Kyara. Sejak mamanya meninggalkan, Kyara sering bercerita di kotak ajaib itu. Hingga diam-diam Pak Indrawan selalu memantau perasaan putrinya dari kotak itu.
Setelah sekian lama kotak itu menganggur hingga akhir akhir ini terisi kembali. Pak Indrawan tidak pernah absen untuk memantaunya.
"Please, kembalikan Bang!"
"Ayo, antarkan aku ke bandara! sebentar lagi jadwal penerbangan." Bukanya menjawab Kyara, Rey malah mengingatkan jadwal keberangkatanya.
Semakin Kyara merengek meminta kotak ajaibnya, Rey semakin yakin untuk membawanya pergi. Dia akan mengembalikan kotak itu setelah menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke Indonesia.
__ADS_1
###
Suara deburan ombak yang terdengar berirama dan mentari masih bersinar tajam hingga menyilaukan mata, padahal hari sudah berangsur sore. Saat ini mereka hanya duduk di cafe dan resto yang ada di resort, untuk menikmati minuman segar. Sedari tadi Hans masih berdiri di tempat berbeda karena sedang menerima panggilan dari salah satu klien. Tapi, mata tajamnya tidak lepas dari ketiga wanitanya.
Setelah menutup telponnya lelaki berkacamata hitam dan mengenakan celana pendek itu pun berjalan mendekati ketiga wanitanya. Mereka terlihat bahagia, itu yang membuat Hans juga merasa bahagia.
Menikah dengan Zoya Kamila memang sudah memutar poros hidupnya. Zoya membuatnya belajar bagaimana pentingnya sebuah kebersamaan. Lelaki yang pada awalnya sedikit kaku itu mulai menyadari jika perbedaanlah yang menyempurnakan sebuah kebersamaan. Tidak mudah pula process untuk mendapatkan sebuah kata kesepakatan dari sebuah perbedaan. Bibir tipis itu mulai menampilkan senyum kala mengingat perbedaan diantara dirinya, Zoya , Mama Shanti dan yang pastinya Ale sendiri yang merupakan perpaduan dari mereka.
"Ayo, Mama! "Ale mulai menarik lengan Zoya membuat Hans beranjak menghampiri mereka.
"Ale, nanti Mama bisa jatuh!" sergah Hans dengan menahan bahu Zoya.
"Sama Oma saja, Yuk!" tawar Mama Shanti. Ale memang ingin berjalan menyisir pantai, sementara Mama Shanti takut Zoya kecapekan.
"Ayo, Oma! Nanti kita bermain pasir." Ale mengerucutkan bibir karena keinginannya tidak terpenuhi. Dia hanya ingin bermain rame-rame dengan pasir putih yang terhampar luas.
"Sayang, Mama akan menyusul bersama Papa." ujar Zoya saat melihat raut putrinya kecewa.
"Janji? " Ale mengajukan jari kelingkingnya yang di sambut oleh Zoya. Perempuan yang sedang berbadan dua itu (tiga ya) pun tersenyum. Dia tidak pernah menyangka jika dirinya akan memiliki keluarga yang bahagia meskipun pada awalnya hubungan ini tidak pernah tidak impikan.
Terkadang Tuhan memberikan apa yang tidak kita inginkan tapi mengemas dengan cara yang indah dan menyenangkan.
" Eh, Mas! Mana pesananku?" Hans bertanya pada lelaki yang melewati mereka.
"Loh, bukannya diberikan pada gadis berjilbab ungu di pinggir kolam renang itu?" Wajah pelayan resort pun mendadak tegang, dia sudah merasa melakukan kesalahan.
"Sana sana!" lanjut Hans dengan mengibaskan tangannya untuk mengusir palayan resort.
"Maafkan saya, Mas!" ujar lelaki itu. Untung saja dia tidak mengajar memanggil Mas bukan Pak, membuat Kekesalan Hans mulai mereda.
"Ada apa, Mas?" tanya Zoya yang sedari tadi memperhatikan obrolan keduanya tapi juga belum bisa memahaminya.
"Aku tadi pesan bucket bunga untukmu, Zoy." Hans memang bermaksud memberi surprise pada istrinya.
"Sudah aku bilang berikan pada perempuan yang berjilbab ungu yang duduk di meja dekat kolam renang. Bukan yang berdiri!" hardik Hans dengan kesal. Berbeda dengan Zoya yang sedari tadi hanya senyum senyum saja mendengar cerita itu.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Hans. Dia merasa Zoya terus saja mengejeknya.
"Kalau tidak bisa romantis ya sudah, Mas. Jangan memaksakan diri!" ujar Zoya masih dengan tersenyum menatap lelaki yang saat ini ada di depannya.
"Aku akan tetap mencintai Mas Hans, meskipun kadang menyebalkan, merepotkan, dan bahkan sudah tua. Aku tetap mencinta Mas Hans." Hans hanya melotot ke arah istrinya. Dia tidak mengerti harus senang atau marah mendengar kalimat Zoya. Terkadang bersama seseorang yang berbeda memang bisa merubah kebiasaan seseorang.
Hans memilih untuk tersenyum. Dia menatap kembali Zoya yang menampilkan senyum yang tidak pernah berubah untuk dia kagumi. Senyum yang masih sama. Meskipun dia sudah berubah menjadi seorang yang lebih ceria dan terbuka. Berbeda dengan pertama kali saat Hans melihat Zoya, Dia hanya gadis lugu yang terlihat lebih pendiam dan pemalu.
__ADS_1
"Berhubung bunganya nggak jadi buat surprise, aku ganti ini saja." Hans mengeluarkan tiga kartu yang menjadi siklus keuangannya. Tapi memberikan dua kartu untuk Zoya.
"Mas Hans..." Zoya terheran, bahkan dia ragu untuk mengambilnya.
"Aku percayakan padamu, Zoy. Aku juga titip Ale. Jangan pernah berhenti menyayangi bocah itu seperti sebelumnya." ujar Hans. Wajah seriusnya membuat Zoya merasa cemas.
"Kenapa selalu bicara seolah Mas Hans akan meninggalkan kami." Mata bulat itu malah berkaca kaca.
"Aku menyayangi Ale seperti putriku, Mas. Tidak akan pernah aku bedakan Ale dengan mereka!" jelas Zoya dengan mengelus perutnya. Meskipun, mengandung darah dagingnya sendiri, perasaan Zoya terhadap putrinya tidak pernah berubah. Ale akan tetap menjadi putri yang dia sayangi, apalagi jika saat mengingat Ale yang sudah kehilangan mama kandungnya. Hatinya terasa mengiba.
"Bukan begitu, sayang!" Hans mengambil tangan mungil istrinya menggenggamnya dengan perasaan cinta.
"Sudah saatnya kita berbagi tugas. Aku ingin kamu menangani segala urusan rumah tangga, semua urusan dalam rumah dan anak anak kita nanti, aku percayakan padamu, Zoy. Kita akan punya kedudukan yang sama, punya peran yang sama dalam keluarga. Kita akan saling membutuhkan dan saling mengisi satu sama lain." Hans kemudian mencium tangan yang sedari tadi dia genggam. Malu. Zoya sebenarnya malu karena banyak yang melihat mereka.
"Semoga kita selalu panjang umur agar bisa bekerja sama menjadikan keluarga kita sakinah mawardah warahmah."
"Mas Hans, malu dilihat orang! " keluh Zoya, wajahnya sudah memerah.
"Baiklah ayo kita cari mereka! " Ajak Hans.
Kebiasaan lelaki itu, tidak pernah melepaskan genggaman tangannya saat berjalan bersama istrinya. Langit mulai meredup, angin berhembus semakin kencang. Tapi seperti janji Zoya, dia akan ikut bermain pasir bersama Ale.
"Mama, Ale buat istana pasir." teriak Ale saat melihat mama pada papanya. Hans sudah gatal ingin mencibir hasil karya Ale yang tidak layak disebut istana. Tapi, Zoya yang sudah hafal sifat suaminya pun mengeratkan genggamannya, menahan sifat jelek Hans untuk merusak mood putrinya.
"Hae , adek-adeknya kakak. Ini kak Ale buatin istana buat kita. Kita akan tidur satu kamar bersama, ya!" ucap Ale saat berada di dekat Zoya. Dia kemudian mencium perut Zoya seolah dia sedang bertemu dengan kedua adiknya.
"Cucu Oma, sehat terus! Oma akan menunggu kalian untuk bermain bersama." ucap Shanti dengan mengelus perut datar Zoya.
"Iya, kalau encoknya nggak kumat." Sela Hans membuat mamanya mendekat nya dan menarik telinga putranya yang sudah berumur. Semuanya tertawa kecuali Hans yang masih meringis menahan sakit. Tapi, kemudian dia memeluk perempuan paruh baya itu. dan membisikkan kata kata penuh haru, "Terima kasih, Ma. Selalu menyayangiku, memberiku istri sebaik Zoya, dan selalu melimpahkan semua doa yang terbaik untukku. Doa Mama selalu memberiku keberuntungan. " kalimat putranya membuat hati Shanti terenyuh, matanya pun sudah mengembun, kemudian melonggarkan pelukan putranya dan menatap wajah yang tanpa dia sadari sudah menjelma menjadi dewasa.
"Jadilah imam yang baik. Jaga keluargamu! Dan jadilah Papa yang bisa dijadikan teladan putra dan putrimu." pesan Shanti membuat semua mendekat dan memeluk perempuan tua itu penuh haru.
End 😃😄😄😍😍😍
Hidup memang tidak selalu bahagia, tapi percaya jika Tuhan sudah memberikan pegangan untuk ummatnya bagaimana harus menjalaninya.
Terima kasih kepada readers tercintaku, dukungan kalian adalah support terbaik untuk author menamatkan Rahasia Cinta Zoya.
Terima kasih yang sudah banyak memberi masukan di RCZ, dan banyak komen readers yang terus terang membuat saya minder, karena wawasan dan kejelian kalian membuat saya juga banyak belajar. 😍😍.
Terima kasih sudah mengikuti RCZ meskipun karya saya masih recehan sekaki. Ilmu pengetahuan dan literasi saya masih di bilang Nol.
Terima kasih yang udah menginspirasi RCZ. Rahasia Cinta Zoya memang sebagian part adalah kisah nyata seseorang. Tapi, ada pula penggalan penggalan problem dari orang orang yang berbeda. Jadi plotnya mungkin naik turun dan mbulet ya gaes. tapi, mungkin ada beberapa yang merasa mirip dengan kisah mereka.
__ADS_1
Maaf untuk segala kekurangan author dalam menyampaikan konten RCZ.
Insyaallah akan ada extra part, dan session dua.