
Hidup dengan banyak cinta akan menimbulkan banyak masalah, tapi hidup tanpa cinta berarti seseorang itu bermasalah. (Quotation's by authorπ nggak boleh protes)
πππ
Hanya di ajak makan malam saja Bocah gembul itu sudah begitu senang. Hans mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke arah kasir. Sementara Oma, Zoya dan Ale mulai bersiap untuk kembali ke mobil.
Lelaki berahang tegas itu beranjak ke meja kasir setelah mengakhiri makan dadakan yang diinginkan putrinya. Diliriknya tiga perempuan yang saat ini mengisi hidupnya, senyum tipisnya pun terbit di sudut bibirnya kala melihat rasa bahagia yang terpancar pada tiga perempuan yang terkadang menjadikan hidupnya sedikit ribet.
Langkahnya mengayun keluar dengan membuka tombol on pada kunci keamanan mobil membuat ketiga wanitanya langsung terebut masuk ke dalam untuk menempatkan diri pada posisi semula.
"Dasar perempuan!" gumam Hans dengan mempercepat langkahnya.
"Hans, kita ke rumah atau kembali ke apartemen?" tanya Mama Shanti saat putranya duduk di belakang kemudi.
"Ke rumah saja karena Mama sudah menggagalkan acaraku." gerutu Hans dengan menyalakan mesin mobilnya. Anak Mama Shanti tentu saja punya gaya bicaranya tidak akan jauh beda dengan Mama Shanti, ceplas ceplos meski tampang cool yang dia miliki terkadang menutupi ke absurdannya.
Di dalam mobil, Hans melirik putrinya yang
sudah terkapar tak berdaya karena rasa kantuk saat berada di atas pangkuan Mama Shanti. Saat melihat Ale, tiba-tiba saja dia teringat dengan Renita. Mungkin, jika Renita masih ada, dia akan merasa bahagia melihat tingkah Ale. Renita wanita yang pernah dia cintai meskipun cinta itu kini sudah terbagi dengan istri barunya yaitu Zoya. Mengatur perasaan untuk berbagi cinta dengan orang sudah tiada saja tidak mudah. Terus, bagaimana dengan mereka yang berbagi dengan banyak cinta dengan orang yang masih hidup? Bukan rahasia lagi bagi Hans jika banyak dari teman temannya punya banyak cinta di luar rumah.
Sesaat kemudian Hans melirik Zoya, perempuan di sampingnya kini terlihat sangat menikmati ramainya jalan raya yang mereka lewati.
"Sayang... "Hans menjulurkan tangannya mengelus pipi caby Zoya, sontak saja itu membuat Zoya menoleh ke arahnya kemudian lirikannya berganti tertuju pada Mama mertuanya di belakang.
"Biasa itu, Zoy." sindir Shanti dengan senyum cemeh pada putranya.
"Muaaacchh... " reaksi Hans memberi kecupan jauh membuat Zoya menautkan kedua alisnya, dia merasa geli dengan sikap suaminya yang kumat genitnya. Lelaki yang sangat berbeda dari pertama yang dia kenal.
"Hat-hati, Zoy! Biasa ada sesuatu yang tidak beres jika kayak gitu atau mungkin dia lagi merasa bersalah." sahut Shanti saat melihat kelakuan putranya.
"Apa-apaan Mama ini! Main tuduh saja, aku lagi godain istri aku. Siapa tau dapat jatah yang tertunda." Obrolan absurd ibu dan anak sukses membuat Zoya merasa malu.
"Berdasarkan pengalaman!" sahut Shanti dengan singkat.
__ADS_1
"Apa almarhum Papa juga seperti mas Hans, Ma?" sela Zoya, tiba tiba dia penasaran dengan sosok almarhum papa mertuanya.
"Persis dan mirip banget, gayanya saja sok cool, sok jual mahal, giliran ada maunya atau buat salah, pasti genitnya tidak ketulungan." jelas Shanti, senyum wanita paruh baya itu kini terlihat penuh arti. Ada sebuah kerinduan saat mengingat almarhum suaminya.
"Nggak apa-apa kan, Zoya? Poligami saja dibolehin, lo? Bahkan Allah menjanjikan surga bagi mereka yang mau dipoligami." ucap Hans, matanya masih menatap jalan di depan. Dia tidak menyadari tatapan tajam Zoya yang sudah melayang ke arahnya.
"Surga, kalau ikhlas. Kalau tidak? Lagian Mas Hans mampu?"
"Mampulah kalau cuma menghidupi empat istri! " kelakar Hans masih menggoda Zoya yang sudah terlihat cemberut.
"Emang cuma urusan materi?" balas Zoya.
"Macam macam potong saja, Zoy!" Sahut Mama Shanti semakin gemas saja.
"Hahahahaha... jangan ditiru, Zoy. Mama itu sadis, makanya papa tidak berani macam macam." obrolan mereka mengalir begitu saja di dalam mobil, mengiringi perjalanan mereka untuk sampai di rumah.
Mercy hitam itu pun membelok ke halaman rumah mewah bernuansa putih. Hans pun mulai menggendong Ale menuju ke kamar tidurnya.
Sebelum meninggalkan Ale, dia menatap putrinya dengan seksama. Dia sangat bersyukur, Ale mendapatkan seorang ibu yang pantas, tidak hanya memberikan banyak kasih sayang, tapi Zoya juga mendidiknya seperti putrinya sendiri. Zoya yang dulu pendiam kini sedikit cerewet karena sebuah peran.
###
Zoya terhenyak kaget saat mendengar kabar dari sekolah jika Ale terjatuh dari tangga sekolah. Dengan wajah panik dia meminta Pak Dino untuk mengantarnya ke sekolah putrinya. Di jok belakang dia *******-***** jari-jemarinya, sebuah kebiasaan yang sebelumnya juga sering terjadi pada Zoya di kala merasa panik, kali ini dia masih memikirkan bagaimana keadaan Ale dan apa yang sebenarnya terjadi? Teringat untuk mengabari Hans, Zoya pun meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Zoya memutuskan hanya mengirim sebuah pesan pada Hans karena takutnya Hans masih melakukan sidang pledoi pada kasus Antonio. Tadi pagi, ketika sarapan Hans sudah mengatakan jika hari ini akan melakukan sidang pengajuan alat bukti dan saksi untuk pembelaan terdakwa.
Mobil Crv putih yang ditumpangi Zoya berhenti tepat di depan sekolah Ale. Dengan seribu langkah, dia berjalan menuju ruang guru.
"Assalamualaikum... " ucap Zoya bersamaan dengan mengetuk pintu ruang kantor.
"Waalaikum salam." jawab orang yang di dalamnya hampir bersamaan.
"Hhuwaa.... mama.... hwa ...hwa ...hwa...Mama!Ale di dorong sampai jatuh. Hwa.. hwa..hwa.. kepala Ale sakit." lapor Ale saat melihat kedatangan Zoya, dia langsung terlihat histeris. Ale pun segera berlari menghampiri Zoya yang berjalan masuk ke ruang kantor.
Zoya mendudukkan bokongnya di sofa, seketika itu ibu guru Ale menceritakan perihal kejadian dari olok olokan kecil diantar Dimas dan Ale, hingga akhirnya Dimas mendorong Ale.
__ADS_1
"Dimas juga sempat menangis karena ketakutan, dia tidak menyangka jika kejadiannya sampai membuat Ale jatuh dari tangga. Maaf juga untuk kelalean kami menjaga anak anak." ucap guru Ale merasa bersalah karena kejadian ini.
"Saya mengerti, Bu. Namanya juga anak anak." sambung Zoya meskipun dia merasa jengkel karena saat ini jidat putrinya sampai terlihat membiru dan terdapat benjolan.
"Bu guru, Ale ingin pulang sama Mama." sela Ale dia sudah tidak ingin lagi masuk ke kelas.
"Iya, boleh. Tapi besok sekolah lagi, ya! Nanti kelasnya Dimas Ibu guru pindah." ujar Bu guru langsung mendapat anggukan Ale.
"Dimas memang anaknya sedikit usil. Dia suka cari perhatian dari teman temannya. Mungkin, karena papa mamanya sibuk, Bu." lanjut Ibu guru yang ingin memberikan informasi tentang Dimas pada Zoya.
Akhirnya, Zoya memilih membawa Ale pulang saja karena waktu pulang sekolah pun tinggal beberapa jam lagi. Zoya membawa tas Ale, saat berjalan keluar gerbang, mereka di sambut oleh Hans yang baru datang dan meminta Pak Dino untuk kembali.
"Papaaaa... hwa...ha.. ha... Ale sakit!" teriak Ale tak kalah histeris dari tadi,saat mendapati Hans di depan gerbang.
"Jangan cengenglah anaknya Papa! Ayo kita pulang!" Hans langsung menggendong Ale menghampiri mobilnya. Zoya pun ikut duduk di bangku belakang bersama putrinya.
"Ale, kalau di sekolah tidak boleh bertengkar sama temannya!" ujar Zoya dengan mengusap kepala Ale yang bersandar di dadanya setelah Hans melajukan mobilnya.
"Mama, Dimas itu nakal, tidak hanya kepada Ale saja, tapi sama Helen juga. Dia sering ngambil pewarna Ale, dia juga sering bilang Ale gendut, dia juga sering mengambil makanan kue Ale saat istirahat. Tadi saat Ale bermain sama Helen, jilbab Ale ditarik. Ale marah, Mama!" Ale bercerita masih dengan wajah manyun dan terlihat masih cukup kesal.
"Untung kamu banyak lemak ya, Al? jadi kalau jatuh tidak terlalu sakit." sela Hans dengan terkekeh. Dia bisa melihat wajah kesal dua perempuan di belakang. Mungkin, Zoya seperti tidak terima jika sampai putrinya terluka, sedangkan Ale sendiri masih kesal dengan yang namanya Dimas.
"Ale, kalau ada teman kayak gitu, nggak usah diladeni, Ale mengalah saja. Ale tinggalkan saja! Cari teman yang lain." Zoya masih berusaha meredam emosinya, bagaimanapun perasaannya, dia harus tetap menuturkan nasehat yang baik kepada putrinya.
"Ma, kayak gitu dosa tidak?" tanya Ale.
"Tentu saja dosa, makanya biarkan saja. Ale tinggal pergi saja! Atau, bilang sama bu guru. Ale juga nggak boleh nakal, ya!" jelas Zoya dengan kemudian menciumi puncak kepala putrinya.
"Mas kita kemana ini? " tanya Zoya saat mobil suaminya berjalan berlawanan dengan arah pulang.
"Kita periksakan Ale dulu!" Hans juga tidak ingin terjadi hal lebih buruk pada kepala anaknya saat melihat memar di kening Ale.
Mereka memeriksakan Ale di sebuah klinik di mana Anas juga praktek. Kali ini, meskipun Ale sudah besar Hans masih menggendong putrinya. Dia juga menyayangkan jika hal ini terjadi putrinya. Tapi, mau bagaimana lagi? Namanya juga anak anak.
__ADS_1
Bersambung....