
"Ihhh.. ngambek, ya?!" Setelah masuk kamar Hans mendekati Zoya yang nampak berdiri di dekat jendela kamar.
"Marah, ya!" Hans terus saja menggoda Zoya saat istrinya masih berbicara di telepon dengan Nilla.
Beberapa kali, Zoya menegaskan jari telunjuk di bibirnya yang mengatup, memperingatkan Hans untuk diam dan tidak mengganggunya. Tapi, lelaki itu malah tidak ada hentinya mengganggu bahkan beberapa kali dia menggelitik pinggang istrinya. Tubuh mungil itu bergelinjangan menahan geli sambil berusaha fokus pada percakapannya di telpon.
"Ya Allah, Mas Hans kenapa usil banget." protes Zoya, kala dia menutup panggilannya. Zoya terpaksa menunda obrolannya saat Hans tanpa henti terus mengganggunya. Zoya kembali merebahkan tubuh ke atas tempat tidur dengan posisi sembarang. Tak lama kemudian, Hans ikut merebahkan diri di samping Zoya, tapi dengan posisi tengkurap menatap wajah Zoya dari dekat.
"Kamu cemburu, kan?" goda Hans dengan mencubit puncak hidung mungil isterinya. terlihat dengan jelas sisa guratan rasa jengkel yang masih melekat di hatinya.
"Sepertinya dia masih mengharapkan Mas Hans." lanjut Zoya. Kali ini, Zoya menoleh ke arah mata tajam yang masih betah menatapnya.
"Wajarlah! Semua yang diinginkan wanita ada padaku." Hans sengaja menambah kesal istrinya. Bahkan, senyum samar nampak tidak surut dari bibir tipis lelaki yang juga menatapnya.
"Apa Mas Hans tertarik padanya?" lirih zoya, pandangan mereka saling tertaut seolah ingin membaca hati masing masing. Siratan sorot mata itu hanya ingin mengatakan jika perempuan sederhana apa adanya yang saat ini ada di depannya ini, mampu menggeser dunianya. Mengalihkan banyak hal, hingga dia tidak tahu jika suatu saat tanpanya.
"Mana mungkin? Lagian dari awal aku tidak pernah tertarik dengan Denisa, apalagi dia sepertinya tidak terlalu menyukai anak kecil. Terus bagaimana dengan Ale?" Irish mata indah itu hanya menatap mata Hans, dia masih mencari kejujuran di sana.
"Semua kandidat Mama tidak ada yang menarik bagiku." lanjut Hans.
"Termasuk aku?" sela Zoya. Seperti itulah seorang perempuan, dia selalu mencari sebuah keyakinan.
"Apalagi kamu, Zoy. Udah kecil, kurus banget terus pakai baju kedodoran pula. Lungset banget. Dari tampilan tidak ada yang menarik sama sekali." Hans terus saja berbicara dengan mengingat-ingat tampilan pertama istrinya. Dia tidak menyadari jika perempuan di sampingnya sudah menahan diri untuk memukul mulutnya yang menyebalkan.
"Dulu, mikirnya mana mungkin aku menikahi gadis seperti ini?" celetuk Hans tanpa menyadari wajah istrinya yang sudah cemberut. Zoya melirik saja gelagat suaminya yang sudah mengeluarkan banyak kata yang membuat panas daun telinga.
"Yang lebih mirip baby sitter, ya?" lirih Zoya, kalimatnya yang melemah membuat Hans tersadar jika ada yang salah dengan kalimatnya. Sejenak dia menatap wajah murung istrinya.
"Mana ada baby sitter pakai jam tangan ratusan juta?" Hans mengangkat lengan kecil itu ke atas, seolah memperjelas harga arloji yang melingkar di pergelangan tangan istrinya.
__ADS_1
"Apa? Astagfirullah..."
"Ratusan juta?" Zoya terhenyak kaget dia tidak pernah mengira harga jam tangan yang ada di pergelangan lengannya mencapai ratusan juga. Baginya itu terlalu berlebihan.
"Itu yang membelikan Mama, lo! Kamu akan menyakiti perasaan Mama jika tidak memakai pemberiannya." Hans menahan tangan Zoya yang akan melepas jam tangannya. Hans sudah hafal jika berhubungan dengan Mama dia tidak bisa berbuat apapun.
"Tadi siapa yang telpon?" tanya Hans dengan memainkan jari jemarinya di bibir mungil istrinya. Satu tangannya ditekuk untuk menjadi tumpuan kepala.
"Nila, katanya besok dia akan menikah dengan Bang Wildan."
"Tapi, hanya acara keluarga setelah ijab Qabul."
"Tapi, sepertinya Nilla masih ragu dengan Bang Wildan." jelas Zoya, Zoya menggeser posisinya menatap lelaki yang masih menatapnya lekat.
"Wah, Bagaimana rasanya di tinggal mantan menikah?" goda Hans, dia malah tersenyum keki saat melihat kernyitan di dahi istrinya.
"Mas Hans, itu kan dulu! Biarlah itu menjadi Rahasia Cinta Zoya, saja! Jangan Diungkit- ungkit lagi. Apalagi sampai di dengar anak-anak kita nanti. Nggak, Bagus." Dengan lembut dan tatapan menunduk perempuan itu menegaskan, jika semua cerita itu cukup di simpan saja.
"Ayo kita buat anak saja. Biar nanti ada yang di rahasiakan." Tangan besar itu mulai mengurai jilbab istrinya, berlahan tanpa melepas tatapan tajamnya, dia mulai membuka kancing tunik yang masih dikenakan Zoya. Ternyata, dia benar-benar mewujudkan ucapannya untuk melanjutkan satu ronde kemarin yang sempat tertunda.
###
Pagi saat mentari sudah mengintip dari celah celah ventilasi dan jendela, mengisyaratkan pagi yang begitu cerah telah diberikan alam untuk menyempurnakan hari yang akan kita lalui. Begitupun hati perempuan yang saat ini bersemangat di dapur. Hari ini Zoya akan ke kampus untuk mendaftar kuliah.
Di dapur, Zoya sudah disibukkan dengan memasak banyak makanan kesukaan semua yang ada di rumah, terutama Ale. Dari semalam Ale sudah memesan bubur Ayam.
"Sayang, hari ini ke kampus, kan? Kamu diantar Mama saja, ya? Aku banyak acara hari ini." Hans berjalan mendekat ke arah Zoya dengan tampilan yang sudah rapi. Parfum maskulin yang menjadi favorit Hans memang terendus begitu wangi dan segar di hidung Zoya. Bagi Zoya ini adalah wangi yang khas yang melekat pada tubuh suaminya.
"Aku bisa naik taxi, Mas." Zoya masih terlihat sibuk melengser makanan yang sudah matang ke dalam mangkuk yang akan dia sajikan di meja makan.
__ADS_1
"Sayang... cup..." ciuman lelaki itu mendarat di pipi istrinya. Rasa gemas yang kadang mendorong lelaki itu untuk mengambil tindakan yang tak disangka sangka.
"Ya Allah.. aku masih bau!" ucap Zoya dengan berjingkat dan spontan menghindarkan kepalanya. Dia merasa tidak enak sendiri karena keringat dan bau bawang di tubuhnya.
"Aku suka. Lagi ya?" goda Hans dengan menaik turunkan alisnya.
"Jangan, Mas!" Zoya mencari jalan yang sempat dihadang tubuh atletis itu. Tangannya masih membawa mangkuk bubur dan sayur yang akan dibawanya ke meja makan. Lelaki itu pun kembali mengekor langkah istrinya untuk mencari posisinya di meja makan.
"Mama sudah jadi bubur ayamnya?" celetuk Ale yang baru saja muncul dari belakang rumah diiringi Mama shanti. Bocah itu berjalan dengan melompat-lompat mendekat ke arah Zoya.
"Ini." jawab Zoya sambil memamerkan mangkuk ditangannya dan tersenyum ke arah putrinya yang sudah hampir mendekat. Dua kembaran yang beda usia itu berjalan saling beriringan ke arah meja makan.
"Zoy, ini kartu nama Denisa dan itu card untuk melakukan pembayaran. Sepulang dari kampus, kamu langsung ke showroom saja." Hans menyerahkan kartu nama Denisa dan kartu ATM untuk melakukan pembayaran.
"Oh ya, jangan lupa bawa identitas. Nanti semua surat surat kendaraan pakai namamu saja." titah Hans saat duduk di meja makan. Dia sengaja menyerahkan urusan itu pada Zoya, agar istrinya mulia belajar mengurusi hal lain selain urusan rumah.
"Tapi, aku takut tidak bisa!" jawab Zoya yang memang ragu bisa melakukannya sesuai dengan yang di mau Hans.
"Bisa, nanti biar ditemani Mama."
"Bisa kan, Ma?" Hans mengalihkan tatapannya ke arah mamanya. Menunggu jawaban yang pasti dari Mama Shanti.
"Iya, Mama si bisa saja. Asal ada uang jalannya." jawab Shanti. Kesempatan untuk morotin putranya. Pikir Shanti.
"Hmm... " Hans sudah malas menjawab atau berdebat dengan mamanya. Lagian sejak menikah dengan Zoya masalah rejeki memang dilancarkan, meski banyak masalah yang selalu menghadangnya.
Dengan menyenangkan mamanya, dia berharap semua urusan bisa berjalan lancar. Tidak kita pungkiri kekuatan terbesar untuk anak adalah doa orang tua.
Bersambung...
__ADS_1